Author: siapasangka
-
Ketika Kota Hanya Melihat Senjata, Anak Kehilangan Cerita
Kota mudah mengenali senjata. Bentuknya terlihat, dapat difoto, disita, lalu ditampilkan sebagai barang bukti. Kota juga mudah mengenali kerumunan yang mengganggu ketertiban: suara knalpot, gerak konvoi, video yang beredar, dan keresahan warga. Yang lebih sulit adalah melihat anak yang berada di balik semua itu—anak yang mungkin ikut karena ingin diterima, takut ditinggalkan kelompok, terbiasa menyaksikan kekerasan, atau tidak memiliki orang dewasa yang mengajarinya cara lain untuk memperoleh pengakuan. Persoalan itu muncul dalam kasus konvoi remaja bersenjata tajam di Mataram. Pada awal September 2026, polisi mengamankan 24 remaja setelah video aksi berkendara sambil memamerkan senjata tajam beredar dan memicu keresahan. Setelah pemeriksaan,
-
Nota Kesepahaman Bukan Ruang Aman: Madrasah Harus Mengubah Cara Orang Dewasa Mendengar Anak
Madrasah sering disebut sebagai tempat pendidikan ilmu sekaligus pembentukan akhlak. Karena itu, ketika Kementerian Agama dan Save the Children Indonesia menandatangani nota kesepahaman pada 21 September 2026 untuk memperkuat pendidikan berbasis nilai keagamaan, hak anak, dan kepedulian terhadap lingkungan, yang dipertaruhkan bukan hanya keberhasilan sebuah program. Yang diuji adalah apakah lembaga pendidikan keagamaan mampu mengubah cara orang dewasa berbicara kepada anak—dan, lebih penting lagi, cara mereka mendengarkan. Kerja sama itu diarahkan untuk mendorong pendidikan yang bermutu, aman, inklusif, serta melindungi anak dari praktik seperti perundungan. Kementerian Agama menyebut anak harus memperoleh ruang untuk tumbuh dan berkembang dalam lingkungan pendidikan yang aman
-
Perpustakaan Harus Menjemput Anak yang Rumahnya Gagal Menjelaskan Dunia
Ada anak-anak yang pulang ke rumah untuk beristirahat. Ada pula yang pulang ke rumah justru untuk menata kembali ketakutan, kebingungan, dan kata-kata yang tidak pernah dijelaskan orang dewasa. Bagi anak dalam *Di Tanah Lada*, dunia tidak datang sebagai pelajaran yang tersusun rapi. Ia hadir melalui kematian, uang warisan, perjudian, kekerasan, perpindahan tempat tinggal, perceraian, dan janji tentang masa depan yang belum tentu dapat dipercaya. Di tengah keadaan seperti itu, perpustakaan tidak cukup dipahami sebagai ruangan berisi rak buku. Ia harus dibaca sebagai infrastruktur publik yang membantu anak menyusun kembali hubungan antara kata dan kenyataan. Pertanyaannya sekarang bukan hanya apakah anak memiliki
-
Rumah Bukan Alasan untuk Menghapus Pekerja Anak
Rumah sering diperlakukan sebagai wilayah yang selesai dijelaskan oleh kata “keluarga”. Begitu seorang anak berada di dalamnya, pekerjaan mencuci, memasak, menjaga adik, membersihkan kamar, atau merawat orang sakit mudah dianggap sebagai kewajiban biasa. Di situlah bahaya bermula: hubungan kerja dapat disamarkan sebagai pertolongan, pengasuhan, bahkan kasih sayang. Anak tidak lagi terlihat sebagai pekerja yang memiliki hak, melainkan sebagai “orang rumah” yang harus tahu diri. Pengesahan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga memberi negara kesempatan untuk membongkar anggapan tersebut. DPR menyetujui pengesahan RUU PPRT pada 21 April 2026, setelah lebih dari dua dekade pembahasan. Undang-undang itu kemudian ditetapkan
-
Rekam Medis Anak Bukan Sekadar Data: Negara Harus Menjaga Sambungan Perawatan
Peluncuran SATUSEHAT Rekam Medis Elektronik pada 1 September 2026 membawa janji yang terdengar sederhana: ketika pasien berpindah fasilitas kesehatan, riwayat pemeriksaan, diagnosis, obat, hasil laboratorium, tindakan, dan data penting lain tidak ikut tercecer. Data itu dihubungkan berdasarkan individu, bukan lagi tersimpan terpisah menurut rumah sakit atau puskesmas. Kementerian Kesehatan menyebut tenaga medis dapat mengakses informasi sesuai kewenangan dan persetujuan pasien, sementara pasien tidak perlu terus membawa berkas lama ketika berpindah layanan. (kemkes.go.id) Bagi anak, janji itu bukan sekadar perkara efisiensi. Ia menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar: ketika tubuh anak berpindah, siapa yang memastikan cerita tentang tubuh itu tetap utuh? Anak berpindah
