Sekolah Aman Tidak Boleh Menunggu Anak Menjerit

Written by

in

Sekolah Aman Tidak Boleh Menunggu Anak Menjerit

Sekolah aman sering dibicarakan setelah sesuatu terjadi: seorang murid menangis di kamar mandi, luka terlihat di tubuhnya, rekaman beredar, atau orang tua datang membawa laporan. Pola itu membuat keselamatan tampak seperti pekerjaan setelah bencana. Padahal, anak tidak selalu mampu menjelaskan bahaya dengan bahasa yang mudah dikenali orang dewasa. Sebagian diam. Sebagian mengubah perilaku. Sebagian menjadi terlalu patuh, terlalu marah, sering absen, atau tiba-tiba kehilangan minat belajar.

Di situlah buku berjudul ‘Di Tanah Lada’ menawarkan ukuran yang lebih keras terhadap gagasan sekolah aman. Ava memahami dunia dengan mencari arti kata dan membandingkan ucapan orang dewasa dengan kenyataan. Pepper bahkan tidak memiliki cukup ruang, nama, dan orang dewasa yang konsisten untuk mengenali penderitaannya. Keduanya memperlihatkan persoalan yang sama dari sisi berbeda: perlindungan gagal ketika anak harus menerjemahkan sendiri tanda bahaya, sementara orang dewasa baru bergerak setelah jeritan terdengar.

KREASI harus membangun kebiasaan membaca tanda bahaya

Pada 26 September 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan bahwa program KREASI akan memperkuat literasi, numerasi, karakter, dan perlindungan anak melalui intervensi di lebih dari 500 satuan pendidikan di delapan kabupaten pada empat provinsi. Pemerintah menyebut program ini sebagai kolaborasi dengan mitra pembangunan untuk mempercepat penerapan budaya sekolah yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan. (kemendikdasmen.go.id)

Yang penting dari kabar itu bukan semata jumlah sekolah yang dituju, melainkan arah kerjanya. Pemerintah menekankan pendekatan promotif dan preventif serta pentingnya deteksi dini terhadap gangguan fisik, sosial, dan spiritual. Ini merupakan perubahan penting dari kebiasaan menunggu laporan. Namun, perubahan istilah belum otomatis mengubah kehidupan sehari-hari di sekolah. Deteksi dini tidak boleh berhenti sebagai formulir, rapat, atau pelatihan satu kali.

Dalam kehidupan Ava, masalah muncul karena orang dewasa sering memberi jawaban yang tidak lengkap, sementara ia harus mencari arti hukum, pekerjaan, uang, dan hubungan keluarga melalui kamus. Ia bukan kekurangan rasa ingin tahu; ia kekurangan orang dewasa yang menjadikan pertanyaannya sebagai dasar perlindungan. Karena itu, KREASI baru akan berarti jika guru dilatih membaca perubahan perilaku, memahami konteks keluarga, dan menanggapi pertanyaan anak tanpa segera menganggapnya sebagai gangguan atau pembangkangan.

Budaya aman harus hadir sebelum kekerasan menjadi bukti

Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 menempatkan budaya sekolah aman dan nyaman dalam cakupan yang luas: perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosial-kultural, kebutuhan spiritual, serta keadaban dan keamanan digital. Aturan ini berlaku sejak 9 Januari 2026 dan menggantikan aturan sebelumnya tentang pencegahan serta penanganan kekerasan di satuan pendidikan. (peraturan.bpk.go.id)

Cakupan tersebut sejalan dengan pelajaran paling mengganggu dari kisah Pepper. Ia bukan hanya menghadapi kekerasan fisik. Ia hidup dalam pengabaian, ketidakpastian tempat tinggal, hilangnya nama, dan ketiadaan orang dewasa yang bertanggung jawab secara konsisten. Ketika akhirnya kekerasan terjadi, luka bakar di lengannya menjadi bukti yang mudah dilihat. Akan tetapi, penderitaan itu sudah berlangsung jauh sebelumnya.

