Perlindungan anak sering tampak berhasil ketika sebuah laporan sudah diterima, seorang anak sudah ditemukan, atau satu program baru saja diluncurkan. Namun, bagi anak, keselamatan tidak pernah sesingkat itu. Ia bergantung pada hal-hal yang lebih sunyi: siapa yang menjelaskan perpindahan, siapa yang mengingat kebutuhan sebelumnya, siapa yang memastikan sekolah tetap tersambung, dan siapa yang datang ketika lembaga pertama tidak lagi memegang kendali.
Pertanyaan itu menjadi penting setelah Komisi Perlindungan Anak Indonesia meluncurkan Sistem Informasi Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan Perlindungan Anak atau SIMEP PA versi 3.0 pada 2 September 2026. Sistem tersebut dirancang untuk memotret perlindungan anak melalui regulasi, kapasitas, dan akuntabilitas layanan, dengan cakupan mulai dari hak sipil, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, pengasuhan alternatif, peradilan anak, hingga kerja lintas sektor. KPAI menyebut masih menangani lebih dari 2.000 kasus per tahun. (jatim.antaranews.com)
Angka itu menjelaskan mengapa sistem pemantauan diperlukan. Tetapi angka juga bisa menipu jika negara hanya menggunakannya untuk menghitung berapa banyak laporan masuk, bukan untuk mengingat apa yang terjadi pada seorang anak setelah laporan tersebut dicatat.
Anak Tidak Berpindah Sendiri: Pelajaran dari Kamar 618
Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, Ava berpindah dari Rusun Nero ke hotel, lalu menghadapi kemungkinan tinggal bersama Om Ari. Setiap perpindahan diputuskan oleh orang dewasa dengan alasan yang tampaknya masuk akal: Rusun dianggap berbahaya, Papa tidak lagi aman, dan tempat baru mungkin lebih nyaman. Namun, Ava tidak otomatis memahami seluruh alasan itu. Ia hanya tahu bahwa ransel, buku, kamus, boneka, dan Pepper tertinggal di tempat yang hendak ditinggalkannya.
Di situlah persoalan kesinambungan muncul. Seorang anak bukan hanya tubuh yang dipindahkan dari satu alamat ke alamat lain. Ia membawa kebiasaan, benda yang bermakna, hubungan pertemanan, ketakutan, serta cara sendiri dalam memahami dunia. Jika semua itu tidak dicatat dan tidak diteruskan kepada orang yang menangani tahap berikutnya, negara mungkin berhasil memindahkan anak secara administratif, tetapi gagal menjaga hidupnya tetap utuh.
SIMEP PA relevan karena sistem itu tidak berhenti pada pertanyaan apakah aturan perlindungan sudah tersedia. Ia juga menilai kapasitas dan akuntabilitas layanan. Namun, ukuran tersebut baru berarti jika diterjemahkan menjadi pertanyaan konkret: setelah anak dipindahkan, siapa yang memastikan ia tetap bersekolah? Siapa yang mendata obat, benda penting, atau orang yang dipercaya anak? Siapa yang menindaklanjuti ketika tempat baru ternyata tidak aman?
Layanan yang Ada Belum Tentu Menjadi Perlindungan
Pepper memperlihatkan sisi lain dari masalah yang sama. Ia tidak memiliki tempat tidur yang layak, tidak bersekolah, tidak mempunyai nama yang diberikan dengan utuh, dan hidup dalam ruang yang bahkan nyaris tidak mengakui keberadaannya. Di sekelilingnya ada orang dewasa yang sesekali membantu, tetapi tidak ada satu sistem yang benar-benar menyambungkan kebutuhan dasar, pendidikan, kesehatan, dan pengasuhan.
Kondisi itu membuat perlindungan bergantung pada kebetulan dan kemurahan hati. Pepper bertemu Ava. Ava memiliki kamus, ransel, dan sedikit keberanian untuk bertanya. Mas Alri hadir dengan gitar, makanan, dan perhatian. Pak Ratna Ketus akhirnya membantu membuka kamar. Orang-orang inilah yang sementara waktu mengisi celah yang seharusnya tidak dibiarkan terbuka oleh negara.
