Ketika Antrean BBM Memindahkan Sekolah, Anak Tak Boleh Menjadi Penyangga Krisis

Written by

in

Sekolah biasanya dipahami sebagai bangunan yang harus didatangi. Namun, di Makassar pada 12–19 September 2026, sekolah justru dipindahkan ke rumah. Pemerintah Kota Makassar memberlakukan pembelajaran daring bagi peserta didik PAUD, TK, SD, dan SMP setelah antrean panjang serta keterbatasan bahan bakar minyak mengganggu mobilitas murid, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua. Kebijakan itu disebut sebagai langkah sementara untuk mengurangi pergerakan warga di tengah krisis pasokan BBM. (detik.com)

Keputusan tersebut masuk akal sebagai tindakan darurat. Antrean di SPBU bukan sekadar pemandangan jalan yang padat. Ia dapat mengubah waktu berangkat, biaya perjalanan, keselamatan, dan kemampuan keluarga mengantar anak. Tetapi justru karena kebijakan itu masuk akal, ia perlu dibaca lebih kritis. Pertanyaannya bukan apakah sekolah daring dapat mengurangi mobilitas. Pertanyaannya: siapa yang menanggung harga dari pengurangan mobilitas itu?

Ketika krisis orang dewasa mengubah peta hidup anak

Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, Ava dan Pepper hidup di bawah keputusan orang dewasa yang terus mengubah arah hidup mereka. Mereka berpindah rumah, menghadapi rahasia keluarga, menebak siapa yang dapat dipercaya, dan berusaha memahami istilah besar yang datang terlambat dibanding pengalaman yang harus mereka tanggung. Perpindahan tidak selalu berarti keselamatan. Kadang-kadang, seseorang hanya dipindahkan dari satu bentuk ketidakpastian ke bentuk yang lain.

Di titik itu, kebijakan Makassar memiliki hubungan sebab-akibat yang jelas dengan benang merah cerita tersebut. Krisis energi terjadi di ruang publik, tetapi penyesuaiannya dibebankan ke ruang pendidikan dan keluarga. Antrean kendaraan membuat sekolah ditutup sementara, lalu pembelajaran dipindahkan ke rumah. Anak tidak menciptakan kelangkaan BBM, tidak mengatur distribusi, dan tidak menentukan desain transportasi kota. Namun, merekalah yang harus menyesuaikan jam belajar, perangkat, ruang, dan pendampingan.

Surat edaran pemerintah memang menjaga agar kegiatan belajar tetap berjalan dari rumah. Akan tetapi, “tetap berjalan” tidak selalu berarti berlangsung dengan mutu dan beban yang sama. Bagi sebagian keluarga, rumah dapat menyediakan koneksi internet, gawai, meja, dan orang dewasa yang mendampingi. Bagi keluarga lain, rumah mungkin juga merupakan tempat kerja, ruang sempit, lokasi pengasuhan adik, atau tempat orang tua harus mencari nafkah tanpa pilihan bekerja dari jarak jauh.

Daring bukan ruang yang netral

Ava mengenali dunia melalui kata-kata. Ia mencari arti “hukum”, “cerai”, “hangat”, dan “hidup” karena kenyataan di sekelilingnya terlalu besar untuk dipahami begitu saja. Cara ini penting untuk membaca perubahan dari sekolah ke rumah. Pembelajaran daring sering diperlakukan seolah-olah hanya memerlukan tautan, perangkat, dan koneksi. Padahal, anak juga memerlukan kemampuan memahami instruksi, bertanya ketika bingung, menyusun waktu, dan mengetahui kepada siapa ia harus meminta pertolongan.

Di sinilah kebijakan darurat tersebut berhadapan dengan perubahan konteks. Dalam cerita Ava, keterbatasan bahasa membuat dunia menjadi berjarak. Dalam pembelajaran daring, jarak itu dapat muncul melalui teknologi dan keadaan rumah. Anak yang tidak memiliki perangkat sendiri mungkin harus menunggu orang tua pulang. Anak yang berbagi satu telepon dengan saudara tidak dapat mengikuti pelajaran secara bersamaan. Anak yang tidak memahami tugas bisa diam bukan karena tidak mau belajar, melainkan karena tidak tahu bagaimana menyampaikan kebingungannya.

