Wajib Belajar Prasekolah Jangan Mengubah Anak Menjadi Jadwal Negara
Pendidikan prasekolah akan menjadi bagian dari Wajib Belajar 13 Tahun, yang mencakup satu tahun prasekolah, enam tahun sekolah dasar, tiga tahun sekolah menengah pertama, dan tiga tahun sekolah menengah atas atau sederajat. Sasaran awal kebijakan itu adalah anak usia 5–6 tahun. Pemerintah menyebut tujuannya bukan hanya memperluas akses, tetapi juga membangun fondasi literasi, numerasi, karakter, kemampuan sosial, dan kesiapan belajar sebelum anak memasuki sekolah dasar. (paudpedia.kemendikdasmen.go.id)
Gagasan tersebut penting. Namun, justru karena menyangkut seluruh anak, ia tidak boleh berhenti pada pertanyaan berapa banyak anak yang sudah masuk kelas. Pertanyaan yang lebih sulit adalah: anak seperti apa yang dianggap siap, siapa yang menentukan kesiapan itu, dan apakah negara mampu menyediakan waktu untuk anak-anak yang hidupnya belum memiliki urutan yang stabil?
Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, Ava tidak memasuki dunia melalui jadwal yang rapi. Ia mengenali kenyataan melalui kata-kata, benda, percakapan, dan perubahan suasana orang dewasa. Ia mencari arti “hukum”, “legal”, “kurator”, “cerai”, bahkan “tengik”, karena bahasa orang dewasa terlalu sering hadir sebagai suara yang tidak menjelaskan apa-apa. Di situlah buku ini memberi peringatan: anak tidak menjadi siap hanya karena tubuhnya hadir di suatu ruangan. Ia siap ketika dunia di sekelilingnya mulai dapat dipahami.
Satu tahun prasekolah harus menjadi sambungan hidup, bukan sekadar tambahan kalender
Pemerintah mulai memperkuat pelaksanaan Wajib Belajar 13 Tahun pada 2026 melalui perluasan akses, pembangunan satuan pendidikan, penguatan kualitas guru, dan dukungan pemerintah daerah. Pada Februari 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menekankan pentingnya guru PAUD menciptakan suasana yang ramah anak, menyenangkan, mendorong anak bertanya, bermain, berimajinasi, berbagi, bekerja sama, dan berkomunikasi dengan bahasa yang baik. (kemendikdasmen.go.id)
Bahasa kebijakan itu sebenarnya bertemu dengan inti pengalaman Ava. Ia bukan anak yang pasif menerima dunia. Ia bertanya ketika ucapan orang dewasa bertentangan dengan tindakan mereka. Ia belajar mengatakan “nggak” bukan semata-mata untuk menguasai kosakata, melainkan untuk membangun batas terhadap orang dewasa yang selama ini terlalu mudah memerintahnya.
Karena itu, prasekolah harus dipahami sebagai ruang untuk membangun kemampuan anak memahami dan menyatakan pengalaman. Jika program hanya mengukur kehadiran, usia, dan kelanjutan ke sekolah dasar, maka bagian paling penting dari kesiapan justru hilang. Anak mungkin datang setiap hari, tetapi tetap tidak tahu kepada siapa ia harus meminta pertolongan, bagaimana menjelaskan ketakutannya, atau mengapa hidupnya berubah.
Kebijakan nasional tidak boleh menjadikan jadwal sebagai pengganti pengasuhan. Sekolah dapat menyediakan ritme, tetapi ritme itu harus membantu anak pulih dari ketidakteraturan hidup, bukan memaksa semua anak tampak sama sejak hari pertama.
Anak yang berpindah tempat membutuhkan orang dewasa yang tidak ikut menghilang
Dalam kisah Ava, perpindahan tempat tinggal tidak otomatis berarti keselamatan. Ia dibawa dari rusun ke hotel, lalu menghadapi kemungkinan kembali ke tempat lama atau tinggal bersama kerabat. Secara kasatmata, orang dewasa sedang mencari tempat yang lebih baik. Namun, bagi anak, setiap perpindahan juga berarti kehilangan benda, kebiasaan, teman, dan penjelasan yang membuat hari-hari sebelumnya dapat dikenali.
Di sinilah rencana prasekolah nasional perlu diuji. Pemerintah telah menyiapkan berbagai strategi, termasuk PAUD-SD satu atap, guru PAUD kunjung, kelas rangkap, pembangunan unit sekolah baru, dan penguatan tata kelola untuk mempercepat pemerataan layanan. (paudpedia.kemendikdasmen.go.id) Strategi tersebut dapat membuka pintu bagi anak yang selama ini jauh dari layanan. Tetapi pintu saja tidak cukup bagi anak yang keluarganya berpindah-pindah, tinggal di hunian tidak layak, atau hidup dalam konflik rumah tangga.
