Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, keselamatan anak tidak pernah selesai hanya karena seseorang berhasil menemukan tempat untuk tidur. Ava dan Pepper membutuhkan lebih dari kasur, makanan, atau kendaraan menuju tempat lain. Mereka membutuhkan orang dewasa yang tidak mengancam, ruang yang tidak membuat mereka terus berjaga, serta rutinitas yang perlahan mengembalikan keyakinan bahwa hari esok masih dapat diperkirakan.
Di situlah pendidikan setelah bencana harus dibaca secara lebih serius. Sekolah memang perlu dibuka kembali, ruang kelas perlu diperbaiki, dan kegiatan belajar perlu dipastikan berlangsung. Namun, anak yang baru kehilangan rumah, menyaksikan kerusakan, mengalami gempa susulan, atau hidup dalam pengungsian tidak otomatis siap kembali menjadi murid seperti sebelum bencana. Memaksa mereka mengejar pelajaran tanpa memulihkan rasa aman hanya akan memindahkan beban bencana ke dalam tubuh dan ingatan mereka.
Sekolah tidak boleh mengira hadir berarti sudah pulih
Pada Januari 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Surat Edaran Nomor 1 Tahun 2026 tentang penyelenggaraan pembelajaran pada satuan pendidikan terdampak bencana. Kebijakan itu memberi ruang bagi sekolah untuk menyesuaikan pembelajaran dengan keadaan darurat dan menekankan pentingnya dukungan psikososial bagi murid serta pendidik. Lingkungan belajar juga diarahkan agar ramah anak dan empatik. (kemendikdasmen.go.id)
Arah kebijakan tersebut penting karena mengoreksi anggapan lama bahwa pemulihan pendidikan dapat diukur dari kembalinya jadwal pelajaran. Dalam pengalaman Ava dan Pepper, keberadaan aktivitas tidak selalu berarti keadaan telah aman. Mereka dapat makan, berjalan, berbicara, bahkan menyusun rencana perjalanan, tetapi ketakutan tetap menyusup dalam keputusan-keputusan kecil: apakah polisi akan datang, apakah orang dewasa akan marah, atau apakah tempat baru akan benar-benar melindungi mereka.
Bencana bekerja dengan cara serupa. Anak mungkin kembali duduk di kelas, tetapi masih terkejut setiap kali mendengar suara keras. Ia mungkin mengerjakan tugas, tetapi sulit berkonsentrasi karena keluarganya masih tinggal di pengungsian. Ia mungkin tersenyum dalam kegiatan bersama, tetapi menolak masuk ruangan tertentu karena mengingat kejadian ketika gempa mengguncang sekolah. Karena itu, kehadiran fisik tidak boleh disamakan dengan pulihnya kemampuan belajar.
Rasa aman harus menjadi pelajaran pertama
Kabar dari Nusa Tenggara Timur memperlihatkan mengapa pemulihan psikososial tidak boleh menjadi tambahan seremonial. Tiga pekan setelah gempa, sebanyak 1.931 satuan pendidikan kembali menghadirkan pembelajaran melalui sekolah darurat, pembelajaran jarak jauh, dan tatap muka. Pemerintah juga menyiapkan pendampingan psikososial untuk 822 sekolah. (bbpmpjabar.kemendikdasmen.go.id)
Angka itu menunjukkan skala gangguan yang besar, tetapi angka tidak dapat menjelaskan seluruh pengalaman anak. Ia tidak menerangkan berapa banyak murid yang masih takut tidur, berapa banyak yang kehilangan anggota keluarga, atau berapa banyak guru yang harus mengajar sambil memikirkan rumahnya sendiri. Karena itu, pemulihan tidak cukup diserahkan kepada guru tanpa pelatihan atau kepada kegiatan yang hanya berlangsung satu kali.
Pendampingan di Kabupaten Ngada dan Nagekeo menemukan bahwa sebagian murid masih mengalami kecemasan dan ketakutan akibat gempa susulan. Guru pun membutuhkan pelatihan agar mampu memberikan dukungan psikososial. (bbpmpjabar.kemendikdasmen.go.id) Temuan ini berhubungan erat dengan dunia Ava dan Pepper: anak tidak selalu memiliki bahasa untuk menjelaskan rasa takutnya, sementara orang dewasa sering terlambat menyadari bahwa diam, mudah marah, sulit tidur, atau enggan kembali ke sekolah dapat menjadi tanda bahwa pengalaman traumatis belum selesai.
Maka, pelajaran pertama setelah bencana seharusnya bukan segera mengejar ketertinggalan, melainkan mengembalikan orientasi dasar anak: siapa yang bisa dipercaya, ke mana harus pergi ketika takut, apa yang dilakukan saat gempa susulan, dan bagaimana meminta bantuan. Bermain, bercerita, menggambar, bergerak, serta melakukan simulasi keselamatan bukan kegiatan pengisi waktu. Semua itu dapat menjadi cara anak merebut kembali kendali atas tubuh dan lingkungannya.
