Pasar Bukan Ruang Lewat: Ketika Perlindungan Anak Harus Mengenali Penjual Sate

Written by

in

Anak yang tersesat, melarikan diri, atau berusaha menjauh dari kekerasan tidak selalu pertama kali ditemukan oleh polisi, pekerja sosial, guru, atau petugas layanan. Ia bisa muncul di depan gerobak sate, duduk terlalu lama di sudut pasar, membawa ransel yang tampak terlalu berat, atau makan dengan cara yang membuat orang dewasa sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Di situlah dorongan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada 2 September 2026 agar pasar rakyat terhubung dengan layanan perlindungan, termasuk SAPA 129, perlu dibaca lebih serius. Ini bukan sekadar agenda memasang nomor pengaduan di papan informasi. Ini adalah ujian terhadap kemampuan ruang ekonomi sehari-hari untuk mengenali anak sebelum persoalannya berubah menjadi laporan, pencarian, atau tragedi. (antaranews.com)

Penjual sate dan mata pertama yang melihat anak

Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, Ava dan Pepper tidak tiba di tempat aman melalui sistem yang bekerja rapi. Mereka bergerak dari rusun, rumah sakit, jalanan, masjid, dan tempat jual beli, sambil membawa luka, ketakutan, serta keputusan yang tidak sepenuhnya mereka pahami. Ketika bertemu keluarga penjual sate, pertolongan pertama tidak datang dalam bentuk prosedur resmi. Ia hadir sebagai makanan, pertanyaan, perhatian, dan kamar kosong yang boleh dipakai tidur.

Keluarga itu tidak menyelesaikan seluruh persoalan mereka. Mereka bahkan sempat mempertimbangkan untuk melapor kepada polisi karena dua anak tersebut tampak pergi dari rumah tanpa pendamping. Namun, sebelum perkara masuk ke lembaga formal, ada tindakan yang lebih mendasar: memastikan mereka kenyang, tidak tidur di masjid, dan tidak dibiarkan melanjutkan perjalanan dalam keadaan rentan.

Adegan tersebut penting karena memperlihatkan jarak antara perlindungan sebagai gagasan dan perlindungan sebagai tindakan. Orang dewasa di sekitar anak mungkin tidak mengetahui seluruh riwayat kekerasan. Mereka tidak memiliki kewenangan penyidikan. Tetapi mereka dapat melihat bahwa seorang anak membutuhkan bantuan sekarang juga.

Pasar rakyat memiliki posisi serupa. Ia bukan ruang steril yang hanya berisi transaksi. Di sana ada pedagang, pembeli, pengangkut barang, penjaga parkir, pemilik warung, pengemudi, pengelola, dan warga yang saling mengenali. Jaringan sosial semacam itu bisa menjadi kekuatan perlindungan—atau sebaliknya, menjadi ruang tempat kekerasan luput karena semua orang menganggap persoalan anak sebagai urusan keluarga.

Dari kepedulian spontan menuju sistem rujukan

Masalahnya, perlindungan tidak boleh bergantung pada kebetulan bertemu orang baik. Dalam kisah Ava dan Pepper, keluarga penjual sate menolong karena mereka memiliki kepekaan dan keberanian untuk bertanya. Namun, sistem publik tidak boleh berharap semua pedagang akan bertindak tepat tanpa panduan, dukungan, dan jalur rujukan.

Kajian KemenPPPA bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional merekomendasikan empat pilar: kelembagaan yang responsif gender, infrastruktur dan keamanan inklusif, integrasi layanan pengaduan serta rujukan, dan perubahan norma sosial melalui pemberdayaan masyarakat. Kajian itu dilakukan di 27 pasar pada delapan provinsi. Rekomendasinya juga mencakup SOP, unit layanan atau pengaduan, pencahayaan, CCTV, fasilitas ramah perempuan dan anak, serta hubungan dengan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak, kepolisian, dan fasilitas kesehatan. (antaranews.com)

Empat pilar tersebut menerjemahkan pengalaman Ava dan Pepper ke dalam pertanyaan kelembagaan. Siapa yang harus menyapa anak yang sendirian? Apa yang boleh ditanyakan dan apa yang tidak boleh dipaksa untuk diceritakan? Di mana anak menunggu jika belum aman untuk dipulangkan? Siapa yang menghubungi layanan? Bagaimana identitas anak dijaga? Apa yang dilakukan jika orang yang datang mengaku sebagai keluarga justru merupakan sumber bahaya?

