Lada Bukan Sekadar Nama Tempat: Ketika Komoditas Menentukan Masa Depan Anak

Written by

in

Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, lada tidak perlu selalu hadir sebagai tanaman yang sedang dipetik untuk menentukan hidup anak. Ia bekerja lebih dalam: sebagai bayangan tentang uang, kerja, kelas sosial, dan jarak antara sesuatu yang bernilai di pasar dengan kehidupan orang-orang yang menghasilkannya.

Karena itu, kabar tentang peluncuran International Pepper Day di Jakarta pada 30 September 2026 layak dibaca lebih kritis daripada sekadar perayaan komoditas. Forum tersebut mengangkat tema rantai pasok lada dari daerah asal menuju pasar global. Indonesia, yang menjadi ketua International Pepper Community pada 2026, juga mendorong hilirisasi rempah dan peningkatan nilai tambah produk lada. (rri.co.id)

Momentum itu membawa pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh seremoni perdagangan: ketika lada naik kelas sebagai komoditas strategis, apakah keluarga petani ikut naik kelas, atau hanya produknya yang semakin mahal di ujung rantai?

Dari kata ‘uang’ ke rantai pasok: nilai komoditas harus sampai ke rumah anak

Ava memahami dunia melalui kamus. Ia mencari arti kata yang bagi orang dewasa tampak sederhana—legal, hukum, pekerjaan, boros, cerai—tetapi bagi dirinya merupakan pintu menuju kenyataan yang tidak pernah dijelaskan dengan utuh. Cara itu penting karena menunjukkan bahwa ekonomi bukan wilayah jauh yang hanya dibicarakan pejabat, pedagang, atau pemilik modal. Ekonomi masuk ke ruang tidur anak, ke pertengkaran orang tua, ke makanan, dan ke pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab.

Di sinilah agenda International Pepper Day menjadi cermin penting bagi buku ini. Rantai pasok yang dibicarakan dalam forum internasional mencakup mutu, pengolahan, riset, regulasi, perdagangan, dan inovasi. Narasi itu terdengar menjanjikan, tetapi juga berisiko membuat petani hanya tampak sebagai titik awal produksi. Mereka disebut ketika lada masih berada di kebun, lalu menghilang ketika nilai tambah dibicarakan di pusat perdagangan.

Padahal, jika lada hendak disebut sebagai sumber kesejahteraan, ukurannya harus terlihat dalam kehidupan keluarga: apakah pendapatan lebih stabil, apakah anak tidak harus ikut bekerja, apakah biaya sekolah dan kesehatan dapat dipenuhi, dan apakah rumah tidak lagi menjadi tempat yang membuat anak belajar takut. Hilirisasi yang hanya memperpanjang daftar produk olahan tanpa memperbaiki posisi tawar petani akan mengulang persoalan yang sama dalam bentuk lebih modern: komoditas bergerak maju, tetapi keluarga tetap tertinggal.

Ava mengenali kerusakan ekonomi bukan melalui laporan pasar, melainkan melalui perilaku orang dewasa. Ia melihat uang dihabiskan, perjudian dianggap sebagai kegiatan biasa, dan tanggung jawab keluarga berpindah-pindah. Buku ini tidak sedang menyamakan keluarga Ava dengan rumah tangga petani lada. Hubungannya bersifat analitis: keduanya memperlihatkan bahwa keputusan ekonomi orang dewasa selalu memiliki akibat yang paling lama ditanggung oleh anak.

Pupuk membantu tanaman, tetapi belum tentu menguatkan masa depan

Pada September 2026, pemerintah menyalurkan 36,8 ton pupuk organik untuk sembilan kelompok tani lada di Belitung, mencakup lahan sekitar 92 hektare. Bantuan itu diarahkan untuk memperbaiki kesuburan tanah dan merehabilitasi tanaman lada. (babel.antaranews.com) Pemerintah juga melakukan verifikasi lahan, pendataan calon penerima, serta menyiapkan penyaluran bibit lada pada November 2026. (babel.brmp.pertanian.go.id)

Langkah tersebut penting. Petani tidak dapat diminta meningkatkan produksi tanpa dukungan untuk tanah, bibit, pupuk, pengetahuan, dan biaya kerja. Namun, buku ini membantu memperluas pertanyaan: bantuan itu berhenti di kebun, atau diteruskan sampai ke rumah?

