Pengadilan biasanya dibayangkan sebagai tempat bagi orang dewasa: hakim memeriksa perkara, petugas mengurus dokumen, pihak-pihak menyampaikan keterangan, lalu putusan dibacakan. Anak sering hadir hanya sebagai pengikut—dibawa karena tidak ada yang menjaga, diminta menunggu, atau ditempatkan di sudut agar tidak mengganggu jalannya urusan hukum.
Di situlah program PENSIL, atau Pelayanan Peduli Si Kecil, di Pengadilan Agama Kuala Kapuas menjadi penting. Program tersebut menyediakan ruang bagi anak untuk bermain dan berkreasi di ruang tunggu ketika orang tua menjalani urusan persidangan. Pengadilan menyebutnya sebagai bagian dari pelayanan yang nyaman, inklusif, dan peduli terhadap kondisi psikologis anak. PENSIL diberitakan pada 3 Oktober 2026 sebagai inovasi pelayanan ramah anak di lingkungan Pengadilan Agama Kuala Kapuas. (badilag.mahkamahagung.go.id)
Langkah itu patut dihargai. Namun, ruang tunggu tidak boleh diperlakukan sebagai ruang sisa. Anak bukan sekadar tubuh kecil yang harus dibuat tenang agar perkara orang dewasa dapat berjalan tanpa gangguan.
Anak tidak hanya menunggu perkara selesai
Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, waktu anak selalu dibentuk oleh keputusan orang dewasa. Ava berpindah dari rumah yang penuh ketakutan ke Rusun Nero, lalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain tanpa pernah benar-benar memiliki kendali atas arah hidupnya. Pepper pun hidup dalam ketidakjelasan tentang keluarga, nama, tempat tinggal, dan masa depan. Mereka tidak sekadar menempati ruang; mereka menunggu keputusan yang dibuat orang lain.
Hubungan itu penting untuk membaca PENSIL. Anak yang datang ke pengadilan mungkin tampak hanya sedang menunggu sidang orang tuanya. Padahal, perkara tersebut bisa berkaitan langsung dengan rumah tempat ia tinggal, siapa yang merawatnya, apakah ia dapat bersekolah, bagaimana biaya hidup dipenuhi, atau apakah hubungan keluarganya akan berubah. Menyediakan mainan dapat mengurangi ketegangan, tetapi tidak otomatis menjawab kecemasan yang mendasari kehadiran anak di sana.
Karena itu, pelayanan ramah anak harus dimulai dari pertanyaan yang lebih serius: apakah anak tahu mengapa ia berada di pengadilan? Apakah ada orang dewasa yang menjelaskan situasi dengan bahasa yang dapat dipahaminya? Apakah ia tahu siapa yang dapat dicari jika takut, bingung, atau ingin menyampaikan sesuatu?
Jika jawaban atas pertanyaan itu belum tersedia, ruang bermain berisiko menjadi lapisan kosmetik di atas persoalan yang lebih dalam. Anak dibuat sibuk, tetapi belum tentu diperlakukan sebagai pihak yang mengalami akibat perkara.
Waktu hukum dapat menjadi beban anak
Hukum memiliki waktunya sendiri: pendaftaran, pemanggilan, pemeriksaan, penundaan, mediasi, putusan, dan pelaksanaan. Bagi lembaga, urutan itu merupakan prosedur. Bagi anak, setiap jeda dapat berarti ketidakpastian yang nyata. Ia mungkin tidak tahu apakah akan pulang ke rumah yang sama, tinggal bersama orang yang sama, atau menerima kabar yang mengubah rutinitasnya.
Di Tanah Lada memperlihatkan bagaimana ketidakpastian semacam itu bekerja di tingkat paling sehari-hari. Ava berusaha memahami kata-kata seperti “hukum”, “legal”, “cerai”, dan “kebenaran” melalui kamus. Ia dapat menemukan definisi, tetapi definisi tidak serta-merta membuat pengalaman menjadi masuk akal. Anak sering memperoleh kata setelah lebih dulu menerima akibatnya.
Di sinilah pengadilan perlu membedakan antara menjelaskan dan sekadar memberi informasi. Penjelasan untuk anak bukan salinan bahasa hukum yang disederhanakan secara mekanis. Ia harus menjawab pertanyaan yang mungkin tidak diucapkan: apa yang sedang terjadi, siapa yang mengambil keputusan, apa yang mungkin berubah, dan apakah anak boleh menyampaikan rasa takut atau keinginannya.
