Pertolongan kepada anak sering dibayangkan sebagai tindakan cepat: menerima laporan, menghubungi petugas, membawa korban ke tempat aman, lalu menyerahkan urusan berikutnya kepada lembaga lain. Cara kerja seperti itu tampak praktis dari meja birokrasi. Namun, bagi anak, setiap perpindahan dapat berarti mengulang ketakutan, menjelaskan kembali kejadian, dan menunggu orang dewasa memutuskan nasibnya tanpa pernah tahu siapa yang sungguh bertanggung jawab.
Di situlah relevansi Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak atau Gernas RANA. Pemerintah meluncurkan gerakan ini pada 2026 untuk mengonsolidasikan berbagai upaya perlindungan anak yang selama ini dijalankan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan pemangku kepentingan lain. Gagasan konsolidasi tersebut penting, tetapi ukurannya tidak boleh berhenti pada banyaknya pihak yang terlibat. Pertanyaan yang lebih menentukan ialah: ketika seorang anak berpindah dari satu layanan ke layanan lain, siapa yang memastikan pertolongannya tidak ikut terputus? (kemenkopmk.go.id)
Anak Tidak Boleh Menjadi Berkas yang Berpindah
Dalam ‘Di Tanah Lada’, keselamatan Ava dan Pepper tidak pernah hadir sebagai satu tindakan tunggal. Mereka berpindah dari rusun, kamar, jalanan, stasiun, kapal, hingga kendaraan orang dewasa yang mencoba menolong. Setiap tempat menawarkan kemungkinan aman sekaligus risiko baru. Ada orang yang memberi makanan, menyediakan tempat tidur, merawat luka, atau mengantar perjalanan. Namun, kebaikan itu tidak selalu tersambung menjadi perlindungan yang utuh.
Kalimat sederhana, “Kita harus pergi”, terdengar seperti keputusan penyelamatan. Namun, kepergian tanpa pengetahuan tentang tujuan, pendamping, dokumen, kesehatan, dan hubungan keluarga justru dapat membuka bahaya lain. Anak yang dipindahkan dari satu ruang rentan ke ruang lain belum tentu sedang diselamatkan. Ia bisa saja hanya berganti penjaga, berganti alamat, atau berganti orang dewasa yang merasa paling tahu apa yang terbaik.
Di sinilah hubungan pertama dengan RANA menjadi jelas. Konsolidasi layanan hanya akan berarti jika anak tidak diperlakukan sebagai berkas yang dikirim dari satu meja ke meja berikutnya. SAPA 129, Hotline 110, layanan kesehatan mental, pengaduan KPAI, dan dukungan sosial harus bekerja sebagai rangkaian, bukan pulau-pulau yang berdiri sendiri. Gernas RANA diuji bukan ketika semua lembaga hadir dalam satu acara, melainkan ketika seorang anak membutuhkan pertolongan pada malam hari dan tidak ada satu pun layanan yang boleh kehilangan jejak kasusnya.
Serah-Terima Bukan Sekadar Menyerahkan Tubuh Anak
Pengalaman Ava dan Pepper juga menunjukkan bahwa rujukan memiliki dimensi yang lebih dalam daripada transportasi. Anak bukan paket yang cukup dipindahkan dengan alamat tujuan. Ia membawa luka, kebiasaan, rasa takut, hubungan, dan pengetahuan yang mungkin hanya ia sampaikan kepada orang tertentu. Ketika semua informasi itu tidak ikut berpindah, layanan berikutnya akan memulai dari nol. Anak pun dipaksa menjadi arsip hidup bagi kegagalan koordinasi orang dewasa.
Pepper, misalnya, tidak hanya membutuhkan tempat untuk tinggal. Ia membutuhkan pengakuan atas namanya, pendidikan, perawatan luka, pendampingan, dan seseorang yang memahami alasan ia ingin pergi. Ava juga tidak sekadar membutuhkan kendaraan menuju tempat yang dianggap aman. Ia membutuhkan orang dewasa yang mengerti bahwa kebingungannya bukan gangguan kecil, melainkan cara seorang anak membaca dunia yang berantakan.