Karena itu, keberhasilan kebijakan tidak boleh diukur hanya dari tersampaikannya materi atau hadirnya guru dalam ruang virtual. Pemerintah dan sekolah perlu memeriksa siapa yang tidak masuk, siapa yang hanya menerima tugas tanpa interaksi, siapa yang tidak memiliki kuota, serta siapa yang harus memilih antara belajar dan membantu keluarga. Jika pemeriksaan itu tidak dilakukan, sekolah daring hanya akan memindahkan ketidaksetaraan dari jalan raya ke ruang domestik.

Rumah tidak otomatis menjadi tempat belajar yang aman

Salah satu pelajaran terpenting dari kisah Ava dan Pepper adalah bahwa alamat tidak pernah cukup untuk membuktikan keselamatan. Rusun Nero buruk secara fisik, tetapi ancaman di dalamnya juga berasal dari orang-orang yang menguasai ruang, uang, tubuh, dan gerak anak. Sebaliknya, rumah yang tampak lebih layak pun tidak otomatis menyediakan perhatian, ketenangan, atau perlindungan.

Hubungan ini membuat kebijakan belajar dari rumah perlu diuji melampaui urusan teknis. Ketika sekolah dipindahkan ke rumah karena krisis BBM, negara secara tidak langsung meminta keluarga mengambil alih sebagian fungsi sekolah: menyediakan pengawasan, membangun rutinitas, mengatasi gangguan, membantu tugas, dan menjaga anak tetap terhubung. Bagi keluarga yang sedang menghadapi konflik, kekurangan ruang, pekerjaan tidak tetap, atau kekerasan, permintaan itu bisa menjadi beban tambahan yang tidak terlihat.

Kebijakan darurat seharusnya disertai peta risiko. Sekolah perlu mengetahui anak yang tidak dapat mengikuti kelas, bukan untuk menghukum, melainkan untuk menawarkan alternatif: modul luring, titik belajar yang aman, peminjaman perangkat, kunjungan terbatas, atau komunikasi langsung dengan wali. Anak juga perlu diberi ruang untuk mengatakan bahwa rumahnya tidak kondusif. Tanpa itu, rumah hanya menjadi alamat administratif tempat kegagalan layanan publik disembunyikan.

Energi adalah bagian dari hak belajar

Krisis BBM memperlihatkan bahwa pendidikan tidak berdiri sendiri. Ia bergantung pada transportasi, energi, waktu, jaringan komunikasi, dan kestabilan pengasuhan. Ketika salah satu infrastruktur tersebut terganggu, dampaknya tidak boleh dibaca sebagai masalah keluarga semata.

Pada bagian akhir kisah Ava dan Pepper, tanah dibayangkan sebagai tempat yang dapat menumbuhkan kebahagiaan. Gagasan itu bukan romantisasi tempat, melainkan pertanyaan tentang apa yang membuat seorang anak dapat tumbuh: rasa aman, hubungan yang dapat dipercaya, dan keyakinan bahwa hidup tidak selalu menuntutnya menjadi kuat lebih dulu.

Pelajaran itu penting bagi Makassar. Sekolah daring mungkin diperlukan selama antrean BBM mengancam mobilitas. Namun, ia tidak boleh menjadi cara cepat untuk mengalihkan krisis energi ke pundak anak, guru, dan orang tua. Pemerintah perlu menjelaskan ukuran evaluasinya, memastikan akses bagi keluarga yang tertinggal, dan mengembalikan pembelajaran tatap muka segera setelah keadaan memungkinkan.

Anak tidak boleh dijadikan penyangga setiap kali sistem orang dewasa gagal bekerja. Jika BBM langka, negara harus memperbaiki pasokan dan mobilitas. Jika sekolah dipindahkan sementara, negara tetap wajib memastikan bahwa anak tidak kehilangan guru, teman, waktu belajar, dan rasa aman. Sebab pendidikan yang benar-benar berjalan bukan sekadar pendidikan yang berpindah tempat, melainkan pendidikan yang tetap menjaga anak sebagai manusia yang berhak tumbuh.

Sumber