Buku, Seragam, dan Rasa Memiliki: Anak Korban Kebakaran Tak Boleh Dipulangkan sebagai Data

Written by

in

Api Menghanguskan Rumah, tetapi Anak Kehilangan Lebih dari Atap

Kebakaran di Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan, pada Selasa malam, 22 September 2026, menghanguskan 18 rumah tinggal dan empat tempat usaha. Sehari setelahnya, warga tidak hanya berbicara tentang tempat tinggal yang hilang. Mereka menyebut seragam sekolah, sepatu, buku, dan perlengkapan belajar sebagai kebutuhan paling mendesak bagi anak-anak. Dua anak Hani, yang duduk di kelas 5 dan kelas 3 sekolah dasar, bahkan tidak dapat bersekolah karena seluruh perlengkapan mereka terbakar. (antaranews.com)

Sekilas, seragam dan buku tampak seperti barang yang dapat diganti dengan cepat. Pemerintah tinggal mendata ukuran pakaian, membeli sepatu, membagikan tas, lalu menganggap masalah selesai. Namun, cara pandang semacam itu terlalu pendek. Anak tidak memasuki sekolah hanya dengan tubuhnya. Ia datang dengan benda-benda yang menghubungkan dirinya dengan rumah, kelas, teman, guru, kebiasaan, dan masa depan yang sebelumnya terasa biasa.

Di sinilah buku berjudul ‘Di Tanah Lada’ memberi kita cara membaca yang lebih tajam. Dalam kisah Ava dan Pepper, benda kecil tidak pernah benar-benar kecil. Kamus dari Kakek Kia, buku cerita, ransel, gitar, boneka Pe, bahkan nama yang diberikan kepada sebuah benda menjadi penyangga ketika keluarga, rumah, dan hubungan orang dewasa tidak dapat dipercaya. Kehilangan benda berarti kehilangan sebagian peta untuk memahami hidup.

Kamus, Ransel, dan Seragam sebagai Peta Diri Anak

Ava membawa kamus bukan karena ia sedang mengejar prestasi akademik. Ia membutuhkannya untuk menerjemahkan dunia yang terus disodorkan orang dewasa dalam bentuk kata-kata yang tidak ia mengerti. Ia mencari arti “legal”, “hukum”, “kurator”, “cerai”, dan banyak istilah lain karena kehidupan di sekelilingnya tidak pernah dijelaskan dengan cukup terang.

Karena itu, ketika Ava kembali ke Rusun Nero untuk mengambil ransel dan benda-benda yang tertinggal, tindakannya bukan sekadar keinginan mengambil barang. Ia sedang berusaha menyambung kembali dirinya dengan kehidupan yang telah diputus secara paksa. Ransel itu menyimpan kamus dan buku cerita; benda-benda tersebut memungkinkan Ava tetap menjadi Ava, bukan sekadar anak yang dipindahkan dari satu kamar ke tempat lain.

Hubungan itu tampak jelas dalam kebakaran Kebayoran Lama. Anak-anak kehilangan seragam, sepatu, buku, dan alat belajar pada saat yang sama ketika mereka kehilangan rumah. Seragam bukan hanya pakaian untuk memenuhi aturan sekolah. Ia adalah tanda bahwa seorang anak masih memiliki tempat di kelasnya. Buku bukan hanya benda berisi pelajaran. Ia adalah alat untuk mempertahankan ritme membaca, mengerjakan tugas, dan bercakap-cakap dengan teman sebaya.

Maka, ketika seorang anak tidak masuk sekolah karena “tidak ada buku, tidak ada baju, tidak ada seragam, tidak ada sepatu”, persoalannya bukan semata kekurangan perlengkapan. Kalimat itu menunjukkan terputusnya kontinuitas hidup. (antaranews.com)

Bantuan Darurat Harus Mengembalikan Rutinitas, Bukan Sekadar Membagikan Paket

Respons pemerintah di Kebayoran Lama patut dicatat karena perlengkapan sekolah memang segera disalurkan. Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan membagikan 54 stel seragam untuk jenjang SD, SMP, dan SMA, 22 pasang sepatu, kaus kaki, celana training, serta 11 tas punggung. BPBD juga menyalurkan pakaian anak, selimut, kasur lipat, makanan, dan perlengkapan lain di lokasi pengungsian. (antaranews.com)

Bantuan itu penting. Anak tidak dapat menunggu sampai rumah dibangun kembali untuk kembali belajar. Namun, ukuran keberhasilan pemulihan tidak boleh berhenti pada jumlah paket yang disalurkan. Pertanyaan berikutnya harus diajukan: apakah ukuran seragamnya tepat? Apakah buku yang diberikan sesuai kelas? Apakah anak dapat kembali ke sekolah tanpa dipermalukan karena mengenakan pakaian bantuan? Apakah guru tahu bahwa ia baru saja kehilangan rumah dan seluruh barang miliknya?

