Buku Di Tanah Lada

Di Tanah Lada

Salva, sering disapa Ava. Namun, Papanya ingin menamainya Saliva, yang berarti ludah, sebab menganggapnya tidak berguna. Dari kamus pemberian Kakek Kia, Ava mencari setiap makna dari kata-kata yang ditemukan sehari-hari. Ketika keluarga Ava pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal, Ava berjumpa dengan P—anak lelaki yang pandai sekali bermain gitar. Perjumpaan Ava dengan P, dan petualangan keduanya akan membawa pembaca ke banyak pojok gelap dan muara yang mengejutkan. Pada edisi kali ini, novel Di Tanah Lada dilengkapi dengan sebuah catatan, banyak ilustrasi, dan satu kemungkinan akhir cerita lain. Prolog: Hari Rabu tanggal 26 Juni 2013. Di berbagai belahan dunia, sekarang, berdasarkan perhitungan cuaca, adalah musim panas. Kecuali di Australia. Tempat aneh itu tidak pernah setuju soal perhitungan cuaca. Mama yang memberitahuku. Katanya, kalau seluruh dunia sedang kedinginan, Aust

Read More

  • Ketika Anak Dijadikan Wajah Pasar Adiktif

    Anak tidak selalu dijadikan sasaran pasar dengan cara yang kasar. Kadang ia cukup ditempatkan di depan kamera, dibiarkan hadir dalam siaran langsung, lalu dipakai untuk membuat sebuah produk tampak akrab, lucu, atau tidak berbahaya. Di titik itulah dugaan pelibatan anak dalam promosi rokok elektronik melalui siaran langsung bukan lagi sekadar pelanggaran konten. Ia menunjukkan cara pasar orang dewasa meminjam wajah anak untuk menjual sesuatu yang justru tidak semestinya dekat dengan mereka. Kasus yang melibatkan kreator konten Bigmo mencuat setelah Kemkomdigi mengirimkan surat teguran pertama kepada YouTube pada 2 Agustus 2026. Pemerintah menyatakan menemukan siaran langsung promosi vape yang melibatkan anak-anak dan

    Read More

  • Daycare Bukan Tempat Menitipkan Anak, Melainkan Infrastruktur Keadilan Kerja

    Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, anak-anak tidak pernah benar-benar sekadar berpindah tempat. Ava dipindahkan dari rusun ke hotel, dari kamar yang tidak aman ke rumah kerabat, sementara Pepper bertahan di ruang-ruang yang bahkan tidak sepenuhnya mengakui keberadaannya. Perpindahan itu selalu membawa pertanyaan yang lebih besar: siapa yang menjaga, siapa yang menjelaskan, dan apakah tempat baru sungguh lebih aman daripada tempat sebelumnya? Pertanyaan tersebut relevan ketika pemerintah mulai memeriksa layanan daycare di kawasan industri. Pada 15 September 2026, Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi melakukan verifikasi layanan daycare di PT Omron Manufacturing Indonesia,

    Read More

  • Kewarganegaraan Bukan Sekadar Status: Anak Pekerja Migran Berhak Memiliki Rumah Hukum

    Anak-anak pekerja migran tidak hanya hidup jauh dari tanah kelahiran orang tuanya. Sebagian juga tumbuh di antara dokumen yang tidak lengkap, status yang belum terang, dan lembaga yang saling menunggu. Dalam keadaan seperti itu, kewarganegaraan bukan sekadar sebutan di atas kertas. Ia menentukan apakah seorang anak dapat bersekolah, berobat, memperoleh bantuan, mencatatkan kelahiran, atau meminta perlindungan ketika berhadapan dengan persoalan hukum. Pada 3 dan 4 September 2026, pemerintah Indonesia menyatakan telah memberikan penegasan status kewarganegaraan Republik Indonesia bagi 1.512 anak pekerja migran Indonesia di Malaysia. Proses itu dilakukan di Kuala Lumpur, Kota Kinabalu, Tawau, dan Johor Bahru melalui kerja bersama lima

    Read More

  • Ketika Desil Menjadi Takdir, Anak Sakit Tidak Boleh Menunggu Data

    Anak yang sedang gawat tidak hidup di dalam tabel. Ia tidak menunggu desil diperbarui, kepesertaan aktif, kamar tersedia, atau surat rujukan selesai. Tubuhnya hanya mengenal demam yang memburuk, napas yang melemah, rasa sakit, dan waktu yang terus berkurang. Kematian Mohammad Gazal Al Farizki, balita tiga tahun asal Desa Bandaran, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, pada Selasa, 22 September 2026, memperlihatkan benturan itu secara telanjang. Keluarganya disebut mengalami kesulitan biaya, sempat mengurus BPJS, meminjam uang untuk pemeriksaan, lalu membawa Gazal ke RSUD Mohammad Noer melalui program Biakes Maskin. Ketika dokter merekomendasikan rujukan ke Surabaya untuk pemeriksaan CT scan otak, kepastian keberangkatan tidak kunjung datang.

