Krisis iklim sering diberitakan melalui angka suhu, luas lahan terbakar, curah hujan, atau jumlah warga yang terdampak. Semua angka itu penting, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan apa yang hilang dari kehidupan seorang anak. Yang hilang bisa berupa tidur yang tenang, makanan yang cukup, perjalanan ke sekolah, ruang bermain, udara yang dapat dihirup, atau keyakinan bahwa besok masih dapat diperkirakan.
Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, kehilangan semacam itu tidak datang sebagai satu ledakan peristiwa. Ava dan Pepper hidup di antara kekacauan rumah, perpindahan tempat, kemiskinan, ancaman kekerasan, lapar, serta keputusan orang dewasa yang sering tidak mereka mengerti. Dari sana terlihat tesis yang penting untuk membaca krisis iklim: masa kanak-kanak dapat menyusut sedikit demi sedikit, ketika ruang hidup menjadi semakin tidak layak dan perlindungan datang terlambat.
Kekeringan Mengubah Lingkungan Menjadi Ancaman Sehari-hari
Kabar tentang warga Kalimantan yang kesulitan memperoleh air setelah berbulan-bulan tanpa hujan menunjukkan bentuk krisis yang tidak selalu hadir sebagai bencana dramatis. Di Desa Penyeladi, Kalimantan Barat, kekeringan yang menguat bersamaan dengan kondisi lahan gambut yang rusak membuat sungai tidak lagi dapat diandalkan untuk kebutuhan sehari-hari. Peristiwa itu diberitakan pada 2 Oktober 2026, ketika El Niño memperparah tekanan terhadap air dan ekosistem setempat. (apnews.com)
Bagi anak, air bukan sekadar sumber daya yang dikelola dalam laporan lingkungan. Air berarti mandi, memasak, mencuci, minum, berangkat sekolah, dan merawat anggota keluarga. Ketika air menghilang, waktu anak ikut berpindah: ia mungkin harus membantu mencari air, tinggal lebih jauh dari sekolah, atau menanggung penyakit yang semestinya dapat dicegah.
Di sinilah lingkungan Rusun Nero dalam karya tersebut menjadi cermin yang tajam. Rusun itu tidak hanya digambarkan melalui kecoak, tikus, lumut, jamur, asap, dan lorong gelap. Ia menjadi tempat yang membatasi pilihan anak. Lingkungan fisik yang buruk bertemu dengan keluarga yang tidak aman, lalu menghasilkan kerentanan berlapis. Krisis air di Kalimantan memperlihatkan kesinambungan pola tersebut: kerusakan lingkungan bukan latar belakang netral, melainkan kekuatan yang menentukan apakah anak memiliki ruang untuk tumbuh.
Ketika Pangan Menjadi Korban Kedua
Perubahan iklim juga memindahkan krisis ke meja makan. Analisis UNICEF yang diterbitkan pada April 2026 menyebut peningkatan suhu, pola hujan yang tidak menentu, dan cuaca ekstrem mengganggu sistem pangan serta memperlemah ketahanan gizi, terutama bagi anak dan perempuan. Dokumen itu juga menilai bahwa kebijakan pangan, gizi, dan iklim di Indonesia belum cukup terhubung satu sama lain. (unicef.org)
Persoalannya bukan hanya apakah makanan tersedia. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah siapa yang mampu membeli makanan ketika harga naik, siapa yang masih memiliki akses ke air bersih, dan siapa yang dapat memperoleh layanan kesehatan ketika kekurangan gizi mulai terlihat. Anak dari keluarga miskin akan menerima dampak lebih dahulu karena mereka memiliki lebih sedikit pilihan untuk mengganti sumber pangan, berpindah tempat, atau membayar perawatan.
Pengalaman Ava memperjelas persoalan itu. Makanan dalam hidupnya bukan benda yang hadir secara otomatis. Ia menyimpan makanan ringan di dalam ransel, memikirkan kapan akan makan, dan belajar bahwa bantuan sering bergantung pada kebaikan orang lain. Karena itu, laporan tentang pangan dan iklim tidak boleh dibaca sebagai urusan produksi pertanian saja. Ia menyentuh hak anak untuk hidup dalam keluarga yang tidak dipaksa mengubah makanan menjadi pertaruhan harian.
