Di Tanah Lada
Salva, sering disapa Ava. Namun, Papanya ingin menamainya Saliva, yang berarti ludah, sebab menganggapnya tidak berguna. Dari kamus pemberian Kakek Kia, Ava mencari setiap makna dari kata-kata yang ditemukan sehari-hari. Ketika keluarga Ava pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal, Ava berjumpa dengan P—anak lelaki yang pandai sekali bermain gitar. Perjumpaan Ava dengan P, dan petualangan keduanya akan membawa pembaca ke banyak pojok gelap dan muara yang mengejutkan. Pada edisi kali ini, novel Di Tanah Lada dilengkapi dengan sebuah catatan, banyak ilustrasi, dan satu kemungkinan akhir cerita lain. Prolog: Hari Rabu tanggal 26 Juni 2013. Di berbagai belahan dunia, sekarang, berdasarkan perhitungan cuaca, adalah musim panas. Kecuali di Australia. Tempat aneh itu tidak pernah setuju soal perhitungan cuaca. Mama yang memberitahuku. Katanya, kalau seluruh dunia sedang kedinginan, Aust
-
Ketika Tetangga Menjadi Penjaga Pertama Anak
Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, keselamatan anak tidak pertama-tama datang dari lembaga besar. Ia muncul melalui orang-orang yang kebetulan berada cukup dekat: Ibu Penjaga Rusun yang mencarikan kunci, Pak Satpam yang menenangkan keadaan, warga yang membawa Ava ketika menangis di lorong, serta Si Anak Pengamen yang menggenggam tangannya ketika ia tidak tahu harus pulang ke mana. Kehadiran mereka bukan hiasan moral. Mereka adalah penyangga sementara ketika rumah gagal menjadi tempat aman. Namun, kisah itu juga menyimpan peringatan: anak tidak boleh bergantung selamanya pada kebetulan bertemu orang baik. Di sinilah penguatan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di 10 desa Kecamatan
-
Pendidikan Gratis Tidak Boleh Membuat Jarak Anak Tak Terlihat
Pendidikan gratis sering dirayakan seolah-olah satu kata itu sudah cukup menjelaskan seluruh jalan menuju sekolah. Padahal, seorang anak tidak hanya membutuhkan biaya pendidikan yang dihapus. Ia membutuhkan tempat tinggal yang memungkinkan bangun pagi tanpa ketakutan, perjalanan yang dapat ditempuh, orang dewasa yang menjelaskan perubahan, dan sekolah yang tidak memulai hubungan dari nol setiap kali hidupnya berpindah. Pada 18 September 2026, Presiden Prabowo Subianto menyatakan biaya pendidikan negeri dari sekolah dasar hingga universitas harus gratis. Lima hari kemudian, rapat terbatas di Istana membahas perluasan layanan pendidikan gratis dan bermutu, sementara Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menyiapkan skema penerapannya untuk sekolah negeri, mulai
-
Kaya Tidak Otomatis Mengasuh: Ketika Stunting Membongkar Mitos Rumah Aman
Rumah yang luas, makanan yang tersedia, dan pengasuh yang dibayar tidak otomatis membuat seorang anak diasuh. Itulah pelajaran paling penting dari pernyataan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji pada 17 September 2026: keluarga berkecukupan tetap dapat memiliki anak yang mengalami stunting ketika pengasuhan tidak diperhatikan secara memadai. Anak, menurut penjelasan tersebut, bisa lebih banyak dititipkan kepada pengasuh atau asisten rumah tangga, lalu kebutuhan perkembangannya direduksi menjadi urusan agar ia tidak menangis dan tetap menerima asupan. (kemendukbangga.go.id) Pernyataan itu penting bukan karena hendak menyalahkan keluarga mampu. Ia penting karena membongkar mitos yang terlalu lama dianggap wajar: bahwa uang dapat menggantikan kehadiran,
-
Ketika Angka Keluarga Menentukan Kursi Kuliah Anak
Seorang calon mahasiswa dapat lulus seleksi, diterima kampus, dan tetap harus berhadapan dengan pertanyaan yang lebih menentukan daripada nilai akademik: apakah negara menganggap keluarganya cukup miskin untuk dibantu? Pertanyaan itu menjadi mendesak setelah muncul persoalan perubahan status desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) yang memengaruhi calon penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah. Pada 31 Agustus 2026, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mendorong pembaruan data agar mahasiswa dari keluarga kurang mampu tidak kehilangan akses bantuan pendidikan karena perubahan kategori kesejahteraan. (kalteng.antaranews.com) Sebelumnya, laporan mengenai calon mahasiswa jalur Seleksi Mandiri Universitas Padjadjaran menunjukkan bahwa sebagian peserta dinyatakan mengalami kenaikan desil
-
Vaksin Bukan Perintah Diam: Anak Berhak Mengerti Tubuh yang Dilindungi
Imunisasi HPV bukan hanya urusan jarum yang masuk ke lengan anak. Ia juga menyangkut bahasa: apa yang dijelaskan, siapa yang menjelaskan, dan apakah anak diberi kesempatan untuk memahami tubuhnya sendiri sebelum orang dewasa mengambil keputusan atas namanya. Pada 25 September 2026, Kementerian Kesehatan menerbitkan penjelasan bahwa HPV dapat menginfeksi perempuan dan laki-laki serta berkaitan dengan sejumlah jenis kanker. Imunisasi HPV direkomendasikan bagi anak kelas 5 SD/MI atau anak usia 11 tahun yang tidak bersekolah formal. Penjelasan itu juga menerangkan alasan imunisasi diberikan kepada anak laki-laki, manfaat perlindungan sejak dini, keamanan vaksin, serta langkah yang dapat ditempuh bila anak terlambat menerima imunisasi.
