Bermain Bukan Hadiah: Negara Harus Mengembalikan Ruang Anak untuk Menjadi Anak
Ada kecenderungan untuk membicarakan bermain seolah-olah ia hadiah yang diberikan kepada anak setelah semua urusan penting selesai. Belajar sudah, makan sudah, rumah sudah tertata, pekerjaan orang dewasa sudah selesai—barulah anak boleh bermain. Cara pandang itu keliru. Bermain bukan sisa waktu. Ia adalah salah satu cara anak memahami dunia, membangun hubungan, menguji keberanian, dan memulihkan diri dari pengalaman yang belum sanggup ia jelaskan dengan bahasa orang dewasa.
Karena itu, ajakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada Hari Anak Nasional 2026 agar anak kembali bermain secara langsung dan mengurangi penggunaan gawai patut dibaca lebih serius daripada kampanye nostalgia tentang permainan tradisional. Pada 23 Juli 2026, pemerintah menghadirkan Main Raya Anak Nusantara di Tanjungpinang dengan permainan tradisional, kegiatan berbasis STEAM, eksplorasi alam, bermain peran, serta aktivitas yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan fisik, sosial, emosional, dan kognitif anak. Kebijakan itu berjalan bersama Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 18 Tahun 2026 tentang pembatasan penggunaan gawai di satuan pendidikan. (internal-portal.kemdikbud.go.id)
Pertanyaannya bukan apakah anak perlu menjauh dari layar. Pertanyaan yang lebih penting ialah: ruang seperti apa yang tersedia setelah layar dijauhkan?
Bermain adalah bahasa ketika dunia orang dewasa gagal menjelaskan
Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, Ava memahami dunia dengan cara yang tidak lazim bagi orang dewasa. Ia mencari arti kata di kamus, menyusun kesimpulan dari percakapan yang tidak ditujukan kepadanya, dan mengubah pengalaman yang menakutkan menjadi cerita. Pepper pun membangun hubungan dengan Ava melalui benda-benda sederhana, permainan, makanan, sepeda, gitar, dan imajinasi tentang pangeran serta penyelamat.
Mereka tidak bermain karena hidup sedang baik-baik saja. Justru sebaliknya: permainan menjadi cara untuk bertahan ketika orang dewasa terlalu sibuk bertengkar, berbohong, menghilang, atau gagal menjelaskan apa yang sedang terjadi. Dalam keadaan seperti itu, bermain memberi anak sesuatu yang tidak diberikan rumah: kesempatan untuk memilih aturan, menamai perasaan, dan menentukan siapa yang boleh berada di dekatnya.
Di sinilah ajakan kembali bermain memiliki hubungan langsung dengan gagasan utama karya tersebut. Anak bukan objek yang hanya menunggu diasuh, dinilai, atau diselamatkan. Ia memiliki daya untuk menafsirkan dan menciptakan makna. Permainan memperlihatkan daya itu dengan cara yang paling sehari-hari. Anak yang bermain sedang belajar bernegosiasi, menolak, mempercayai, membayangkan, dan menguji batas.
Maka, mengurangi gawai tidak boleh dipahami sebagai upaya mengembalikan anak ke masa lalu. Yang harus dikembalikan adalah kesempatan anak untuk mengalami dunia secara langsung—dengan tubuh, suara, gerak, benda, dan anak-anak lain.
Dari Rusun Nero ke halaman sekolah: ruang bermain harus aman, bukan sekadar tersedia
Namun, negara tidak boleh berhenti pada ajakan. Dalam ‘Di Tanah Lada’, ruang fisik sangat menentukan pengalaman anak. Rusun Nero bukan hanya tempat tinggal yang buruk. Ia adalah ruang yang penuh suara pertengkaran, ketakutan, keterbatasan, dan ketidakpastian. Ketika Ava bertemu Pepper, lorong, kamar, warung makan, gang, serta ruang-ruang kecil di sekitar rusun berubah menjadi tempat bagi hubungan dan pelarian.
Hubungan ini penting untuk membaca kebijakan pembatasan gawai secara kritis. Pemerintah menyatakan pembatasan tersebut bukan pelarangan mutlak, melainkan usaha memperbanyak interaksi nyata, menjaga kesehatan, memperkuat kemampuan bersosialisasi, dan mendukung perkembangan kognitif serta emosional anak. (paudpedia.kemendikdasmen.go.id) Pernyataan itu masuk akal, tetapi hanya akan berarti jika sekolah dan lingkungan sekitar benar-benar menyediakan ruang pengganti yang aman.
