Sekolah Darurat Harus Mengembalikan Peta Hidup Anak

Written by

in

Gempa tidak hanya meretakkan dinding sekolah. Ia juga dapat memutus urutan hidup yang selama ini membuat seorang anak merasa dunia masih bisa dipahami: bangun pagi, mengenakan seragam, berjalan menuju kelas, bertemu guru, duduk bersama teman, lalu pulang ke rumah. Ketika urutan itu hilang, sekolah darurat tidak boleh diperlakukan sebagai tenda pengganti gedung semata. Ia harus menjadi upaya mengembalikan peta hidup anak.

Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 berdampak pada 2.447 satuan pendidikan di tujuh kabupaten. Berdasarkan data hingga 10 September 2026, sebanyak 287.864 peserta didik dan 32.585 guru serta tenaga kependidikan terdampak langsung. Sebanyak 1.960 satuan pendidikan menjalankan pembelajaran dalam moda darurat, sementara 487 lainnya telah kembali belajar secara normal di ruang kelas. (bpmpntt.kemendikdasmen.go.id)

Angka-angka itu penting untuk mengukur skala. Namun, angka tidak dengan sendirinya menjelaskan apa yang hilang dari kehidupan anak. Di sinilah buku berjudul ‘Di Tanah Lada’ memberi pijakan yang lebih tajam: keselamatan bukan sekadar dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain. Anak juga perlu dibantu memahami apa yang berubah, siapa yang masih dapat dipercaya, dan apakah hidupnya masih memiliki arah.

Tenda bukan tujuan, melainkan awal pemulihan peta hidup

Dalam kisah Ava dan Pepper, tempat tinggal tidak pernah sekadar alamat. Rusun, kamar, lorong, tangga, rumah makan, dan jalan sempit membentuk pengalaman tentang aman atau takut. Ketika sebuah ruang tidak lagi dapat dihuni, yang lenyap bukan hanya atap, melainkan rasa memiliki tempat. Anak harus memulai kembali dari benda-benda kecil: siapa yang membuka pintu, siapa yang menyediakan makanan, siapa yang menjawab pertanyaan, dan ke mana ia harus pergi ketika malam tiba.

Situasi di Flores memiliki sebab yang berbeda dan tidak dapat disamakan begitu saja dengan kekerasan domestik dalam kisah tersebut. Namun, hubungan analitisnya jelas: bencana juga memaksa anak kehilangan ruang yang dikenalnya secara mendadak. Karena itu, kelas darurat harus dipandang sebagai jembatan untuk memulihkan orientasi, bukan bukti bahwa negara telah selesai bekerja.

Pemerintah telah mendistribusikan 100 tenda kelas darurat dan menyiapkan 672 ruang kelas sementara yang lebih tahan untuk menghadapi masa transisi. Sekolah juga menjalankan asesmen keamanan bangunan, simulasi evakuasi, serta pembekalan kesiapsiagaan sebelum murid kembali ke ruang kelas. (bpmpntt.kemendikdasmen.go.id) Langkah ini penting karena anak tidak cukup hanya diberi tempat duduk. Ia perlu tahu mengapa ruang lama tidak boleh dimasuki, apa arti tanda keamanan pada bangunan, dan bagaimana cara menyelamatkan diri bila guncangan kembali terjadi.

Rutinitas belajar harus bertemu dengan pemulihan rasa aman

Salah satu kekuatan utama ‘Di Tanah Lada’ terletak pada cara cerita memperlihatkan bahwa anak memahami dunia melalui pengulangan. Ava mengandalkan kamus, kebiasaan, suara orang-orang tertentu, dan benda-benda yang selalu dibawanya. Rutinitas memberinya pegangan ketika perilaku orang dewasa justru sulit dipahami.

Dalam konteks Flores, keberlangsungan sekolah karena itu bukan hanya soal mengejar ketertinggalan pelajaran atau menyiapkan murid menghadapi ujian. Pembelajaran memang perlu berlangsung, termasuk bagi siswa kelas VI, IX, dan XII yang diprioritaskan untuk menghadapi Tes Kemampuan Akademik pada Oktober 2026. Namun, dorongan untuk kembali pada kalender akademik tidak boleh menyingkirkan kebutuhan anak untuk memulihkan rasa aman. (bpmpntt.kemendikdasmen.go.id)

Pemerintah mencatat 857 satuan pendidikan dengan 101.888 peserta didik membutuhkan pendampingan psikososial. Hingga pertengahan September, dukungan tersebut baru dilakukan di 75 sekolah. (bpmpntt.kemendikdasmen.go.id) Perbandingan ini seharusnya menjadi peringatan: membuka kelas lebih cepat daripada memulihkan kecemasan dapat membuat sekolah tampak berjalan, tetapi anak tetap tertinggal di dalam dirinya sendiri.

