Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, anak-anak tidak pernah hadir sebagai angka yang selesai dijelaskan oleh orang dewasa. Ava mengenal dunia melalui kata-kata yang belum ia pahami, sementara Pepper harus hidup dengan nama, asal-usul, dan keluarga yang lebih sering dibicarakan orang lain daripada ditanyakan kepadanya. Mereka menunjukkan satu hal penting: sebuah kategori mungkin diperlukan untuk mengatur layanan, tetapi kategori tidak boleh menggantikan manusia yang berada di baliknya.
Persoalan itu kembali terlihat dalam kabar tentang anak dengan HIV di Sidoarjo. Pada Juli 2026, publik ramai membicarakan angka 522 anak atau pelajar dengan HIV. Data tersebut berasal dari catatan Delta Crisis Center hingga 1 Juli 2026 dan mencakup kelompok usia sekolah sampai mahasiswa. Namun, Dinas Kesehatan Sidoarjo kemudian menjelaskan bahwa angka itu bukan jumlah kasus baru dalam satu waktu. Data pemerintah daerah mencatat 60 kasus pada kelompok usia 11–17 tahun sejak 2001 hingga pertengahan 2026, dengan 53 anak masih hidup dan menjalani pengobatan atau pendampingan. (rri.co.id)
Perbedaan itu bukan alasan untuk menganggap persoalan selesai. Justru, ia memperlihatkan betapa berbahayanya angka yang beredar tanpa konteks. Anak dapat berubah menjadi bahan kepanikan, sementara kebutuhan mereka—obat, sekolah, privasi, dan dukungan emosional—menghilang di balik perdebatan mengenai angka mana yang paling benar.
Ketika angka mengambil alih wajah anak
Di dunia Ava, kata-kata sering datang lebih cepat daripada pemahaman. Ia mencari arti “hukum”, “cerai”, “legal”, dan “hidup”, tetapi mengetahui definisi tidak otomatis membuat situasinya aman. Bahasa orang dewasa dapat menjelaskan sesuatu sekaligus menyembunyikan pengalaman yang sedang berlangsung.
Hal serupa terjadi ketika isu HIV dibicarakan hanya melalui jumlah kasus. Angka 522 dapat menjadi tanda bahwa layanan deteksi dan pendampingan menjangkau kelompok usia yang luas. Namun, angka yang sama juga dapat disalahpahami sebagai ledakan kasus baru dan memicu prasangka terhadap anak-anak di sekolah. Klarifikasi pemerintah bahwa data 522 merupakan data akumulatif atau berasal dari cakupan pendampingan yang berbeda semestinya dibaca sebagai pelajaran tentang ketelitian, bukan sebagai pembatalan terhadap kebutuhan perlindungan. (portaljtv.com)
Hubungan pertama dengan kisah Ava dan Pepper terletak di sini: anak tidak boleh dibiarkan hidup sebagai label yang tidak mereka mengerti. Negara, sekolah, media, dan keluarga wajib menjelaskan data secara hati-hati, melindungi identitas, serta memastikan bahwa informasi kesehatan tidak berubah menjadi hukuman sosial.
ARV bukan sekadar obat, melainkan kesinambungan hidup
Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyerukan agar anak dengan HIV memperoleh terapi antiretroviral, layanan kesehatan yang ramah anak, dukungan psikososial, dan pendidikan tanpa diskriminasi. Seruan itu penting karena pengobatan tidak berdiri sendiri. Anak membutuhkan kesinambungan: obat yang tersedia, tenaga kesehatan yang dapat dipercaya, pendamping yang memahami kondisi mereka, dan sistem yang tidak membuat mereka berulang kali menjelaskan luka yang sama. (tvonenews.com)
Dalam ‘Di Tanah Lada’, keselamatan juga tidak pernah selesai ketika Ava dan Pepper menemukan kendaraan, kamar, atau orang dewasa yang tampak baik. Mereka tetap membutuhkan seseorang yang mengingat siapa mereka, memahami ketakutan mereka, dan tidak meninggalkan mereka setelah keadaan darurat lewat. Tempat tinggal baru tidak otomatis menjadi rumah; pertolongan awal tidak otomatis menjadi pemulihan.
