Anak yang menghubungi layanan kesehatan jiwa tidak selalu datang dengan istilah yang rapi. Ia mungkin tidak tahu apakah yang dirasakan adalah sedih, takut, marah, kesepian, atau campuran semuanya. Ia hanya tahu bahwa sendirian terasa terlalu berat dan tidak ada orang di dekatnya yang mampu menjawab.
Kabar bahwa pengguna termuda Healing119 berada pada rentang usia 8–10 tahun karena itu bukan sekadar informasi demografis. Pada 9 September 2026, Ikatan Psikolog Klinis Indonesia menyebut anak-anak sudah mengakses kanal konseling kesehatan jiwa Kementerian Kesehatan tersebut. Sebagian benar-benar membutuhkan konsultasi, terutama karena kesepian. Healing119 menerima sekitar 500–600 kontak per hari melalui telepon dan WhatsApp. (antaranews.com)
Angka itu penting, tetapi tidak boleh membuat anak kembali berubah menjadi statistik. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: apa yang terjadi setelah seorang anak berani menelepon?
Anak mungkin belum punya nama untuk lukanya
Dalam ‘Di Tanah Lada’, Ava memahami dunia dengan mencari arti kata. Ia membuka kamus untuk menjelaskan hukum, uang, pekerjaan, perjudian, perceraian, bahkan perasaan yang tidak dapat dirumuskan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. Kebiasaannya tampak lucu karena ia sering salah memahami istilah. Namun, di balik kelucuan itu terdapat kenyataan yang keras: Ava harus bekerja sendiri untuk membuat dunia yang kacau menjadi masuk akal.
Di situlah kabar tentang anak usia 8–10 tahun yang mengakses Healing119 memiliki hubungan langsung dengan pengalaman Ava. Anak yang menelepon layanan konseling mungkin belum mampu berkata, “Saya sedang mengalami krisis psikologis.” Ia mungkin hanya mengatakan bahwa ia sendirian. Ia bisa diam lama, menangis, marah, atau bertanya tentang sesuatu yang tampaknya tidak berkaitan dengan masalah utama.
Orang dewasa tidak boleh menunggu anak menggunakan bahasa yang tepat sebelum mempercayainya. Dalam cerita itu, Ava berkali-kali menunjukkan bahwa pertanyaan sederhana dapat membuka persoalan yang jauh lebih besar. Ketika ia bertanya tentang rumah, uang, nama, atau siapa yang akan menjaganya, ia sebenarnya sedang menguji apakah dunia masih dapat dipercaya.
Maka, keberanian anak untuk menghubungi Healing119 seharusnya dibaca sebagai bentuk pengetahuan tentang dirinya sendiri. Ia mungkin belum mengerti nama masalahnya, tetapi ia tahu bahwa keadaan tidak baik-baik saja. Sistem yang baik tidak akan menghukum ketidakteraturan bahasa itu. Sistem akan membantu menerjemahkannya tanpa mengambil alih suara anak.
Kesepian bukan gangguan kecil yang selesai dalam satu percakapan
Kesepian menjadi keluhan yang menonjol dalam akses anak dan remaja ke Healing119. IPKI menyebut puncak keluhan tersebut berada pada usia 12–14 tahun, sementara pengguna termuda yang benar-benar berkonsultasi berada di sekitar usia 8–10 tahun. Dalam kesempatan yang sama, Kementerian Kesehatan juga menyebut masalah keluarga sebagai salah satu faktor utama yang berkaitan dengan bunuh diri di Indonesia, disusul perundungan dan persoalan ekonomi. (antaranews.com)
Kesepian di sini tidak identik dengan tidak adanya manusia di sekitar anak. Ava tinggal bersama Mama dan Papa, tetapi keberadaan fisik tidak otomatis menjadi kehadiran emosional. Pepper bahkan mengalami penelantaran yang lebih telanjang: ia tidak memiliki tempat tidur yang layak, hidup di bawah kendali orang dewasa yang kasar, dan harus bergantung pada kebaikan orang lain untuk merasakan aman.
