Pendidikan Gratis Tidak Boleh Membuat Jarak Anak Tak Terlihat

Written by

in

Pendidikan gratis sering dirayakan seolah-olah satu kata itu sudah cukup menjelaskan seluruh jalan menuju sekolah. Padahal, seorang anak tidak hanya membutuhkan biaya pendidikan yang dihapus. Ia membutuhkan tempat tinggal yang memungkinkan bangun pagi tanpa ketakutan, perjalanan yang dapat ditempuh, orang dewasa yang menjelaskan perubahan, dan sekolah yang tidak memulai hubungan dari nol setiap kali hidupnya berpindah.

Pada 18 September 2026, Presiden Prabowo Subianto menyatakan biaya pendidikan negeri dari sekolah dasar hingga universitas harus gratis. Lima hari kemudian, rapat terbatas di Istana membahas perluasan layanan pendidikan gratis dan bermutu, sementara Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menyiapkan skema penerapannya untuk sekolah negeri, mulai dari PAUD hingga pendidikan menengah. Pemerintah menyebut kebijakan itu sebagai upaya memperluas akses; jumlah sekolah negeri yang berada dalam cakupan jenjang tersebut diperkirakan sekitar 164 ribu satuan pendidikan. (setneg.go.id)

Komitmen itu penting. Namun, justru karena besar, ia harus diuji dengan pertanyaan yang lebih keras: gratis bagi siapa, di tempat seperti apa, dan setelah anak tiba di sekolah, siapa yang memastikan hidupnya tetap tersambung?

Sekolah gratis tidak otomatis menghapus jarak anak

Dalam ‘Di Tanah Lada’, jarak tidak hanya berarti ukuran antara dua tempat. Jarak muncul ketika anak dipindahkan tanpa penjelasan, ketika rumah tidak lagi menjadi ruang aman, dan ketika orang dewasa mengambil keputusan besar dengan bahasa yang tidak mampu dipahami anak. Ava menghadapi dunia melalui kamus karena kata-kata orang dewasa sering datang lebih cepat daripada kemampuan anak untuk mengerti. Pepper menghadapi bentuk lain dari jarak: ia memiliki hubungan keluarga, tetapi tidak memperoleh kepastian tempat tinggal, pengasuhan, dan identitas yang layak.

Di sinilah rencana pendidikan gratis bertemu langsung dengan persoalan dalam karya tersebut. Negara dapat menghapus pungutan sekolah, tetapi seorang anak tetap mungkin harus menempuh perjalanan panjang, berganti pengasuh, pindah alamat, atau beradaptasi dengan sekolah baru tanpa satu pun lembaga mengetahui riwayat sebelumnya. Biaya resmi berkurang, tetapi ongkos sosial dan emosional tetap dibayar anak.

Jarak juga dapat menentukan apakah pendidikan gratis benar-benar bisa digunakan. Sekolah yang secara administratif terbuka belum tentu terjangkau bagi anak yang tinggal jauh dari layanan, hidup dalam keluarga yang berpindah-pindah, atau tidak memiliki orang dewasa yang dapat mengurus pendaftaran, seragam, dokumen, dan komunikasi dengan guru. Jika semua itu dianggap urusan keluarga, negara hanya menggratiskan pintu tanpa memastikan anak mampu mencapainya.

Pendidikan bermutu harus mengikuti perpindahan hidup anak

Pemerintah tidak hanya menyebut biaya gratis, tetapi juga pendidikan yang bermutu. Pernyataan itu seharusnya membawa konsekuensi yang lebih luas daripada penyediaan ruang kelas dan guru. Mutu harus berarti kemampuan sekolah membaca keadaan anak yang datang dengan riwayat tidak utuh: pernah berpindah rumah, kehilangan pengasuh, mengalami konflik keluarga, atau tertinggal karena hidupnya tidak stabil.