Sekolah harus menjadi jaringan, bukan pulau
Dalam ‘Di Tanah Lada’, Ava dan Pepper bertahan bukan karena satu lembaga bekerja sempurna. Mereka diselamatkan oleh rangkaian pertolongan yang tidak selalu teratur: orang yang memberi makanan, menyediakan tempat tidur, memperbaiki perban, atau berani mengambil keputusan ketika anak-anak tidak mampu melakukannya sendiri. Namun, kisah itu juga memperlihatkan kelemahannya. Jika keselamatan bergantung pada kebetulan bertemu orang baik, terlalu banyak anak akan tetap tersesat.
Konteks pendidikan pascabencana menuntut perubahan penting. Kebaikan personal harus diubah menjadi sistem. Pada September 2026, tim Satuan Pendidikan Aman Bencana di Manggarai menggabungkan edukasi kebencanaan, simulasi kesiapsiagaan, bantuan pendidikan, dan pendampingan psikososial. Pendekatan tersebut menegaskan bahwa pemulihan rasa aman tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan pengetahuan keselamatan, relasi sosial, dan kemampuan sekolah menghadapi risiko berikutnya. (bpmpkepri.kemendikdasmen.go.id)
Hubungan itu penting. Anak akan sulit merasa aman jika guru tidak tahu cara merespons kepanikan, orang tua tidak memperoleh informasi yang jelas, atau sekolah tidak memiliki prosedur ketika bencana susulan terjadi. Sebaliknya, latihan keselamatan juga tidak akan cukup jika disampaikan dengan nada mengancam atau membuat anak merasa bersalah karena takut. Pendidikan kebencanaan harus membangun keberanian yang realistis, bukan memaksa anak tampil tangguh.
Bangunan yang pulih belum tentu kehidupan yang pulih
Pemerintah telah mengalokasikan anggaran besar untuk merevitalisasi ribuan sekolah terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Pada September 2026, seluruh 4.922 sekolah terdampak di tiga wilayah tersebut dilaporkan telah kembali menjalankan pembelajaran, sementara pelatihan kesiapsiagaan dan pendampingan psikososial disiapkan untuk menjangkau puluhan ribu guru. (pkplk.kemendikdasmen.go.id)
Pemulihan fisik itu perlu dan tidak boleh diremehkan. Sekolah yang rusak adalah risiko nyata. Namun, bangunan baru tidak dengan sendirinya menghapus ingatan tentang banjir, lumpur, kehilangan, atau kepanikan. Bahkan gedung yang lebih kuat dapat terasa asing bagi anak yang masih membawa ketakutan lama.
Karena itu, keberhasilan pemulihan harus diukur melalui pertanyaan yang lebih manusiawi: apakah murid berani kembali ke kelas, apakah mereka mampu berkonsentrasi, apakah guru tahu kapan harus merujuk anak ke layanan profesional, apakah keluarga memahami perubahan perilaku anak, dan apakah sekolah memiliki ruang untuk mendengar tanpa mempermalukan.
Masa depan anak tidak boleh ditunda oleh trauma
Ava dan Pepper terus membayangkan tempat yang lebih baik meskipun pengalaman mereka membuat dunia tampak penuh ancaman. Imajinasi itu bukan pelarian yang harus segera dihentikan. Ia adalah tanda bahwa anak masih berusaha menyusun masa depan dari serpihan pengalaman yang ada.
Sekolah setelah bencana mempunyai tanggung jawab yang sama: bukan hanya mengembalikan pelajaran, tetapi membantu anak percaya bahwa masa depan masih dapat direncanakan. Pemulihan psikososial bukan belas kasihan tambahan, melainkan bagian dari hak pendidikan. Tanpa rasa aman, pelajaran berubah menjadi tuntutan. Dengan rasa aman, sekolah dapat kembali menjadi tempat anak belajar, berteman, bertanya, dan perlahan menjadi dirinya sendiri.
Sumber
- kemendikdasmen.go.id: Kemendikdasmen Salurkan Rp2 T Untuk Tahap I Revitalisasi 3033 Sekolah Terdampak Bencana
- paudpedia.kemendikdasmen.go.id: Kemendikdasmen Terbitkan Se No 1 Tahun 2026 Sebagai Benteng Resiliensi Satuan Pendidikan Terdampak Bencana Integrasikan Mitigasi Dan Kurikulum Darurat
- kemendikdasmen.go.id: 3 Ribu Lebih Sekolah Terdampak Bencana Aceh Dan Sumatra Lakukan Pks Anggaran Capai Rp29 T
- bpmpkepri.kemendikdasmen.go.id: Mengembalikan Rasa Aman Anak Pascagempa Tim Spab Bpmp Kepri Hadirkan Edukasi Kebencanaan Dan Dukungan Psikososial Di Manggarai
- Buku Di Tanah Lada — Gramedia