Rumah yang luas, makanan yang tersedia, dan pengasuh yang dibayar tidak otomatis membuat seorang anak diasuh. Itulah pelajaran paling penting dari pernyataan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji pada 17 September 2026: keluarga berkecukupan tetap dapat memiliki anak yang mengalami stunting ketika pengasuhan tidak diperhatikan secara memadai. Anak, menurut penjelasan tersebut, bisa lebih banyak dititipkan kepada pengasuh atau asisten rumah tangga, lalu kebutuhan perkembangannya direduksi menjadi urusan agar ia tidak menangis dan tetap menerima asupan. (kemendukbangga.go.id)
Pernyataan itu penting bukan karena hendak menyalahkan keluarga mampu. Ia penting karena membongkar mitos yang terlalu lama dianggap wajar: bahwa uang dapat menggantikan kehadiran, dan rumah yang aman secara materi pasti aman bagi pertumbuhan anak. Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, persoalan serupa hadir bukan sebagai teori, melainkan sebagai pengalaman sehari-hari Ava dan Pepper. Keduanya memperlihatkan bahwa anak membutuhkan lebih dari sekadar kamar, makanan, atau orang dewasa yang sesekali muncul.
Rumah yang mampu membeli belum tentu mampu merawat
Ava tinggal di antara orang dewasa yang memiliki bahasa, aturan, dan keputusan sendiri. Namun, ia sering harus mencari arti kata melalui kamus karena dunia di sekelilingnya tidak pernah dijelaskan dengan cukup. Hukum, uang, perjudian, perceraian, pekerjaan, dan hubungan keluarga masuk ke dalam hidupnya sebagai potongan-potongan informasi yang harus ia susun sendiri.
Di sinilah hubungan pertama dengan kabar tentang stunting menjadi jelas. Kecukupan ekonomi memang dapat membuka akses pada makanan, layanan kesehatan, dan tenaga pengasuh. Namun, akses tidak sama dengan pemakaian yang benar, apalagi dengan hubungan yang responsif. Anak tidak hanya membutuhkan kalori. Ia membutuhkan orang dewasa yang memperhatikan apakah ia makan, bagaimana ia makan, apakah ia tumbuh, apa yang ia takutkan, dan apa yang tidak dapat ia ucapkan.
Ketika pengasuhan diserahkan kepada orang lain tanpa keterlibatan orang tua, anak berisiko diperlakukan sebagai jadwal yang harus dijaga, bukan manusia yang harus dipahami. Ia diberi makan agar diam, ditidurkan agar tidak mengganggu, dan dijauhkan dari masalah orang dewasa. Padahal, perkembangan berlangsung melalui interaksi: percakapan, permainan, sentuhan, pemeriksaan kesehatan, dan kepekaan terhadap perubahan kecil pada tubuh maupun perilaku.
Ava dan Pepper menunjukkan biaya dari pengasuhan yang terputus
Pepper membawa bentuk kerentanan yang lebih terang. Ia tidak memiliki tempat tidur yang layak, tidak memperoleh kejelasan tentang keluarganya, dan hidup di sekitar orang dewasa yang gagal atau takut menjalankan tanggung jawab. Tetapi buku ini tidak berhenti pada kekurangan material. Yang paling melukai Pepper adalah putusnya hubungan yang seharusnya membuat seorang anak merasa dikenali.
Ia tidak sekadar kekurangan benda. Ia kekurangan kepastian: siapa ibunya, siapa ayahnya, siapa yang akan melindunginya, dan kepada siapa ia boleh percaya. Bahkan ketika ada orang baik seperti Mas Alri, kebaikan itu tidak serta-merta menghapus kerusakan yang ditinggalkan pengasuhan sebelumnya. Mas Alri dapat menemani, menjelaskan, dan memeluk, tetapi ia juga sadar bahwa kasih sayang tidak boleh dipisahkan dari tanggung jawab.
Hubungan kedua dengan berita itu terletak di sini: anak yang dititipkan tidak otomatis berada dalam keadaan terlindungi. Penitipan dapat menjadi pengaturan yang masuk akal bagi orang dewasa bekerja, tetapi tetap berbahaya jika tidak disertai standar pengasuhan, komunikasi rutin, pengawasan, dan keterlibatan orang tua. Anak mungkin tidak dipukul, tidak kelaparan, dan tidak ditinggalkan sendirian, tetapi tetap mengalami pengabaian jika tidak diajak bicara, tidak dipantau tumbuh kembangnya, atau tidak memiliki orang dewasa yang benar-benar mengenali kebutuhannya.
