Sekolah sering disebut sebagai tempat paling tepat untuk mengajarkan kesiapsiagaan bencana. Alasannya masuk akal: anak berkumpul di sana setiap hari, guru memiliki struktur komando, dan bangunan sekolah dapat dijadikan ruang latihan bersama. Namun, simulasi evakuasi akan kehilangan makna jika hanya menjadi rutinitas berlari menuju lapangan, berbaris, lalu berfoto. Anak bukan rombongan yang harus dipindahkan secepat mungkin. Mereka adalah pihak yang perlu memahami bahaya, mengenali arah, mengetahui siapa yang dapat dipercaya, dan diberi kesempatan untuk bertanya sebelum keadaan darurat benar-benar terjadi.
Persoalan itu kembali terlihat dalam Program Sekolah Tanggap Bencana yang digelar Pertamina Patra Niaga bersama BPBD Kota Kupang di SMA Negeri 4 Kupang pada 25 September 2026. Kegiatan tersebut melibatkan siswa dan guru, sekaligus memperkuat sistem tanggap darurat melalui pelatihan, simulasi, penanda jalur evakuasi, titik kumpul, dan penyediaan alat pemadam api ringan. (kupang.antaranews.com) Beberapa pekan sebelumnya, program serupa di MI Al Hayat, Karawang, mengajarkan langkah penyelamatan diri, pengenalan jalur evakuasi, penentuan titik kumpul, serta kepatuhan terhadap arahan ketika keadaan darurat. (banten.antaranews.com)
Semua itu penting. Tetapi pertanyaan utamanya bukan apakah simulasi sudah dilaksanakan, melainkan apakah setelah simulasi anak menjadi lebih mampu mengambil keputusan keselamatan.
Jalur evakuasi harus menjadi pengetahuan anak, bukan dekorasi dinding
Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, Ava dan Pepper berkali-kali bergerak di ruang yang tidak sepenuhnya mereka pahami. Mereka berpindah dari rumah ke Rusun Nero, dari kamar sempit menuju jalan, lalu menempuh perjalanan dengan mengandalkan ingatan, petunjuk, dan orang dewasa yang belum tentu selalu hadir. Mereka tidak kekurangan keberanian. Yang sering tidak mereka miliki adalah peta yang jelas tentang siapa yang akan menolong dan ke mana mereka harus pergi.
Di situlah jalur evakuasi sekolah seharusnya dibaca. Anak perlu tahu bukan hanya bahwa tanda panah menunjuk ke arah tertentu, tetapi mengapa jalur itu dipilih, apa yang dilakukan jika lorong tertutup, bagaimana menolong teman yang lambat bergerak, dan siapa yang bertanggung jawab ketika guru terpisah dari rombongan. Pengetahuan semacam itu tidak dapat digantikan oleh papan petunjuk yang baru dipasang menjelang penilaian atau simulasi tahunan.
Karena itu, kegiatan di Kupang patut diapresiasi sekaligus diuji lebih jauh. Penanda jalur dan titik kumpul adalah awal, bukan hasil akhir. Sekolah perlu memastikan bahwa siswa pernah berjalan melalui rute tersebut, memahami alternatifnya, dan dapat menjelaskan kembali prosedurnya dengan bahasa mereka sendiri. Jika tidak, anak hanya menghafal gerakan tanpa memperoleh kendali atas keselamatannya.
Tenang bukan berarti diam dan patuh
Pada 6 September 2026, Kemendikdasmen mengingatkan sekolah di wilayah yang tidak aman akibat erupsi Gunung Anak Krakatau agar mengutamakan keselamatan, kesehatan, dan ketenangan murid. Sekolah juga didorong memberikan pengetahuan tentang keselamatan serta mengikuti informasi dari pihak berwenang. (internal-portal.kemdikbud.go.id) Arahan ini penting, tetapi kata “tenang” tidak boleh diterjemahkan sebagai larangan bertanya atau kewajiban menerima instruksi tanpa penjelasan.
Ava mengenali dunia melalui kata-kata. Ia mencari arti “hukum”, “legal”, “cerai”, “hidup”, dan “kebenaran” karena pengalaman yang dihadapinya terlalu rumit untuk diterima begitu saja. Cara Ava bertanya menunjukkan bahwa anak tidak menjadi aman hanya karena orang dewasa telah membuat keputusan. Ia perlu memahami keputusan itu agar dapat ikut bertindak.
Dalam konteks bencana, anak yang bertanya “mengapa harus ke sini?”, “bagaimana kalau orang tua belum datang?”, atau “siapa yang menjaga adik saya?” bukan sedang menghambat evakuasi. Ia sedang menunjukkan kebutuhan keselamatan yang nyata. Simulasi yang baik harus menyediakan ruang untuk pertanyaan semacam itu, termasuk pertanyaan yang tidak sesuai dengan skenario ideal.
