Tanah yang Tak Lagi Netral: Anak Harus Diikutkan dalam Keputusan Iklim

Written by

in

Dalam ‘Di Tanah Lada’, tanah tidak pernah hadir sebagai latar yang netral. Ia dapat menjadi tempat yang menjijikkan, penuh kecoa, asap, dan ketakutan; tetapi ia juga dapat dibayangkan sebagai ruang yang menumbuhkan kebahagiaan. Perbedaan itu tidak ditentukan oleh tanah semata. Ia ditentukan oleh cara orang dewasa mengelola rumah, uang, kekuasaan, dan masa depan anak.

Karena itu, kabar bahwa dampak perubahan iklim sudah dirasakan langsung oleh anak-anak di berbagai wilayah Indonesia bukan sekadar berita tentang cuaca yang memburuk. Ia adalah peringatan bahwa tanah tempat anak hidup sedang berubah menjadi faktor yang menentukan kesehatan, pendidikan, keselamatan, dan kemungkinan mereka untuk memiliki masa depan. Pada 3 Juli 2026, pemberitaan mengenai dampak perubahan iklim menyoroti berkurangnya pemenuhan hak anak serta lemahnya pengakuan terhadap perspektif anak dalam perlindungan hukum iklim. (lestari.kompas.com)

Tanah yang Menumbuhkan Kebahagiaan Tidak Datang dengan Sendirinya

Ava dan Pepper tidak menemukan rasa aman karena dunia tiba-tiba menjadi baik. Mereka menemukannya melalui hubungan: seseorang yang menggenggam tangan, menjelaskan kata-kata, menyediakan tempat untuk tidur, atau bersedia mendengarkan ketakutan yang belum dapat dirumuskan. Dalam pengalaman mereka, rumah bukan otomatis ruang perlindungan. Rusun dapat menjadi tempat tinggal sekaligus sumber ancaman. Keluarga dapat memiliki hubungan darah, tetapi gagal memberi rasa aman.

Di situlah krisis iklim perlu dibaca secara lebih keras. Tanah yang tergenang, pesisir yang terkikis, udara yang tercemar, sumber air yang rusak, atau musim yang berubah tidak hanya mengganggu lingkungan. Semua itu mengubah hubungan anak dengan tempat hidupnya. Anak mungkin tetap memiliki alamat, tetapi kehilangan halaman untuk bermain, jalan yang aman menuju sekolah, air yang layak diminum, atau kepastian bahwa keluarganya dapat bertahan.

Kajian UNICEF dan pemerintah Indonesia telah memetakan dampak perubahan iklim terhadap enam sektor yang langsung berkaitan dengan hak anak: kesehatan, gizi, pendidikan, air dan sanitasi, perlindungan anak, serta perlindungan sosial. Kajian itu juga menemukan bahwa banyak kebijakan belum memasukkan tindakan yang secara khusus berpusat pada anak. (unicef.org) Dengan kata lain, tanah tidak kehilangan daya lindung hanya karena bencana datang. Ia kehilangan daya lindung ketika negara membiarkan layanan dasar anak berjalan tanpa memperhitungkan perubahan iklim.

Anak Bukan Sekadar Penerima Dampak

Salah satu kekuatan utama kisah Ava adalah cara ia berusaha memahami dunia melalui bahasa. Ia mencari arti kata, bertanya ketika orang dewasa berbicara terlalu cepat, dan menyusun kesimpulan dari potongan informasi yang tidak lengkap. Cara itu menunjukkan bahwa anak bukan ruang kosong yang tinggal diisi oleh keputusan orang dewasa. Anak mengamati, menafsirkan, mengingat, dan menilai apakah dunia dapat dipercaya.

Krisis iklim sering memperlakukan anak secara berlawanan. Anak disebut sebagai kelompok paling rentan, tetapi jarang ditempatkan sebagai pihak yang memiliki pengetahuan tentang kerentanan itu. Orang dewasa mengukur banjir, suhu, kehilangan sekolah, atau risiko penyakit, tetapi tidak selalu bertanya kepada anak bagaimana semua perubahan tersebut mengubah rasa aman, kebiasaan, hubungan sosial, dan impian mereka.