Hubungan itu bukan berarti kisah dalam novel tersebut menjelaskan secara langsung data Healing119. Hubungannya adalah perbandingan: keduanya memperlihatkan bahwa anak dapat berada di tengah keluarga, sekolah, atau lingkungan ramai, tetapi tetap tidak memiliki orang dewasa yang sungguh-sungguh hadir. Karena itu, menjawab telepon anak tidak cukup dengan memberi nasihat agar ia lebih kuat, lebih bersyukur, atau lebih terbuka kepada keluarga.
Jika sumber kesepian berada di rumah, keluarga tidak selalu dapat menjadi rujukan pertama. Jika masalahnya perundungan, sekolah harus ikut bertanggung jawab. Jika terdapat kekerasan, petugas perlu memastikan keamanan sebelum mendorong anak kembali kepada orang yang mungkin menjadi sumber bahaya. Konseling awal harus mampu membedakan antara konflik biasa, krisis, penelantaran, kekerasan, dan risiko bunuh diri.
Dari suara di ujung telepon menuju orang yang benar-benar bertanggung jawab
Healing119 penting karena menyediakan pintu masuk yang relatif mudah bagi orang yang membutuhkan dukungan. Kementerian Kesehatan menjelaskan layanan itu ditujukan untuk dukungan psikologis awal, dapat diakses melalui 119 ekstensi 8 atau kanal digital, dan berfungsi menghubungkan masyarakat dengan pertolongan yang sesuai. (kesprimkom.kemkes.go.id)
Namun, pintu masuk bukanlah rumah. Percakapan pertama hanya bermakna jika ada jalur setelahnya. Berita tentang tingginya jumlah kontak menunjukkan bahwa kebutuhan jauh lebih besar daripada kemampuan beberapa konselor dalam satu giliran layanan. Belakangan, antrean dan kebutuhan triase juga menjadi perhatian karena jumlah pengakses dapat mencapai ratusan orang dalam satu shift. (health.detik.com)
Di titik ini, buku tersebut menawarkan ukuran etik yang penting. Ava dan Pepper tidak hanya membutuhkan orang yang bersedia mendengarkan. Mereka membutuhkan orang yang datang kembali, menyediakan tempat tidur, menjelaskan perpindahan, melindungi tubuh mereka, dan berani mengambil keputusan ketika orang dewasa lain gagal. Mas Alri, Kak Suri, Mama, dan Papa menunjukkan bahwa rasa sayang tanpa keberanian, tanggung jawab, atau kemampuan mengasuh dapat tetap meninggalkan anak dalam bahaya.
Karena itu, setiap kontak anak dengan layanan krisis harus diperlakukan sebagai kemungkinan awal dari kebutuhan yang lebih luas. Apakah anak aman setelah telepon berakhir? Apakah ia memiliki orang dewasa yang dapat dihubungi? Apakah sekolah mengetahui cara mendukung tanpa menyebarkan rahasia? Apakah tersedia psikolog atau dokter untuk tindak lanjut? Apakah ada mekanisme ketika keluarga justru menjadi sumber ancaman?
Pertanyaan tersebut tidak boleh diserahkan kepada anak. Anak sudah melakukan bagian yang paling sulit: mengakui bahwa ia membutuhkan bantuan. Negara, keluarga, sekolah, dan layanan kesehatan harus mengerjakan bagian berikutnya.
Mendengar anak berarti menjaga sambungan hidupnya
Dalam ‘Di Tanah Lada’, Ava percaya bahwa kebenaran dapat ditemukan meskipun orang dewasa sering menyembunyikannya di balik diam, kebohongan, atau istilah yang tidak ia mengerti. Keyakinan itu menjadi dasar bagi pembacaan terhadap Healing119: anak tidak boleh dipaksa menunggu sampai penderitaannya terlihat dramatis.
Kanal bantuan yang mudah diakses adalah kemajuan. Tetapi ukuran keberhasilannya bukan hanya jumlah telepon yang masuk. Ukurannya adalah apakah seorang anak menjadi lebih aman setelah menelepon, apakah ia tidak ditinggalkan sendirian dengan masalahnya, dan apakah ada orang dewasa yang bersedia memikul tanggung jawab setelah percakapan selesai.
Anak menelepon bukan untuk sekadar didengar selama beberapa menit. Ia menelepon karena ingin bertahan sampai ada dunia yang lebih dapat dipercaya. Negara harus menjawab lebih dari sekadar halo.