Category: Artikel

  • Anak Tidak Tumbuh dari Ruang Kosong: Kerja Perawatan Harus Diakui Negara

    Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, anak-anak tidak tumbuh di ruang kosong. Mereka tumbuh di antara makanan yang harus disiapkan, pintu yang harus dibuka, ketakutan yang harus ditenangkan, dan pertanyaan yang menunggu jawaban. Semua itu adalah kerja perawatan—pekerjaan yang sering berlangsung tanpa upah, tanpa jam kerja, tanpa jabatan, bahkan tanpa nama. Kabar tentang pemutakhiran Peta Jalan Ekonomi Perawatan Indonesia 2026 karena itu penting dibaca bukan sebagai agenda birokrasi biasa. Pada 22 September 2026, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menegaskan bahwa ekonomi perawatan merupakan bagian dari pembangunan manusia, ketahanan keluarga, dan pembangunan ekonomi. Pemerintah juga menyebut pekerjaan perawatan tidak boleh lagi

    Read More

  • Bermain Bukan Hadiah: Negara Harus Mengembalikan Ruang Anak untuk Menjadi Anak

    Bermain Bukan Hadiah: Negara Harus Mengembalikan Ruang Anak untuk Menjadi Anak Ada kecenderungan untuk membicarakan bermain seolah-olah ia hadiah yang diberikan kepada anak setelah semua urusan penting selesai. Belajar sudah, makan sudah, rumah sudah tertata, pekerjaan orang dewasa sudah selesai—barulah anak boleh bermain. Cara pandang itu keliru. Bermain bukan sisa waktu. Ia adalah salah satu cara anak memahami dunia, membangun hubungan, menguji keberanian, dan memulihkan diri dari pengalaman yang belum sanggup ia jelaskan dengan bahasa orang dewasa. Karena itu, ajakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada Hari Anak Nasional 2026 agar anak kembali bermain secara langsung dan mengurangi penggunaan gawai patut

    Read More

  • Tanah yang Tak Lagi Netral: Anak Harus Diikutkan dalam Keputusan Iklim

    Dalam ‘Di Tanah Lada’, tanah tidak pernah hadir sebagai latar yang netral. Ia dapat menjadi tempat yang menjijikkan, penuh kecoa, asap, dan ketakutan; tetapi ia juga dapat dibayangkan sebagai ruang yang menumbuhkan kebahagiaan. Perbedaan itu tidak ditentukan oleh tanah semata. Ia ditentukan oleh cara orang dewasa mengelola rumah, uang, kekuasaan, dan masa depan anak. Karena itu, kabar bahwa dampak perubahan iklim sudah dirasakan langsung oleh anak-anak di berbagai wilayah Indonesia bukan sekadar berita tentang cuaca yang memburuk. Ia adalah peringatan bahwa tanah tempat anak hidup sedang berubah menjadi faktor yang menentukan kesehatan, pendidikan, keselamatan, dan kemungkinan mereka untuk memiliki masa depan.

    Read More

  • Anak Harus Lahir Dua Kali: Negara Perlu Menyambungkan Kelahiran dengan Hak

    Kelahiran biasanya dipahami sebagai peristiwa keluarga: tangis pertama, pelukan, nama yang dipilih, dan kepulangan dari fasilitas kesehatan. Namun, bagi negara, kelahiran juga merupakan awal dari hubungan hukum dan pelayanan publik. Seorang anak perlu dikenali bukan karena ia telah mengalami masalah, melainkan karena sejak awal ia memiliki hak untuk hadir dalam catatan negara. Di sinilah program Bunda Jelita di Surabaya penting dibaca. Inovasi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil itu menghubungkan pendampingan sejak masa kehamilan dengan pengurusan akta kelahiran, Kartu Keluarga, dan Kartu Identitas Anak. Persiapan administrasi dimulai sebelum bayi lahir, lalu dilanjutkan setelah persalinan melalui jejaring fasilitas kesehatan. Pada Agustus 2026, kerja

    Read More

  • Lada Bukan Sekadar Nama Tempat: Ketika Komoditas Menentukan Masa Depan Anak

    Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, lada tidak perlu selalu hadir sebagai tanaman yang sedang dipetik untuk menentukan hidup anak. Ia bekerja lebih dalam: sebagai bayangan tentang uang, kerja, kelas sosial, dan jarak antara sesuatu yang bernilai di pasar dengan kehidupan orang-orang yang menghasilkannya. Karena itu, kabar tentang peluncuran International Pepper Day di Jakarta pada 30 September 2026 layak dibaca lebih kritis daripada sekadar perayaan komoditas. Forum tersebut mengangkat tema rantai pasok lada dari daerah asal menuju pasar global. Indonesia, yang menjadi ketua International Pepper Community pada 2026, juga mendorong hilirisasi rempah dan peningkatan nilai tambah produk lada. (rri.co.id) Momentum itu

