Buku Di Tanah Lada

Di Tanah Lada

Salva, sering disapa Ava. Namun, Papanya ingin menamainya Saliva, yang berarti ludah, sebab menganggapnya tidak berguna. Dari kamus pemberian Kakek Kia, Ava mencari setiap makna dari kata-kata yang ditemukan sehari-hari. Ketika keluarga Ava pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal, Ava berjumpa dengan P—anak lelaki yang pandai sekali bermain gitar. Perjumpaan Ava dengan P, dan petualangan keduanya akan membawa pembaca ke banyak pojok gelap dan muara yang mengejutkan. Pada edisi kali ini, novel Di Tanah Lada dilengkapi dengan sebuah catatan, banyak ilustrasi, dan satu kemungkinan akhir cerita lain. Prolog: Hari Rabu tanggal 26 Juni 2013. Di berbagai belahan dunia, sekarang, berdasarkan perhitungan cuaca, adalah musim panas. Kecuali di Australia. Tempat aneh itu tidak pernah setuju soal perhitungan cuaca. Mama yang memberitahuku. Katanya, kalau seluruh dunia sedang kedinginan, Aust

Read More

  • Ketika Tubuh Anak Menjadi Alasan untuk Mengusirnya dari Sekolah

    Sebuah tubuh anak dapat menjadi alasan orang dewasa membuka layanan kesehatan. Namun, tubuh yang sama juga dapat dijadikan bahan ejekan, tanda kegagalan, bahkan alasan diam-diam untuk mengeluarkan seorang anak dari ruang pendidikan. Di situlah kisah remaja asal Bogor bernama Intan Permatasari menjadi penting. Ia dilaporkan berhenti sekolah pada usia 12 tahun setelah mengalami perundungan berkepanjangan karena persoalan berat badan dan mengalami tekanan psikologis berat. Ia mengingat teman-temannya mencubit, mengambil uang, dan melempar buku ke arahnya. (detik.com) Peristiwa itu tidak boleh dibaca sebagai kisah tentang anak yang “tidak kuat” menghadapi sekolah. Yang perlu ditanyakan justru sebaliknya: sekolah macam apa yang membiarkan tubuh

    Read More

  • Membatasi Gawai Tidak Cukup: Anak Berhak atas Waktu yang Tidak Diatur Orang Dewasa

    Anak tidak membutuhkan lebih sedikit layar untuk kemudian menerima lebih banyak perintah. Ia membutuhkan waktu yang benar-benar dapat dihuni: waktu untuk bermain tanpa target, berteman tanpa penilaian, berimajinasi tanpa segera diarahkan menjadi prestasi, dan berhenti tanpa harus menjelaskan manfaatnya. Pertanyaan itu menjadi penting setelah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan. Kebijakan tersebut mendorong sekolah menata penggunaan gawai secara bijaksana, bukan melarangnya secara mutlak. Sekolah diminta menyesuaikan tata tertib, sementara orang tua didorong menerapkan prinsip screen time, screen zone, dan screen break di rumah. Pemerintah menyebut tujuan kebijakan ini

    Read More

  • Dari Pelarian ke Penampungan: Ketika Anak Dipaksa Menjadi Mesin Penipuan

    Anak yang ditemukan bekerja dalam jaringan penipuan tidak boleh langsung dibaca sebagai pelaku kecil yang kebetulan tertangkap. Dalam kasus di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, tiga anak berusia 14 hingga 16 tahun ditemukan bersama delapan orang dewasa di sebuah lokasi yang diduga menjadi tempat penampungan sekaligus tempat kerja. Polisi menyebut mereka direkrut, ditampung, dijerat utang, lalu diberi bayaran tidak menentu berdasarkan hasil penipuan penjualan sepeda motor melalui Facebook. Seorang pria berinisial H.A. ditetapkan sebagai tersangka. (tribratanews.sulsel.polri.go.id)\n\nPeristiwa yang diungkap pada 23 Juli 2026 itu penting bukan hanya karena memakai media sosial sebagai alat kejahatan. Yang lebih mendasar adalah cara anak ditempatkan di

    Read More

  • Ketika Antrean BBM Memindahkan Sekolah, Anak Tak Boleh Menjadi Penyangga Krisis

    Sekolah biasanya dipahami sebagai bangunan yang harus didatangi. Namun, di Makassar pada 12–19 September 2026, sekolah justru dipindahkan ke rumah. Pemerintah Kota Makassar memberlakukan pembelajaran daring bagi peserta didik PAUD, TK, SD, dan SMP setelah antrean panjang serta keterbatasan bahan bakar minyak mengganggu mobilitas murid, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua. Kebijakan itu disebut sebagai langkah sementara untuk mengurangi pergerakan warga di tengah krisis pasokan BBM. (detik.com) Keputusan tersebut masuk akal sebagai tindakan darurat. Antrean di SPBU bukan sekadar pemandangan jalan yang padat. Ia dapat mengubah waktu berangkat, biaya perjalanan, keselamatan, dan kemampuan keluarga mengantar anak. Tetapi justru karena kebijakan itu

    Read More

  • Ketika Anak Dilindungi oleh Amarah Orang Dewasa, Pengadilan Harus Membaca Luka yang Mendahului Kekerasan

    Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, kekerasan tidak pernah muncul sebagai ledakan yang berdiri sendiri. Ia tumbuh dari rumah yang gagal menjadi tempat aman, dari orang dewasa yang menyembunyikan kebenaran, dari anak yang terlalu lama menanggung ketakutan, dan dari pertolongan yang datang setelah luka telanjur dalam. Ava dan Pepper tidak hidup di dunia yang menyediakan jalur lurus dari bahaya menuju keselamatan. Mereka harus membaca tanda, menebak siapa yang dapat dipercaya, dan memahami kata-kata besar seperti hukum, cerai, kebenaran, serta hidup ketika pengalaman mereka sudah lebih dahulu menuntut jawaban. Karena itu, perkara Nomor 53/Pid.B/2026/PN Psw di Pengadilan Negeri Pasarwajo layak dibaca dengan

    Read More

  • APBD Bukan Pengganti Rumah: Panti Asuhan Harus Menjamin Jalan Pulang Anak

    Kebutuhan anak di panti asuhan tidak boleh lagi bergantung pada kemampuan yayasan mengumpulkan sumbangan. Namun, ketika pemerintah menyatakan bahwa seluruh kebutuhan anak akan dibiayai melalui APBD, ukuran keberhasilannya juga tidak boleh berhenti pada tersedianya makanan, pakaian, biaya kesehatan, dan pendidikan. Di Bali, terdapat 86 panti yang menangani lebih dari 2.600 anak. Dari jumlah itu, sekitar 300 anak masih membutuhkan penataan dan pelengkapan data. Gubernur Bali Wayan Koster meminta kebutuhan anak-anak tersebut ditanggung penuh melalui APBD, sekaligus mendorong percepatan penerbitan akta kelahiran, nomor induk kependudukan, kartu keluarga, dan kartu identitas anak. (baliprov.go.id) Langkah itu layak dipandang sebagai koreksi penting terhadap kebiasaan lama:

    Read More

  • Bermain Bukan Bonus: Ruang Anak Tak Boleh Diubah Menjadi Panggung Prestasi

    Bermain Bukan Bonus: Ruang Anak Tak Boleh Diubah Menjadi Panggung Prestasi Anak tidak bermain karena belum cukup dewasa untuk melakukan sesuatu yang lebih penting. Mereka bermain karena melalui permainan, dunia menjadi cukup aman untuk dicoba, ditolak, dinegosiasikan, dan dibagi dengan orang lain. Itulah sebabnya Festival Permainan Tradisional Nonalat di Purwokerto, Banyumas, pada 6 September 2026 layak dibaca lebih serius daripada sekadar agenda pelestarian budaya. Dalam kegiatan yang menjadi bagian dari Edu Expo Milad ke-112 Al Irsyad Al Islamiyyah itu, anak-anak memainkan puluhan permainan tradisional tanpa bantuan alat khusus. Gobak sodor, sunda manda, dan berbagai permainan lain dihidupkan kembali di lingkungan sekolah.

    Read More

  • Ketika Krisis Iklim Memindahkan Masa Kanak-Kanak

    Krisis iklim sering diberitakan melalui angka suhu, luas lahan terbakar, curah hujan, atau jumlah warga yang terdampak. Semua angka itu penting, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan apa yang hilang dari kehidupan seorang anak. Yang hilang bisa berupa tidur yang tenang, makanan yang cukup, perjalanan ke sekolah, ruang bermain, udara yang dapat dihirup, atau keyakinan bahwa besok masih dapat diperkirakan. Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, kehilangan semacam itu tidak datang sebagai satu ledakan peristiwa. Ava dan Pepper hidup di antara kekacauan rumah, perpindahan tempat, kemiskinan, ancaman kekerasan, lapar, serta keputusan orang dewasa yang sering tidak mereka mengerti. Dari sana terlihat tesis

    Read More

  • Ruang Tunggu Bukan Ruang Sisa: Pengadilan Harus Mengakui Waktu Anak

    Pengadilan biasanya dibayangkan sebagai tempat bagi orang dewasa: hakim memeriksa perkara, petugas mengurus dokumen, pihak-pihak menyampaikan keterangan, lalu putusan dibacakan. Anak sering hadir hanya sebagai pengikut—dibawa karena tidak ada yang menjaga, diminta menunggu, atau ditempatkan di sudut agar tidak mengganggu jalannya urusan hukum. Di situlah program PENSIL, atau Pelayanan Peduli Si Kecil, di Pengadilan Agama Kuala Kapuas menjadi penting. Program tersebut menyediakan ruang bagi anak untuk bermain dan berkreasi di ruang tunggu ketika orang tua menjalani urusan persidangan. Pengadilan menyebutnya sebagai bagian dari pelayanan yang nyaman, inklusif, dan peduli terhadap kondisi psikologis anak. PENSIL diberitakan pada 3 Oktober 2026 sebagai inovasi

    Read More

  • Sekolah Aman Bukan Sekadar Tanpa Senjata: Anak Berhak Memahami Rasa Takutnya

    Sekolah aman bukan sekolah yang sekadar tidak memiliki senjata. Ia adalah tempat yang membuat anak mampu belajar tanpa terus-menerus menebak bahaya, menyusun kemungkinan terburuk, atau bertanya-tanya apakah orang dewasa di sekitarnya mengetahui sesuatu yang sengaja disembunyikan. Pertanyaan itu menjadi mendesak setelah ditemukannya ratusan senjata, amunisi, aksesori senjata, barang yang diduga narkotika, dan materi pornografi di lingkungan sebuah sekolah swasta di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia kemudian menyiapkan asesmen psikologis bagi para siswa bersama UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak DKI Jakarta serta Jakarta Selatan. Sebelumnya, kegiatan pembelajaran dipindahkan sementara ke jarak jauh karena siswa masih merasa takut

    Read More