Hubungannya dengan kebijakan sekarang bersifat analitis: sekolah tidak boleh menganggap aman berarti tidak ada luka yang tampak. Anak yang selalu menyendiri, takut pulang, tidak memiliki perlengkapan, atau terus-menerus menjadi bahan olok-olok sedang membawa informasi tentang lingkungan yang mungkin tidak aman. Sekolah harus memiliki cara untuk membaca informasi itu tanpa mempermalukan anak, membocorkan rahasianya, atau langsung mengembalikannya kepada keluarga yang mungkin justru menjadi sumber masalah.

Karena itu, bimbingan konseling tidak boleh diposisikan sebagai ruang hukuman bagi murid yang dianggap bermasalah. Ia harus menjadi pintu yang mudah dikenali, dengan petugas yang tersedia, alur pertolongan yang jelas, dan jaminan bahwa laporan tidak berhenti pada nasihat agar anak lebih kuat. Dalam siaran pers Februari 2026, kementerian juga mengaitkan budaya aman dengan penguatan bimbingan konseling dan keberanian murid melaporkan perundungan. (kemendikdasmen.go.id)

Anak tidak boleh menjadi satu-satunya sistem peringatan

Peluncuran Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak pada 13 Juli 2026 menekankan bahwa perlindungan harus mencakup keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, dan ruang digital. Pemerintah juga menyerukan agar anak berani melapor kepada guru dan orang tua ketika mengalami perundungan atau kekerasan. (www2.kemenkopmk.go.id)

Seruan agar anak berani bersuara memang penting, tetapi tidak boleh dibalik menjadi beban baru bagi anak. Anak tidak seharusnya menjadi satu-satunya sistem peringatan di sekolah. Ava mampu bertanya karena ia memiliki dorongan untuk memahami dunia, tetapi kemampuan itu tidak boleh dianggap sebagai syarat agar ia layak ditolong. Pepper justru menunjukkan risiko ketika seorang anak tidak punya bahasa, rumah, atau orang dewasa yang cukup aman untuk dijadikan tempat mengadu.

Maka, sekolah harus aktif mendatangi anak, bukan hanya membuka kotak pengaduan. Guru perlu mengetahui siapa murid yang sering tidak masuk, siapa yang tiba-tiba kehilangan teman, siapa yang selalu menunggu paling akhir untuk pulang, dan siapa yang tampak takut ketika nama orang tertentu disebut. Pengetahuan semacam itu tidak boleh berubah menjadi pengawasan berlebihan. Ia harus dibangun melalui hubungan yang menghormati privasi dan martabat anak.

Kolaborasi tidak boleh mengaburkan siapa yang bertanggung jawab

KREASI dirancang melalui kerja bersama pemerintah, pemerintah daerah, sekolah, dan organisasi masyarakat. Skala kolaborasi itu masuk akal karena kekerasan terhadap anak tidak lahir dari satu sebab. Namun, semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula risiko tanggung jawab menjadi kabur. Anak dapat diminta bercerita kepada guru, guru meneruskan kepada konselor, konselor menunggu keputusan sekolah, dan sekolah menunggu lembaga lain.

Buku ini mengingatkan bahwa pertolongan tidak boleh bergantung pada kebetulan hadirnya satu orang baik. Ava tertolong karena ada orang-orang yang bersedia mendengar, sementara Pepper diselamatkan setelah situasi menjadi sangat berbahaya. Sekolah yang aman harus membuat pertolongan dapat diprediksi: anak tahu kepada siapa ia pergi, orang dewasa tahu apa yang harus dilakukan, dan lembaga memiliki batas waktu untuk bertindak.

Ukuran keberhasilan program bukan hanya jumlah sekolah yang mengikuti kegiatan atau jumlah guru yang hadir dalam seminar. Ukurannya adalah apakah anak lebih cepat dikenali ketika mengalami kesulitan, apakah laporan ditangani tanpa pembalasan, apakah pelaku dicegah mengulang, dan apakah korban tetap dapat belajar tanpa terus-menerus dicurigai. Sekolah aman bukan sekolah yang tidak pernah mendengar jeritan. Sekolah aman adalah sekolah yang bekerja cukup awal sehingga anak tidak perlu menjerit untuk dipercaya.

Sumber