Pemberitaan tentang melemahnya pengakuan terhadap perspektif anak dalam perlindungan hukum iklim memperlihatkan masalah yang lebih mendasar: suara anak masih mudah dianggap sebagai pelengkap moral, bukan pertimbangan hukum dan kebijakan. (lestari.kompas.com) Padahal, hak anak untuk didengar bukan hadiah setelah negara selesai menyusun kebijakan. Ia merupakan bagian dari cara kebijakan itu seharusnya dibuat.

Jika pemerintah membangun tanggul, memindahkan permukiman, mengubah tata ruang, atau menyusun aturan emisi tanpa mendengar anak, keputusan tersebut mungkin tetap tampak rasional di atas kertas. Namun, ia dapat gagal membaca hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan anak: apakah perjalanan ke sekolah menjadi lebih jauh, apakah tempat bermain hilang, apakah keluarga tercerai-berai, atau apakah anak merasa masa depannya ditentukan tanpa pernah dimintai pendapat.

Dari Rusun Nero ke Tanah Lada, Perubahan Tempat Harus Disertai Hak

Perjalanan dalam karya tersebut memperlihatkan bahwa berpindah tempat bukan berarti otomatis berpindah menuju keselamatan. Ava dan Pepper membawa luka, kebingungan, dan kebutuhan yang tidak selesai hanya karena mereka menjauh dari ruang lama. Tempat baru baru memiliki arti ketika menyediakan hubungan yang memungkinkan mereka hidup, belajar, dan membayangkan kebahagiaan.

Pelajaran itu penting bagi kebijakan iklim. Adaptasi tidak boleh dipersempit menjadi proyek fisik atau pemindahan penduduk dari wilayah berisiko. Negara harus memastikan bahwa anak tetap memiliki akses pada sekolah, layanan kesehatan, dukungan psikologis, dokumen kependudukan, perlindungan dari kekerasan, dan ruang untuk menyampaikan pengalaman. Tanpa itu, pemindahan hanya mengganti alamat sementara ketidakpastian tetap mengikuti.

Indonesia bahkan sedang membicarakan rancangan undang-undang perubahan iklim yang diarahkan untuk memberi perhatian lebih besar kepada kelompok rentan, termasuk anak-anak. Dalam pemberitaan pada Mei 2026, pemerintah menekankan perlunya perubahan paradigma pembangunan karena krisis iklim berdampak pada migrasi, pekerja rentan, perempuan, dan anak. (en.antaranews.com) Arah itu penting, tetapi belum cukup. Kelompok rentan tidak boleh hanya disebut dalam daftar penerima perlindungan. Mereka harus terlibat dalam menentukan bentuk perlindungan yang dibutuhkan.

Keputusan Iklim Harus Mengembalikan Kemungkinan untuk Bahagia

Di bagian akhir, tanah yang dibayangkan Ava bukan tanah yang sempurna. Ia menjadi berarti karena terhubung dengan harapan: ada langit yang dapat dipandang, ada tangan yang dapat digenggam, dan ada kemungkinan untuk hidup tanpa terus-menerus takut. Kebahagiaan di sana bukan kemewahan. Ia adalah hasil dari rasa aman, kasih sayang, dan kesempatan untuk menentukan arah hidup.

Begitu pula seharusnya kebijakan iklim. Ukurannya tidak cukup berupa jumlah pohon yang ditanam, emisi yang dikurangi, atau infrastruktur yang dibangun. Negara perlu bertanya apakah anak masih dapat tumbuh tanpa kehilangan rumah, kesehatan, sekolah, hubungan sosial, dan keyakinan bahwa masa depan juga milik mereka.

Tanah tidak pernah netral. Ia dapat memperluas kemungkinan hidup atau mempersempitnya. Karena itu, keputusan tentang lingkungan bukan hanya urusan teknis orang dewasa. Ia adalah keputusan tentang dunia yang akan diwariskan kepada anak. Dan anak tidak semestinya hanya menerima warisan itu. Mereka harus ikut menentukan apakah tanah tersebut kelak menjadi tempat yang menumbuhkan ketakutan, atau tempat yang memungkinkan kebahagiaan tumbuh.

Sumber