Hubungan kedua dengan gerakan pemerintah terletak pada momen serah-terima itu. RANA perlu diterjemahkan menjadi protokol yang menjawab hal-hal konkret: siapa pemegang kasus, siapa yang menghubungi anak setelah rujukan, bagaimana kondisi medis dan psikologis dicatat, kapan keluarga dinilai aman, serta bagaimana pendapat anak memengaruhi keputusan. Tanpa itu, “kolaborasi” mudah menjadi kata yang terdengar besar, tetapi tidak memiliki wajah ketika anak menunggu di ruang tunggu.
Mendengar Anak Sebelum Memindahkan Mereka
Ava memahami dunia melalui pertanyaan, kamus, dan kesimpulan yang kadang keliru tetapi sering lebih jujur daripada penjelasan orang dewasa. Ia bertanya tentang hukum, uang, keluarga, rumah, dan arti menjadi baik. Pertanyaan-pertanyaan itu bukan hiasan cerita. Ia menunjukkan bahwa anak berusaha memperoleh kendali atas hidup yang terus diputuskan oleh orang lain.
Karena itu, hubungan ketiga dengan RANA menyangkut suara anak. Gerakan yang ingin menghadirkan ruang aman harus memastikan anak tidak hanya menjadi penerima layanan, melainkan pihak yang didengar sebelum keputusan dibuat. Anak perlu diberi penjelasan dengan bahasa yang dapat dipahami: mengapa ia dipindahkan, siapa yang akan menemaninya, berapa lama prosesnya, dan apa yang dapat ia lakukan jika merasa tidak aman.
Pemerintah memang mendorong ruang aman dan nyaman di keluarga, sekolah, satuan pendidikan keagamaan, ruang publik, serta lingkungan digital. Namun, ruang aman tidak lahir dari label. Ia lahir dari kemampuan sistem untuk merespons ketika anak berkata tidak, ketika keterangannya berubah karena takut, atau ketika ia menolak kembali ke tempat yang oleh orang dewasa dianggap sebagai rumah. (kemenkopmk.go.id)
Rantai Pertolongan Harus Memiliki Penanggung Jawab
Pelajaran terpenting dari kisah Ava dan Pepper bukan bahwa anak selalu harus dibawa pergi. Pelajarannya ialah bahwa keselamatan membutuhkan kesinambungan. Orang baik dapat membuka pintu pertama, tetapi lembaga harus memastikan pintu berikutnya tidak menjerumuskan anak kembali ke bahaya. Laporan boleh berpindah, tetapi tanggung jawab tidak boleh menguap.
Gernas RANA memiliki peluang untuk memperbaiki persoalan lama itu. Syaratnya, gerakan tersebut tidak berhenti sebagai kampanye tentang ruang aman, melainkan membangun rantai rujukan yang dapat dilacak, dipahami anak, dan memiliki satu pihak yang memastikan proses berjalan sampai selesai. Anak tidak boleh diminta mengulang lukanya kepada setiap petugas. Ia tidak boleh menjadi penghubung utama antara lembaga-lembaga yang seharusnya melindunginya.
Pada akhirnya, pertolongan yang baik bukan yang paling cepat memindahkan anak dari satu tempat ke tempat lain. Pertolongan yang baik adalah yang membuat anak tahu siapa yang bersamanya, mengapa keputusan diambil, dan ke mana ia dapat kembali ketika rasa takut datang lagi. Tanpa kepastian itu, meja boleh bertambah, layanan boleh berlapis, dan gerakan nasional boleh terdengar luas. Tetapi risikonya tetap tinggal di pundak anak.
Sumber
- kemenkopmk.go.id: Menko Pmk Luncurkan Gerakan Rana Perkuat Ruang Aman Dan Nyaman Untuk Anak
- kemenkopmk.go.id: Gerakan Rana Wujudkan Pesantren Dan Madrasah Sebagai Ruang Aman Serta Nyaman Bagi Anak
- www2.kemenkopmk.go.id: Pemerintah Luncurkan Gerakan Nasional Rana Di Lingkungan Sekolah Melalui Momentum Mpls 2026
- kemenkopmk.go.id: Pemerintah Konsolidasikan Gerakan Nasional Untuk Perkuat Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak
- Buku Di Tanah Lada — Gramedia