Stunting tidak boleh menjadi tudingan kepada keluarga
Namun, membongkar mitos rumah aman tidak berarti memindahkan seluruh beban kepada keluarga. Pernyataan bahwa keluarga berkecukupan juga dapat menghadapi risiko stunting harus dibaca hati-hati agar tidak berubah menjadi moralitas baru: orang kaya dianggap lalai, orang miskin dianggap tidak mampu, dan semua persoalan dikembalikan kepada ibu atau orang tua.
Stunting bersifat kompleks. Pemerintah sendiri menekankan bahwa pencegahannya tidak cukup melalui satu intervensi, melainkan perlu mencakup gizi, air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, dan pengasuhan. Data pendataan keluarga 2025 yang dikutip pemerintah mencatat 8,1 juta keluarga berisiko stunting dari 74,1 juta keluarga yang terdata. (kemendukbangga.go.id) Angka itu menunjukkan bahwa persoalannya berskala sistemik, bukan sekadar hasil dari keputusan satu rumah tangga.
Di bagian lain, karya tersebut juga mengingatkan bahwa tempat tinggal tidak pernah netral. Rusun Nero bukan hanya latar, melainkan ruang yang dipenuhi kecoa, tikus, jamur, asap, konflik, dan ketidakpastian. Karena itu, kritik terhadap keluarga mampu tidak boleh membuat negara melupakan keluarga yang menghadapi sanitasi buruk, pendapatan tidak stabil, akses kesehatan terbatas, atau rumah yang tidak layak. Berita lain tentang intervensi pemerintah melalui perbaikan rumah keluarga berisiko stunting memperlihatkan bahwa kondisi tempat tinggal memang bagian dari persoalan, bukan latar tambahan. (antaranews.com)
Pengasuhan adalah pekerjaan, bukan sekadar kehadiran orang dewasa
Hubungan ketiga dengan buku itu menyentuh perubahan konteks. Pada Ava dan Pepper, kegagalan pengasuhan tampak melalui kekerasan, pertengkaran, penelantaran, dan kebingungan identitas. Dalam keluarga berkecukupan, kegagalan tersebut mungkin tampil lebih sunyi: anak memiliki kamar, mainan, makanan, dan jadwal, tetapi tidak memiliki percakapan yang cukup untuk memahami dirinya sendiri.
Karena itu, pengasuhan harus dipandang sebagai pekerjaan yang membutuhkan waktu, pengetahuan, kontinuitas, dan tanggung jawab. Orang tua tidak harus mengerjakan semua hal sendirian. Mereka dapat meminta bantuan keluarga, pengasuh, sekolah, posyandu, tenaga kesehatan, atau layanan perkembangan anak. Namun, bantuan bukan berarti pengalihan total. Orang tua tetap harus mengetahui apa yang dimakan anak, bagaimana tidurnya, apakah berat dan tingginya berkembang, apakah ia mengalami kesulitan bicara, serta apakah ia merasa aman bersama orang yang merawatnya.
Negara pun harus memastikan bahwa edukasi pengasuhan tidak berhenti sebagai nasihat. Ia perlu diterjemahkan menjadi layanan yang mudah diakses, pemantauan pertumbuhan yang berkelanjutan, dukungan bagi pengasuh, serta mekanisme ketika anak menunjukkan tanda masalah. Jangan sampai keluarga diminta “lebih memperhatikan”, tetapi tidak diberi waktu, informasi, dan layanan yang memungkinkan perhatian itu benar-benar terjadi.
Di Tanah Lada tidak menawarkan rumah ideal. Ia menawarkan ukuran yang lebih jujur: anak tumbuh melalui hubungan yang hadir. Kebahagiaan bukan benda yang dapat dibeli lalu ditinggalkan di kamar anak. Ia dibangun melalui makanan yang tepat, tubuh yang dipantau, pertanyaan yang dijawab, ketakutan yang dipercaya, dan orang dewasa yang tidak menghilang ketika tanggung jawab menjadi sulit.
Maka, ketika stunting muncul di keluarga berkecukupan, yang perlu dibongkar bukan hanya menu makan atau jadwal pengasuh. Yang harus diperiksa adalah anggapan bahwa merawat dapat disubkontrakkan sepenuhnya. Anak boleh dibantu banyak orang, tetapi ia tidak boleh kehilangan orang dewasa yang sungguh-sungguh hadir.
Sumber
- kemendukbangga.go.id: E5309Ed3 1495 41Ba Bfc2 99Be353B7340 Mendukbangga Keluarga Berkecukupan Tetap Berisiko Alami Stunting
- ANTARA News: Pendataan Keluarga
- gorontalo.antaranews.com: Program Stunting
- ntb.kemendukbangga.go.id: Cf4C7E64 1C04 4A3E 8C39 1B15E0C5De2D Peran Keluarga Dalam Pencegahan Stunting
- Buku Di Tanah Lada — Gramedia