Dukungan psikososial juga tidak boleh berhenti pada kegiatan satu kali. Anak membutuhkan guru yang tahu cara mengenali ketakutan, ruang untuk bercerita tanpa dipaksa, serta kepastian bahwa perubahan jadwal, lokasi belajar, dan kondisi rumah dapat ditanyakan. Guru pun membutuhkan pendampingan karena mereka bukan hanya pengajar, melainkan orang dewasa yang harus menahan kepanikan anak ketika mereka sendiri mungkin terdampak.

Anak harus diberi penjelasan, bukan hanya instruksi

Di dalam buku ini, pertanyaan anak sering membongkar kegagalan orang dewasa menjelaskan keadaan. Kata-kata seperti hukum, judi, cerai, rumah, dan bahagia tidak otomatis menjadi jelas hanya karena orang dewasa mengucapkannya. Anak memerlukan bahasa yang dapat menghubungkan peristiwa dengan pengalaman hidupnya.

Pelajaran itu relevan bagi sekolah darurat. Simulasi evakuasi tidak boleh hanya berisi perintah untuk berbaris dan berlari. Anak perlu memahami mengapa ia harus meninggalkan ruangan tertentu, mengapa sebagian bangunan diberi tanda merah atau kuning, siapa yang akan mendampinginya, dan bagaimana mencari anggota keluarga bila komunikasi terputus. Asesmen teknis memang pekerjaan para ahli, tetapi dampaknya dialami tubuh anak. Karena itu, hasilnya juga harus diterjemahkan ke dalam bahasa yang dapat dipahami murid.

Di titik ini, sekolah darurat menjadi ruang pendidikan kewargaan yang nyata. Anak belajar bahwa keselamatan bukan keberuntungan, melainkan sesuatu yang dibangun melalui aturan, pengetahuan, kerja sama, dan perhatian. Ia juga belajar bahwa pendapatnya penting: apakah ia takut memasuki tenda, apakah ia kesulitan berkonsentrasi, apakah perjalanan menuju tempat belajar terlalu jauh, atau apakah ia membutuhkan dukungan lain.

Mengembalikan sekolah berarti mengembalikan masa depan yang dapat dibayangkan

Respons pendidikan di Flores sudah bergerak dari tanggap darurat menuju rehabilitasi dan rekonstruksi. Pemerintah menyatakan pendataan, bantuan ruang sementara, pemulihan sekolah, dan pendampingan psikososial akan terus dilanjutkan. (bpmpntt.kemendikdasmen.go.id) Tetapi ukuran keberhasilan tidak boleh berhenti pada jumlah tenda yang berdiri atau sekolah yang kembali membuka pintu.

Pertanyaan yang lebih penting ialah: apakah anak kembali memiliki hari esok yang dapat dibayangkan? Apakah ia dapat belajar tanpa terus-menerus menunggu gempa berikutnya? Apakah ia tahu kepada siapa harus berbicara? Apakah sekolah menjadi tempat yang membantu menghubungkan kembali keluarga, teman, guru, dan harapan?

‘Di Tanah Lada’ mengingatkan bahwa anak sering dipaksa menata sendiri dunia yang berantakan oleh keputusan orang dewasa. Bencana tidak boleh mengulang pola itu. Sekolah darurat harus menjadi kebalikan dari pengalaman tersebut: tempat anak diberi penjelasan, dilindungi tanpa dibungkam, didengar tanpa dijadikan simbol, dan dibantu membangun kembali peta hidupnya.

Sebab, pendidikan pascabencana bukan sekadar menjaga pelajaran agar tidak berhenti. Ia adalah cara negara mengatakan kepada anak-anak Flores bahwa tempat mereka mungkin rusak, rutinitas mereka mungkin berubah, tetapi hidup mereka tidak boleh kehilangan arah.

Sumber