Anak Tidak Harus Lulus Ujian untuk Diakui
Sekolah pertama tidak boleh menjadi ruang penyaringan
Anak usia dini tidak datang ke sekolah sebagai lembar kosong yang harus segera diberi nilai. Ia membawa rasa ingin tahu, kebiasaan bermain, cara berbicara yang belum rapi, ketakutan yang belum dapat dinamai, serta kemampuan memahami dunia melalui tubuh dan pengalaman. Karena itu, keputusan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melarang tes membaca, menulis, dan berhitung sebagai syarat penerimaan murid PAUD dalam SPMB 2026 layak dibaca sebagai koreksi terhadap ambisi orang dewasa yang terlalu cepat mengubah masa kanak-kanak menjadi perlombaan akademik.
Dalam pemberitaan 15 Juni 2026, kementerian menegaskan bahwa SPMB PAUD harus berlangsung transparan, inklusif, dan berkeadilan. Persyaratan penerimaan diarahkan pada usia, dokumen administrasi, jalur pendaftaran, serta daya tampung—bukan ujian calistung. Kebijakan itu juga disebut sejalan dengan tujuan pendidikan anak usia dini yang menekankan stimulasi tumbuh kembang secara holistik, bukan tekanan akademik dini. (paudpedia.kemendikdasmen.go.id)
Namun, larangan tersebut tidak boleh berhenti sebagai pengumuman teknis. Ia harus menjadi perubahan cara pandang: anak tidak perlu membuktikan bahwa dirinya sudah menyerupai murid sekolah dasar agar pantas memperoleh tempat di PAUD.
Ava mengingatkan bahwa kemampuan anak tidak selalu tampak sebagai jawaban benar
Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, Ava memahami dunia dengan mencari arti kata, membandingkan penjelasan orang dewasa dengan kejadian yang ia alami, lalu bertanya ketika keduanya tidak cocok. Ia mencoba memahami kematian, uang, hukum, perjudian, pekerjaan, perceraian, dan perpindahan rumah melalui kamus serta percakapan sehari-hari. Cara berpikirnya tidak selalu lurus, tetapi justru di situlah terlihat kerja intelektual seorang anak: ia menyusun hubungan antara kata dan kenyataan.
Hubungan ini penting bagi pembacaan atas larangan tes calistung. Anak yang belum lancar membaca belum tentu tidak mampu berpikir. Anak yang belum dapat menulis namanya belum tentu tidak memiliki ingatan, imajinasi, atau kemampuan memecahkan masalah. Anak yang belum menghitung dengan cepat bukan berarti belum siap belajar. Ava menunjukkan bahwa kemampuan dapat muncul sebagai pertanyaan, pengamatan, kesimpulan sederhana, atau keberanian menyatakan bahwa penjelasan orang dewasa membingungkan.
Tes calistung berisiko mengubah keragaman perkembangan menjadi satu garis sempit. Anak yang mendapat lebih banyak pendampingan di rumah akan tampak lebih siap, sementara anak yang tumbuh dalam kondisi sulit dapat dianggap tertinggal sebelum sekolah benar-benar memberinya kesempatan. Di titik itu, ujian tidak lagi mengukur kesiapan anak semata. Ia juga mengukur ketimpangan waktu, fasilitas, perhatian, dan sumber daya keluarga.
Transparansi harus berarti tidak ada seleksi tersembunyi
Pemerintah menyebut transparansi, inklusivitas, dan keadilan sebagai prinsip SPMB PAUD 2026. Prinsip tersebut penting, tetapi harus diuji sampai ke praktik pendaftaran. Larangan tes calistung akan kehilangan makna jika satuan pendidikan menggantinya dengan wawancara yang diam-diam menilai kemampuan membaca, tugas rumah yang menyerupai ujian, atau rekomendasi informal yang hanya mudah diakses keluarga tertentu.
Di sinilah kesinambungan dengan pengalaman Ava dan Pepper menjadi jelas. Keduanya berulang kali menghadapi keputusan orang dewasa yang mengubah hidup mereka tanpa penjelasan yang cukup. Mereka dipindahkan, ditempatkan, atau ditinggalkan dalam situasi yang tidak mereka pilih. Masalahnya bukan hanya keputusan itu benar atau salah, melainkan bahwa anak tidak diberi penjelasan dan tidak memiliki posisi yang cukup kuat untuk menanyakan akibatnya.
