Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, anak-anak tidak pernah benar-benar sekadar berpindah tempat. Ava dipindahkan dari rusun ke hotel, dari kamar yang tidak aman ke rumah kerabat, sementara Pepper bertahan di ruang-ruang yang bahkan tidak sepenuhnya mengakui keberadaannya. Perpindahan itu selalu membawa pertanyaan yang lebih besar: siapa yang menjaga, siapa yang menjelaskan, dan apakah tempat baru sungguh lebih aman daripada tempat sebelumnya?
Pertanyaan tersebut relevan ketika pemerintah mulai memeriksa layanan daycare di kawasan industri. Pada 15 September 2026, Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi melakukan verifikasi layanan daycare di PT Omron Manufacturing Indonesia, Cikarang, serta sebuah daycare di Karawang. Pemerintah menyebut fasilitas semacam itu harus mendukung pekerja perempuan sekaligus menjamin hak anak atas pengasuhan yang aman dan berkualitas. Dalam kunjungan itu, masih ditemukan persoalan terkait persyaratan, perizinan, standar layanan, dan tata kelola pengasuhan. (m.antaranews.com)
Berita tersebut penting bukan karena daycare akhirnya masuk ke agenda pemerintah. Yang lebih penting adalah cara kita mendefinisikan daycare: apakah ia sekadar ruang untuk menaruh anak selama orang tua bekerja, atau bagian dari infrastruktur sosial yang menentukan apakah sebuah keluarga dapat bekerja tanpa mengorbankan keselamatan dan masa kanak-kanak?
Dari ruang titipan ke ruang hidup anak
Ava pernah menolak tidur di dalam koper karena ia tahu bahwa anak tidak seharusnya diperlakukan seperti barang yang menunggu tempat. Kalimat itu tampak sederhana, tetapi mengandung kritik terhadap cara orang dewasa mengelola hidup anak: selama tubuhnya sudah dipindahkan ke tempat tertentu, kebutuhan anak dianggap selesai.
Daycare tidak boleh mengulangi logika tersebut. Anak yang dititipkan bukan paket yang cukup dicatat saat datang dan dijemput saat sore. Ia membawa kebiasaan tidur, cara makan, kecemasan, kebutuhan bermain, dan hubungan emosional yang harus dikenali oleh pengasuh. Karena itu, ukuran keberhasilan daycare bukan hanya tersedianya ruangan, pagar, kamera, atau daftar hadir. Ukurannya adalah apakah anak merasa aman, dapat beristirahat, bermain, berbicara, dan mencari pertolongan ketika sesuatu membuatnya takut.
Di sinilah verifikasi pemerintah menjadi titik uji terhadap gagasan utama karya tersebut. Pemeriksaan lapangan di Cikarang dan Karawang harus menghasilkan lebih dari laporan kepatuhan. Ia harus menilai pengalaman anak di dalam ruang itu. Jika standar hanya mengukur dokumen dan fasilitas, negara mungkin dapat menyatakan sebuah daycare layak tanpa pernah mengetahui apakah anak-anak di dalamnya merasa ditinggalkan.
Standar pengasuhan harus mendengar anak
Pemerintah menyebut standar TARA—Taman Asuh Ramah Anak—sebagai acuan tata kelola. Kepala Staf Kepresidenan menekankan tiga hal: anak harus aman, pengasuh harus berkualitas, dan pengelolaan harus bertanggung jawab. Orang tua juga harus memiliki kepastian bahwa anaknya terlindungi. (m.antaranews.com)
Semua itu penting, tetapi belum cukup jika anak hanya muncul sebagai objek perlindungan. Dalam ‘Di Tanah Lada’, Ava memahami dunia dengan bertanya, mencari arti kata, lalu membandingkan ucapan orang dewasa dengan kejadian yang ia alami. Pepper, yang bahkan tidak diberi nama oleh ayahnya, memperlihatkan bentuk lain dari penghapusan suara: seorang anak bisa hadir di ruang sosial, tetapi tetap diperlakukan seolah-olah tidak sepenuhnya dianggap sebagai orang.
Daycare yang bermutu harus mampu mencegah penghapusan semacam itu. Pengasuh bukan hanya harus tahu cara memberi makan atau mengganti pakaian, melainkan juga mengenali tanda takut, perubahan perilaku, bahasa tubuh, dan cara anak meminta bantuan. Anak perlu diberi penjelasan yang sesuai usianya ketika orang tua terlambat menjemput, ketika rutinitas berubah, atau ketika ia harus berpindah ruang. Perlindungan tidak dapat dibangun hanya dari sudut pandang administrator.