Dalam kisah Ava, perpindahan dari rusun ke tempat lain bukan sekadar pergantian alamat. Setiap perpindahan mengubah rasa aman, hubungan dengan orang dewasa, dan cara ia memahami dunia. Ia membutuhkan orang yang menjelaskan apa yang sedang terjadi, bukan sekadar orang yang mengantarnya ke tempat baru. Hubungan sebab-akibatnya jelas sebagai pembacaan: jika pendidikan gratis hanya memindahkan anak ke sekolah tanpa mekanisme serah-terima pengasuhan dan informasi yang aman, sekolah dapat menjadi ruang baru yang sama membingungkannya dengan rumah lama.

Karena itu, skema pendidikan gratis semestinya memuat dukungan bagi anak yang berpindah tempat tinggal, mekanisme penerimaan tanpa mempermalukan keluarga, pendampingan psikososial, serta koordinasi dengan layanan sosial dan kesehatan. Sekolah tidak harus mengetahui seluruh rahasia keluarga. Namun, sekolah harus memiliki cara yang bertanggung jawab untuk mengenali bahwa seorang anak mungkin datang membawa kehilangan, ketakutan, atau kebutuhan yang tidak tampak dari nilai rapornya.

Yang gratis harus mencakup waktu, informasi, dan kesinambungan

Persoalan terbesar dalam pendidikan bukan hanya siapa membayar biaya sekolah. Persoalannya adalah siapa menanggung waktu dan tenaga yang diperlukan agar anak dapat bertahan di dalam sistem. Orang tua atau pengasuh mungkin harus meninggalkan pekerjaan untuk mengurus pendaftaran. Anak mungkin harus berganti kendaraan atau berjalan jauh. Keluarga mungkin harus menyediakan perangkat, makanan, tempat belajar, dan pendampingan ketika sekolah selesai.

Dalam buku ini, orang dewasa berkali-kali gagal menjelaskan keputusan yang mengubah hidup anak. Perceraian, perjudian, kehilangan rumah, dan perubahan pengasuhan hadir sebagai “berita baru” yang harus dirakit sendiri oleh Ava dan Pepper. Kesinambungan hidup mereka tidak dijaga oleh satu sistem; justru anak yang dipaksa menjadi penerjemah keadaan.

Rencana pendidikan gratis menjadi titik uji kontemporer karena ia dapat memutus pola tersebut atau mengulanginya. Jika negara hanya mengumumkan pembebasan biaya, anak tetap menjadi pihak yang harus memahami sendiri mengapa ia dipindahkan, siapa yang bertanggung jawab, ke mana harus meminta bantuan, dan apakah sekolah lamanya akan berkomunikasi dengan sekolah baru. Pendidikan tidak akan benar-benar gratis bila anak masih membayar dengan kebingungan.

Jangan mengukur keberhasilan dari jumlah kursi yang terbuka

Keberhasilan kebijakan ini kelak tidak cukup dihitung dari jumlah sekolah yang menerima murid atau besarnya anggaran yang dialihkan. Ukurannya harus lebih dekat dengan pengalaman anak: apakah ia dapat tiba tanpa rasa takut, apakah guru mengetahui kebutuhan dasarnya, apakah perpindahan tidak memutus pelajaran dan pertemanan, dan apakah ada orang dewasa yang menjawab ketika rumah gagal memberi penjelasan.

Pendidikan gratis harus memperluas jalan hidup, bukan sekadar menghapus tagihan. Ia harus membuat jarak geografis, sosial, emosional, dan administratif menjadi tanggung jawab bersama—bukan utang tersembunyi yang kembali dibebankan kepada anak.

Tanah yang menumbuhkan kebahagiaan tidak tercipta hanya karena seseorang diberi izin untuk masuk. Ia tumbuh ketika tempat itu aman, hubungan di dalamnya dapat dipercaya, dan anak tidak dipaksa membawa seluruh beban perpindahan seorang diri. Jika pemerintah sungguh ingin menghadirkan pendidikan gratis dan bermutu, maka yang harus digratiskan bukan hanya kursinya, melainkan juga kesempatan untuk sampai, mengerti, bertahan, dan pulang tanpa kehilangan sambungan hidup.

Sumber