SPMB yang adil karena itu bukan sekadar sistem yang melarang soal calistung. Orang tua harus menerima informasi yang mudah dipahami tentang usia, dokumen, kuota, jalur pendaftaran, dan mekanisme pengaduan. Sekolah juga harus mampu menjelaskan alasan keputusan secara terbuka. Jika daya tampung menjadi satu-satunya pembatas setelah syarat terpenuhi, pelaksanaannya harus dapat diperiksa agar tidak muncul “tes kecil” yang disamarkan sebagai percakapan biasa. Berita tersebut juga menempatkan kepala sekolah sebagai pihak penting untuk mencegah titipan, pungutan, dan diskriminasi. (paudpedia.kemendikdasmen.go.id)
Masa kanak-kanak bukan jeda sebelum perlombaan dimulai
Karya tersebut tidak menggambarkan dunia anak sebagai tempat yang otomatis aman. Ava hidup di tengah kekerasan, konflik keluarga, perpindahan tempat tinggal, kebingungan tentang uang, dan orang dewasa yang sering gagal menjelaskan keadaan. Pepper menghadapi penelantaran yang lebih terbuka: tempat tidur, rumah, pengasuhan, dan rasa memiliki tidak pernah benar-benar tersedia secara wajar.
Karena itu, pendidikan anak usia dini tidak boleh hanya dipahami sebagai tahap persiapan untuk memasuki jenjang berikutnya. PAUD harus menjadi ruang yang membantu anak merasa aman, bermain, berbicara, berhubungan dengan orang lain, mengembangkan bahasa, mengenali tubuh, dan membangun kepercayaan terhadap dunia. Calistung dapat diperkenalkan secara sesuai perkembangan, tetapi tidak boleh berubah menjadi gerbang yang menentukan apakah seorang anak layak diterima atau ditolak.
Larangan tes calistung juga mengandung perubahan konteks yang penting. Dalam dunia Ava, bahasa menjadi alat untuk memahami pengalaman yang kacau. Dalam kebijakan SPMB, sekolah seharusnya tidak memakai bahasa dan angka untuk menutup pintu, melainkan membantu anak menemukan cara belajarnya sendiri. Negara tidak sedang menurunkan standar pendidikan. Negara sedang menempatkan standar itu pada usia dan tujuan yang tepat.
Yang harus diuji bukan kesiapan anak, melainkan kesiapan sistem
Kebijakan yang baik belum tentu otomatis menjadi praktik yang baik. Setelah larangan ditetapkan, pemerintah perlu memastikan pengawasan berjalan, pengaduan mudah diakses, dan sekolah tidak memindahkan seleksi ke bentuk-bentuk baru. Guru dan kepala sekolah juga membutuhkan dukungan agar dapat menilai perkembangan anak melalui pengamatan yang wajar, bukan melalui ujian terselubung.
Lebih jauh, orang tua perlu diyakinkan bahwa anak yang belum lancar calistung bukan anak yang gagal. Ia mungkin sedang belajar melalui permainan, percakapan, gerak, gambar, atau pertanyaan yang tampak tidak berhubungan. Seperti Ava, ia mungkin belum bisa menjelaskan semuanya dengan bahasa orang dewasa, tetapi bukan berarti ia tidak sedang memahami dunia.
SPMB PAUD 2026 akan berarti jika larangan tes calistung mengubah kebiasaan yang lebih dalam: berhenti memaksa anak membuktikan nilainya terlalu dini. Anak tidak harus lulus ujian untuk diakui. Tugas sekolah pertama bukan menyaring siapa yang paling cepat, melainkan memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh, bermain, belajar, dan didengar tanpa harus terlebih dahulu menyerupai ukuran orang dewasa.
Sumber
- paudpedia.kemendikdasmen.go.id: Kemendikdasmen Larang Tes Calistung Dalam Spmb Ramah 2026 Tegaskan Prinsip Transparansi Inklusif Dan Berkeadilan
- paudpedia.kemendikdasmen.go.id
- paudpedia.kemendikdasmen.go.id: Tiga Target Perubahan Transisi Paud Sd Yang Menyenangkan Hapus Calistung Terapkan Mpls Dan Bangun Fondasi Anak
- paudpedia.kemendikdasmen.go.id: Ban Paud Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah Tetapkan Status Akreditasi Satuan Paud Di 24 Provinsi
- Buku Di Tanah Lada — Gramedia