Setelah Diselamatkan, Anak Masih Harus Dipulihkan

Written by

in

Anak yang berhasil keluar dari ruang kekerasan sering segera disebut “selamat”. Istilah itu terdengar meyakinkan, tetapi terlalu cepat menutup perkara. Tubuh mungkin sudah dipindahkan, pelaku mungkin sudah ditangkap, dan proses hukum mungkin telah berjalan. Namun, rasa takut, kebingungan, rasa bersalah, kehilangan kepercayaan, dan putusnya pendidikan dapat tetap tinggal jauh setelah pintu bahaya tertutup.

Persoalan itulah yang membuat *Di Tanah Lada* tetap mengganggu. Buku berjudul *Di Tanah Lada* tidak menyajikan keselamatan sebagai satu kejadian tunggal. Ava dan Pepper memang berlari dari kekerasan, tetapi pelarian itu bukan garis akhir. Mereka masih harus memahami apa yang terjadi, mencari bahasa untuk menyebut luka, menimbang siapa yang dapat dipercaya, dan membayangkan hidup yang tidak selalu dikendalikan oleh ketakutan.

Berita tentang pendampingan korban anak di Palmerah, Jakarta Barat, memperlihatkan bahwa kebutuhan tersebut bukan sekadar gagasan sastra. Pada September 2026, Anggota Komisi VIII DPR RI Ina Ammania menekankan pentingnya pendampingan psikologis, perlindungan identitas, dan keberlanjutan pendidikan bagi remaja korban dugaan kekerasan seksual. Perkara hukumnya berjalan setelah seorang pria berusia 23 tahun ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka, tetapi perhatian terhadap korban tidak boleh berhenti pada perkembangan penyidikan. (metrotvnews.com)

Aman dari pelaku belum berarti aman dari luka

Dalam kisah Ava, kekerasan tidak hanya hadir sebagai pukulan atau teriakan. Ia meresap ke dalam cara anak menilai rumah, orang dewasa, nama, dan dirinya sendiri. Ava memahami dunia melalui kamus karena bahasa orang dewasa sering tidak menjelaskan kenyataan, bahkan menyembunyikannya. Ia mencari arti kata “hukum”, “legal”, “cerai”, dan “bahagia”, seolah-olah setiap istilah adalah pintu menuju kebenaran yang tidak diberikan kepadanya.

Pepper mengalami hal serupa melalui tubuh dan ingatannya. Ia pernah dibuang ke tong sampah, tidak bersekolah, dan hidup tanpa kepastian tentang siapa yang akan menjaganya. Ketika akhirnya bertemu orang yang memperlakukannya dengan lebih manusiawi, ia tidak serta-merta menjadi anak yang pulih. Ia masih marah, ragu, gentar, dan kesulitan mengenali rasa senang.

Di sinilah berita Palmerah berhubungan langsung dengan pengalaman kedua anak tersebut. Pendampingan psikologis bukan tambahan yang diberikan setelah urusan utama selesai. Ia justru bagian dari urusan utama. Perlindungan identitas mencegah korban mengalami penghukuman sosial berulang, sementara keberlanjutan pendidikan menjaga agar kekerasan tidak merampas seluruh masa depannya. Anak yang aman secara fisik tetapi kehilangan sekolah, teman, nama baik, dan kendali atas ceritanya belum sepenuhnya diselamatkan.

Pemulihan harus lebih panjang daripada pemberitaan

Kekerasan terhadap anak kerap memperoleh perhatian besar ketika peristiwanya baru terjadi. Publik mengikuti penangkapan, konferensi pers, atau perkembangan penyidikan. Setelah itu, sorotan beralih. Bagi korban, waktunya justru dapat bergerak lebih lambat. Pemeriksaan berulang, perubahan tempat tinggal, tatapan orang sekitar, dan pertanyaan tentang kejadian yang sama dapat memperpanjang rasa takut.

Karena itu, langkah pemerintah untuk memperkuat layanan terpadu bagi korban perempuan dan anak penting dibaca sebagai perubahan ukuran keberhasilan. Dalam rapat lintas kementerian pada Agustus 2026, Kemenko PMK menyatakan bahwa korban perlu memperoleh pemulihan jangka panjang yang mencakup aspek medis, psikologis, dan reintegrasi sosial, bukan hanya pendampingan ketika krisis berlangsung. (kemenkopmk.go.id)

Gagasan tersebut sejalan dengan arsitektur cerita *Di Tanah Lada*. Buku ini bergerak melalui banyak ruang—rumah, rusun, kamar mandi, kamar kardus, rumah tukang sate, perjalanan, hingga laut—karena kekerasan tidak pernah tinggal di satu lokasi. Ia berpindah bersama anak. Ketika tempat berubah, ingatan dan kewaspadaan tidak otomatis hilang.