    Read More

  • Ketika Gelar Orang Tua Menjadi Ancaman, Negara Harus Berani Mencabut Kuasa

    Hubungan darah sering diperlakukan sebagai bukti terakhir bahwa seorang anak masih memiliki rumah. Seorang ayah dianggap tetap ayah, seorang ibu tetap ibu, dan keluarga dipandang sebagai tempat pertama yang harus dipertahankan. Namun, anggapan itu runtuh ketika orang yang memegang kuasa atas anak justru menjadi sumber ancaman. Itulah makna penting langkah Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi yang mengajukan pencabutan kekuasaan orang tua terhadap EY, terpidana kekerasan seksual terhadap dua anak perempuan kandungnya. Pengadilan Agama Cikarang mengabulkan gugatan tersebut. Kekuasaan EY sebagai orang tua dan wali terhadap tiga anaknya dicabut, sementara kewajiban memberikan nafkah tetap melekat. Kejaksaan juga mendampingi korban dan mendorong kepastian perwalian

    Read More

  • Setelah Lulus dari Sekolah Khusus, Anak Disabilitas Masih Harus Melawan Nama yang Ditempelkan

    Dalam hidup seorang anak, kelulusan seharusnya menjadi pintu. Namun bagi banyak lulusan sekolah luar biasa, pintu itu masih dijaga oleh prasangka: mereka dianggap kurang mampu sebelum sempat menunjukkan keterampilan, dinilai dari kondisi tubuh atau cara berkomunikasi, lalu ditempatkan di pinggir pasar kerja. Karena itu, berita tentang pemerintah yang menyiapkan dan memperluas sertifikasi kompetensi bagi lulusan SLB penting bukan hanya sebagai kabar pendidikan. Ia adalah ujian terhadap pertanyaan yang lebih mendasar: apakah negara sedang membuka jalan menuju kemandirian, atau sekadar memberikan label baru kepada anak yang sebelumnya sudah terlalu lama dilabeli? Dalam webinar pada 11 September 2026, Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan

    Read More

  • Nafkah Anak Bukan Sedekah: Ketika Perceraian Mengubah Tanggung Jawab Menjadi Utang yang Harus Ditagih

    Perceraian sering diperlakukan sebagai garis akhir sebuah perkara. Hakim menjatuhkan putusan, akta diterbitkan, pasangan berpisah, lalu masing-masing diminta melanjutkan hidup. Namun, bagi anak, perceraian bukan penutupan perkara. Ia adalah perubahan tata hidup: siapa yang membayar sekolah, siapa yang menyediakan makanan, siapa yang membayar obat, dan siapa yang memastikan rumah tidak berubah menjadi ruang tunggu yang penuh ketidakpastian. Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, Ava berulang kali berusaha memahami dunia orang dewasa melalui kata-kata yang belum sepenuhnya ia mengerti. Uang, perceraian, utang, pekerjaan, dan masa depan muncul sebagai rangkaian persoalan yang saling bertaut. Ia tahu bahwa keputusan orang dewasa menentukan tempat tinggalnya,

    Read More

  • Ketika Anak Dipindahkan Melintasi Batas, Negara Harus Mengembalikan Hak untuk Menentukan Arah

    Anak korban perdagangan orang tidak kehilangan keselamatan hanya karena berhasil dipindahkan dari satu negara ke negara lain. Ia mungkin sudah jauh dari sindikat, tetapi masih dapat kehilangan nama, asal-usul, hubungan keluarga, bahasa untuk memahami pengalaman, dan hak untuk menentukan ke mana hidupnya bergerak. Persoalan itu terlihat dalam penanganan kasus dugaan penjualan bayi asal Jawa Barat ke Singapura melalui modus adopsi ilegal. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebut 18 anak korban telah berada di luar negeri, sementara keberangkatan tujuh anak berhasil digagalkan. Pemerintah menyiapkan penelusuran identitas dan asal-usul, pemulangan, rehabilitasi sosial, serta reintegrasi keluarga atau pengasuhan pengganti. Dalam perkara di Indonesia,

    Read More

  • Penitipan Bukan Pengalihan Tanggung Jawab: Negara Harus Mengawasi Ruang Asuh Anak

    Penitipan Bukan Pengalihan Tanggung Jawab: Negara Harus Mengawasi Ruang Asuh Anak Orang tua menitipkan anak karena hidup harus berjalan: pekerjaan menunggu, penghasilan harus dicari, dan rumah tangga tidak selalu dapat menyediakan pengasuhan sepanjang hari. Karena itu, daycare bukan sekadar jasa tambahan. Ia mengambil alih sebagian tugas yang sangat mendasar: menjaga tubuh anak, membaca kebutuhannya, menenangkan ketakutannya, dan memastikan ia pulang dalam keadaan lebih aman daripada ketika datang. Ketika fungsi itu berubah menjadi ruang kekerasan, persoalannya tidak boleh dipersempit menjadi kesalahan beberapa pengasuh. Yang dipertaruhkan adalah seluruh rantai tanggung jawab: siapa yang merekrut, siapa yang melatih, siapa yang mengawasi, siapa yang menerima

    Read More