Membatasi Gawai Tidak Cukup: Anak Berhak atas Waktu yang Tidak Diatur Orang Dewasa

Written by

in

Anak tidak membutuhkan lebih sedikit layar untuk kemudian menerima lebih banyak perintah. Ia membutuhkan waktu yang benar-benar dapat dihuni: waktu untuk bermain tanpa target, berteman tanpa penilaian, berimajinasi tanpa segera diarahkan menjadi prestasi, dan berhenti tanpa harus menjelaskan manfaatnya.

Pertanyaan itu menjadi penting setelah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan. Kebijakan tersebut mendorong sekolah menata penggunaan gawai secara bijaksana, bukan melarangnya secara mutlak. Sekolah diminta menyesuaikan tata tertib, sementara orang tua didorong menerapkan prinsip screen time, screen zone, dan screen break di rumah. Pemerintah menyebut tujuan kebijakan ini antara lain meningkatkan konsentrasi belajar, memperkuat interaksi sosial, dan melindungi murid dari dampak negatif penggunaan teknologi. (kemendikdasmen.go.id)

Arah itu masuk akal. Namun, pembatasan baru memiliki arti pendidikan jika waktu yang dibebaskan dari layar tidak segera direbut kembali oleh jadwal, pengawasan, dan kecemasan orang dewasa.

Setelah layar dibatasi, siapa yang memiliki waktu anak?

Dalam ‘Di Tanah Lada’, Ava dan Pepper tidak diselamatkan oleh dunia yang tertib. Mereka tumbuh di tengah rumah yang tidak aman, keputusan orang dewasa yang berubah-ubah, kemiskinan, kekerasan, perpindahan tempat, dan penjelasan yang sering datang terlambat. Tetapi di sela keadaan itu, mereka menemukan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh aturan: waktu bersama.

Mereka bermain dengan gitar, boneka, sepeda, buku, dan kata-kata. Permainan mereka tidak dirancang sebagai kegiatan pengembangan bakat. Tidak ada target, rubrik penilaian, atau laporan capaian. Ava bahkan ingin kembali ke Rusun Nero bukan karena tempat itu nyaman, melainkan karena Pepper ada di sana. Ia menyukai hubungan yang membuat tempat buruk memiliki satu alasan untuk dirindukan.

Di sinilah hubungan pertama dengan kebijakan pembatasan gawai menjadi jelas. Pemerintah ingin mengembalikan interaksi sosial di sekolah, tetapi interaksi sosial tidak otomatis lahir hanya karena telepon seluler disimpan. Anak memerlukan waktu dan ruang untuk bertemu tanpa langsung diberi kegiatan yang harus menghasilkan sesuatu. Jika setelah gawai dikumpulkan anak hanya dipindahkan ke kelas tambahan, tugas berlapis, atau permainan yang seluruh aturannya ditentukan orang dewasa, yang berubah hanyalah alat pengawasannya.

Sekolah tidak cukup berkata bahwa murid harus lebih banyak bergaul. Sekolah harus menyediakan tempat yang memungkinkan pergaulan itu tumbuh—halaman yang aman, perpustakaan yang tidak selalu berorientasi prestasi, ruang seni, waktu istirahat yang tidak dipenuhi ceramah, serta orang dewasa yang tidak lekas menganggap kebisingan sebagai gangguan.

Screen break bukan jeda dari satu perintah ke perintah lain

Prinsip 3S yang didorong pemerintah—pembatasan waktu, area, dan jeda penggunaan gawai—dapat membantu keluarga membangun kebiasaan yang sehat. Namun, prinsip tersebut berisiko menyempit jika diterjemahkan hanya sebagai penghitungan menit dan pengawasan aplikasi. Dalam berita resmi pemerintah, orang tua juga diminta mengawasi penggunaan gawai dan membangun kebiasaan digital yang sesuai dengan usia serta kebutuhan anak. (kemendikdasmen.go.id)

Masalahnya, kebutuhan anak tidak selalu tampak dalam angka. Ava membutuhkan kamus karena ia sedang berusaha memahami dunia yang terlalu besar untuk usianya. Pepper membutuhkan gitar dan seorang teman karena ia hidup dalam kekurangan, tanpa sekolah, tanpa nama yang utuh, dan tanpa keluarga yang dapat diandalkan. Keduanya membutuhkan waktu untuk menyusun bahasa, bukan sekadar waktu yang dikosongkan dari layar.

