Bermain Bukan Bonus: Ruang Anak Tak Boleh Diubah Menjadi Panggung Prestasi

Written by

in

Bermain Bukan Bonus: Ruang Anak Tak Boleh Diubah Menjadi Panggung Prestasi

Anak tidak bermain karena belum cukup dewasa untuk melakukan sesuatu yang lebih penting. Mereka bermain karena melalui permainan, dunia menjadi cukup aman untuk dicoba, ditolak, dinegosiasikan, dan dibagi dengan orang lain. Itulah sebabnya Festival Permainan Tradisional Nonalat di Purwokerto, Banyumas, pada 6 September 2026 layak dibaca lebih serius daripada sekadar agenda pelestarian budaya. Dalam kegiatan yang menjadi bagian dari Edu Expo Milad ke-112 Al Irsyad Al Islamiyyah itu, anak-anak memainkan puluhan permainan tradisional tanpa bantuan alat khusus. Gobak sodor, sunda manda, dan berbagai permainan lain dihidupkan kembali di lingkungan sekolah. (rri.co.id)

Berita tersebut penting bukan karena permainan tradisional otomatis lebih baik daripada permainan digital. Yang lebih penting adalah pertanyaan tentang ruang sosial apa yang sedang disediakan bagi anak: ruang untuk bergerak bersama, membaca reaksi teman, menerima kekalahan, mengubah aturan, dan menemukan bahwa hubungan dengan orang lain tidak selalu dibangun melalui perintah orang dewasa.

Dalam permainan, anak membangun hubungan yang tidak disediakan rumah

Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, Ava dan Pepper tidak pertama-tama disatukan oleh nasihat, program, atau intervensi resmi. Mereka bertemu melalui situasi yang serba tidak sempurna, lalu membangun kedekatan lewat percakapan, musik, makanan, rasa ingin tahu, dan permainan. Bagi Ava, Pepper bukan sekadar teman bermain. Ia menjadi seseorang yang dapat diajak berbagi ketakutan, kebingungan, dan keinginan untuk kembali ke tempat yang sebenarnya ingin ditinggalkan.

Di sini terdapat hubungan pertama dengan festival di Banyumas. Permainan bukan hanya kegiatan yang membuat anak bergerak atau menjauh sebentar dari gawai. Ia adalah bahasa pertemanan. Anak belajar membaca apakah teman masih mau bermain, apakah aturan terasa adil, kapan harus berhenti, dan bagaimana mengajak orang lain masuk ke dalam lingkaran. Kemampuan semacam itu tidak lahir dari slogan tentang karakter, melainkan dari pengalaman langsung bersama orang lain.

Laporan tentang kegiatan Banyumas menyebut permainan tersebut dimaksudkan untuk memperkenalkan kembali permainan yang mulai jarang dikenal anak-anak. Sejumlah pendamping juga menekankan pentingnya kerja sama, kepedulian, dan interaksi antarteman. (rri.co.id) Namun, nilai-nilai itu sebaiknya tidak diperlakukan sebagai hasil ujian yang harus segera dipanen. Kerja sama bukan dekorasi moral dalam acara sekolah. Ia tumbuh ketika anak diberi cukup waktu untuk bermain tanpa terus-menerus diarahkan menuju capaian tertentu.

Dari gang sempit ke lapangan sekolah: bermain perlu diakui tanpa dijinakkan

Ava dan Pepper bermain dalam keadaan yang jauh dari ideal. Mereka tidak memiliki ruang bermain yang dirancang khusus. Mereka memakai apa yang tersedia: percakapan, gitar, benda-benda sederhana, waktu yang tersisa, dan imajinasi. Justru karena itu, permainan mereka memiliki arti penting. Ia muncul di sela-sela rumah yang penuh ancaman, perpindahan tempat, kemiskinan, dan keputusan orang dewasa yang tidak mereka pahami.

Festival di Purwokerto menghadirkan perubahan konteks. Permainan yang dalam kehidupan sehari-hari bisa muncul spontan kini ditempatkan dalam lapangan sekolah, agenda pendidikan, dan perayaan kelembagaan. Perubahan ini bukan masalah dengan sendirinya. Anak memang berhak memperoleh ruang publik yang aman untuk bermain. Lembaga pendidikan juga dapat membantu memperluas akses terhadap permainan yang mungkin tidak lagi dikenal.

