Ketika Anak Disebut Membantu: Batas Tipis antara Kerja dan Eksploitasi

Written by

in

Ada pekerjaan anak yang sejak awal tampak seperti bantuan. Anak membawa gitar, duduk di pinggir jalan, menerima uang dari orang lewat, lalu orang dewasa menyebutnya sedang mencari nafkah. Ada pula pekerjaan yang lebih sulit terlihat: anak duduk di sebuah tempat penampungan, memegang telepon, menawarkan kendaraan fiktif melalui media sosial, dan diposisikan sebagai bagian dari “tim” yang mengejar target.

Dua situasi itu berbeda bentuk, tetapi dapat berangkat dari logika yang sama: anak ditempatkan dalam urusan ekonomi orang dewasa, lalu bahasa yang dipakai membuat eksploitasi tampak seperti kerja biasa.

Ketika “membantu” menyamarkan siapa yang memegang kendali

Pada 23 Juli 2026, aparat Polda Sulawesi Selatan menggerebek sebuah lokasi di Desa Padangloang Alau, Kecamatan Dua Pitue, Kabupaten Sidenreng Rappang. Sebanyak 11 orang ditemukan di tempat yang sekaligus dipakai untuk tinggal dan bekerja. Tiga di antaranya berusia 14–16 tahun. Polisi menyebut mereka direkrut, ditampung, dijerat utang, dan diberi bayaran yang tidak menentu untuk menjalankan penipuan daring melalui Facebook. Seorang pria berinisial HA kemudian ditetapkan sebagai tersangka. (tribratanews.sulsel.polri.go.id)

Kasus itu penting bukan hanya karena anak-anak dilibatkan dalam penipuan. Yang lebih mendasar adalah cara sebuah relasi eksploitatif dapat dipresentasikan sebagai hubungan kerja. Kata “pekerja” memang muncul dalam keterangan resmi, tetapi kata itu tidak otomatis berarti ada pekerjaan yang layak. Ia harus diuji dengan pertanyaan lain: apakah anak bebas menolak, apakah ia dapat pergi, siapa yang memegang uang, apakah ada jeratan utang, dan siapa yang menetapkan target?

Dalam kisah Ava dan Pepper, pertanyaan semacam itu muncul melalui kepolosan yang justru membongkar kebohongan orang dewasa. Pepper berkali-kali menolak disebut pengamen. Ia mengatakan dirinya hanya bermain musik. Namun, orang-orang yang lewat tetap memberikan uang, dan uang itu kemudian dipakai untuk kebutuhan hidupnya. Di sini, perbedaan antara “bermain” dan “bekerja” tidak dapat ditentukan hanya dari nama yang dipilih anak atau orang dewasa. Yang harus dilihat ialah kondisi materialnya: Pepper memainkan gitar karena membutuhkan uang, sementara ia tidak memiliki ruang aman, pendidikan yang teratur, atau pilihan ekonomi lain.

Kasus Sidrap memperlihatkan perubahan konteks dari gitar di jalan ke telepon genggam di tempat penampungan. Medianya berubah, tetapi relasi kuasanya dapat serupa. Anak tetap menjadi tenaga yang mudah dikendalikan, mudah disuruh, dan mudah disalahkan. Karena itu, menyebut mereka semata-mata “anak pelaku penipuan” berisiko menghapus keadaan yang membuat mereka berada di sana. Polisi sendiri menangani perkara tersebut sebagai dugaan perdagangan orang dan eksploitasi ekonomi terhadap anak, bukan hanya sebagai perkara penipuan biasa. (tribratanews.sulsel.polri.go.id)

Dari Papa yang berjudi ke target penipuan daring

Karya tersebut juga memperlihatkan bahwa ekonomi keluarga yang rusak sering dialihkan kepada anak. Papa Ava memperoleh uang dari Kakek Kia, tetapi uang itu habis untuk judi. Pertengkaran orang dewasa kemudian berputar pada uang, pekerjaan, dan kewajiban anak. Dalam salah satu percakapan, anak bahkan dihadapkan pada gagasan bahwa ia sudah cukup besar untuk mulai bekerja dan tidak boleh menghabiskan uang orang lain.

Kalimat semacam itu terdengar seperti nasihat tentang kemandirian. Namun, dalam konteks kekerasan dan ketimpangan, ia dapat berubah menjadi pembenaran untuk memindahkan tanggung jawab orang dewasa ke pundak anak. Anak diminta memahami kemiskinan, menyesuaikan diri dengan kemarahan orang tua, dan menerima bahwa kebutuhan dasarnya adalah beban.

