Bela Negara Boleh, Ketaatan Buta Jangan: Menguji Korps Kadet dari Mata Ava dan Pepper

Written by

in

Bela negara boleh diajarkan kepada anak. Namun, sejak awal harus jelas bahwa bela negara bukan nama lain untuk ketaatan tanpa pertanyaan. Peluncuran Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) sebagai ekstrakurikuler pilihan di jenjang pendidikan menengah pada 23 September 2026 membuka perdebatan yang lebih penting daripada soal seragam, baris-berbaris, atau upacara peresmian: bagaimana memastikan disiplin tetap menjadi sarana pendidikan, bukan cara halus untuk menguasai tubuh dan suara murid?

Pemerintah menegaskan KKRI bukan kegiatan wajib, tidak berarti peserta didik menjadi prajurit, dan tidak dimaksudkan menghadirkan militerisme di sekolah. Program tersebut diarahkan untuk membentuk karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, kebersamaan, tanggung jawab, wawasan kebangsaan, serta kesadaran bela negara. Pedoman pelaksanaannya disebut telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pendidikan Menengah Nomor 136 Tahun 2026. (antaranews.com)

Penjelasan itu penting, tetapi belum selesai. Dalam pendidikan, jarak antara maksud kebijakan dan pengalaman anak sering kali justru menjadi tempat persoalan bermula.

“Pilihan” Harus Terasa sebagai Pilihan bagi Anak

Ava, tokoh dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, tidak menerima kata-kata orang dewasa secara pasif. Ia mencari arti “legal”, “hukum”, “kerja”, dan “judi”, lalu membandingkan definisi dengan apa yang dilihatnya di rumah. Kebiasaan itu tampak lucu karena disampaikan melalui cara berpikir seorang anak. Namun, sesungguhnya Ava sedang melakukan hal yang sangat serius: memeriksa apakah bahasa orang dewasa sesuai dengan kenyataan.

Karena itu, istilah “ekstrakurikuler pilihan” tidak boleh berhenti sebagai keterangan administratif. Anak harus mengetahui bahwa ia boleh ikut dan boleh tidak ikut; boleh berhenti tanpa dipermalukan; boleh menyampaikan keberatan; dan tidak boleh kehilangan nilai, kesempatan, atau penerimaan sosial karena menolak. Persetujuan orang tua juga tidak boleh menggantikan persetujuan anak. Anak yang dipaksa oleh wali, guru, kelompok sebaya, atau budaya sekolah belum sedang memilih, meskipun namanya tercatat di formulir pendaftaran.

Di sinilah berita tentang KKRI menjadi cermin langsung bagi kebiasaan Ava mencari arti kata. Pemerintah telah menyatakan program itu tidak wajib. Tantangan berikutnya adalah membuktikan makna “tidak wajib” di ruang kelas, rapat orang tua, kegiatan sekolah, dan hubungan antara pelatih dengan peserta. Tanpa mekanisme pengaduan yang mudah, penjelasan yang dapat dipahami murid, dan pemeriksaan independen terhadap tekanan sosial, kata “pilihan” dapat berubah menjadi kewajiban yang tidak pernah diakui.

Disiplin Tidak Boleh Mengulang Logika Kekerasan

Kisah Pepper memberikan ujian yang lebih keras. Ia tidur di dalam kardus karena tidak memiliki kamar, menyembunyikan diri dari ayah yang kasar, dan mengalami luka bakar setelah diserang dengan setrika. Kekerasan itu bukan sekadar tindakan fisik. Ia juga bekerja melalui rasa takut: Pepper belajar bahwa menangis dapat membuat keadaan lebih buruk dan bahwa keberadaan dirinya sendiri bisa memancing amarah.

Pengalaman tersebut penting ketika sekolah mengadopsi kegiatan dengan simbol, bahasa, dan struktur yang dekat dengan dunia kemiliteran. Tidak setiap latihan disiplin adalah kekerasan. Tidak setiap instruksi tegas adalah militerisme. Namun, batasnya harus dibaca dari pengalaman anak: apakah ia dapat bertanya tanpa dihina, mengaku takut tanpa dihukum, menolak aktivitas berisiko tanpa dicap lemah, dan melaporkan tindakan kasar tanpa khawatir pembalasan?

