Rusun Bukan Sekadar Atap: Pelajaran dari Nero untuk Relokasi Warga

Written by

in

Relokasi warga bantaran rel Pasar Senen memasuki tahap yang lebih konkret. Pemerintah menyatakan hunian baru dibangun sekitar 500 meter dari rel, dilengkapi MCK, akses air bersih, tempat ibadah, dan ruang bermain anak. Pada September 2026, sebagian warga telah menempati hunian sementara di Jalan Kramat Raya, Senen. Kawasan itu memiliki 324 unit, dengan fasilitas seperti tempat tidur, lemari, kipas angin, internet gratis, ruang terbuka hijau, dan area bermain. Sejumlah warga mengaku lebih nyaman dan tidak lagi mencemaskan anak-anak yang bermain dekat jalur kereta. (setkab.go.id)

Kabar itu patut disambut, tetapi tidak boleh segera ditutup dengan kesimpulan bahwa persoalan telah selesai. Justru di sinilah kisah dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’ memberi alat ukur yang lebih tajam: rumah layak bukan hanya bangunan yang lebih bersih daripada tempat sebelumnya. Rumah adalah tempat anak dapat tidur tanpa takut, makan tanpa cemas, belajar tanpa terganggu, dan tumbuh tanpa terus-menerus menebak apakah orang dewasa di sekelilingnya akan melindunginya.

Dari Rusun Nero ke Senen: Memindahkan anak berarti memindahkan seluruh hidupnya

Dalam ‘Di Tanah Lada’, Rusun Nero pertama-tama hadir melalui pengalaman tubuh anak. Ruang itu gelap, pengap, kotor, penuh kecoa, tikus, lumut, dan bau yang tidak jelas asalnya. Anak tidak memandangnya sebagai persoalan tata kota yang abstrak. Ia merasakan lantai, tangga, kamar, pintu, air, dan kegelapan sebagai sumber ketakutan sehari-hari.

Gambaran tersebut relevan untuk membaca relokasi Senen karena pemerintah sendiri menyebut warga telah tinggal puluhan tahun dalam hunian sempit di pinggir rel dengan fasilitas terbatas. Artinya, yang dipindahkan bukan sekadar bangunan darurat, melainkan keluarga yang telah membentuk jaringan sosial, rutinitas kerja, sekolah, dan cara bertahan hidup di lokasi lama. (setkab.go.id)

Hubungan pertama dengan kisah itu terletak pada soal kualitas dasar lingkungan. Jika Rusun Nero memperlihatkan bagaimana air, cahaya, sanitasi, dan ruang yang buruk membuat anak hidup dalam kewaspadaan, maka hunian baru Senen harus dinilai dari pertanyaan yang sama: apakah air tersedia secara konsisten, apakah kamar cukup aman dan tidak terlalu padat, apakah anak punya tempat bermain yang tidak berbahaya, dan apakah penerangan membuat mereka dapat bergerak tanpa rasa takut?

Daftar fasilitas memang penting, tetapi daftar bukan pengalaman. Ruang bermain akan berarti jika benar-benar dapat digunakan, dirawat, dan diawasi. Air bersih akan berarti jika tidak berhenti pada seremoni peresmian. MCK akan menjadi bagian dari perlindungan anak jika bersih, mudah dijangkau, dan aman bagi anak perempuan maupun laki-laki.

Hunian sementara tidak boleh menjadi ketidakpastian baru

Pemerintah sejak awal menyatakan program itu bukan hanya pemindahan, melainkan upaya menjaga warga tetap dekat dengan lingkungan sosial dan sumber penghidupan mereka. Pernyataan ini penting karena relokasi yang terlalu jauh dapat memutus akses kerja, sekolah, pasar, dan dukungan keluarga. (setkab.go.id)

Di dalam buku, perpindahan Ava ke Rusun Nero berlangsung sebagai keputusan orang dewasa yang tidak sepenuhnya dipahami atau disepakati anak. Ia kehilangan kamar, rutinitas, dan rasa memiliki terhadap tempat tinggal. Bahkan benda sederhana seperti kasur dan pintu kamar menjadi penanda bahwa hidupnya telah berubah tanpa kendali di tangannya.