Karena itu, evaluasi daycare semestinya memasukkan pengalaman anak dan orang tua sebagai bagian dari penilaian, bukan sekadar survei kepuasan pengguna. Anak mungkin belum mampu mengisi formulir, tetapi ia dapat menunjukkan apakah sebuah tempat membuatnya tenang atau justru terus-menerus waspada.
Produktivitas orang dewasa tidak boleh menjadi pusat cerita
Pemerintah mengaitkan daycare dengan dukungan bagi pekerja perempuan. Hubungan itu masuk akal. Tanpa layanan pengasuhan yang dapat dipercaya, beban merawat anak sering jatuh terutama kepada perempuan dan membatasi kesempatan mereka untuk bekerja. Namun, di titik inilah daycare berisiko dipersempit menjadi alat produktivitas: anak dijaga agar orang tua tetap masuk pabrik, target produksi tetap berjalan, dan absensi berkurang.
Pada 16 September 2026, Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur menyatakan menargetkan lima kawasan industri memiliki daycare sebagai bagian dari ekonomi perawatan. Kadin menjelaskan ekonomi perawatan sebagai sistem yang menghitung, menghargai, dan mengakui pekerjaan merawat manusia sebagai fondasi penting perekonomian. (jatim.antaranews.com)
Gagasan itu harus dibaca sampai tuntas. Jika perawatan memang fondasi ekonomi, biaya dan tanggung jawabnya tidak boleh dibebankan diam-diam kepada ibu, keluarga besar, atau pengasuh dengan upah rendah. Perusahaan, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan keluarga harus memiliki pembagian tanggung jawab yang jelas. Daycare bukan kemurahan hati perusahaan kepada pekerja. Ia adalah bagian dari kondisi kerja yang adil sekaligus pemenuhan hak anak.
Dalam kisah Ava dan Pepper, keputusan ekonomi orang dewasa selalu meninggalkan jejak pada tubuh dan waktu anak. Perjudian, utang, perpindahan rumah, dan pekerjaan yang tidak aman mengubah cara mereka tidur, makan, bermain, dan memandang masa depan. Pelajaran itu memberi hubungan sebab-akibat yang kuat bagi kebijakan daycare hari ini: ketika sistem kerja tidak menyediakan pengasuhan yang layak, anak membayar biaya tersembunyinya.
Siapa yang membiayai keamanan setelah peresmian?
Tantangan berikutnya adalah keberlanjutan. Daycare dapat dibuka dengan seremoni, diberi papan nama, lalu kehilangan mutu ketika anggaran operasional menipis atau pengasuh berganti. Di Tanah Lada mengingatkan bahwa tempat yang tampak tersedia belum tentu menjadi rumah. Rusun Nero memiliki dinding dan kamar, tetapi tidak menghadirkan rasa aman. Hotel dapat terlihat lebih baik, tetapi tetap membuat Ava kehilangan barang, kebiasaan, dan hubungan yang ia pahami.
Karena itu, pemerintah perlu menjelaskan siapa yang membiayai pelatihan pengasuh, pemeriksaan berkala, rasio pengasuh dan anak, layanan bagi anak disabilitas, mekanisme pengaduan, serta pemulihan ketika terjadi kelalaian. Perusahaan juga harus membuka informasi dasar tentang standar layanan dan hasil pengawasan, sementara orang tua tidak boleh dipaksa menerima fasilitas hanya karena tidak memiliki pilihan lain.
Daycare yang layak bukan sekadar tempat anak menunggu jam kerja selesai. Ia adalah ruang hidup yang harus menjaga waktu bermain, rasa ingin tahu, tidur, makan, dan hubungan emosional anak. Jika negara sungguh ingin membangun ekonomi perawatan, maka pertanyaan terakhirnya bukan hanya apakah pekerja dapat kembali ke lini produksi dengan tenang. Pertanyaannya: setelah seharian dititipkan, apakah anak pulang dengan perasaan bahwa ia telah dijaga sebagai manusia?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah daycare menjadi infrastruktur keadilan kerja—atau hanya ruang baru untuk memindahkan beban orang dewasa ke tubuh anak.