Itulah hubungan kedua dengan kasus Sidoarjo. Memberikan ARV bukan sekadar menyerahkan obat di fasilitas kesehatan. Pemerintah harus memastikan anak tidak putus pengobatan, tidak hilang dari pemantauan, dan tidak terpaksa menyembunyikan statusnya karena takut ditolak. KPAI sebelumnya juga menyoroti risiko anak mengalami kehilangan tindak lanjut serta persoalan ketersediaan obat yang sesuai untuk anak. (kpai.go.id)
Jika pengobatan berhenti karena keluarga takut datang ke layanan, karena sekolah menyebarkan informasi pribadi, atau karena pendampingan tidak berlanjut, kegagalan itu tidak dapat dibebankan kepada anak. Anak tidak boleh diperlakukan seolah-olah bertanggung jawab penuh atas sistem yang tidak konsisten.
Sekolah harus menjadi ruang tumbuh, bukan ruang pemeriksaan
KPAI menegaskan bahwa anak dengan HIV tetap berhak memperoleh pendidikan tanpa diskriminasi. Prinsip ini bukan tambahan yang baik jika memungkinkan. Ia merupakan bagian dari pengobatan sosial: sekolah memberi rutinitas, pertemanan, rasa memiliki, dan kesempatan untuk melihat dirinya lebih luas daripada diagnosis. (tvonenews.com)
Pepper memahami dunia melalui gitar, percakapan, buku, dan hubungan dengan Ava. Ia tidak direduksi menjadi anak jalanan, anak tanpa nama, atau anak dari keluarga bermasalah. Justru melalui perjumpaan dengan orang lain, ia memperoleh kesempatan untuk menjadi seseorang yang memiliki kemampuan, selera, kecemasan, dan masa depan.
Di sinilah hubungan ketiga dengan berita Sidoarjo menjadi tegas. Anak dengan HIV tidak boleh dipindahkan dari sekolah hanya karena orang dewasa takut, tidak paham cara penularan, atau ingin menghindari masalah. Pendidikan kesehatan memang harus diperkuat, tetapi edukasi tidak boleh menggunakan anak yang hidup dengan HIV sebagai contoh yang mudah dikenali. Sekolah harus melindungi kerahasiaan, mencegah perundungan, dan melatih guru agar mampu merespons tanpa mempermalukan.
KPAI sendiri mencatat bahwa lingkungan pendidikan masih menjadi ruang penting bagi persoalan perundungan, kekerasan, dan diskriminasi. Karena itu, jaminan bersekolah tidak cukup ditulis dalam imbauan. Ia harus terlihat dalam prosedur penerimaan murid, penanganan informasi kesehatan, komunikasi dengan keluarga, dan mekanisme pengaduan yang aman. (kpai.go.id)
Jangan biarkan penyakit menjadi nama kedua anak
Perdebatan tentang angka 522 memperlihatkan dua risiko sekaligus. Pertama, data dapat dibesar-besarkan hingga memproduksi kepanikan. Kedua, klarifikasi dapat berhenti pada koreksi angka tanpa membahas kehidupan anak yang benar-benar membutuhkan layanan. Keduanya sama-sama merugikan jika membuat anak kembali tidak terlihat.
Pelajaran paling penting dari ‘Di Tanah Lada’ bukan bahwa anak selalu memiliki jawaban. Justru sebaliknya, anak sering belum tahu apa yang sedang terjadi. Karena itu, orang dewasa wajib menghadirkan penjelasan yang jujur, layanan yang berkelanjutan, dan perlindungan yang tidak memaksa anak menanggung rasa malu atas sesuatu yang bukan kesalahannya.
Anak dengan HIV bukan kasus berjalan. Ia bukan angka viral, bukan diagnosis yang boleh dibocorkan, dan bukan alasan untuk menutup pintu sekolah. Ia adalah anak yang harus minum obat, bertemu teman, belajar, bermain, marah, tertawa, dan merancang masa depan seperti anak lainnya. Ukuran keberhasilan negara bukan hanya berapa banyak kasus yang ditemukan, melainkan apakah setelah ditemukan, anak tetap dapat hidup tanpa kehilangan nama, ruang, dan harapan.
Sumber
- tirto.id: Heboh 522 Anak Kena Hiv Di Sidoarjo Dinkes Ungkap Faktanya Hacd
- detik.com: Amp
- RRI: Ratusan Pelajar Sidoarjo Terpapar Hiv Disdik Siapkan Mitigasi Pencegahan
- jagaranews.com: Kasus Hiv Pada Anak Dan Remaja Di Sidoarjo Jadi Sorotan Tercatat 522 Odhiv Usia Sekolah Hingga Mahasiswa
- Buku Di Tanah Lada — Gramedia