Anak Bukan Saksi untuk Perang Orang Dewasa

Written by

in

Perbedaan pilihan politik seharusnya berhenti sebagai perbedaan. Ia boleh membuat suami dan istri berdebat, memilih calon yang berlainan, atau membaca masa depan negara dengan cara yang tidak sama. Namun, ketika perbedaan itu dibawa sampai perceraian dan anak hadir sebagai saksi, persoalannya tidak lagi semata-mata tentang rapuhnya perkawinan. Ia menjadi pertanyaan tentang bagaimana orang dewasa memindahkan beban konflik kepada seseorang yang tidak pernah memilih untuk berada di tengahnya.

Pada 9 September 2026, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut bahwa perbedaan pilihan politik pernah berujung pada sekitar 500 kasus perceraian di satu provinsi. Ia juga mengatakan perkara-perkara itu bahkan sampai ke pengadilan dengan anak sebagai saksi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam National Symposium of Penghulu and Ulama di Kabupaten Cirebon, dalam konteks pembahasan tentang ketahanan keluarga. (detik.com)

Angka itu perlu dibaca dengan hati-hati. Berita tersebut tidak menjelaskan identitas perkara, usia anak, bentuk keterangannya, atau apakah seluruh anak benar-benar diperiksa sebagai saksi dalam pengertian hukum yang sama. Karena itu, yang paling penting bukan menjadikan angka tersebut sebagai tontonan statistik, melainkan menguji apa yang terjadi ketika konflik politik orang dewasa masuk ke ruang hidup anak.

Ketika kata “cerai” datang setelah rumah lebih dulu pecah

Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, Ava tidak mengenal kata “cerai” ketika kata itu mulai menentukan hidupnya. Ia bahkan salah mencari “cerai” sebagai “serai”, tanaman penyedap masakan. Kekeliruan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya memperlihatkan jurang antara bahasa orang dewasa dan pengalaman anak. Orang dewasa dapat mengucapkan perceraian sebagai keputusan hukum, jalan keluar, atau akibat pertengkaran. Bagi anak, perceraian berarti perubahan rumah, pengasuh, uang, perjalanan, dan kemungkinan tidak lagi bertemu seseorang.

Di situlah kabar tentang perceraian akibat perbedaan pilihan politik menjadi relevan. Politik mungkin menjadi pemicu yang disebut orang dewasa, tetapi anak tidak hidup di dalam istilah “pilihan politik”. Anak hidup dalam akibatnya: suasana rumah yang tegang, percakapan yang berubah menjadi tuduhan, pengaturan tempat tinggal, dan tuntutan untuk memahami siapa yang benar.

Ava menunjukkan bahwa anak sering diminta mengerti setelah semuanya terjadi. Ia belajar arti “cerai” bukan karena orang dewasa menyiapkan penjelasan yang aman, melainkan karena kehidupan memaksanya mencari arti. Jika anak kemudian diminta menjadi saksi, sistem harus bertanya lebih dulu: apakah ia sedang memberikan keterangan yang diperlukan, atau sedang dipaksa merapikan kekacauan orang dewasa?

Dari politik ke pengadilan: anak tidak boleh menjadi alat pembenaran

Perbedaan pilihan politik tidak otomatis menjadi alasan yang cukup untuk membubarkan keluarga. Ia menjadi berbahaya ketika pilihan politik dipakai sebagai identitas moral: satu pihak dianggap lebih baik, lebih waras, lebih patriotik, atau lebih layak dipercaya daripada pihak lain. Dalam situasi semacam itu, anak mudah dijadikan penonton sekaligus bukti hidup.

Anak dapat diminta mengulang pertengkaran, menjelaskan siapa yang mulai, membenarkan tuduhan tentang pasangan, atau menyampaikan apa yang terjadi di rumah. Tuntutan tersebut mungkin tampak praktis bagi orang dewasa yang sedang mencari pembuktian. Namun, bagi anak, kesaksian dapat terasa seperti pilihan pihak. Ia bukan hanya diminta mengatakan apa yang diketahui, melainkan berisiko dianggap mengkhianati salah satu orang tuanya.