Hubungan ini penting bagi pembacaan SIMEP PA. Tujuh bidang perlindungan yang dipantau tidak boleh bekerja seperti ruangan terpisah. Hak pendidikan tidak boleh menunggu persoalan tempat tinggal selesai. Pengasuhan alternatif tidak boleh mengabaikan kesehatan mental. Perlindungan khusus tidak boleh berhenti pada penjemputan. Jika satu lembaga hanya mengisi formulir di wilayahnya sendiri, anak tetap mengalami negara sebagai rangkaian pintu yang tidak saling mengenal.
Karena itu, keberhasilan sistem tidak seharusnya diukur dari banyaknya data yang terkumpul. Ukuran yang lebih jujur adalah apakah petugas di tahap berikutnya mengetahui apa yang sudah dialami anak, apa yang belum selesai, dan siapa yang bertanggung jawab untuk melanjutkannya.
Dari Anak yang Diamankan ke Anak yang Dipulihkan
Ujian kesinambungan itu terlihat pula dalam penanganan anak-anak yang diamankan setelah dugaan eksploitasi politik dalam demonstrasi 27 Agustus 2026. KPAI mendorong agar asesmen psikososial segera diterbitkan dan setiap anak memperoleh rencana pemulihan. Lembaga itu juga meminta agar perkembangan penanganan dilaporkan secara terbuka kepada publik dan DPR. (antaranews.com)
Peristiwa tersebut memperlihatkan perbedaan antara mengeluarkan anak dari satu situasi dan memulihkan hidupnya. Mengamankan adalah tindakan awal. Setelah itu masih ada pertanyaan tentang keluarga, sekolah, kesehatan mental, kemungkinan stigma, dan keamanan ketika anak kembali ke lingkungan asal. Tanpa catatan yang tersambung, anak dapat kembali menjadi kasus baru di meja lain dan harus mengulang ceritanya dari awal.
Dalam konteks ini, SIMEP PA harus berfungsi sebagai pengikat tanggung jawab, bukan sekadar gudang laporan. Data perlu membantu lembaga mengetahui apakah rekomendasi telah dijalankan, apakah layanan benar-benar diterima, dan apakah kondisi anak membaik. Jika sebuah kasus berhenti karena kolom telah terisi, sistem hanya memindahkan kelupaan ke bentuk digital.
Negara Harus Mengingat, Bukan Sekadar Mencatat
Di Tanah Lada memperlihatkan bahwa anak sering memahami dunia melalui benda-benda kecil: kamus dari Kakek Kia, ransel, boneka Pe, tempat tidur, makanan, dan seseorang yang mau mendengar. Bagi orang dewasa, benda-benda itu mungkin tampak remeh. Bagi anak, semuanya adalah penanda bahwa hidupnya masih memiliki urutan dan hubungan.
SIMEP PA dapat menjadi langkah penting jika ia dipakai untuk menjaga penanda-penanda itu tetap terlihat dalam keputusan negara. Sistem tersebut harus mampu menghubungkan laporan dengan asesmen, asesmen dengan layanan, layanan dengan pemulihan, dan pemulihan dengan evaluasi ulang. Setiap perpindahan tanggung jawab harus meninggalkan jejak yang bisa dibaca oleh petugas berikutnya—tanpa menjadikan anak sekadar nomor kasus.
Kamar 618 mengingatkan kita bahwa anak dapat kehilangan peta hidup ketika orang dewasa memindahkannya terlalu cepat. Ruang rapat negara seharusnya menjadi tempat untuk mengembalikan peta itu: bukan dengan bahasa birokrasi yang lebih rapi, melainkan dengan tanggung jawab yang tidak putus di antara lembaga. Anak tidak membutuhkan negara yang hanya tahu di mana ia berada. Anak membutuhkan negara yang tahu apa yang ia bawa, apa yang ia takutkan, dan siapa yang wajib memastikan ia tidak kembali sendirian.