Kamar Mandi Sekolah Bukan Ruang Sisa: Martabat Anak Dimulai dari Tempat yang Paling Diabaikan

Written by

in

Kamar mandi sekolah sering menjadi ruang yang paling mudah dilupakan karena ia tidak menghasilkan foto seremonial, tidak menjadi latar pembagian rapor, dan jarang disebut dalam pidato tentang masa depan pendidikan. Namun bagi anak, kamar mandi bukan fasilitas tambahan. Ia adalah tempat untuk memenuhi kebutuhan tubuh tanpa rasa takut, menjaga kebersihan, mengelola menstruasi, menenangkan diri, dan mempertahankan martabat di tengah keramaian sekolah.

Karena itu, inspeksi mendadak Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi ke SMP Negeri 47 pada Jumat, 2 Oktober 2026, semestinya dibaca lebih serius daripada sekadar temuan fasilitas rusak. Dalam kunjungan tersebut, dua kamar mandi ditemukan terkunci karena tidak dapat digunakan. Wali kota juga menyoroti genangan air dan saluran yang tidak berfungsi, lalu meminta agar anggaran BOPDA dan BOSNAS dioptimalkan untuk memperbaiki fasilitas sekolah. Ia bahkan mendorong adanya petugas yang secara khusus merawat kamar mandi setelah digunakan siswa. (surabaya.go.id)

Masalahnya bukan hanya bahwa dua pintu terkunci. Masalahnya adalah mengapa ruang yang dipakai setiap hari oleh ratusan anak dapat dibiarkan sampai tidak berfungsi.

Ruang kecil yang menentukan apakah anak merasa aman

Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, ruang selalu memiliki konsekuensi moral. Rusun Nero bukan hanya bangunan yang kotor, penuh kecoa, tikus, lumut, jamur, asap, dan bekas pembakaran sampah. Ia menjadi ruang yang membuat anak belajar berjaga-jaga. Kamar mandi, koper, kamar tidur, lorong, dan dermaga bukan sekadar lokasi kejadian, melainkan bagian dari pengalaman Ava dan Pepper dalam memahami apakah dunia masih dapat dipercaya.

Hubungan itu penting ketika membaca kondisi kamar mandi sekolah. Anak yang harus menahan buang air karena toilet terkunci tidak sedang menghadapi gangguan kecil. Ia sedang menerima pesan bahwa kebutuhan tubuhnya dapat ditunda demi kelalaian orang dewasa. Anak yang menghindari kamar mandi karena lantainya licin, airnya menggenang, pintunya rusak, atau ruangnya kotor juga dapat kehilangan rasa aman yang seharusnya menjadi dasar kegiatan belajar.

Di sinilah berita dari Surabaya menjadi titik uji terhadap tesis utama karya tersebut: ruang fisik menentukan kemungkinan anak untuk hidup dengan tenang. Sekolah mungkin memiliki kelas, guru, buku, dan jadwal pelajaran. Namun jika anak tidak dapat menggunakan kamar mandi dengan layak, gagasan tentang sekolah yang aman masih belum lengkap.

Anggaran baru berarti jika berubah menjadi pengalaman anak

Wali Kota Surabaya mengarahkan agar BOPDA dan BOSNAS digunakan untuk pemeliharaan fasilitas, bukan hanya untuk kebutuhan yang lebih mudah dilaporkan. Pernyataan itu penting karena dalam kisah Ava, uang selalu hadir sebagai sumber kuasa. Uang menentukan rumah siapa yang dipertahankan, siapa yang dapat pergi, siapa yang harus tinggal, bahkan siapa yang memiliki kendali atas keputusan keluarga.

Akan tetapi, pembicaraan tentang anggaran tidak boleh berhenti pada besaran dana atau kelengkapan administrasi. Hubungan kedua dengan buku ini terletak pada pertanyaan tentang siapa yang akhirnya merasakan manfaat uang tersebut. Jika anggaran sekolah tersedia tetapi kamar mandi tetap terkunci, berarti jarak antara keputusan orang dewasa dan pengalaman anak masih terlalu lebar.