Anak tidak otomatis bermain hanya karena telepon genggam disimpan. Ia membutuhkan halaman yang tidak membahayakan, permainan yang dapat diakses anak dengan disabilitas, guru atau pendamping yang memahami konflik antaranak, serta orang dewasa yang tidak menjadikan kegiatan bermain sebagai kesempatan untuk mempermalukan atau mengontrol. Jika halaman sekolah sempit, taman rusak, jalan dipenuhi kendaraan, dan anak pulang ke rumah yang penuh kekerasan, pembatasan layar dapat berubah menjadi pemindahan beban dari satu ruang ke ruang lain.
Bermain tidak dapat menggantikan perlindungan. Ia hanya dapat menjadi ruang pemulihan jika perlindungan sudah hadir di sekitarnya.
Jangan jadikan permainan sebagai seremoni satu hari
Main Raya Anak Nusantara memperlihatkan kemungkinan yang baik: anak-anak diajak bermain peran, membuat layang-layang, mengeksplorasi alam, mengenal congklak, gasing, bakiak, egrang batok, rangku alu, dan permainan lain. Kegiatan itu dirancang agar anak belajar melalui pengalaman langsung, bukan hanya menerima instruksi. (internal-portal.kemdikbud.go.id)
Tetapi acara sehari tidak cukup untuk mengubah kebudayaan yang selama bertahun-tahun mengukur anak melalui nilai, kepatuhan, prestasi, dan kemampuan diam. Negara perlu memastikan agar bermain hadir dalam jadwal harian, ruang publik, pendidikan anak usia dini, layanan perlindungan, dan program pemulihan korban kekerasan. Bermain juga harus dipahami sebagai bagian dari hak anak, bukan dekorasi dalam perayaan Hari Anak Nasional.
Dalam kisah Ava dan Pepper, permainan tidak menghapus kemiskinan, kekerasan, kehilangan, atau perceraian. Namun, permainan membuat mereka tetap memiliki hubungan dengan dunia yang belum sepenuhnya dikuasai orang dewasa. Mereka dapat saling menggenggam, membuat rencana, membayangkan tempat lain, dan menyusun masa depan meski masa kini terasa sempit.
Itulah ukuran yang semestinya dipakai untuk menilai kebijakan bermain. Bukan berapa banyak permainan tradisional yang dipamerkan, melainkan apakah anak memperoleh lebih banyak ruang untuk bergerak, berbicara, berimajinasi, dan merasa aman. Bukan apakah gawai berhasil dikumpulkan, melainkan apakah setelah itu anak menemukan manusia lain yang bersedia bermain bersamanya.
Hak bermain membutuhkan tanggung jawab orang dewasa
Pemerintah benar ketika mengatakan pemenuhan hak dan perlindungan anak membutuhkan kerja sama lintas sektor. (internal-portal.kemdikbud.go.id) Namun, kerja sama itu harus menghasilkan tanggung jawab yang dapat dilihat: sekolah yang menyediakan waktu bermain, pemerintah daerah yang merawat ruang publik, keluarga yang tidak menyerahkan seluruh pengasuhan kepada layar, dan layanan perlindungan yang hadir ketika bermain memperlihatkan tanda-tanda ketakutan atau kekerasan.
Anak tidak membutuhkan izin untuk menjadi anak. Negara yang bertanggung jawab justru harus memastikan bahwa mereka tidak dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Bermain bukan hadiah setelah anak patuh. Bermain adalah ruang tempat anak belajar menjadi dirinya sendiri—dan, bagi sebagian anak, ruang pertama untuk merasa bahwa hidup masih mungkin diarahkan.
Sumber
- internal-portal.kemdikbud.go.id: Hari Anak Nasional 2026 Kemendikdasmen Ajak Anak Kembali Bermain Dan Kurangi Pemakaian Gawai
- ANTARA News: Han 2026 Kemendikdasmen Ajak Anak Kembali Bermain Dan Kurangi Gawai
- paudpedia.kemendikdasmen.go.id: Kemendikdasmen Seruni Kabinet Merah Putih Kemenko Pmk Dan Kemenpppa Akan Peringati Han Di Alun Alun Gurindam Tepi Laut Tanjung Pinang
- ANTARA News: 3
- Buku Di Tanah Lada — Gramedia