PENSIL dapat menjadi pintu masuk menuju layanan semacam itu, bukan titik akhir. Ruang tunggu yang ramah seharusnya terhubung dengan pendampingan, rujukan psikologis, informasi yang sesuai usia, serta prosedur untuk memastikan suara anak tidak hilang di antara berkas orang dewasa.
Ramah bukan berarti membuat anak diam
Pengadilan Agama Kuala Kapuas menyatakan PENSIL ditujukan untuk menciptakan suasana yang aman dan bahagia bagi anak. Pegawai pelayanan terpadu dan mahasiswa magang ikut mendampingi kegiatan tersebut. (badilag.mahkamahagung.go.id) Gagasan ini menunjukkan perubahan penting: lembaga hukum mulai mengakui bahwa pengalaman anak di ruang pengadilan memiliki dimensi psikologis, bukan sekadar administratif.
Namun, keramahan memiliki batas jika ia hanya diukur dari seberapa tenang anak menunggu. Anak yang diam belum tentu merasa aman. Ia mungkin sedang takut, tidak mengerti, atau belajar bahwa pertanyaan tentang keluarganya tidak layak disampaikan. Dalam cerita Ava dan Pepper, banyak bahaya justru muncul karena orang dewasa menganggap mereka belum perlu tahu atau belum mampu memahami.
Itulah hubungan ketiga yang perlu ditegaskan. PENSIL menandai perubahan konteks dari pengadilan yang mungkin terasa kaku menuju lembaga yang berusaha lebih manusiawi. Tetapi perubahan suasana tidak boleh disamakan dengan perubahan relasi kuasa. Jika keputusan tetap dibuat tanpa mendengar anak, maka ruang ramah hanya mengubah cara anak menunggu, bukan kedudukannya dalam perkara.
Pengadilan yang sungguh-sungguh ramah anak harus memastikan bahwa waktu tunggu tidak menjadi waktu yang hilang. Anak perlu diberi kesempatan untuk bertanya, menyampaikan kekhawatiran, dan memperoleh pendampingan yang tidak memihak salah satu orang dewasa. Dalam perkara yang menyentuh pengasuhan, perceraian, nafkah, atau identitas keluarga, kepentingan anak harus dibaca sebagai bagian dari substansi, bukan tambahan setelah proses utama selesai.
Dari ruang tunggu menuju ruang pengakuan
PENSIL adalah awal yang baik karena ia mengakui sesuatu yang selama ini mudah diabaikan: anak juga hadir di pengadilan. Tetapi pengakuan itu harus bergerak lebih jauh. Anak tidak cukup diberi kursi, mainan, atau kegiatan mewarnai. Mereka membutuhkan waktu yang dijelaskan, keputusan yang diterangkan, dan orang dewasa yang bersedia mendengar tanpa segera menerjemahkan pengalaman mereka ke dalam kepentingan orang lain.
Pelajaran terpenting dari Ava dan Pepper adalah bahwa anak selalu hidup di dalam keputusan orang dewasa, bahkan ketika tidak dilibatkan dalam pembuatannya. Karena itu, pengadilan tidak boleh hanya menyediakan ruang agar anak tidak mengganggu jalannya perkara. Pengadilan harus memastikan bahwa tidak ada keputusan tentang hidup anak yang berjalan seolah-olah anak tidak berada di sana.
Ruang tunggu baru menjadi ruang perlindungan ketika anak tidak hanya menunggu perkara selesai, melainkan memahami bahwa dirinya diakui sejak awal hingga akhir proses.
Sumber
- badilag.mahkamahagung.go.id: Posbakum Hadir Secara Gratis Wujud Nyata Komitmen Dan Sinergitas
- badilag.mahkamahagung.go.id: Dari Penilaian Triwulan Hingga Tenaga Outsourcing Begini Kata Ketua
- badilag.mahkamahagung.go.id: Masyarakat Rasakan Layanan Ptsp Pa Kuala Kapuas Yang Transparan Dan Bebas Pungli 22 1
- badilag.mahkamahagung.go.id: Sambut Dp3Ap2Kb Pa Kuala Kapuas Sambut Dengan Positif
- Buku Di Tanah Lada — Gramedia