Di dalam cerita, Ava berkali-kali harus menerjemahkan perilaku orang dewasa: apakah Mama menyayanginya, apakah Papa jahat, mengapa uang habis, dan mengapa seseorang pergi. Ia tidak memperoleh kebenaran dalam bentuk yang utuh. Ia hanya mengumpulkan potongan-potongan percakapan, kamus, ingatan, dan dugaan. Pola itu menjadi cermin penting bagi perkara perceraian yang melibatkan anak sebagai saksi. Anak tidak semestinya ditugaskan menyusun narasi yang gagal disusun orang dewasa.

Prinsip kepentingan terbaik anak justru mengharuskan perkara keluarga tidak berhenti pada kemenangan ibu atau ayah. Sejumlah uraian Mahkamah Agung menegaskan bahwa persoalan pengasuhan harus diletakkan pada perlindungan, tumbuh kembang, dan kehidupan anak, bukan semata-mata kepentingan orang tua. (marinews.mahkamahagung.go.id) Jika prinsip itu benar-benar dijalankan, anak tidak boleh diperlakukan sebagai properti emosional atau alat untuk memenangkan perkara.

Kebenaran bukan kewajiban anak untuk memilih kubu

Ada perbedaan mendasar antara mendengar suara anak dan menjadikan anak saksi untuk perang orang dewasa. Mendengar berarti memberi ruang yang aman, menjelaskan tujuan pertanyaan, menjaga kerahasiaan, serta memastikan anak tidak dihukum oleh pihak yang merasa dirugikan. Menjadikan anak sebagai alat berarti meminta keterangannya sambil membiarkan ia menanggung akibat sosial dan emosional dari apa yang dikatakannya.

Dalam buku ini, kebenaran tidak hadir sebagai jawaban yang langsung menyelamatkan. Ava menemukan bahwa kata “kebenaran” dapat dicari dalam kamus, tetapi lebih sulit ditemukan di dunia nyata. Ia juga belajar bahwa orang dewasa sering memiliki alasan, tetapi alasan tidak selalu menghapus luka yang mereka timbulkan. Ini penting untuk membaca konflik perceraian akibat politik: memahami sebab tidak sama dengan membenarkan dampak.

Orang tua mungkin memiliki alasan untuk berbeda pilihan, marah, atau bahkan mengakhiri perkawinan. Namun, tidak ada alasan yang membenarkan anak dipaksa memilih siapa yang harus dipercaya, siapa yang harus disalahkan, atau siapa yang harus dibela di hadapan hukum. Anak berhak mengatakan apa yang dialaminya, tetapi ia tidak boleh dibebani tugas menyelamatkan martabat orang dewasa.

Pengadilan harus mengembalikan anak pada hidupnya

Jika seorang anak memang memiliki pengetahuan yang relevan, proses hukum tetap harus menyediakan cara pemeriksaan yang melindungi dirinya. Pertanyaan harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan memahami. Anak perlu didampingi, tidak dihadapkan secara menakutkan dengan orang tua, dan tidak dipaksa mengulang pengalaman berkali-kali. Yang lebih penting, hakim dan seluruh pihak harus membedakan antara informasi yang dibutuhkan untuk melindungi anak dan informasi yang hanya berguna untuk mempermalukan pasangan.

Kabar tentang ratusan perceraian yang dipicu perbedaan pilihan politik semestinya menjadi peringatan bagi keluarga, lembaga keagamaan, dan pengadilan. Ketahanan keluarga bukan berarti memaksa pasangan bertahan dalam hubungan yang merusak. Ketahanan keluarga berarti memastikan bahwa ketika hubungan orang dewasa berakhir, anak tidak ikut dipaksa menjadi medan perang.

Ava pernah memahami hidupnya melalui kata-kata yang terlalu besar untuk usianya. Ia belajar tentang cerai, uang, hukum, kebenaran, dan tanggung jawab karena orang dewasa gagal membuat dunia cukup aman baginya. Pelajaran yang seharusnya diambil bukan bahwa anak mampu menanggung semuanya. Justru sebaliknya: anak tidak boleh terus-menerus dipuji karena kuat setelah dipaksa menghadapi beban yang bukan miliknya.

Perbedaan politik dapat memisahkan pilihan. Perceraian dapat mengakhiri perkawinan. Tetapi keduanya tidak boleh mengakhiri masa kanak-kanak. Anak bukan saksi untuk perang orang dewasa. Ia adalah pihak yang harus dilindungi ketika perang itu selesai.

Sumber