Anak tidak selalu dijadikan sasaran pasar dengan cara yang kasar. Kadang ia cukup ditempatkan di depan kamera, dibiarkan hadir dalam siaran langsung, lalu dipakai untuk membuat sebuah produk tampak akrab, lucu, atau tidak berbahaya. Di titik itulah dugaan pelibatan anak dalam promosi rokok elektronik melalui siaran langsung bukan lagi sekadar pelanggaran konten. Ia menunjukkan cara pasar orang dewasa meminjam wajah anak untuk menjual sesuatu yang justru tidak semestinya dekat dengan mereka.
Kasus yang melibatkan kreator konten Bigmo mencuat setelah Kemkomdigi mengirimkan surat teguran pertama kepada YouTube pada 2 Agustus 2026. Pemerintah menyatakan menemukan siaran langsung promosi vape yang melibatkan anak-anak dan meminta platform memperbaiki moderasi, mempercepat penindakan, serta memastikan pembatasan usia berjalan efektif. (antaranews.com) Polda Metro Jaya kemudian menyelidiki dugaan eksploitasi atau pelibatan anak dalam promosi tersebut berdasarkan pengaduan yang diterima pada 31 Juli 2026. (m.antaranews.com)
Respons itu penting. Namun, persoalan utamanya lebih besar daripada apakah satu tayangan telah dihapus atau satu platform sudah ditegur. Yang harus diperiksa adalah logika yang memungkinkan anak ditempatkan sebagai daya tarik komersial bagi produk adiktif.
Anak bukan ornamen bagi keuntungan orang dewasa
Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, Ava dan Pepper hidup di tengah keputusan orang dewasa yang terus memengaruhi tubuh, tempat tinggal, uang, dan masa depan mereka. Mereka tidak mengendalikan perjudian, pemborosan, kekerasan, atau pertengkaran keluarga, tetapi selalu menanggung akibatnya. Anak-anak itu bukan pusat dari keputusan tersebut, namun hidup mereka dipakai sebagai alasan, beban, atau korban dari keputusan orang lain.
Dugaan promosi vape menghadirkan bentuk yang lebih langsung. Anak bukan hanya menerima akibat dari pasar orang dewasa; kehadirannya diduga ditempatkan di dalam mesin promosi. Ia menjadi latar, penonton, atau bahkan bagian dari pertunjukan yang membantu produk tampak dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di sini terdapat hubungan sebab-akibat yang jelas: semakin akrab dan menghibur sebuah promosi, semakin kecil jarak psikologis antara penonton muda dan produk yang ditawarkan. Anak tidak perlu menjadi pembeli langsung agar kepentingannya telah dieksploitasi. Cukup dengan menjadikan wajah dan reaksinya sebagai alat untuk membangun perhatian.
Itulah mengapa istilah “pelibatan anak” tidak boleh dipersempit menjadi pertanyaan apakah anak memegang vape atau mengucapkan nama merek. Perlindungan harus melihat fungsi kehadiran anak dalam keseluruhan strategi komersial. Bila tubuh, suara, kepolosan, atau kedekatannya dengan penonton dipakai untuk menguatkan promosi, anak telah diposisikan sebagai properti pasar.
Dari ruang keluarga ke ruang jual-beli digital
Salah satu kekuatan Di Tanah Lada terletak pada cara cerita memperlihatkan bahwa rumah tidak selalu menjadi tempat perlindungan. Rusun Nero, kamar kardus Pepper, dan pertengkaran orang dewasa membentuk ruang yang seharusnya domestik, tetapi justru mengandung ancaman. Dalam dunia itu, seorang anak dapat kehilangan kamar, nama, bahkan keyakinan bahwa dirinya diakui sebagai manusia.
Pasar vape memperluas persoalan tersebut ke ruang yang berbeda. Anak tidak harus berada di rumah yang penuh kekerasan untuk menjadi rentan. Ia dapat ditemui melalui algoritma, siaran langsung, akun influencer, toko daring, atau transaksi singkat di media sosial. Pada 14 September 2026, Ruang Kebijakan Kesehatan Indonesia dan Yayasan Lentera Anak menyatakan bahwa pelajar dapat memperoleh rokok elektronik melalui toko vape, pembelian daring, bahkan produk bekas melalui grup jual-beli dengan sistem COD. Temuan itu didasarkan pada pemantauan dan wawancara di sejumlah sekolah di DKI Jakarta. (antaranews.com)
Hubungannya dengan kisah Ava dan Pepper bukan bahwa novel tersebut meramalkan perdagangan vape digital. Hubungannya adalah kesinambungan struktur: ruang hidup anak terus dimasuki kepentingan ekonomi orang dewasa, sementara anak diminta menyesuaikan diri dengan risiko yang tidak mereka ciptakan. Dulu, mereka harus memahami mengapa uang keluarga habis, mengapa rumah berpindah, atau mengapa orang dewasa menjadi kasar. Kini, mereka juga harus menghadapi pasar adiktif yang sengaja dibuat mudah dijangkau dan tampak biasa.