Di Sidrap, dugaan jeratan utang menunjukkan pola yang lebih terstruktur. Anak-anak tidak sekadar diminta “membantu” menjual barang secara daring. Mereka disebut direkrut dan ditempatkan dalam sistem yang membuat pekerjaan, tempat tinggal, dan utang saling mengikat. Dengan kata lain, kemiskinan atau kebutuhan mencari uang tidak berdiri sendiri; ia dapat dimanfaatkan oleh perekrut untuk menciptakan ketergantungan.

Hubungan itu bukan berarti kisah dalam karya tersebut meramalkan kasus Sidrap. Perbandingannya bersifat analitis: keduanya memperlihatkan bagaimana krisis ekonomi orang dewasa dapat dibebankan kepada anak, lalu dibungkus dengan kata-kata seperti tanggung jawab, pekerjaan, atau bantuan keluarga. Dalam satu kasus, bebannya muncul di rumah dan jalanan. Dalam kasus lain, ia masuk ke ruang digital dan jaringan perekrutan.

Nama menentukan apakah anak dipandang sebagai korban

Ava belajar dari kamus. Ia mencari arti kata karena orang dewasa di sekelilingnya sering memakai istilah yang tidak ia pahami: legal, hukum, kurator, cerai, pengamen. Kebiasaan mencari arti itu menjadi cara kecil untuk melawan dunia yang terus menamai dirinya tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Pelajaran tersebut relevan bagi kasus Sidrap. Anak yang ditemukan di lokasi penipuan dapat dengan mudah diberi label “penipu”, “passobis”, atau “pelaku”. Label itu mungkin menggambarkan tindakan yang tampak di permukaan, tetapi belum tentu menjelaskan posisi mereka dalam jaringan. Ketika polisi menyebut adanya perekrutan, penampungan, jeratan utang, dan eksploitasi ekonomi, bahasa perkara bergeser: anak bukan hanya orang yang melakukan tindakan melawan hukum, melainkan juga pihak yang mungkin dikendalikan dan dieksploitasi. (tribratanews.sulsel.polri.go.id)

Pergeseran bahasa itu bukan soal kosmetik. Ia menentukan apakah anak akan diperiksa terutama untuk menghukum, atau dilindungi untuk memahami bagaimana ia direkrut, siapa yang mengancamnya, dan apa yang harus dipulihkan. Namun, bahasa hukum yang tepat juga tidak boleh berhenti sebagai keterangan konferensi pers. Ia harus tampak dalam pendampingan, asesmen psikologis, keberlanjutan pendidikan, perlindungan dari pembalasan, dan pemisahan yang aman dari jaringan perekrut.

Dari ruang publik ke ruang digital, eksploitasi tetap membutuhkan pengawasan

Pepper terlihat karena ia bermain gitar di pinggir jalan. Orang-orang dapat melihat tubuhnya, alat musiknya, dan uang yang berpindah tangan. Eksploitasi digital bekerja lebih senyap. Anak dapat berada di balik akun, nomor telepon, foto kendaraan, dan percakapan pribadi. Tempat kerjanya mungkin bukan trotoar, melainkan gazebo atau kamar sempit yang sekaligus menjadi tempat tidur.

Itulah perubahan konteks yang tidak boleh membuat negara kehilangan jejak. Ruang digital sering dianggap lebih modern dan lebih terampil, tetapi keterampilan memakai telepon bukan bukti bahwa anak telah dewasa atau bebas. Anak yang mampu menulis pesan persuasif tetap dapat menjadi korban perdagangan orang. Anak yang tampak aktif menawarkan barang tetap dapat bekerja di bawah tekanan.

Maka, batas antara kerja dan eksploitasi tidak boleh ditentukan oleh apakah anak menerima uang, apakah ia tampak cekatan, atau apakah ia melakukan tugas melalui internet. Batasnya terletak pada kebebasan, keselamatan, usia, kendali atas hasil kerja, dan ada tidaknya paksaan.

Di Tanah Lada mengajarkan bahwa anak sering kali dipaksa memahami dunia orang dewasa sebelum orang dewasa bersedia memahami posisi anak. Kasus Sidrap mengulang pertanyaan itu dalam bentuk baru: ketika anak disebut membantu, siapa sebenarnya yang sedang dibantu? Jika jawabannya adalah jaringan yang mengambil keuntungan dari ketakutan, utang, dan keterbatasan pilihan anak, maka istilah “kerja” tidak lagi cukup. Yang sedang berlangsung adalah eksploitasi—dan anak harus dibaca pertama-tama sebagai pihak yang perlu dilindungi, bukan sekadar nama yang ditambahkan ke daftar pelaku.

Sumber