-
Wajib Belajar Prasekolah Jangan Mengubah Anak Menjadi Jadwal Negara
Wajib Belajar Prasekolah Jangan Mengubah Anak Menjadi Jadwal Negara Pendidikan prasekolah akan menjadi bagian dari Wajib Belajar 13 Tahun, yang mencakup satu tahun prasekolah, enam tahun sekolah dasar, tiga tahun sekolah menengah pertama, dan tiga tahun sekolah menengah atas atau sederajat. Sasaran awal kebijakan itu adalah anak usia 5–6 tahun. Pemerintah menyebut tujuannya bukan hanya memperluas akses, tetapi juga membangun fondasi literasi, numerasi, karakter, kemampuan sosial, dan kesiapan belajar sebelum anak memasuki sekolah dasar. (paudpedia.kemendikdasmen.go.id) Gagasan tersebut penting. Namun, justru karena menyangkut seluruh anak, ia tidak boleh berhenti pada pertanyaan berapa banyak anak yang sudah masuk kelas. Pertanyaan yang lebih sulit
-
Pulang Bukan Berarti Kembali: Anak Pekerja Migran Membutuhkan Rumah yang Tersambung
Kepulangan seorang pekerja migran Indonesia dari Yordania bersama lima anaknya pada 25 September 2026 tampak seperti kabar tentang keberhasilan evakuasi. Baedah tiba di Indonesia setelah bertahun-tahun hidup di luar negeri, lalu bersama anak-anaknya diantar menuju Majalengka. Namun, perjalanan itu belum selesai ketika pesawat mendarat. Kelima anaknya disebut belum memiliki dokumen kelahiran, sementara kebutuhan mereka mencakup pendidikan, kesehatan, administrasi kependudukan, dukungan psikologis, dan keberlanjutan kehidupan keluarga. Pemerintah pusat menyatakan akan mendampingi proses tersebut, sedangkan pemerintah daerah menyiapkan koordinasi lintas sektor setelah keluarga tiba di kampung halaman. (suarapemerintah.id) Kepulangan bukan garis akhir, melainkan ujian kesinambungan Di sinilah buku berjudul ‘Di Tanah Lada’ memberi
-
Anak Tidak Harus Lulus Ujian untuk Diakui
Anak Tidak Harus Lulus Ujian untuk Diakui Sekolah pertama tidak boleh menjadi ruang penyaringan Anak usia dini tidak datang ke sekolah sebagai lembar kosong yang harus segera diberi nilai. Ia membawa rasa ingin tahu, kebiasaan bermain, cara berbicara yang belum rapi, ketakutan yang belum dapat dinamai, serta kemampuan memahami dunia melalui tubuh dan pengalaman. Karena itu, keputusan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melarang tes membaca, menulis, dan berhitung sebagai syarat penerimaan murid PAUD dalam SPMB 2026 layak dibaca sebagai koreksi terhadap ambisi orang dewasa yang terlalu cepat mengubah masa kanak-kanak menjadi perlombaan akademik. Dalam pemberitaan 15 Juni 2026, kementerian menegaskan bahwa
-
Ketika Anak Menelepon untuk Bertahan, Negara Harus Menjawab Lebih dari Sekadar Halo
Anak yang menghubungi layanan kesehatan jiwa tidak selalu datang dengan istilah yang rapi. Ia mungkin tidak tahu apakah yang dirasakan adalah sedih, takut, marah, kesepian, atau campuran semuanya. Ia hanya tahu bahwa sendirian terasa terlalu berat dan tidak ada orang di dekatnya yang mampu menjawab. Kabar bahwa pengguna termuda Healing119 berada pada rentang usia 8–10 tahun karena itu bukan sekadar informasi demografis. Pada 9 September 2026, Ikatan Psikolog Klinis Indonesia menyebut anak-anak sudah mengakses kanal konseling kesehatan jiwa Kementerian Kesehatan tersebut. Sebagian benar-benar membutuhkan konsultasi, terutama karena kesepian. Healing119 menerima sekitar 500–600 kontak per hari melalui telepon dan WhatsApp. (antaranews.com) Angka
-
Konseling Keluarga Harus Mencegah Anak Menjadi Penerjemah Konflik Orang Dewasa
Rumah tangga sering dinilai dari hal-hal yang mudah dicatat: ada atau tidaknya perkawinan, lengkap atau tidaknya dokumen, berlangsung atau tidaknya bimbingan pranikah. Namun, kehidupan anak tidak berjalan di dalam kolom administrasi. Ia berlangsung di antara suara orang dewasa yang bertengkar, pintu yang ditutup, janji yang berubah, dan pertanyaan yang tidak pernah dijawab dengan jelas. Karena itu, rencana Kementerian Agama memperkuat Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai pusat edukasi dan konseling keluarga patut dibaca lebih jauh daripada perluasan tugas birokrasi. Dalam National Symposium of Penghulu and Ulama pada 9–10 September 2026 di Cirebon, KUA didorong tidak hanya menangani pencatatan pernikahan, tetapi juga menyediakan