Teguran platform tidak cukup membongkar pasar
Teguran kepada YouTube merupakan langkah awal, tetapi belum menjawab seluruh rantai tanggung jawab. Platform memang harus menjelaskan mengapa konten tersebut dapat beredar dan bagaimana sistem moderasinya gagal mendeteksi promosi produk nikotin yang melibatkan anak. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa penanganan tidak berhenti pada pemilik kanal atau penghapusan video.
Komite Nasional Penanggulangan Tembakau menilai kasus tersebut memperlihatkan masih terbukanya ruang promosi rokok elektronik di media sosial. Sementara itu, Indonesian Youth Council for Tactical Changes mengingatkan bahwa strategi industri kerap memakai wajah yang akrab dan disukai anak muda, sehingga tanggung jawab tidak hanya berada pada influencer, tetapi juga pada merek dan pihak yang membayar promosi. (komnaspt.or.id)
Di sinilah perubahan konteks dari buku tersebut menjadi penting. Dalam novel, kekerasan terhadap Pepper berlangsung di ruang yang sempit dan dikenali: kamar, lorong, tangga, rumah sakit. Orang-orang di sekitar akhirnya melihat luka bakarnya dan mulai bertindak. Dalam promosi digital, luka tidak selalu tampak seketika. Anak mungkin tidak mengalami cedera fisik di depan kamera, tetapi ia ditempatkan dalam relasi komersial yang tidak seimbang. Platform memperoleh lalu lintas, kreator memperoleh perhatian atau pendapatan, merek memperoleh promosi, sementara anak menanggung risiko kesehatan dan jejak digital.
Karena itu, pengawasan tidak boleh hanya mengejar konten yang viral. Negara perlu memeriksa pola iklan, hubungan komersial, desain platform, kanal penjualan, dan cara produk menyamarkan daya tariknya. Temuan tentang kemudahan akses pelajar menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya satu siaran langsung, melainkan ekosistem yang membuat anak terlalu dekat dengan barang adiktif. Penelitian dan pemantauan lain juga menunjukkan bahwa pemasaran serta kemasan produk rokok elektronik dapat meningkatkan daya tariknya bagi remaja. (globaltobaccocontrol.org)
Anak harus keluar dari peran yang tidak pernah ia pilih
Di Tanah Lada terus mengingatkan bahwa anak sering dipaksa memahami dunia orang dewasa sebelum memiliki perlindungan yang memadai. Ava mencari arti kata karena orang dewasa memberinya istilah tanpa penjelasan. Pepper bertahan dengan nama yang bahkan tidak sepenuhnya diberikan kepadanya. Keduanya menunjukkan bahwa anak kehilangan kuasa ketika orang lain menentukan bagaimana ia dilihat, dipanggil, dan digunakan.
Promosi vape yang melibatkan anak mengulang persoalan itu dalam bentuk baru. Anak diberi peran yang mungkin tidak ia pahami: menjadi penonton, penghibur, bukti bahwa suasana aman, atau wajah yang membuat produk berbahaya terasa normal. Ia tidak sedang memilih strategi pemasaran. Ia sedang ditempatkan di dalamnya.
Maka ukuran keberhasilan penanganan bukan hanya berapa banyak video dihapus, kanal ditutup, atau surat teguran dikirim. Ukurannya adalah apakah anak dikeluarkan dari rantai promosi, apakah merek dan pemberi kerja ikut diperiksa, apakah akses penjualan diperketat, dan apakah anak memperoleh perlindungan tanpa kembali dijadikan bahan tontonan.
Anak tidak boleh menjadi jembatan antara pasar adiktif dan calon konsumen muda. Ia bukan dekorasi untuk membuat promosi lebih ramah, bukan alat untuk menguji batas moderasi platform, dan bukan biaya kecil yang boleh dibayar demi perhatian. Jika negara sungguh membaca luka Ava dan Pepper, maka yang harus dihentikan bukan hanya tayangan tertentu, melainkan kebiasaan orang dewasa menjadikan anak sebagai wajah bagi kepentingan yang tidak pernah mereka pilih.
Sumber
- komnasanak.or.id: Komnas Anak Tindak Lanjuti Dugaan Promosi Vape Dekat Anak
- komnasanak.or.id: Kegiatan
- ANTARA News: Rukki Lentera Anak Minta Perkuat Pengawasan Penjualan Rokok Elektrik
- komnaspt.or.id: Desak Terapkan Larangan Iklan Promosi Rokok Di Medsos Sesuai Pp 28 2024 Kasus Bigmo Seharusnya Tidak Terjadi
- Buku Di Tanah Lada — Gramedia