Rekam Medis Anak Bukan Sekadar Data: Negara Harus Menjaga Sambungan Perawatan

Written by

in

Peluncuran SATUSEHAT Rekam Medis Elektronik pada 1 September 2026 membawa janji yang terdengar sederhana: ketika pasien berpindah fasilitas kesehatan, riwayat pemeriksaan, diagnosis, obat, hasil laboratorium, tindakan, dan data penting lain tidak ikut tercecer. Data itu dihubungkan berdasarkan individu, bukan lagi tersimpan terpisah menurut rumah sakit atau puskesmas. Kementerian Kesehatan menyebut tenaga medis dapat mengakses informasi sesuai kewenangan dan persetujuan pasien, sementara pasien tidak perlu terus membawa berkas lama ketika berpindah layanan. (kemkes.go.id)

Bagi anak, janji itu bukan sekadar perkara efisiensi. Ia menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar: ketika tubuh anak berpindah, siapa yang memastikan cerita tentang tubuh itu tetap utuh?

Anak berpindah tempat, riwayatnya tidak boleh ikut hilang

Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, perpindahan bukan peristiwa netral. Ava berpindah dari rusun ke tempat lain, dari satu orang dewasa ke orang dewasa berikutnya, sementara Pepper hidup dalam pengasuhan yang tidak pernah benar-benar stabil. Setiap perpindahan membawa ketidakpastian baru: siapa yang menjaga, siapa yang tahu apa yang sudah terjadi, dan siapa yang bertanggung jawab ketika keadaan memburuk.

Di situlah SATUSEHAT RME dapat dibaca sebagai ujian terhadap gagasan kesinambungan. Anak yang datang ke fasilitas kesehatan baru mungkin tidak mampu menjelaskan alergi, obat yang pernah diminum, hasil pemeriksaan sebelumnya, atau pengalaman buruk ketika dirawat. Anak kecil bisa belum menguasai istilah medis. Anak yang sedang takut bahkan mungkin tidak dapat menyebutkan bagian tubuh yang sakit. Dalam keadaan demikian, memaksa anak mengulang seluruh riwayatnya bukan hanya tidak efisien. Itu juga memindahkan beban sistem kepada pihak yang paling lemah.

Namun, rekam medis terintegrasi hanya menjadi sambungan perawatan jika data benar-benar masuk, lengkap, terbaca, dan dapat digunakan oleh fasilitas berikutnya. Ketentuan penggunaan SATUSEHAT sendiri mengakui bahwa data bisa belum muncul apabila fasilitas belum memakai rekam medis elektronik, belum terintegrasi, atau belum mengirimkan data ke platform. (satusehat.kemkes.go.id) Karena itu, negara tidak boleh menyamakan peluncuran sistem dengan selesainya masalah. Anak tetap dapat jatuh ke celah ketika satu layanan memiliki catatan, tetapi layanan lain tidak dapat menemukan atau mempercayainya.

Data tidak boleh menggantikan percakapan dengan anak

Ava menghadapi dunia dengan mencari arti kata. Ia tidak sekadar ingin tahu definisi; ia sedang berusaha memahami tindakan orang dewasa yang sering tidak masuk akal. Kamus menjadi alat untuk menguji apakah ucapan sesuai dengan kenyataan. Cara Ava membaca dunia memberi peringatan penting bagi sistem kesehatan: data memang dapat meneruskan informasi, tetapi tidak otomatis meneruskan makna.

Catatan “demam”, “cemas”, “tidak kooperatif”, atau “menolak pemeriksaan” tidak pernah cukup tanpa konteks. Mengapa anak menolak disentuh? Mengapa ia diam ketika ditanya? Mengapa ia hanya mau berbicara kepada orang tertentu? Rekam medis dapat mencatat gejala, tetapi tidak boleh membuat tenaga kesehatan berhenti mendengarkan.

Karena itu, akses anak terhadap informasi kesehatannya perlu dipikirkan dengan serius. Kementerian Kesehatan menyatakan SATUSEHAT diarahkan agar pasien dapat mengetahui kondisi kesehatannya, sementara sistem juga membantu dokter memperoleh informasi yang lebih lengkap. (kemkes.go.id) Pada anak, tujuan tersebut harus diterjemahkan ke dalam bahasa yang dapat dipahami sesuai usia dan kematangannya. Persetujuan orang tua atau wali penting, tetapi tidak boleh dipakai untuk menghapus suara anak dari keputusan yang menyangkut tubuhnya.