Sekolah Tidak Boleh Menjadi Korban yang Selalu Dianggap Sementara
Krisis iklim juga memutus pendidikan secara perlahan. Laporan UNICEF dan pemerintah Indonesia menyebut banjir, kekeringan, kenaikan suhu, serta perubahan jangka panjang mengganggu layanan pendidikan, kesehatan, air, sanitasi, dan kebersihan. Laporan itu menegaskan bahwa banyak kebijakan sosial masih belum memasukkan tindakan yang secara khusus berpusat pada anak. (unicef.org)
Dampaknya terlihat dalam kabut asap kebakaran hutan dan lahan pada September 2026. Asap yang diperparah kondisi kering akibat El Niño menyebabkan sekolah ditutup dan lebih dari 1,4 juta siswa dialihkan ke pembelajaran jarak jauh, menurut Save the Children. Selain risiko terhadap paru-paru anak, gangguan itu memengaruhi proses belajar dan kesejahteraan mereka. (savethechildren.net)
Perubahan ini penting karena Ava dan Pepper tidak pernah hidup dalam dunia yang stabil. Mereka berpindah, mencari jalan, menebak siapa yang dapat dipercaya, dan mengandalkan orang-orang yang kebetulan hadir. Ketika krisis iklim memaksa anak belajar dari rumah atau berpindah tempat, negara tidak cukup menyediakan tautan pembelajaran. Negara harus memastikan anak tetap memiliki perangkat, pendampingan, makanan, perlindungan dari kekerasan, dan orang dewasa yang dapat menjawab pertanyaan mereka.
Jika tidak, pendidikan jarak jauh hanya akan memindahkan beban sekolah ke rumah yang mungkin sudah tidak aman. Anak tetap tercatat sebagai peserta didik, tetapi kehilangan waktu, konsentrasi, dan rasa aman yang membuat belajar mungkin dilakukan.
Anak Bukan Sekadar Kelompok Rentan
Bahasa kebijakan sering menyebut anak sebagai “kelompok rentan”. Istilah itu berguna, tetapi dapat menjadi terlalu nyaman. Anak bukan hanya penerima dampak. Mereka juga memiliki pengetahuan tentang lingkungan tempat tinggalnya: kapan air mulai sulit, bagian rumah mana yang panas, jalan mana yang tergenang, siapa yang dapat dimintai pertolongan, dan kapan orang dewasa mulai panik.
Karena itu, laporan iklim untuk anak-anak perlu bergerak dari pemetaan risiko menuju perubahan cara mengambil keputusan. Laporan nasional yang dirilis pada 2024 telah mendorong agar hak anak diintegrasikan ke dalam kebijakan iklim, layanan sosial dibuat lebih tangguh, data diperbaiki, serta anak dan kaum muda dilibatkan dalam tindakan lingkungan. (unicef.org) Namun, keterlibatan tidak boleh berhenti pada forum, lomba poster, atau foto kegiatan. Anak harus dapat memengaruhi keputusan yang menyangkut sekolah, tempat tinggal, air, pangan, dan keselamatan mereka.
‘Di Tanah Lada’ mengajarkan bahwa anak sering mengetahui lebih banyak daripada yang disangka orang dewasa, meskipun mereka belum mampu menjelaskan semuanya dengan bahasa resmi. Ava mencari arti kata demi memahami dunia. Pepper menyimpan luka dan kemarahan di balik percakapan yang tampak sederhana. Keduanya mengingatkan bahwa ketidaksempurnaan bahasa anak bukan alasan untuk menunda perlindungan.
Krisis iklim tidak hanya memindahkan air, udara, makanan, atau tempat tinggal. Ia dapat memindahkan masa kanak-kanak ke wilayah kecemasan, tanggung jawab, dan kehilangan. Karena itu, ukuran keberhasilan kebijakan iklim bukan hanya berapa ton emisi yang berkurang atau berapa titik bencana yang dipetakan. Ukurannya juga harus sederhana sekaligus sulit: apakah anak masih dapat tidur, makan, belajar, bermain, bertanya, dan membayangkan masa depan tanpa harus lebih dahulu menyelamatkan dirinya sendiri.