-
Ketika Jantung Bayi Harus Menunggu Rujukan, Negara Gagal Menjaga Sambungan Hidup
Bayi dengan penyakit jantung bawaan kritis tidak memiliki waktu untuk menunggu sistem menyelesaikan kebingungannya sendiri. Ia tidak dapat menjelaskan sesak, membedakan warna tubuh yang membiru, atau meminta orang dewasa mempercepat rujukan. Karena itu, keselamatan bayi tidak boleh bergantung pada keberuntungan bertemu dokter yang tepat, tersedianya alat di rumah sakit terdekat, atau kemampuan keluarga memahami istilah medis yang rumit. Persoalan itu memperoleh titik uji baru melalui pelatihan teknik ekokardiografi dasar bagi dokter spesialis anak yang diselenggarakan RS Anak dan Bunda Harapan Kita pada 19–20 September 2026. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat skrining penyakit jantung bawaan dan mempercepat jalur rujukan bagi bayi yang
-
Sekolah Aman Tidak Boleh Menunggu Anak Menjerit
Sekolah Aman Tidak Boleh Menunggu Anak Menjerit Sekolah aman sering dibicarakan setelah sesuatu terjadi: seorang murid menangis di kamar mandi, luka terlihat di tubuhnya, rekaman beredar, atau orang tua datang membawa laporan. Pola itu membuat keselamatan tampak seperti pekerjaan setelah bencana. Padahal, anak tidak selalu mampu menjelaskan bahaya dengan bahasa yang mudah dikenali orang dewasa. Sebagian diam. Sebagian mengubah perilaku. Sebagian menjadi terlalu patuh, terlalu marah, sering absen, atau tiba-tiba kehilangan minat belajar. Di situlah buku berjudul ‘Di Tanah Lada’ menawarkan ukuran yang lebih keras terhadap gagasan sekolah aman. Ava memahami dunia dengan mencari arti kata dan membandingkan ucapan orang dewasa
-
Dari Kamar 618 ke Ruang Rapat: Negara Harus Menjaga Sambungan Hidup Anak
Perlindungan anak sering tampak berhasil ketika sebuah laporan sudah diterima, seorang anak sudah ditemukan, atau satu program baru saja diluncurkan. Namun, bagi anak, keselamatan tidak pernah sesingkat itu. Ia bergantung pada hal-hal yang lebih sunyi: siapa yang menjelaskan perpindahan, siapa yang mengingat kebutuhan sebelumnya, siapa yang memastikan sekolah tetap tersambung, dan siapa yang datang ketika lembaga pertama tidak lagi memegang kendali. Pertanyaan itu menjadi penting setelah Komisi Perlindungan Anak Indonesia meluncurkan Sistem Informasi Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan Perlindungan Anak atau SIMEP PA versi 3.0 pada 2 September 2026. Sistem tersebut dirancang untuk memotret perlindungan anak melalui regulasi, kapasitas, dan akuntabilitas layanan,
-
Ketika Wajah Anak Dipalsukan, Persetujuan Bukan Detail Teknis
Wajah seorang anak tidak berhenti menjadi miliknya hanya karena fotonya pernah diunggah ke media sosial. Foto dapat dilihat orang lain, tetapi itu tidak berarti orang lain memperoleh izin untuk mengubah tubuh, pakaian, atau citra seksual yang dilekatkan pada wajah tersebut. Di sinilah dugaan kasus di sebuah SMP negeri di Pulogadung, Jakarta Timur, menjadi penting: seorang siswa kelas 9 diduga menggunakan kecerdasan buatan untuk mengedit foto sejumlah siswi menjadi gambar bermuatan vulgar. Polisi masih menyelidiki mekanisme pembuatan, pihak yang menerima atau menyebarkan gambar, serta jumlah korban. Hingga pemberitaan 24–26 September 2026, para korban disebut belum membuat laporan polisi. (news.detik.com) Kasus ini tidak
-
Sekolah Rakyat Jangan Mengubah Kemiskinan Menjadi Identitas Anak
Sekolah Rakyat Jangan Mengubah Kemiskinan Menjadi Identitas Anak Negara Harus Membuka Jalan, Bukan Menetapkan Siapa Anak Itu Sekolah Rakyat lahir dari persoalan yang nyata: banyak anak dari keluarga miskin tidak hanya berhadapan dengan biaya sekolah, tetapi juga dengan kekurangan gizi, tempat tinggal yang tidak layak, ongkos perjalanan, dan keluarga yang tidak selalu mampu menyediakan pengasuhan. Pemerintah menyebut program ini sebagai sekolah berasrama gratis bagi anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Hingga April 2026, program tersebut dilaporkan menjangkau hampir 15.000 siswa di 166 lokasi di 36 provinsi. (kemendikdasmen.go.id) Skala itu menunjukkan ambisi besar. Namun, ukuran keberhasilan tidak boleh berhenti pada jumlah