Buku ini memperlihatkan bagaimana orang dewasa kerap memandang anak melalui kepentingan yang sudah mereka susun sendiri. Anak dianggap harus makan ketika disuruh, tinggal di tempat yang dianggap lebih baik, menerima keputusan keluarga, dan memahami alasan yang bahkan tidak dijelaskan kepadanya. Ketika Ava ingin kembali ke Rusun demi menemui Pepper, keinginannya tampak tidak masuk akal bagi orang dewasa. Namun, bagi Ava, itu adalah kepentingan yang nyata: ia memiliki seseorang yang ingin diselamatkan dan sebuah hubungan yang ingin dipertahankan.

Karena itu, screen break tidak boleh berarti anak berhenti menatap layar hanya untuk segera menatap jadwal. Jeda harus memberi kesempatan bagi anak menentukan apa yang hendak dilakukan dengan waktunya, selama ruang itu aman dan tidak merampas hak orang lain.

Pertemanan bukan bonus setelah tugas selesai

Kebijakan pembatasan gawai juga harus diuji dari pertanyaan yang lebih sederhana: apakah anak memiliki teman setelah perangkat disimpan? Pemerintah menyatakan bahwa aturan ini diharapkan memperkuat interaksi sosial dan mendukung tumbuh kembang murid. (kemendikdasmen.go.id) Tetapi hubungan sosial tidak dapat diproduksi melalui surat edaran saja.

Ava dan Pepper memperlihatkan bahwa pertemanan dapat dimulai dari hal yang sangat kecil: berbagi nama, meminjamkan boneka, memainkan gitar, membaca buku bersama, atau sekadar duduk di pinggir jalan sambil menunggu fotokopian selesai. Permainan itu memberi mereka kesempatan untuk saling mengenali tanpa harus membawa identitas yang sudah ditentukan orang dewasa.

Pepper bahkan membantu Ava memahami bahwa sesuatu dapat dimiliki bersama. Boneka tidak harus sepenuhnya milik satu orang; ia dapat dipakai bergantian. Gagasan sederhana itu menjadi penting karena dunia orang dewasa di sekitar mereka justru dipenuhi perebutan kendali—atas uang, rumah, tubuh, nama, dan keputusan keluarga.

Di sekolah, prinsip yang sama berarti anak perlu memiliki ruang untuk membangun pertemanan yang tidak selalu diawasi dari dekat. Pengawasan memang diperlukan untuk mencegah kekerasan dan perundungan. Namun, perlindungan tidak boleh berubah menjadi pemantauan terus-menerus yang membuat setiap percakapan anak harus memiliki tujuan resmi.

Mengembalikan waktu berarti mengembalikan kemungkinan

Pembatasan gawai akan gagal jika negara dan keluarga hanya mengurangi akses tanpa memperluas kemungkinan. Anak tidak otomatis memperoleh masa kanak-kanak setelah telepon disimpan. Ia membutuhkan ruang publik yang aman, kegiatan yang tidak selalu kompetitif, akses pada buku dan musik, kesempatan bergerak, serta orang dewasa yang bersedia mendengar tanpa buru-buru menerjemahkan semuanya menjadi nasihat.

‘Di Tanah Lada’ mengingatkan bahwa anak dapat menemukan keselamatan melalui relasi yang tidak dirancang oleh sistem. Ava dan Pepper tidak memiliki banyak hal, tetapi mereka memiliki waktu untuk bermain, bertanya, bertengkar, berdamai, dan membayangkan masa depan. Justru dalam ruang kecil itulah mereka memperoleh sesuatu yang tidak diberikan oleh rumah, aturan, atau keputusan orang dewasa: perasaan bahwa hidup mereka masih dapat mereka miliki.

Maka, ukuran keberhasilan pembatasan gawai bukan hanya berapa banyak telepon yang terkumpul di loker sekolah atau berapa lama waktu layar berkurang di rumah. Ukurannya adalah apakah anak menjadi lebih mampu berteman, beristirahat, bermain, bertanya, dan menemukan pertolongan. Jika tidak, negara hanya memindahkan anak dari satu layar menuju layar lain bernama jadwal, aturan, dan pengawasan.

Anak berhak atas waktu yang tidak sepenuhnya diatur orang dewasa. Bukan karena semua aturan harus dihapus, melainkan karena tumbuh membutuhkan ruang yang tidak selalu dipaksa menjelaskan kegunaannya.

Sumber