Buku Di Tanah Lada

Di Tanah Lada

Salva, sering disapa Ava. Namun, Papanya ingin menamainya Saliva, yang berarti ludah, sebab menganggapnya tidak berguna. Dari kamus pemberian Kakek Kia, Ava mencari setiap makna dari kata-kata yang ditemukan sehari-hari. Ketika keluarga Ava pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal, Ava berjumpa dengan P—anak lelaki yang pandai sekali bermain gitar. Perjumpaan Ava dengan P, dan petualangan keduanya akan membawa pembaca ke banyak pojok gelap dan muara yang mengejutkan. Pada edisi kali ini, novel Di Tanah Lada dilengkapi dengan sebuah catatan, banyak ilustrasi, dan satu kemungkinan akhir cerita lain. Prolog: Hari Rabu tanggal 26 Juni 2013. Di berbagai belahan dunia, sekarang, berdasarkan perhitungan cuaca, adalah musim panas. Kecuali di Australia. Tempat aneh itu tidak pernah setuju soal perhitungan cuaca. Mama yang memberitahuku. Katanya, kalau seluruh dunia sedang kedinginan, Aust

Read More

  • Ketika Anak Dilindungi oleh Amarah Orang Dewasa, Pengadilan Harus Membaca Luka yang Mendahului Kekerasan

    Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, kekerasan tidak pernah muncul sebagai ledakan yang berdiri sendiri. Ia tumbuh dari rumah yang gagal menjadi tempat aman, dari orang dewasa yang menyembunyikan kebenaran, dari anak yang terlalu lama menanggung ketakutan, dan dari pertolongan yang datang setelah luka telanjur dalam. Ava dan Pepper tidak hidup di dunia yang menyediakan jalur lurus dari bahaya menuju keselamatan. Mereka harus membaca tanda, menebak siapa yang dapat dipercaya, dan memahami kata-kata besar seperti hukum, cerai, kebenaran, serta hidup ketika pengalaman mereka sudah lebih dahulu menuntut jawaban. Karena itu, perkara Nomor 53/Pid.B/2026/PN Psw di Pengadilan Negeri Pasarwajo layak dibaca dengan

    Read More

  • APBD Bukan Pengganti Rumah: Panti Asuhan Harus Menjamin Jalan Pulang Anak

    Kebutuhan anak di panti asuhan tidak boleh lagi bergantung pada kemampuan yayasan mengumpulkan sumbangan. Namun, ketika pemerintah menyatakan bahwa seluruh kebutuhan anak akan dibiayai melalui APBD, ukuran keberhasilannya juga tidak boleh berhenti pada tersedianya makanan, pakaian, biaya kesehatan, dan pendidikan. Di Bali, terdapat 86 panti yang menangani lebih dari 2.600 anak. Dari jumlah itu, sekitar 300 anak masih membutuhkan penataan dan pelengkapan data. Gubernur Bali Wayan Koster meminta kebutuhan anak-anak tersebut ditanggung penuh melalui APBD, sekaligus mendorong percepatan penerbitan akta kelahiran, nomor induk kependudukan, kartu keluarga, dan kartu identitas anak. (baliprov.go.id) Langkah itu layak dipandang sebagai koreksi penting terhadap kebiasaan lama:

    Read More

  • Bermain Bukan Bonus: Ruang Anak Tak Boleh Diubah Menjadi Panggung Prestasi

    Bermain Bukan Bonus: Ruang Anak Tak Boleh Diubah Menjadi Panggung Prestasi Anak tidak bermain karena belum cukup dewasa untuk melakukan sesuatu yang lebih penting. Mereka bermain karena melalui permainan, dunia menjadi cukup aman untuk dicoba, ditolak, dinegosiasikan, dan dibagi dengan orang lain. Itulah sebabnya Festival Permainan Tradisional Nonalat di Purwokerto, Banyumas, pada 6 September 2026 layak dibaca lebih serius daripada sekadar agenda pelestarian budaya. Dalam kegiatan yang menjadi bagian dari Edu Expo Milad ke-112 Al Irsyad Al Islamiyyah itu, anak-anak memainkan puluhan permainan tradisional tanpa bantuan alat khusus. Gobak sodor, sunda manda, dan berbagai permainan lain dihidupkan kembali di lingkungan sekolah.

    Read More

  • Ketika Krisis Iklim Memindahkan Masa Kanak-Kanak

    Krisis iklim sering diberitakan melalui angka suhu, luas lahan terbakar, curah hujan, atau jumlah warga yang terdampak. Semua angka itu penting, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan apa yang hilang dari kehidupan seorang anak. Yang hilang bisa berupa tidur yang tenang, makanan yang cukup, perjalanan ke sekolah, ruang bermain, udara yang dapat dihirup, atau keyakinan bahwa besok masih dapat diperkirakan. Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, kehilangan semacam itu tidak datang sebagai satu ledakan peristiwa. Ava dan Pepper hidup di antara kekacauan rumah, perpindahan tempat, kemiskinan, ancaman kekerasan, lapar, serta keputusan orang dewasa yang sering tidak mereka mengerti. Dari sana terlihat tesis