Ava dan Pepper perlu lebih dari sekadar tempat baru. Mereka memerlukan orang yang bersedia menunggu ketika mereka diam, mendengar ketika mereka mengulang pertanyaan, dan tidak memaksa mereka segera tampak bahagia. Dalam kerangka itu, pemulihan bukan proyek untuk membuat anak kembali terlihat normal. Pemulihan adalah proses mengembalikan hak anak untuk menentukan tempo, suara, hubungan, dan arah hidupnya sendiri.

Sekolah dan keluarga tidak boleh menjadi panggung pemulihan semu

Keberlanjutan pendidikan sering diperlakukan sebagai urusan administratif: anak kembali terdaftar, masuk kelas, lalu dianggap kembali ke kehidupan normal. Padahal, sekolah dapat menjadi ruang pemulihan hanya jika mampu membaca perubahan perilaku, menyediakan dukungan psikologis, melindungi kerahasiaan, dan mencegah korban dijadikan bahan gosip atau stigma.

Dalam kasus anak korban dugaan kekerasan seksual di Tanjungbalai, Kementerian PPPA menegaskan pentingnya pendampingan hukum, layanan kesehatan dan psikologis, perlindungan identitas, serta koordinasi dengan sekolah agar hak pendidikan tetap terpenuhi. Pemerintah juga menyebut rehabilitasi psikososial harus berlangsung sampai korban pulih dan dapat kembali menjalani kehidupan dengan baik. (suara.com)

Hubungan dengan Pepper terlihat jelas, meski ini merupakan perbandingan, bukan klaim bahwa kisahnya menggambarkan kasus tersebut. Pepper tidak hanya membutuhkan sekolah karena ia belum pernah mengenyam pendidikan. Ia membutuhkan sekolah sebagai tempat untuk mengalami masa depan yang berbeda dari masa lalunya. Pendidikan bagi Pepper bukan sekadar pelajaran membaca atau berhitung, melainkan kesempatan untuk memiliki rutinitas, kawan, pengetahuan, dan identitas yang tidak ditentukan oleh jalanan atau kekerasan.

Hal yang sama berlaku bagi keluarga. Kepulangan kepada ibu tidak otomatis menghapus masa ketika Ava diabaikan, ditakuti, dan dipaksa memikul ketakutan orang dewasa. Pelukan Mama di akhir cerita penting, tetapi tidak boleh dibaca sebagai penghapus luka. Ia adalah awal dari janji yang masih harus dibuktikan melalui tindakan sehari-hari.

Kebahagiaan bukan kesimpulan, melainkan pekerjaan panjang

Akhir *Di Tanah Lada* menghadirkan laut, cahaya, nama baru, dan kemungkinan hidup bersama. Namun, karya tersebut sendiri mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang sebagai fakta yang selesai. Bahkan pengarangnya, dalam pengantar edisi baru, mengakui kegelisahan terhadap akhir yang tampak bahagia dan membuka ruang bagi pembaca untuk mempertanyakan apakah anak-anak itu benar-benar telah terbebas.

Keraguan itu justru membuat buku ini penting dibaca bersama berita tentang pemulihan korban. Negara boleh menyatakan telah memberi pendampingan, tetapi ukuran akhirnya bukan banyaknya rapat, layanan, atau berkas perkara. Ukurannya adalah apakah anak dapat tidur tanpa terus-menerus merasa terancam, kembali belajar tanpa dipermalukan, berbicara tanpa diragukan, dan membangun relasi tanpa selalu menunggu pengkhianatan.

Pemulihan juga menuntut kesinambungan. Kemenko PMK menyebut perlunya layanan yang cepat, aman, terpadu, dan berkelanjutan; Kementerian PPPA menekankan pemulihan sampai anak kembali menjalani kehidupannya; sementara kasus Palmerah menunjukkan bahwa proses hukum harus berjalan berdampingan dengan dukungan psikologis dan pendidikan. (metrotvnews.com)

Dengan demikian, penyelamatan hanyalah pintu pertama. Setelah itu, anak membutuhkan waktu, pendamping yang konsisten, sekolah yang aman, keluarga yang belajar berubah, dan negara yang tidak menghilang ketika pemberitaan mereda. Ava dan Pepper mengajarkan bahwa anak tidak cukup dibawa keluar dari bahaya. Mereka harus dibantu untuk percaya bahwa hidup mereka lebih luas daripada kekerasan yang pernah menimpa mereka.

Keadilan bagi anak baru mendekati maknanya ketika keselamatan tidak berhenti pada tubuh yang selamat, melainkan berlanjut menjadi kesempatan untuk merasa berharga, memiliki masa depan, dan—tanpa dipaksa segera melupakan luka—menemukan kebahagiaan dengan cara mereka sendiri.

Sumber