SAPA 129 dapat menjadi salah satu jalur penghubung. Layanan tersebut menerima laporan tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk dari orang yang bukan korban langsung. Kanalnya mencakup telepon 129, WhatsApp, dan formulir daring. Artinya, pedagang atau pengunjung pasar tidak harus menjadi penyidik untuk meminta bantuan; mereka cukup menyampaikan informasi yang diketahui dan membiarkan petugas mengarahkan langkah berikutnya. (laporsapa129.kemenpppa.go.id)

Namun, nomor telepon tidak akan berarti jika tidak ada orang yang tahu kapan harus menggunakannya. Integrasi harus disertai pelatihan sederhana dan berkala, bukan hanya spanduk. Pedagang perlu memahami tanda-tanda kekerasan, prinsip tidak menyalahkan anak, larangan menyebarkan foto atau identitas, serta cara menjaga jarak aman dari dugaan pelaku.

Pasar tidak boleh menjadi kantor polisi kecil

Mendorong pasar menjadi simpul perlindungan bukan berarti mengubah pedagang menjadi aparat. Justru sebaliknya, peran mereka harus dibatasi secara jelas. Mereka tidak boleh menginterogasi, mengancam, memaksa anak pulang, atau menyebarkan cerita kepada kerumunan. Tugas awal mereka adalah menciptakan jeda aman, memenuhi kebutuhan dasar, mencatat informasi penting seperlunya, lalu menghubungkan anak dengan layanan yang kompeten.

Di sini, pelajaran dari Ava menjadi penting. Ia memahami dunia dengan mencari arti kata, tetapi tidak selalu memahami akibat keputusan orang dewasa. Ia dapat menyimpulkan bahwa polisi menakutkan, bahwa melapor berarti masuk penjara, atau bahwa pulang berarti kembali kepada kekerasan. Karena itu, perlindungan tidak cukup hanya dengan bertanya, “Kamu mau pulang ke mana?” Pertanyaan yang lebih bertanggung jawab adalah: “Di mana kamu merasa aman?” dan “Siapa orang dewasa yang bisa kamu percaya?”

Pasar juga harus menghindari jebakan pengawasan. CCTV, pencahayaan, dan pos layanan memang berguna, tetapi kamera tidak otomatis memahami bahwa anak sedang takut. Sistem digital dapat merekam gerak, tetapi tidak selalu mengenali relasi kuasa. Perlindungan tetap membutuhkan manusia yang mampu membaca situasi tanpa merampas suara anak.

Anak membutuhkan jalan keluar, bukan sekadar tempat singgah

Keluarga penjual sate dalam kisah tersebut memberi Ava dan Pepper tempat tidur untuk satu malam. Kebaikan itu menyelamatkan mereka dari jalanan, tetapi belum menyelesaikan persoalan rumah, kekerasan, identitas, dan hubungan keluarga. Begitu pula pasar: ia dapat menjadi titik aman pertama, tetapi tidak boleh menjadi tempat penampungan tanpa batas atau ruang penyerahan masalah kepada orang lain.

Karena itu, keberhasilan kebijakan ini tidak boleh diukur dari jumlah pasar yang memasang logo SAPA 129. Ukurannya harus lebih sulit: apakah anak dapat dikenali tanpa dipermalukan, apakah laporan diteruskan tanpa putus, apakah layanan datang sebelum anak kembali kepada bahaya, dan apakah setelah diselamatkan ia memperoleh pendampingan yang nyata.

Di dunia Ava dan Pepper, keselamatan tumbuh dari hal-hal yang tampak kecil: semangkuk makanan, kamar kosong, tangan yang digenggam, dan orang dewasa yang tidak menertawakan ketakutan anak. Negara perlu mengubah kebaikan spontan semacam itu menjadi jaringan yang dapat diandalkan. Pasar bukan ruang lewat. Ia dapat menjadi tempat pertama seorang anak dilihat—asal masyarakat dan negara bersedia melihatnya dengan sungguh-sungguh.

Sumber