Buku Di Tanah Lada

Di Tanah Lada

Salva, sering disapa Ava. Namun, Papanya ingin menamainya Saliva, yang berarti ludah, sebab menganggapnya tidak berguna. Dari kamus pemberian Kakek Kia, Ava mencari setiap makna dari kata-kata yang ditemukan sehari-hari. Ketika keluarga Ava pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal, Ava berjumpa dengan P—anak lelaki yang pandai sekali bermain gitar. Perjumpaan Ava dengan P, dan petualangan keduanya akan membawa pembaca ke banyak pojok gelap dan muara yang mengejutkan. Pada edisi kali ini, novel Di Tanah Lada dilengkapi dengan sebuah catatan, banyak ilustrasi, dan satu kemungkinan akhir cerita lain. Prolog: Hari Rabu tanggal 26 Juni 2013. Di berbagai belahan dunia, sekarang, berdasarkan perhitungan cuaca, adalah musim panas. Kecuali di Australia. Tempat aneh itu tidak pernah setuju soal perhitungan cuaca. Mama yang memberitahuku. Katanya, kalau seluruh dunia sedang kedinginan, Aust

Read More

  • Penitipan Bukan Pengalihan Tanggung Jawab: Negara Harus Mengawasi Ruang Asuh Anak

    Penitipan Bukan Pengalihan Tanggung Jawab: Negara Harus Mengawasi Ruang Asuh Anak Orang tua menitipkan anak karena hidup harus berjalan: pekerjaan menunggu, penghasilan harus dicari, dan rumah tangga tidak selalu dapat menyediakan pengasuhan sepanjang hari. Karena itu, daycare bukan sekadar jasa tambahan. Ia mengambil alih sebagian tugas yang sangat mendasar: menjaga tubuh anak, membaca kebutuhannya, menenangkan ketakutannya, dan memastikan ia pulang dalam keadaan lebih aman daripada ketika datang. Ketika fungsi itu berubah menjadi ruang kekerasan, persoalannya tidak boleh dipersempit menjadi kesalahan beberapa pengasuh. Yang dipertaruhkan adalah seluruh rantai tanggung jawab: siapa yang merekrut, siapa yang melatih, siapa yang mengawasi, siapa yang menerima

    Read More

  • Anak Boleh Bertanding, Masa Kanak-Kanak Jangan Dihitung dari Papan Skor

    Anak-anak boleh bermain bola basket. Mereka boleh berlatih, mengenakan seragam, mengikuti pertandingan, bahkan bermimpi menjadi atlet. Yang perlu ditolak adalah anggapan bahwa masa kanak-kanak baru berarti ketika ia mulai menghasilkan prestasi. Pertanyaan itu penting ketika pembinaan bola basket usia dini di Indonesia berkembang semakin serius. Dalam pemberitaan pada 21 September 2026, DBL Academy menyebut pembinaan anak usia lima hingga 12 tahun seharusnya memberi ruang untuk menikmati permainan dan membangun kemampuan dasar sebelum masuk ke kompetisi. Dalam latihan dan pertandingan kelompok usia tersebut, skor bahkan tidak ditampilkan agar anak tidak dibebani tekanan menang atau kalah. (mataram.antaranews.com) Gagasan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya

    Read More

  • Ketika Jarak Menjadi Nasib Anak, Negara Harus Menulis Ulang Peta Perlindungan

    Anak yang lahir di sebuah pulau kecil tidak memiliki hak yang lebih kecil. Namun, dalam praktiknya, jarak dapat membuat hak itu terasa seperti hak milik orang lain: ada dalam undang-undang, disebut dalam pidato, tetapi sulit dicapai ketika anak membutuhkan sekolah, dokter, dokumen, atau perlindungan. Persoalan itulah yang kembali muncul dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Daerah Kepulauan. Dalam rapat dengar pendapat pada 17 September 2026, Panitia Khusus RUU Daerah Kepulauan DPR RI menerima masukan dari Komnas HAM, Komnas Perempuan, dan KPAI. RUU tersebut didorong menjadi aturan khusus yang mengoreksi kebijakan yang selama ini bias daratan, termasuk dengan memperkuat pemenuhan hak perempuan dan

    Read More

  • Makanan Gratis, Risiko Tidak Gratis: Negara Harus Menjawab Ketika Dapur Menjadi Bahaya Anak

    Program makan untuk anak sering dipuji melalui angka: berapa porsi dimasak, berapa sekolah menerima, berapa banyak penerima manfaat tercatat. Namun, angka itu kehilangan makna ketika makanan yang tiba di hadapan anak justru membawa risiko kesehatan. Dalam program Makan Bergizi Gratis, pertanyaan paling penting bukan hanya apakah negara berhasil mengirimkan makanan, melainkan apakah negara mampu memastikan makanan itu aman. Pada 1 September 2026, ratusan santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Sidoarjo, dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan setelah diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG. Jumlah korban berubah dalam beberapa hari: laporan awal menyebut 293 santri, lalu data pemerintah daerah mencatat 748 orang terdampak

    Read More

  • Ketika Sekolah Dipindahkan ke Rumah, Negara Jangan Ikut Pulang

    Abu vulkanik tidak hanya menutup halaman sekolah. Ia menguji apakah negara memahami sekolah sebagai rangkaian layanan yang lebih luas daripada ruang kelas. Pada 6 September 2026, pemerintah daerah dan kementerian pendidikan menyiapkan atau menerapkan pembelajaran jarak jauh di sejumlah wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. PJJ mulai diberlakukan di beberapa daerah pada Senin, 7 September, dengan durasi yang disesuaikan menurut kondisi setempat. Pemerintah menempatkan keselamatan murid, guru, dan tenaga kependidikan sebagai alasan utama. (bpmpkepri.kemendikdasmen.go.id) Keputusan itu masuk akal. Anak tidak seharusnya dipaksa datang ke sekolah ketika udara tidak aman. Namun, belajar dari rumah bukan berarti seluruh tanggung jawab

    Read More

  • Ruang Anak Tidak Selesai Saat Diresmikan: Siapa Merawat Tempat yang Dipercayakan kepada Mereka?