Anak seperti Ava membutuhkan catatan perkembangan yang tidak terputus, guru yang tahu dari mana ia datang, serta orang dewasa yang menjelaskan ke mana ia akan pergi. Jika seorang anak berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, negara tidak boleh menganggap riwayatnya dimulai dari nol. Ia harus membawa serta kebutuhan belajar, kondisi kesehatan, hubungan pengasuhan, dan cara komunikasi yang sudah dikenali anak.
Kesinambungan semacam itu tidak selalu terlihat dalam angka partisipasi. Namun, bagi anak, kesinambungan menentukan apakah sekolah terasa sebagai tempat yang aman atau sekadar alamat baru yang harus ia hafalkan.
Pepper mengingatkan bahwa akses bukan berarti anak sudah terjangkau
Karya tersebut juga memperlihatkan Pepper, anak yang hidup di sekitar rusun, tanpa tempat tidur layak, tanpa pengasuhan yang memadai, dan tanpa kepastian tentang siapa yang bertanggung jawab atas dirinya. Ia memiliki gitar, teman, serta kemampuan membangun hubungan, tetapi itu tidak berarti kebutuhan pendidikannya otomatis terbaca oleh sistem.
Di sinilah perluasan prasekolah bertemu dengan persoalan tata kelola. Pemerintah mengakui bahwa pelaksanaan Wajib Belajar 13 Tahun membutuhkan kerja bersama antara kementerian, pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan masyarakat. Pada 2025, Kemendikdasmen juga menyatakan bahwa implementasi satu tahun prasekolah masih berada dalam tahap perencanaan, meskipun telah masuk dalam rencana pembangunan nasional. (antaranews.com) Artinya, negara masih memiliki kesempatan untuk menentukan apakah kebijakan ini akan menjadi perluasan hak atau sekadar perluasan kewajiban administratif.
Pepper menunjukkan siapa yang mudah tertinggal jika negara hanya menunggu anak datang ke sekolah. Anak yang tinggal di lingkungan kumuh, berpindah-pindah, tidak memiliki dokumen lengkap, atau tidak diasuh secara konsisten mungkin bukan tidak membutuhkan pendidikan. Ia justru membutuhkan lembaga yang lebih aktif mencarinya, mengenali hidupnya, dan membangun kepercayaan tanpa terlebih dahulu menuntutnya tampak siap.
Karena itu, program prasekolah harus terhubung dengan layanan kesehatan, gizi, perlindungan anak, administrasi kependudukan, dan dukungan keluarga. Guru tidak mungkin menyelesaikan semua persoalan, tetapi sekolah tidak boleh menjadi pulau yang pura-pura tidak melihat keadaan anak di luar pagar.
Jangan mengubah kesiapan menjadi kepatuhan
Pemerintah benar bahwa pendidikan usia dini dapat memperkuat perkembangan motorik, intelektual, sosial, dan spiritual anak. Pemerintah juga benar bahwa kualitas guru, ketersediaan ruang kelas, dan komitmen daerah menentukan keberhasilan kebijakan. (kemendikdasmen.go.id) Namun, semua itu akan kehilangan makna apabila “siap sekolah” diam-diam diterjemahkan sebagai anak yang tenang, patuh, cepat menghitung, lancar menjawab, dan tidak merepotkan orang dewasa.
Ava mengajarkan ukuran yang berbeda. Anak yang bertanya bukan anak yang gagal menyesuaikan diri. Anak yang berkata “nggak” bukan anak yang kurang disiplin. Anak yang membutuhkan pengulangan, penjelasan, atau seseorang yang tetap berada di sisinya bukan anak yang menghambat jadwal pendidikan.
Wajib belajar prasekolah seharusnya menjamin bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk bermain, berbicara, bertanya, beristirahat, dan membangun rasa percaya sebelum menghadapi tuntutan sekolah formal. Negara boleh menyusun kalender. Negara boleh menetapkan standar. Tetapi negara tidak boleh menyamakan kehidupan anak dengan tabel kehadiran.
Satu tahun prasekolah akan berarti jika ia menjadi awal dari hubungan yang berkelanjutan—antara anak dan guru, sekolah dan keluarga, layanan pendidikan dan perlindungan sosial. Jika tidak, kebijakan itu hanya memindahkan anak ke dalam jadwal negara tanpa memastikan bahwa ia memiliki tempat yang aman untuk memahami dunia.
Ava dan Pepper tidak membutuhkan orang dewasa yang sekadar mengatakan bahwa masa depan mereka sudah disiapkan. Mereka membutuhkan orang dewasa yang tinggal cukup lama untuk menjelaskan, mendengar, dan tidak pergi ketika hidup mereka menjadi sulit. Itulah ukuran sesungguhnya dari kesiapan pendidikan usia dini.