Sebuah ruang publik anak tidak benar-benar aman hanya karena pernah dibangun, diberi nama ramah anak, lalu diresmikan. Ia aman ketika lampunya menyala, pagarnya tidak hilang, permainan dapat digunakan, orang dewasa tahu siapa yang bertanggung jawab, dan warga percaya bahwa kerusakan tidak akan dibiarkan menjadi pemandangan biasa.
Persoalan itu terlihat di RPTRA Pedongkelan, Kelurahan Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat. Pada 29 September 2026, Pemerintah Kota Jakarta Barat menyatakan sejumlah fasilitas di ruang tersebut hilang dan diduga dicuri. Lampu taman, pagar, serta sarana lain disebut menghilang satu per satu. Pada saat yang sama, sejumlah fasilitas juga mulai rusak, termasuk sarana bermain anak dan pot semen. (barat.jakarta.go.id)
Berita ini penting bukan semata karena ada aset publik yang hilang. Yang lebih serius adalah hilangnya kepastian: apakah tempat itu masih dapat dipercaya oleh anak yang datang untuk bermain, belajar, bertemu teman, atau mencari jeda dari rumah yang tidak selalu aman?
Ruang aman dibangun dari pengulangan, bukan dari seremoni
Dalam ‘Di Tanah Lada’, tempat tidak pernah sekadar latar. Rusun, rumah warga, kamar, stasiun, kapal, dan ruang singgah membentuk pengalaman Ava dan Pepper tentang bahaya serta kemungkinan untuk bertahan. Mereka mengenali dunia melalui pertanyaan yang sangat konkret: di mana bisa tidur, siapa yang menyalakan lampu, siapa yang akan membuka pintu, dan siapa yang akan datang ketika keadaan berubah.
Karena itu, hilangnya lampu dan pagar di RPTRA Pedongkelan bukan kerusakan yang berdiri sendiri. Ia mengganggu rangkaian pengalaman yang membuat anak merasa sebuah tempat dapat dipakai tanpa rasa takut. Lampu bukan hanya benda penerang. Ia membantu anak melihat siapa yang berada di sekitarnya. Pagar bukan hanya pembatas fisik. Ia memberi tanda tentang batas ruang, jalur masuk, dan perlindungan dari lalu lintas atau gangguan luar.
Hubungan ini memang merupakan pembacaan analitis, bukan klaim bahwa kisah Ava dan Pepper menceritakan RPTRA Pedongkelan. Namun, keduanya bertemu pada satu pertanyaan: apakah ruang yang disediakan orang dewasa sungguh dapat diandalkan setelah anak berada di dalamnya?
Ruang publik yang gelap, terbuka karena pagar hilang, atau dibiarkan dengan permainan rusak memindahkan beban keselamatan kepada anak. Anak harus lebih waspada, lebih cepat membaca ancaman, dan lebih bergantung pada keberuntungan bertemu orang dewasa yang peduli. Dalam keadaan seperti itu, ruang ramah anak perlahan berubah menjadi ruang yang hanya ramah di atas papan nama.
Pemeliharaan adalah bentuk perlindungan yang paling sering dilupakan
Pemerintah Kota Jakarta Barat sebelumnya juga pernah memberitakan perbaikan fasilitas RPTRA Taman Pedongkelan. Pada 2024, petugas PPSU memperbaiki pagar besi, lapangan futsal, penyangga batu terapi, tempat duduk, dan sejumlah bagian lain di area seluas sekitar 1.008 meter persegi. (barat.jakarta.go.id)
Rangkaian itu menunjukkan bahwa ruang publik anak membutuhkan pekerjaan yang berulang. Fasilitas yang pernah diperbaiki dapat rusak lagi. Pagar yang pernah dipasang dapat hilang. Lampu yang menyala dapat dicuri. Maka, ukuran keberhasilan tidak boleh berhenti pada jumlah RPTRA yang dibangun atau berapa kali fasilitas diperbarui. Ukurannya harus mencakup berapa cepat kerusakan diketahui, siapa yang wajib melapor, kapan perbaikan dilakukan, dan bagaimana warga dapat memantau hasilnya.
Di sinilah berita Pedongkelan menjadi titik uji terhadap gagasan besar dalam karya tersebut: perlindungan tidak selesai ketika seorang anak sudah dipindahkan dari bahaya. Ava dan Pepper terus menghadapi persoalan baru setelah meninggalkan satu tempat. Tempat berikutnya harus memberi lebih dari sekadar atap sementara; ia harus menghadirkan kesinambungan, penjelasan, dan orang dewasa yang dapat dipercaya.
