Di Tanah Lada
Salva, sering disapa Ava. Namun, Papanya ingin menamainya Saliva, yang berarti ludah, sebab menganggapnya tidak berguna. Dari kamus pemberian Kakek Kia, Ava mencari setiap makna dari kata-kata yang ditemukan sehari-hari. Ketika keluarga Ava pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal, Ava berjumpa dengan P—anak lelaki yang pandai sekali bermain gitar. Perjumpaan Ava dengan P, dan petualangan keduanya akan membawa pembaca ke banyak pojok gelap dan muara yang mengejutkan. Pada edisi kali ini, novel Di Tanah Lada dilengkapi dengan sebuah catatan, banyak ilustrasi, dan satu kemungkinan akhir cerita lain. Prolog: Hari Rabu tanggal 26 Juni 2013. Di berbagai belahan dunia, sekarang, berdasarkan perhitungan cuaca, adalah musim panas. Kecuali di Australia. Tempat aneh itu tidak pernah setuju soal perhitungan cuaca. Mama yang memberitahuku. Katanya, kalau seluruh dunia sedang kedinginan, Aust
-
Makanan Bergizi Bukan Sekadar Jatah: Anak Berhak Menolak yang Membahayakan
Makanan Bergizi Bukan Sekadar Jatah: Anak Berhak Menolak yang Membahayakan Program makan di sekolah biasanya dibicarakan melalui bahasa yang mudah dihitung: jumlah porsi, kandungan protein, cakupan penerima, atau besarnya anggaran. Namun, bagi anak, makanan tidak pernah hadir sebagai tabel gizi semata. Ia datang sebagai benda yang disentuh, dicium, dikunyah, ditelan, lalu dirasakan akibatnya oleh tubuh. Karena itu, ketika makanan yang dimaksudkan untuk memperbaiki gizi justru membuat anak mual, muntah, atau harus dirawat, persoalannya bukan hanya kegagalan teknis dapur. Itu adalah kegagalan negara membaca keselamatan anak sebagai bagian dari hak yang harus dijamin. Kasus di Kota Kediri memperlihatkan batas tersebut dengan jelas.
-
Layanan Boleh Berganti Nama, Pendampingan Anak Disabilitas Tidak Boleh Terputus
Layanan Boleh Berganti Nama, Pendampingan Anak Disabilitas Tidak Boleh Terputus Perubahan kelembagaan sering terdengar seperti urusan meja birokrasi: unit dihapus, fungsi dipindahkan, kewenangan dibagi, lalu pemerintah menyatakan pelayanan tetap berjalan. Namun bagi anak dan keluarganya, perubahan itu tidak pernah sesederhana perubahan bagan organisasi. Ia bisa berarti berpindah ruangan, mengganti petugas, mengulang asesmen, mencari rujukan baru, atau menghadapi ketidakpastian tentang apakah terapi yang selama ini gratis masih dapat diakses. Persoalan itu muncul dalam penataan ulang Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif atau PLDPI di Solo. Pemerintah Kota Surakarta menyatakan kelembagaan UPTD PLDPI berubah secara struktural mulai 1 Oktober 2026. Pemerintah menegaskan bahwa
-
Warung Bukan Kantor Perlindungan Anak: Mengubah Kebaikan Warga Menjadi Jalan Aman
Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, pertolongan pertama tidak datang dari kantor, formulir, atau lembaga yang sejak awal sudah mengetahui keadaan Ava dan Pepper. Ia datang dari tempat yang lebih sederhana: warung sate. Ketika dua anak itu berjalan malam-malam, membawa luka, lapar, dan rencana yang terlalu besar untuk ukuran mereka, Bu Tukang Sate tidak mengubah mereka menjadi urusan yang harus segera disingkirkan. Ia memberi makan, menanyakan keadaan, menyediakan tempat tidur, lalu mulai memikirkan keselamatan mereka. Adegan itu penting bukan karena warung dapat menggantikan negara. Justru sebaliknya: warung memperlihatkan titik pertama ketika perlindungan sering kali dimulai, sebelum negara mengetahui apa yang terjadi.