Anak perlu diberi tahu, bukan hanya diwakili. Ia perlu memahami pemeriksaan apa yang dilakukan, mengapa data tertentu dicatat, siapa yang dapat melihatnya, dan apa yang terjadi jika informasi itu keliru. Dalam perkara kesehatan, partisipasi bukan kemewahan etis. Ia adalah bagian dari keselamatan.

Semakin luas akses, semakin keras kewajiban menjaga rahasia

Kisah Ava dan Pepper juga menunjukkan bahwa orang dewasa dapat hadir dalam hidup anak dengan peran yang tumpang tindih: orang tua, kerabat, teman, pengasuh, atau orang yang kebetulan memberi pertolongan. Tidak semua orang yang dekat secara emosional berhak mengetahui seluruh informasi anak. Sebaliknya, tidak semua orang yang memiliki kewenangan administratif memahami kerentanan anak.

SATUSEHAT menyatakan bahwa data kesehatan diproses berdasarkan prinsip pelindungan data pribadi, dengan pengaturan hak akses dan persetujuan. Kebijakan privasinya juga menempatkan rekam medis sebagai informasi yang harus dilindungi dari akses tidak sah. (satusehat.kemkes.go.id) Prinsip itu penting, tetapi perlindungan tidak berhenti pada kata “aman”. Negara harus memastikan setiap akses dapat dilacak, dibatasi sesuai kebutuhan, dan dikenai sanksi jika disalahgunakan.

Bagi anak yang hidup dalam keluarga berkonflik, pengasuhan berganti, atau situasi kekerasan, persoalan ini lebih rumit. Siapa yang boleh melihat riwayat kesehatan? Apakah orang tua yang sedang bersengketa dapat mengakses seluruh catatan? Bagaimana data dilindungi ketika wali berganti? Apa yang dilakukan jika alamat, identitas, atau riwayat anak tidak sesuai? Pertanyaan tersebut tidak boleh ditunda sampai kebocoran terjadi.

Rekam medis harus mengikuti tanggung jawab, bukan hanya pasien

Pelajaran terbesar dari ‘Di Tanah Lada’ adalah bahwa anak tidak cukup dipindahkan dari tempat berbahaya ke tempat baru. Ia membutuhkan orang dewasa yang membawa tanggung jawab secara utuh. Prinsip yang sama harus berlaku dalam sistem kesehatan. Rekam medis tidak boleh hanya mengikuti identitas pasien; ia harus membantu memastikan kesinambungan tugas antar-layanan.

Ketika anak dirujuk, fasilitas pertama harus memastikan informasi penting terkirim. Fasilitas berikutnya harus membaca dan memverifikasi, bukan sekadar menerima berkas secara otomatis. Jika catatan tidak lengkap, seseorang harus bertanggung jawab untuk menghubungi layanan sebelumnya, bukan membiarkan keluarga atau anak mengulang semuanya dari awal.

Di sinilah ukuran keberhasilan SATUSEHAT RME tidak boleh berhenti pada jumlah fasilitas yang terhubung atau banyaknya data yang masuk. Ukurannya adalah apakah anak menerima perawatan yang lebih aman, apakah pemeriksaan yang tidak perlu dapat dihindari, apakah kesalahan riwayat dapat dikoreksi, dan apakah keluarga tidak lagi menjadi satu-satunya penghubung antar-lembaga. Sistem yang baik bukan yang paling banyak mengumpulkan data, melainkan yang paling mampu menjaga agar pengetahuan, tanggung jawab, dan perlindungan tidak terputus.

Teknologi dapat membantu negara mengingat. Tetapi hanya tata kelola yang bertanggung jawab, komunikasi yang dapat dipahami anak, dan tenaga kesehatan yang mau mendengarkan yang membuat ingatan itu berguna. Anak tidak boleh kembali menjadi pembawa berkas bagi sistem yang gagal saling mengenali. Jika tubuhnya berpindah, perawatannya harus tetap tersambung.

Sumber