Kesiapsiagaan juga harus memperhitungkan anak penyandang disabilitas, anak yang mengalami kepanikan, anak kecil yang belum mampu membaca, serta anak yang memiliki tanggung jawab terhadap saudara atau anggota keluarga lain. Instruksi satu arah cenderung menganggap semua tubuh, usia, dan pengalaman anak sama. Padahal, keadaan darurat justru memperbesar perbedaan tersebut.
Evakuasi bukan akhir: anak harus tahu apa yang terjadi sesudahnya
Respons pendidikan dalam situasi bencana tidak berhenti pada keputusan untuk memindahkan kegiatan belajar. Pada 6 September 2026, pemerintah juga menyatakan bahwa pembelajaran dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah dan perkembangan situasi, sementara keselamatan murid dan guru harus menjadi pertimbangan utama. (internal-portal.kemdikbud.go.id) Pernyataan ini memperluas makna kesiapsiagaan: sekolah harus memiliki rencana bukan hanya untuk keluar dari bangunan, tetapi juga untuk memastikan anak tetap memperoleh informasi, dukungan psikologis, makanan, komunikasi keluarga, dan kelanjutan belajar.
Bagian akhir kisah Ava dan Pepper memperlihatkan mengapa hal tersebut penting. Setelah keluar dari lingkungan yang menakutkan, mereka belum otomatis memiliki masa depan. Mereka masih harus memikirkan sekolah, perjalanan, tempat tinggal, hubungan dengan orang dewasa, dan kemungkinan untuk hidup tanpa terus-menerus berjaga. Keselamatan bukan sekadar selamat dari satu kejadian. Keselamatan juga berarti memiliki peluang untuk kembali menjadi anak.
Pengalaman PMI di wilayah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur memperlihatkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Selain mendukung pendidikan melalui tenda belajar, PMI memberikan edukasi tentang peta jalur evakuasi, langkah penyelamatan diri, titik kumpul, dan dukungan psikososial bagi anak-anak. (megapolitan.antaranews.com) Model semacam ini penting karena menghubungkan kesiapsiagaan dengan pemulihan, bukan memisahkan keduanya sebagai urusan yang berbeda.
Simulasi yang bermakna seharusnya berakhir dengan percakapan: apa yang membuat anak takut, bagian mana yang sulit, siapa yang belum terjangkau, dan apa yang harus diubah sebelum latihan berikutnya. Anak tidak cukup dijadikan peserta yang mengikuti aba-aba. Mereka harus diperlakukan sebagai pembaca pertama dari risiko di sekitarnya.
Sekolah harus mengajarkan arah, bukan hanya kepanikan yang tertib
Bencana dapat datang mendadak, tetapi ketidaksiapan sering dibentuk perlahan oleh kebiasaan menganggap anak akan mengikuti saja. Padahal, anak yang memahami arah lebih mungkin bertindak dengan tenang, membantu teman, dan mencari pertolongan secara tepat. Anak yang hanya dilatih untuk patuh akan mudah kehilangan kendali ketika skenario berubah.
Karena itu, ukuran keberhasilan simulasi bukan kecepatan barisan mencapai titik kumpul atau kerapian dokumentasi kegiatan. Ukurannya adalah apakah anak tahu apa yang harus dilakukan ketika pintu utama tidak bisa digunakan, ketika guru tidak terlihat, ketika keluarga belum datang, atau ketika rasa takut membuat tubuhnya sulit bergerak.
Sekolah yang benar-benar siaga tidak hanya menyediakan jalan keluar dari gedung. Ia membantu anak memahami bahwa jalan itu ada, siapa yang dapat menemaninya, dan bagaimana menemukan arah ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana. Dalam dunia yang penuh risiko, pengetahuan tersebut bukan tambahan. Ia adalah bagian dari hak anak untuk selamat.
Sumber
- aceh.antaranews.com: Antisipasi Dampak Bencana Ini Saran Basarnas Untuk Sekolah
- internal-portal.kemdikbud.go.id: Mendikdasmen Daerah Yang Tidak Aman Tak Dianjurkan Tatap Muka Di Sekolah
- internal-portal.kemdikbud.go.id: Dua Dekade Menanti Mimpi Sma Swasta Afore Susua Miliki Sekolah Layak Terwujud Melalui Revitalisasi
- banten.antaranews.com: Pertamina Patra Rjbb Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana Siswa Pesisir Karawang
- Buku Di Tanah Lada — Gramedia