-
Kartu Jaminan Bukan Sekadar Administrasi: Anak Berhak Pulih Tanpa Menunggu Kemampuan Orang Dewasa
Bayi prematur tidak lahir ke dunia dengan membawa waktu yang cukup. Tubuhnya mungkin belum siap mengatur napas, suhu, berat badan, atau daya tahan terhadap penyakit. Karena itu, keselamatannya bergantung pada rangkaian keputusan yang harus berlangsung cepat: mengenali tanda persalinan, mencari fasilitas kesehatan, menjalani rujukan, memperoleh perawatan intensif, lalu mengikuti kontrol setelah pulang. Kisah bayi asal Kabupaten Kebumen menunjukkan mengapa rangkaian itu tidak boleh diserahkan kepada kemampuan ekonomi keluarga. Bayi tersebut lahir pada Maret 2026 ketika usia kandungan baru tujuh bulan, dengan berat 1,5 kilogram. Ia menjalani perawatan di ruang Neonatal Intensive Care Unit selama sekitar dua pekan. Melalui kepesertaan Penerima Bantuan
-
Simulasi Bencana Bukan Seremoni: Anak Harus Tahu Jalan Keluar Sebelum Panik Datang
Sekolah sering disebut sebagai tempat paling tepat untuk mengajarkan kesiapsiagaan bencana. Alasannya masuk akal: anak berkumpul di sana setiap hari, guru memiliki struktur komando, dan bangunan sekolah dapat dijadikan ruang latihan bersama. Namun, simulasi evakuasi akan kehilangan makna jika hanya menjadi rutinitas berlari menuju lapangan, berbaris, lalu berfoto. Anak bukan rombongan yang harus dipindahkan secepat mungkin. Mereka adalah pihak yang perlu memahami bahaya, mengenali arah, mengetahui siapa yang dapat dipercaya, dan diberi kesempatan untuk bertanya sebelum keadaan darurat benar-benar terjadi. Persoalan itu kembali terlihat dalam Program Sekolah Tanggap Bencana yang digelar Pertamina Patra Niaga bersama BPBD Kota Kupang di SMA Negeri
-
Kamar Mandi Sekolah Bukan Ruang Sisa: Martabat Anak Dimulai dari Tempat yang Paling Diabaikan
Kamar mandi sekolah sering menjadi ruang yang paling mudah dilupakan karena ia tidak menghasilkan foto seremonial, tidak menjadi latar pembagian rapor, dan jarang disebut dalam pidato tentang masa depan pendidikan. Namun bagi anak, kamar mandi bukan fasilitas tambahan. Ia adalah tempat untuk memenuhi kebutuhan tubuh tanpa rasa takut, menjaga kebersihan, mengelola menstruasi, menenangkan diri, dan mempertahankan martabat di tengah keramaian sekolah. Karena itu, inspeksi mendadak Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi ke SMP Negeri 47 pada Jumat, 2 Oktober 2026, semestinya dibaca lebih serius daripada sekadar temuan fasilitas rusak. Dalam kunjungan tersebut, dua kamar mandi ditemukan terkunci karena tidak dapat digunakan. Wali
-
Kampung Bukan Sekadar Alamat: Perlindungan Anak Harus Dimulai dari Lingkungan Terdekat
Rumah tidak selalu menjadi tempat pertama seorang anak merasa aman. Kadang-kadang, keselamatan justru bergantung pada siapa yang tinggal di sebelah, siapa yang mengenali perubahan perilaku, siapa yang berani membuka pintu, dan siapa yang tidak menganggap teriakan sebagai urusan keluarga semata. Itulah sebabnya dorongan agar Ruang Bersama Indonesia menjangkau desa dan kelurahan perlu dibaca lebih serius daripada sekadar perluasan program. Pada 29 September 2026, Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak berhenti sebagai seremoni di Jakarta. Ia menekankan bahwa perlindungan perempuan dan anak harus dipahami dan dilaksanakan sampai tingkat paling dekat dengan kehidupan warga. Pemerintah juga menyatakan RBI akan
-
Sekolah Setelah Bencana Harus Memulihkan Rasa Aman, Bukan Sekadar Mengejar Pelajaran
Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, keselamatan anak tidak pernah selesai hanya karena seseorang berhasil menemukan tempat untuk tidur. Ava dan Pepper membutuhkan lebih dari kasur, makanan, atau kendaraan menuju tempat lain. Mereka membutuhkan orang dewasa yang tidak mengancam, ruang yang tidak membuat mereka terus berjaga, serta rutinitas yang perlahan mengembalikan keyakinan bahwa hari esok masih dapat diperkirakan. Di situlah pendidikan setelah bencana harus dibaca secara lebih serius. Sekolah memang perlu dibuka kembali, ruang kelas perlu diperbaiki, dan kegiatan belajar perlu dipastikan berlangsung. Namun, anak yang baru kehilangan rumah, menyaksikan kerusakan, mengalami gempa susulan, atau hidup dalam pengungsian tidak otomatis siap
-
Laut Bukan Ruang Bebas Hukum: Ketika Anak Buah Kapal Kehilangan Jalan Pulang
Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, keselamatan tidak pernah ditentukan oleh alamat semata. Sebuah rumah dapat menjadi tempat berlindung, tetapi juga dapat berubah menjadi ruang teriakan, ketakutan, dan ketergantungan. Rusun Nero tampak buruk secara fisik, namun yang membuatnya berbahaya bukan hanya retakan, selokan, atau gelapnya lorong. Bahaya muncul ketika orang yang menguasai ruang itu merasa berhak mengatur tubuh, waktu, uang, dan gerak orang lain. Karena itu, dugaan kekerasan terhadap empat anak buah kapal KM Maulana 23 tidak cukup dibaca sebagai perkara penganiayaan di tengah laut. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana tempat kerja yang bergerak, jauh dari rumah dan pengawasan publik, dapat berubah
-
Sekolah Tidak Boleh Hanya Pandai Membelanjakan Dana
Sekolah Tidak Boleh Hanya Pandai Membelanjakan Dana Sekolah sering dinilai melalui bahasa yang mudah dihitung: berapa dana yang diterima, berapa persen yang terserap, berapa komputer yang dibeli, atau berapa laporan yang dikirim tepat waktu. Semua itu penting. Namun, angka belum menjawab pertanyaan paling mendasar: apakah anak benar-benar merasa lebih aman, lebih mampu belajar, dan lebih mudah mencari pertolongan setelah uang publik dibelanjakan? Pertanyaan tersebut kembali penting setelah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memperkuat pengelolaan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan atau BOSP pada 2026. Regulasi baru menegaskan tiga skema—Reguler, Kinerja, dan Afirmasi—dengan perhatian lebih besar kepada sekolah di daerah khusus, sekaligus mendorong