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita kembali pada pengalaman Ava. Orang dewasa di sekelilingnya sering merasa telah mengambil keputusan yang masuk akal: memindahkannya dari Rusun Nero, membawanya ke hotel, atau menempatkannya di rumah kerabat. Akan tetapi, bagi Ava, perpindahan tidak otomatis berarti keselamatan. Ia tetap memikirkan Pepper, ransel, boneka Pe, dan tempat-tempat yang menyimpan hubungan emosionalnya.

Demikian pula dengan anak korban kebakaran. Memindahkan mereka ke tenda pengungsian adalah langkah penyelamatan fisik. Mengembalikan mereka ke sekolah memerlukan lebih dari sekadar alamat baru. Mereka membutuhkan perlengkapan yang sesuai, jadwal yang stabil, guru yang memahami situasi, serta kesempatan untuk memilih dan mengenali kembali barang-barang yang menjadi miliknya.

Jangan Mengubah Anak Menjadi Daftar Kerugian

Kebakaran juga menghanguskan dokumen penting seperti KTP, kartu keluarga, akta, dan berkas lain milik warga. Dalam keadaan darurat, pendataan memang diperlukan agar bantuan tepat sasaran. Namun, negara harus berhati-hati agar pendataan tidak menjadi cara baru untuk mereduksi anak menjadi angka: satu anak, satu seragam, satu tas, satu paket bantuan.

Ava berkali-kali menunjukkan bahwa anak memiliki kepentingan yang tidak selalu terlihat dalam keputusan orang dewasa. Ia ingin kembali ke Rusun bukan karena tempat itu nyaman, melainkan karena ada Pepper di sana. Ia mempertahankan boneka Pe bukan karena harganya tinggi, tetapi karena benda itu menyimpan gagasan tentang berbagi, keluarga, dan rasa memiliki.

Anak-anak penyintas kebakaran mungkin tidak meminta benda yang sama. Ada yang mencari buku dengan catatan tangan, sepatu tertentu, tas hadiah ulang tahun, atau seragam yang sudah diberi nama. Benda-benda itu tidak mudah diganti secara emosional, meskipun dapat diganti secara administratif. Karena itu, pemulihan harus memberi ruang bagi anak untuk menceritakan apa yang hilang, memilih apa yang paling dibutuhkan, dan menyimpan kembali sesuatu yang dapat ia anggap sebagai miliknya.

Sekolah Harus Menjadi Sambungan Hidup

Kembali ke sekolah setelah bencana bukan hanya urusan kehadiran. Sekolah dapat menjadi tempat anak menemukan kembali urutan hari: bangun, bersiap, bertemu teman, belajar, bermain, lalu pulang. Rutinitas semacam itu penting karena bencana telah membuat waktu terasa kacau dan masa depan mendadak tidak jelas.

Pelajaran dari ‘Di Tanah Lada’ adalah bahwa anak bertahan melalui hubungan-hubungan konkret. Ia membutuhkan orang yang menjelaskan, benda yang dapat digenggam, ruang yang dikenali, dan janji yang tidak mudah berubah. Karena itu, bantuan pascakebakaran harus menghubungkan perlengkapan sekolah dengan dukungan psikososial, penggantian dokumen, komunikasi dengan guru, dan pemantauan setelah masa tanggap darurat berakhir.

Seragam dapat dibagikan dalam sehari. Buku dapat dibeli kembali. Rumah mungkin dibangun ulang. Tetapi rasa memiliki tidak muncul dari paket bantuan. Ia tumbuh ketika anak diperlakukan sebagai seseorang yang kehilangan bagian dari hidupnya—bukan sekadar sebagai nama dalam daftar penyintas.

Api telah merenggut rumah warga Kebayoran Lama. Negara tidak boleh membiarkan anak-anak mereka kehilangan sekolah, rutinitas, dan kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri. Menyelamatkan anak berarti mengembalikan jalan agar ia dapat melanjutkan hidup, dengan benda-benda yang bukan hanya berguna, tetapi juga berarti.

Sumber