    Sebuah ruang publik anak tidak benar-benar aman hanya karena pernah dibangun, diberi nama ramah anak, lalu diresmikan. Ia aman ketika lampunya menyala, pagarnya tidak hilang, permainan dapat digunakan, orang dewasa tahu siapa yang bertanggung jawab, dan warga percaya bahwa kerusakan tidak akan dibiarkan menjadi pemandangan biasa. Persoalan itu terlihat di RPTRA Pedongkelan, Kelurahan Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat. Pada 29 September 2026, Pemerintah Kota Jakarta Barat menyatakan sejumlah fasilitas di ruang tersebut hilang dan diduga dicuri. Lampu taman, pagar, serta sarana lain disebut menghilang satu per satu. Pada saat yang sama, sejumlah fasilitas juga mulai rusak, termasuk sarana bermain anak dan pot

    Read More

  • Saksi Kecil Bukan Bukti Berjalan: Pelindungan Harus Mengikuti Anak Setelah Pemeriksaan

    Anak yang menjadi saksi kekerasan seksual tidak pernah datang ke ruang hukum sebagai selembar keterangan. Ia datang membawa tubuh yang mungkin masih takut, bahasa yang belum utuh, ingatan yang tidak selalu tersusun kronologis, serta hubungan ketergantungan dengan orang dewasa yang bisa saja justru terkait dengan pelaku. Karena itu, keberhasilan negara tidak cukup diukur dari apakah anak sudah bersedia bercerita atau apakah keterangannya membantu perkara. Ukuran yang lebih penting adalah apakah pelindungan tetap mengikutinya setelah pemeriksaan selesai. Persoalan tersebut memperoleh titik uji baru di Kalimantan Barat. Hingga 31 Agustus 2026, Lembaga Pelindungan Saksi dan Korban menerima 129 permohonan pelindungan dari wilayah itu.

    Read More

  • Buku, Seragam, dan Rasa Memiliki: Anak Korban Kebakaran Tak Boleh Dipulangkan sebagai Data

    Api Menghanguskan Rumah, tetapi Anak Kehilangan Lebih dari Atap Kebakaran di Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan, pada Selasa malam, 22 September 2026, menghanguskan 18 rumah tinggal dan empat tempat usaha. Sehari setelahnya, warga tidak hanya berbicara tentang tempat tinggal yang hilang. Mereka menyebut seragam sekolah, sepatu, buku, dan perlengkapan belajar sebagai kebutuhan paling mendesak bagi anak-anak. Dua anak Hani, yang duduk di kelas 5 dan kelas 3 sekolah dasar, bahkan tidak dapat bersekolah karena seluruh perlengkapan mereka terbakar. (antaranews.com) Sekilas, seragam dan buku tampak seperti barang yang dapat diganti dengan cepat. Pemerintah tinggal mendata ukuran pakaian, membeli sepatu, membagikan tas, lalu

    Read More

  • Ketika Diagnosis Menjadi Rahasia, Anak dengan HIV Tetap Berhak Bersekolah

    Anak dengan HIV tidak hanya berhadapan dengan virus. Mereka juga berhadapan dengan rahasia, tatapan, bisik-bisik, dan keputusan orang dewasa yang sering dibuat atas nama perlindungan. Ketika status kesehatan disembunyikan tanpa penjelasan yang dapat dipahami, anak memang mungkin dijauhkan dari stigma untuk sementara. Namun, ia juga dapat kehilangan bahasa untuk memahami tubuhnya sendiri, alasan pengobatan, serta cara meminta pertolongan. Persoalan itu kembali mengemuka setelah Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak pemerintah memastikan seluruh anak dengan HIV/AIDS memperoleh pengobatan antiretroviral atau ARV, layanan kesehatan yang ramah anak, dukungan psikososial, dan kesempatan bersekolah tanpa diskriminasi. Desakan tersebut disampaikan pada 28 Juli 2026, setelah ditemukan

    Read More

  • Ketika Tetangga Menjadi Penjaga Pertama Anak

    Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, keselamatan anak tidak pertama-tama datang dari lembaga besar. Ia muncul melalui orang-orang yang kebetulan berada cukup dekat: Ibu Penjaga Rusun yang mencarikan kunci, Pak Satpam yang menenangkan keadaan, warga yang membawa Ava ketika menangis di lorong, serta Si Anak Pengamen yang menggenggam tangannya ketika ia tidak tahu harus pulang ke mana. Kehadiran mereka bukan hiasan moral. Mereka adalah penyangga sementara ketika rumah gagal menjadi tempat aman. Namun, kisah itu juga menyimpan peringatan: anak tidak boleh bergantung selamanya pada kebetulan bertemu orang baik. Di sinilah penguatan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di 10 desa Kecamatan

    Read More