    Read More

  • Sekolah Inklusif Bukan Sekadar Pintu Terbuka: Anak Harus Diakui Cara Belajarnya

    Sekolah inklusif sering dipuji ketika pintunya terbuka bagi semua anak. Namun, pintu yang terbuka belum tentu membuat seorang anak dapat masuk, belajar, bertanya, dan merasa diakui. Ia bisa hadir di ruang kelas tanpa memahami instruksi, mengikuti pelajaran tanpa alat bantu, atau duduk bersama teman-temannya sambil terus dipaksa menyesuaikan diri dengan ukuran “normal” yang dibuat orang dewasa. Di situlah buku berjudul *Di Tanah Lada* menawarkan ukuran yang lebih keras terhadap gagasan perlindungan anak. Ava memahami dunia dengan mencari arti kata, membandingkan ucapan dengan kenyataan, lalu bertanya ketika keduanya tidak cocok. Ia tidak selalu mengerti bahasa orang dewasa, tetapi justru karena itu ia

    Read More

  • Anak Bukan Mikrofon Upacara: Ketika Forum Partisipasi Harus Mengubah Keputusan

    Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, Ava tidak pernah menerima dunia sebagaimana orang dewasa menyodorkannya. Ia mencari arti kata, membandingkan tindakan dengan penjelasan, lalu bertanya ketika keduanya tidak cocok. Cara itu tampak sederhana, tetapi justru di sanalah letak keberaniannya: Ava menolak menerima keputusan hanya karena keputusan itu datang dari orang yang lebih tua. Sikap tersebut penting ketika pemerintah mengembangkan Forum Anak Nasional dan Forum Anak Daerah sebagai ruang partisipasi. Pada Juli 2026, Lokakarya Forum Anak Nasional mengusung tema “Merangkai Partisipasi Anak yang Bermakna” dan menghasilkan Suara Anak Indonesia 2026. Pemerintah menyatakan aspirasi itu harus menjadi dasar penyusunan kebijakan, bukan sekadar pelengkap

    Read More

  • Anak Bukan Penonton Krisis Iklim: Dari Tanah Lada ke Hak untuk Menentukan Masa Depan

    Perubahan iklim sering dibicarakan dari atas: melalui target emisi, transisi energi, perluasan ruang terbuka hijau, atau teknologi pengelolaan sampah. Anak muda kemudian ditempatkan sebagai wajah yang lebih segar untuk menyampaikan pesan lama. Mereka diminta tersenyum di panggung, memungut sampah di pantai, menanam pohon, lalu dipuji sebagai pemilik masa depan. Namun, anak bukan dekorasi moral bagi agenda iklim orang dewasa. Mereka juga bukan tenaga sukarela yang dapat dipanggil ketika negara membutuhkan citra partisipatif. Anak adalah warga yang hidup di dalam akibat keputusan hari ini—menghirup udara yang lebih kotor, belajar di tengah panas dan banjir, menghadapi gangguan pangan, serta mewarisi kebijakan yang tidak

    Read More

  • Ketika Perlindungan Anak Harus Menyeberangi Perbatasan

    Anak yang ditemukan belum tentu sudah diselamatkan. Tubuhnya mungkin telah keluar dari tempat berbahaya, tetapi rasa takut, kehilangan nama, putusnya hubungan keluarga, dan ketidakpastian tentang hari esok dapat terus mengikutinya. Karena itu, pemulangan bukan akhir dari perlindungan. Ia hanya satu tahap dalam perjalanan panjang yang harus memastikan seorang anak tidak kembali jatuh di antara celah lembaga, wilayah hukum, dan keputusan orang dewasa. Persoalan itu tampak dalam penanganan dugaan tindak pidana perdagangan orang lintas negara yang melibatkan anak-anak asal Jawa Barat. Pada 8 September 2026, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyatakan bahwa 18 anak korban telah berada di luar negeri, sementara

    Read More

  • Makanan Gratis Bukan Risiko Gratis: Negara Harus Menjawab Saat Anak Sakit

    Makanan gratis sering diperlakukan sebagai hadiah kebijakan: negara menyediakan, anak menerima, lalu keberhasilan diukur dari jumlah porsi yang dibagikan. Cara pandang itu menjadi rapuh ketika makanan yang seharusnya menguatkan tubuh justru diduga membuat ratusan siswa dan guru sakit. Di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, siswa dari SMP Negeri 1 Gembong dan MTs Negeri 3 Pati mengalami mual, muntah, pusing, dan diare setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis pada Selasa, 8 September 2026. Pada hari-hari berikutnya, jumlah orang bergejala dilaporkan mencapai ratusan; 59 orang masih menjalani perawatan ketika Badan Gizi Nasional meninjau korban pada 10 September. Polisi memeriksa pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi

    Read More

  • Ketika Bahasa Tidak Terjangkau, Anak Kehilangan Jalan untuk Didengar

    Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, Ava memahami dunia dengan cara yang tampak sederhana: mencari kata, membandingkan kejadian, lalu bertanya ketika jawaban orang dewasa tidak masuk akal. Kamus menjadi alat untuk mengenali hukum, uang, kekerasan, pekerjaan, bahkan hubungan keluarga. Namun, yang paling penting dari kebiasaan itu bukan kecintaan pada kata-kata. Ava sedang mencari jalan agar pengalaman yang membingungkan dapat dijelaskan. Di situlah berita tentang kampanye akses bahasa isyarat pada Hari Bahasa Isyarat Internasional, 23 September 2026, memperoleh makna yang lebih dalam. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menegaskan bahwa bahasa isyarat memungkinkan anak membangun relasi, memperoleh informasi, belajar, menyampaikan pendapat, mengambil

    Read More