RPTRA pun demikian. Pembangunan adalah awal. Perawatan merupakan bentuk perlindungan yang berlangsung setiap hari. Ketika fasilitas dibiarkan rusak, negara seolah berkata bahwa anak boleh memakai ruang publik, tetapi harus menerima sendiri risikonya.
Warga penting, tetapi kepedulian tidak boleh dibiarkan bekerja sendirian
Dalam kisah Ava dan Pepper, pertolongan sering muncul dari orang-orang yang tidak memegang jabatan besar. Ada warga yang memberi makanan, menyediakan tempat tidur, meminjamkan pakaian, atau membantu anak-anak yang tidak tahu harus pergi ke mana. Pertolongan semacam itu menyelamatkan, tetapi sifatnya sementara dan bergantung pada pertemuan kebetulan.
Pelajaran tersebut relevan untuk membaca Pedongkelan. Warga sekitar tentu dapat menjadi mata pertama yang melihat lampu hilang, pagar dibongkar, atau permainan rusak. Namun, tidak adil jika seluruh tanggung jawab keamanan diserahkan kepada mereka. Warga bukan pengganti pengelola, petugas pemeliharaan, aparat, atau pemerintah daerah.
Yang dibutuhkan adalah pembagian peran yang terang. Pengelola harus memiliki daftar fasilitas dan jadwal pemeriksaan. Kelurahan perlu menyediakan kanal pelaporan yang mudah, bukan hanya nomor yang tidak pernah diketahui warga. Pemerintah daerah harus memastikan anggaran pemeliharaan tersedia dan mengumumkan tindak lanjutnya. Aparat perlu menangani dugaan pencurian tanpa menunggu kerusakan menumpuk. Warga dapat membantu mengawasi, tetapi tidak boleh dipaksa menjadi penjaga malam tanpa dukungan.
Kejelasan itu juga penting bagi anak. Mereka perlu tahu kepada siapa harus melapor jika lampu mati, pagar terbuka, atau ada orang yang membuat mereka tidak nyaman. Partisipasi anak tidak harus berupa forum besar. Kadang, ia dimulai dari pertanyaan sederhana: bagian mana dari taman yang membuat mereka takut, fasilitas apa yang tidak bisa dipakai, dan kapan mereka merasa ruang itu aman.
Tempat yang dipercaya harus dirawat sebelum anak kehilangan kepercayaan
Pencurian di RPTRA Pedongkelan mungkin tampak sebagai perkara kecil jika dihitung berdasarkan harga lampu, panjang pagar, atau biaya mengganti pot. Namun, nilai ruang publik anak tidak terletak hanya pada harga barangnya. Nilainya terletak pada rasa percaya yang dibangun perlahan dan dapat hilang dalam waktu singkat.
Anak belajar dari keadaan yang berulang. Jika lampu hilang dan tidak segera diganti, ia belajar bahwa gelap harus ditanggung. Jika pagar rusak dan tidak diperbaiki, ia belajar bahwa batas perlindungan tidak sungguh-sungguh ada. Jika laporan warga tidak dijawab, ia belajar bahwa ruang publik adalah janji yang dapat ditinggalkan.
Karena itu, merawat RPTRA bukan pekerjaan tambahan setelah pembangunan selesai. Ia adalah inti dari perlindungan anak. Ruang tersebut harus dijaga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya diperhatikan ketika ada kunjungan pejabat, acara komunitas, atau pemberitaan tentang kerusakan.
Anak tidak membutuhkan ruang yang tampak baik hanya pada hari peresmian. Mereka membutuhkan tempat yang tetap menyala, tetap terbuka dengan aman, dan tetap memiliki orang dewasa yang datang ketika sesuatu hilang. Di situlah kepercayaan publik dibentuk: bukan pada apa yang dijanjikan ketika ruang dibuka, melainkan pada apa yang dilakukan setelah perhatian mulai beralih.
Sumber
- barat.jakarta.go.id: Sudis Tamhut Jakbar Segera Perbaiki Fasilitas Yang Hilang Di Rptra Pedongkelan
- analisaberita.jakarta.go.id: Online
- beritajakarta.id: Pedongkelan Bridge Lights Back On After Swift Repairs
- reskrimsus.metro.polri.go.id: Guna Ciptakan Rasa Aman Polres Jakarta Barat Gelar Patroli Intensif Sasar Titik Rawan Kejahatan Jalanan
- Buku Di Tanah Lada — Gramedia