    Read More

  • Ruang Tunggu Bukan Ruang Sisa: Pengadilan Harus Mengakui Waktu Anak

    Pengadilan biasanya dibayangkan sebagai tempat bagi orang dewasa: hakim memeriksa perkara, petugas mengurus dokumen, pihak-pihak menyampaikan keterangan, lalu putusan dibacakan. Anak sering hadir hanya sebagai pengikut—dibawa karena tidak ada yang menjaga, diminta menunggu, atau ditempatkan di sudut agar tidak mengganggu jalannya urusan hukum. Di situlah program PENSIL, atau Pelayanan Peduli Si Kecil, di Pengadilan Agama Kuala Kapuas menjadi penting. Program tersebut menyediakan ruang bagi anak untuk bermain dan berkreasi di ruang tunggu ketika orang tua menjalani urusan persidangan. Pengadilan menyebutnya sebagai bagian dari pelayanan yang nyaman, inklusif, dan peduli terhadap kondisi psikologis anak. PENSIL diberitakan pada 3 Oktober 2026 sebagai inovasi

    Read More

  • Sekolah Aman Bukan Sekadar Tanpa Senjata: Anak Berhak Memahami Rasa Takutnya

    Sekolah aman bukan sekolah yang sekadar tidak memiliki senjata. Ia adalah tempat yang membuat anak mampu belajar tanpa terus-menerus menebak bahaya, menyusun kemungkinan terburuk, atau bertanya-tanya apakah orang dewasa di sekitarnya mengetahui sesuatu yang sengaja disembunyikan. Pertanyaan itu menjadi mendesak setelah ditemukannya ratusan senjata, amunisi, aksesori senjata, barang yang diduga narkotika, dan materi pornografi di lingkungan sebuah sekolah swasta di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia kemudian menyiapkan asesmen psikologis bagi para siswa bersama UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak DKI Jakarta serta Jakarta Selatan. Sebelumnya, kegiatan pembelajaran dipindahkan sementara ke jarak jauh karena siswa masih merasa takut

    Read More

  • Ayah Wajib Hadir, tetapi Anak Berhak Merasa Aman

    Kehadiran ayah sedang didorong menjadi agenda publik. Pada 30 Juli 2026, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menyebut 25,8 persen anak kehilangan peran ayah atau hidup dalam kondisi *fatherless*. Pemerintah menekankan bahwa ayah ideal bukan hanya hadir secara fisik, melainkan juga secara psikologis, mampu berkomunikasi, berbagi pengasuhan, dan mendisiplinkan anak tanpa kekerasan. (antaranews.com) Arah itu penting. Namun, slogan “Ayah Wajib Hadir” mengandung persoalan yang tidak boleh dilewati: hadir untuk siapa, diukur dari apa, dan bagaimana jika kehadiran ayah justru membuat anak takut? Dalam buku berjudul *Di Tanah Lada*, pertanyaan tersebut tidak disampaikan sebagai teori pengasuhan. Ia muncul dari tubuh dan ingatan Ava

    Read More

  • Anak dengan HIV Bukan Kasus Berjalan: Hak Berobat Tidak Boleh Dipisahkan dari Hak Menjadi Anak

    Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, anak-anak tidak pernah hadir sebagai angka yang selesai dijelaskan oleh orang dewasa. Ava mengenal dunia melalui kata-kata yang belum ia pahami, sementara Pepper harus hidup dengan nama, asal-usul, dan keluarga yang lebih sering dibicarakan orang lain daripada ditanyakan kepadanya. Mereka menunjukkan satu hal penting: sebuah kategori mungkin diperlukan untuk mengatur layanan, tetapi kategori tidak boleh menggantikan manusia yang berada di baliknya. Persoalan itu kembali terlihat dalam kabar tentang anak dengan HIV di Sidoarjo. Pada Juli 2026, publik ramai membicarakan angka 522 anak atau pelajar dengan HIV. Data tersebut berasal dari catatan Delta Crisis Center hingga

    Read More

  • Anak Zero-Dose Bukan Angka Kosong: Negara Harus Menjemput Hak yang Terlewat

    Seorang anak tidak menjadi terlindungi hanya karena negara telah menyediakan vaksin. Perlindungan baru benar-benar hadir ketika sistem tahu siapa yang belum terjangkau, mengerti mengapa mereka terlewat, lalu mendatangi mereka dengan cara yang aman dan dapat dipercaya. Di situlah persoalan anak *zero-dose* menjadi lebih besar daripada angka cakupan imunisasi. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan menyebut hampir 929.000 anak di Indonesia belum pernah menerima satu pun imunisasi dasar. Laporan itu menegaskan bahwa *zero-dose* bukan semata-mata tanda kelalaian keluarga, melainkan cermin ketimpangan akses, hambatan sosial budaya, rendahnya kepercayaan, dan lemahnya layanan primer. (badankebijakan.kemkes.go.id) Pada 1–31 Oktober 2026, Bulan Imunisasi Kejar Nasional digelar untuk

    Read More

  • Kebiasaan Baik Tidak Sama dengan Rumah yang Aman

    Sekolah memang perlu membantu anak bangun pagi, belajar teratur, makan sehat, berolahraga, bermasyarakat, dan tidur cukup. Masalahnya muncul ketika semua itu diperlakukan seolah-olah sudah cukup untuk membentuk anak yang baik. Anak bukan mesin yang dapat menghasilkan karakter setelah menerima jadwal harian, poster motivasi, dan daftar centang. Pada 1 Oktober 2026, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti kembali menekankan bahwa pendidikan Pancasila tidak berhenti pada pelajaran di kelas, tetapi harus hadir melalui budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, pembiasaan, dan pengalaman nyata peserta didik. Arah ini sejalan dengan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar

    Read More