Hubungan kedua dengan berita Senen muncul di sini: kedekatan lokasi baru merupakan kemajuan dibanding relokasi yang mencabut warga dari sumber kehidupan, tetapi belum otomatis menjamin keberlanjutan. Hunian Senen masih disebut sebagai hunian sementara. Pada 25 September 2026, warga menyatakan ingin tetap tinggal karena merasa aman dan nyaman, bahkan bersedia membayar selama biayanya sesuai kemampuan. Keinginan itu menunjukkan bahwa kualitas tempat tinggal telah dirasakan, tetapi juga mengungkap kecemasan yang belum selesai: setelah masa sementara berakhir, mereka akan tinggal di mana? (amp.suara.com)

Bagi anak, ketidakpastian semacam itu bukan soal administratif belaka. Ia dapat berarti kemungkinan pindah sekolah, kehilangan teman, kembali ke lingkungan berbahaya, atau hidup dalam kecemasan menunggu keputusan berikutnya. Karena itu, masa transisi harus memiliki jadwal yang jelas, mekanisme konsultasi warga, perlindungan biaya, dan kepastian bahwa anak tidak terlempar kembali ke kondisi semula.

Ruang bermain saja tidak cukup: anak memerlukan lingkungan yang merawat

‘Di Tanah Lada’ juga menunjukkan bahwa keselamatan anak tidak lahir dari bangunan semata. Ketika keluarga inti gagal memberi perlindungan, pertolongan justru muncul dari orang-orang di sekitar: anak pengamen, penjaga rusun, satpam, dan warga yang bersedia mendengar. Mereka membentuk jaringan perlindungan informal yang membuat ruang buruk tidak sepenuhnya kehilangan kemanusiaan.

Di sinilah hubungan ketiga dengan relokasi Senen menjadi penting. Hunian baru dapat memiliki kamera pengawas, internet gratis, ruang terbuka hijau, dan taman bermain, tetapi semua itu tetap bergantung pada tata kelola sosial. Siapa yang menjaga ketika anak mengalami kekerasan? Kepada siapa warga mengadu jika fasilitas rusak? Apakah ada pendampingan untuk keluarga yang kesulitan beradaptasi? Apakah sekolah dan layanan kesehatan mudah diakses?

Kamera tidak dapat menggantikan tetangga yang peduli. Taman bermain tidak otomatis menjadi ruang aman jika tidak ada pencahayaan, aturan penggunaan, dan pengawasan. Bahkan kedekatan antarunit dapat berubah menjadi masalah jika privasi keluarga tidak dihormati. Rumah layak harus memberi dua hal sekaligus: rasa aman untuk bersama dan ruang untuk tidak terus-menerus diawasi.

Ukuran keberhasilan harus dimulai dari kehidupan anak

Pembangunan hunian Senen memperlihatkan perubahan penting dalam cara negara memandang warga bantaran rel. Mereka tidak semestinya diperlakukan hanya sebagai penghalang tata ruang atau risiko keselamatan. Negara mulai mengakui hak mereka atas tempat tinggal yang lebih aman dan manusiawi. Namun, pengakuan itu baru menjadi kebijakan yang matang jika warga dilibatkan bukan hanya sebagai penerima kunci, melainkan sebagai penentu kebutuhan.

Pelajaran terbesar dari Rusun Nero adalah bahwa bangunan yang disebut rumah dapat tetap gagal menjadi rumah. Karena itu, keberhasilan relokasi tidak boleh diukur hanya dari jumlah unit yang selesai, kecepatan pembangunan, atau banyaknya keluarga yang dipindahkan. Ukurannya harus lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: apakah anak dapat tidur nyenyak, berjalan tanpa takut, bersekolah tanpa putus, bermain tanpa risiko, dan mengetahui kepada siapa ia dapat meminta bantuan.

Relokasi yang baik bukan sekadar menjauhkan warga dari rel. Ia harus mendekatkan mereka pada keselamatan, kepastian, dan martabat. Jika tidak, negara hanya memindahkan alamat—bukan memperbaiki masa depan.

Sumber