Dalam kisah Ava dan Pepper, tempat tinggal bukan sekadar latar. Kasur, koper, kamar mandi, rusun, rumah nenek, dan rumah orang lain menentukan apakah seorang anak merasa memiliki ruang untuk hidup. Pepper bahkan mengalami keadaan ketika tidur di tempat yang tidak layak dianggap sebagai sesuatu yang harus diterima. Dari sini terlihat bahwa kesejahteraan tidak dapat diukur hanya dari ada atau tidaknya bantuan produksi. Tanaman mungkin pulih, tetapi anak tetap dapat tidur tanpa kepastian jika penghasilan keluarga mudah hilang, utang menumpuk, atau orang dewasa tidak mampu mengubah hasil kerja menjadi pengasuhan.

Itulah sebabnya kebijakan lada harus disertai pertanyaan tentang siapa yang menerima keuntungan, bagaimana harga ditentukan, dan apakah keluarga memiliki perlindungan ketika panen gagal. Bantuan pupuk adalah awal, bukan akhir. Negara perlu memastikan pendampingan, akses pasar, pengolahan, pembiayaan yang tidak menjerat, dan perlindungan sosial berjalan bersama. Jika tidak, petani hanya menerima bantuan untuk tetap berada di dalam rantai yang sama—memproduksi bahan mentah dengan risiko besar, sementara keuntungan terbesar mengalir ke tempat lain.

Pasar global tidak boleh membuat rumah anak semakin jauh

Bagian akhir buku memperlihatkan perjalanan Ava dan Pepper menuju rumah nenek sebagai usaha untuk menemukan tempat yang lebih aman. Mereka menjual ponsel, mencari sepeda, membeli tiket, dan mencoba membaca arah dari alamat yang tidak sepenuhnya mereka pahami. Perjalanan itu tampak seperti keberanian, tetapi juga menunjukkan betapa mudahnya mobilitas berubah menjadi bahaya ketika anak tidak memiliki pendampingan dan keluarga tidak menyediakan perlindungan.

Rantai pasok lada bergerak dengan logika yang berbeda. Ia menghubungkan kebun, pelabuhan, pasar, eksportir, industri, dan konsumen lintas negara. Namun, hubungan global itu tidak otomatis membuat kehidupan lokal lebih tersambung. Bahkan, tanpa kebijakan yang berpihak, jarak dapat semakin lebar: lada dari kebun kecil masuk ke pasar dunia, sementara anak-anak di rumah petani tetap tidak memiliki akses yang layak terhadap pendidikan, layanan kesehatan, atau pekerjaan orang dewasa yang aman.

Karena itu, keberhasilan kebangkitan lada tidak boleh hanya dirayakan melalui volume produksi, ekspor, atau jumlah forum internasional. Ukurannya harus lebih dekat dan lebih keras: apakah anak-anak keluarga petani dapat tumbuh tanpa mewarisi kecemasan ekonomi orang tua; apakah mereka memiliki rumah yang tidak memaksa mereka pergi; dan apakah mereka dapat membayangkan masa depan yang tidak hanya berarti meneruskan pekerjaan dengan risiko yang sama.

Lada memang dapat menjadi komoditas global. Tetapi masa depan anak tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas yang menunggu harga terbaik. Jika rantai lada hendak benar-benar membawa kesejahteraan, ia harus dimulai dari kebun, melewati pasar, lalu tiba di meja makan, kamar tidur, sekolah, dan seluruh ruang tempat anak belajar apakah dunia ini dapat dipercaya.

Sumber