Penegasan bahwa KKRI tidak melatih murid menjadi prajurit memang relevan. Pemerintah juga menyebut bela negara dapat diwujudkan melalui belajar sungguh-sungguh, menghormati guru dan orang tua, menjauhi perundungan, menggunakan teknologi secara bijak, serta peduli terhadap lingkungan dan sesama. (kemhan.go.id) Tetapi justru karena tujuan itu bersifat sipil dan pendidikan, pelaksanaannya tidak boleh memakai ukuran keberhasilan yang hanya menilai kepatuhan tubuh.

Anak yang berdiri paling tegak belum tentu memahami tanggung jawab. Anak yang paling cepat mengikuti perintah belum tentu memiliki kepemimpinan. Sebaliknya, anak yang bertanya “mengapa” mungkin sedang menunjukkan kesadaran kewargaan yang lebih sehat daripada anak yang hanya diam karena takut.

Karakter Tumbuh dari Ruang Aman, Bukan dari Seragam

Dalam perjalanan Ava dan Pepper, ruang selalu memiliki makna. Rusun Nero bukan sekadar latar kumuh; ia adalah tempat yang memperlihatkan bagaimana rumah dapat gagal menjadi perlindungan. Atap rusun menjadi ruang untuk bernapas dan memandang langit, sementara kamar kardus Pepper menunjukkan betapa jauh jarak antara memiliki tempat tinggal dan merasa aman di dalamnya.

Hubungan ini penting bagi KKRI. Kegiatan pembentukan karakter tidak berlangsung di ruang hampa. Ia berlangsung di sekolah yang mungkin memiliki masalah perundungan, ketimpangan fasilitas, pelatih yang berbeda kualitasnya, atau murid yang membawa pengalaman kekerasan dari rumah. Karena itu, program bela negara tidak cukup memiliki kurikulum dan seragam. Ia membutuhkan standar keselamatan, pemeriksaan rekam jejak pelatih, batas kontak fisik, prosedur penanganan cedera, dukungan psikologis, serta jalur laporan yang tidak dikendalikan oleh orang yang dilaporkan.

Pertanyaan paling penting bukan apakah KKRI terlihat tertib pada hari peluncuran. Pertanyaannya: siapa yang menjaga anak ketika latihan menjadi terlalu berat, ketika instruksi berubah menjadi penghinaan, atau ketika seorang murid ingin keluar tetapi takut dianggap tidak patriotik? Berita peluncuran di SMK Negeri 26 Jakarta menunjukkan program ini dimulai melalui kerja sama Kemendikdasmen dan Kementerian Pertahanan, dengan agenda yang menekankan karakter, kepemimpinan, kebersamaan, dan tanggung jawab. (antaranews.com) Kerja sama lintas lembaga itu dapat menjadi kekuatan, tetapi juga menuntut pembagian tanggung jawab yang terang. Anak tidak boleh dipindahkan dari satu meja ke meja lain ketika mengadu.

Bela Negara Harus Mengajarkan Keberanian untuk Tidak Ikut Arus

Ava dan Pepper tidak memiliki kehidupan yang mudah, tetapi keduanya menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu berbentuk perintah yang dijalankan. Kadang-kadang keberanian berarti bertanya. Kadang-kadang berarti menolong teman. Kadang-kadang berarti berkata tidak kepada orang dewasa yang menyakiti.

Itulah ukuran yang semestinya dipakai untuk membaca KKRI. Bela negara bukan hanya kesiapan mengikuti komando, melainkan juga kemampuan mengenali ketidakadilan, melindungi orang lain, menghormati perbedaan, dan menolak kekerasan meskipun kekerasan itu dibungkus sebagai tradisi, hukuman, atau pembinaan. Jika program ini sungguh hendak membentuk warga negara, murid harus belajar bahwa loyalitas kepada bangsa tidak meniadakan hak untuk mengkritik lembaga negara.

KKRI dapat menjadi ruang pendidikan yang bermakna bila kesukarelaan dijaga, suara anak didengar, dan disiplin dibatasi oleh keselamatan. Namun, bila “karakter” diukur dari kepatuhan tanpa penjelasan, program itu justru mengajarkan pelajaran yang berlawanan dengan demokrasi: bahwa orang yang lebih kuat selalu berhak menentukan, sementara anak cukup mengikuti.

Bela negara boleh dimulai dari sekolah. Tetapi ia harus dimulai dengan satu kebiasaan yang paling sederhana dan paling sulit: memastikan anak memahami apa yang dijalaninya, bebas menolak, serta tetap aman ketika mengatakan tidak.

Sumber