Peraturan Wali Kota Surabaya Nomor 23 Tahun 2026 memang mengatur penggunaan BOPDA untuk kebutuhan personalia dan nonpersonalia. Namun, keberadaan aturan belum membuktikan bahwa fasilitas telah berfungsi. Ukuran yang lebih jujur adalah apakah anak dapat masuk ke kamar mandi tanpa khawatir, apakah air tersedia, apakah pintu dapat dikunci dari dalam, apakah ruangan dibersihkan, dan apakah keluhan mereka ditanggapi sebelum masalah menjadi kerusakan besar. (peraturan.bpk.go.id)

Dengan kata lain, pemeliharaan bukan pekerjaan setelah pembangunan selesai. Pemeliharaan adalah bentuk kehadiran negara yang berlangsung setiap hari.

Privasi anak tidak boleh bergantung pada keberuntungan

Rencana menghadirkan petugas kebersihan khusus, termasuk pembagian petugas laki-laki dan perempuan, menunjukkan bahwa sanitasi memiliki dimensi privasi. Ini merupakan hubungan ketiga dengan pengalaman Ava dan Pepper. Dalam cerita mereka, keselamatan sering bergantung pada apakah ada orang dewasa yang memahami batas tubuh, ketakutan, dan kebutuhan anak—bukan sekadar orang dewasa yang hadir secara fisik.

Kamar mandi sekolah harus menjadi ruang yang dapat digunakan tanpa rasa malu dan tanpa ancaman. Anak perempuan membutuhkan fasilitas yang mendukung kebersihan menstruasi. Anak dengan disabilitas membutuhkan akses yang memungkinkan mereka bergerak mandiri. Anak yang mengalami kecemasan, trauma, atau kekerasan membutuhkan ruang yang tidak memperbesar rasa takut. Karena itu, kebersihan saja belum cukup. Sekolah juga harus memperhatikan pencahayaan, ventilasi, ketersediaan air, keamanan pintu, pemisahan ruang, aksesibilitas, dan mekanisme pelaporan jika terjadi pelecehan atau intimidasi.

Pembagian petugas berdasarkan jenis kelamin dapat membantu membangun rasa nyaman, tetapi tidak boleh dianggap sebagai jawaban tunggal. Petugas harus bekerja dengan prosedur yang jelas, tidak mengganggu privasi, dan tetap berada dalam sistem pengawasan sekolah. Anak juga perlu tahu kepada siapa mereka dapat mengadu jika kamar mandi kotor, rusak, atau menjadi tempat perundungan.

Martabat tidak dimulai dari ruang yang mewah

Ada kecenderungan untuk menganggap kamar mandi yang baik sebagai tanda kemewahan. Padahal, yang dipertaruhkan bukan kemewahan, melainkan standar minimum kehidupan yang layak. Anak tidak membutuhkan kamar mandi seperti pusat perbelanjaan untuk merasa dihargai. Mereka membutuhkan ruang yang bersih, aman, berfungsi, terawat, dan tidak membuat mereka mempertaruhkan kesehatan maupun harga diri.

Itulah sebabnya janji bahwa seluruh kamar mandi sekolah akan dibenahi tidak boleh berakhir sebagai respons sesaat setelah inspeksi. Pemerintah perlu membuat daftar kondisi yang terbuka, menetapkan batas waktu perbaikan, menyediakan anggaran pemeliharaan rutin, dan memastikan siswa memiliki saluran pengaduan yang benar-benar ditindaklanjuti. Pemeriksaan ulang harus mengukur fungsi, bukan sekadar cat baru dan foto setelah renovasi.

Dalam ‘Di Tanah Lada’, kebahagiaan tidak lahir dari tempat yang sempurna. Ia tumbuh ketika anak menemukan kehangatan, perlindungan, dan seseorang yang menganggap hidupnya berharga. Sekolah seharusnya menjadi salah satu tempat pertama yang memberikan pengalaman itu.

Kamar mandi memang ruang kecil. Namun dari ruang kecil itulah negara menunjukkan apakah ia sungguh memahami anak sebagai manusia yang memiliki tubuh, rasa malu, kebutuhan, dan hak untuk dirawat. Jika pintunya terkunci, airnya tidak mengalir, dan kerusakannya dibiarkan, yang tertutup bukan hanya sebuah ruangan. Yang tertutup adalah bagian dari martabat anak.

Sumber