Akan tetapi, pelembagaan selalu membawa risiko. Sesuatu yang semula bebas dapat berubah menjadi pertunjukan. Anak bukan lagi pemain, melainkan peserta yang harus tampak antusias. Permainan tidak lagi menjadi pengalaman bersama, melainkan bukti bahwa sekolah berhasil menanamkan budaya, karakter, kebersamaan, atau nasionalisme.

Karena itu, harapan agar permainan tradisional tidak hanya muncul saat festival, tetapi menjadi bagian dari kegiatan pendidikan sehari-hari, merupakan titik penting dalam pemberitaan tersebut. (portalpurwokerto.pikiran-rakyat.com) Jika benar-benar diterapkan, gagasan itu dapat mengembalikan permainan ke fungsi dasarnya: tersedia kapan saja, tidak mahal, tidak bergantung pada perangkat, dan dapat dilakukan di ruang yang sederhana. Namun, pelaksanaannya harus memastikan bahwa anak tidak sekadar dipindahkan dari layar ke lapangan untuk kembali diawasi dengan cara yang sama.

Anak tidak membutuhkan permainan yang selalu berguna

Berita tentang Festival Permainan Tradisional 2026 juga memperlihatkan kecenderungan yang lebih luas: permainan sering diterima orang dewasa karena dapat dibenarkan melalui manfaatnya. Anak bermain agar sehat. Anak bermain agar kompak. Anak bermain agar mengenal budaya. Anak bermain agar tidak terlalu lama memegang telepon seluler. Semua alasan itu masuk akal, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya alasan.

Dalam ‘Di Tanah Lada’, pengalaman anak terus-menerus diterjemahkan oleh orang dewasa. Ava mencari arti kata melalui kamus karena dunia di sekitarnya penuh istilah yang tidak dapat ia pahami: hukum, cerai, legal, boros, dan kebenaran. Namun, mengetahui arti kata tidak otomatis membuat hidupnya aman. Hal yang sama berlaku pada permainan. Menyebut manfaatnya tidak berarti kebutuhan anak telah dipenuhi.

Inilah hubungan ketiga yang perlu ditegaskan. Festival dapat menjadi ruang pemulihan jika anak memperoleh kesempatan untuk bermain tanpa harus membuktikan bahwa permainan itu menghasilkan anak yang lebih disiplin, lebih pintar, atau lebih berprestasi. Bermain juga boleh menjadi kegiatan yang tidak menghasilkan apa-apa selain tawa, kedekatan, dan kenangan bahwa tubuh mereka pernah bergerak tanpa rasa takut.

Pada titik ini, isu gawai pun perlu dibaca dengan hati-hati. Pemberitaan menyebut festival tersebut berlangsung di tengah kebiasaan anak yang semakin lekat dengan telepon seluler. (rri.co.id) Masalahnya bukan sekadar bahwa layar harus dikalahkan. Anak membutuhkan pilihan yang nyata: ruang luar yang aman, teman yang dapat ditemui, orang dewasa yang tidak mengontrol setiap gerak, dan waktu yang tidak seluruhnya diubah menjadi pelajaran.

Mengembalikan permainan ke keseharian anak

Permainan tradisional tidak akan bertahan hanya karena dipanggungkan sekali setahun. Ia bertahan jika anak memiliki tempat untuk mengulanginya, teman untuk mengubahnya, dan orang dewasa yang tidak buru-buru mengubahnya menjadi lomba. Pemerintah, sekolah, dan keluarga perlu memastikan ruang bermain tersedia di lingkungan sehari-hari, termasuk bagi anak yang hidup di rumah sempit, kawasan padat, atau situasi keluarga yang tidak aman.

Pelajaran dari Ava dan Pepper sederhana, tetapi tidak ringan: ketika rumah gagal menyediakan rasa aman, relasi dengan teman dapat menjadi salah satu jalan untuk bertahan. Namun, beban itu tidak boleh diserahkan kepada anak. Negara tetap harus menyediakan perlindungan, layanan, dan ruang publik yang layak. Bermain bukan pengganti keselamatan. Ia adalah bagian dari keselamatan itu sendiri.

Festival di Banyumas memberi contoh bahwa ruang tersebut masih mungkin dibuka. Tantangannya adalah memastikan permainan tidak berhenti sebagai panggung prestasi, nostalgia budaya, atau strategi mengurangi waktu layar. Anak tidak harus menghasilkan sesuatu ketika bermain. Mereka cukup diberi kesempatan untuk hadir, memilih, tertawa, dan menemukan teman. Dari sanalah ruang pemulihan yang sesungguhnya dapat dimulai.

Sumber