Kehadiran ayah sedang didorong menjadi agenda publik. Pada 30 Juli 2026, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menyebut 25,8 persen anak kehilangan peran ayah atau hidup dalam kondisi *fatherless*. Pemerintah menekankan bahwa ayah ideal bukan hanya hadir secara fisik, melainkan juga secara psikologis, mampu berkomunikasi, berbagi pengasuhan, dan mendisiplinkan anak tanpa kekerasan. (antaranews.com)
Arah itu penting. Namun, slogan “Ayah Wajib Hadir” mengandung persoalan yang tidak boleh dilewati: hadir untuk siapa, diukur dari apa, dan bagaimana jika kehadiran ayah justru membuat anak takut? Dalam buku berjudul *Di Tanah Lada*, pertanyaan tersebut tidak disampaikan sebagai teori pengasuhan. Ia muncul dari tubuh dan ingatan Ava serta Pepper—dua anak yang mengenali keluarga bukan melalui definisi ideal, melainkan melalui teriakan, uang, luka, kamar yang tidak aman, dan orang dewasa yang gagal mengendalikan dirinya.
Hadir di rumah bukan berarti hadir dalam hidup anak
Papa Ava dan Pepper bukan sosok yang hilang secara fisik. Ia ada di rumah, berbicara, mengambil keputusan, dan menguasai uang. Tetapi kehadiran itu tidak menghasilkan rasa aman. Papa menjadi sumber bentakan, ancaman, pemborosan, bahkan kekerasan. Di mata anak, tubuh seorang ayah tidak otomatis berarti perlindungan. Ia bisa menjadi pusat bahaya yang membuat rumah kehilangan maknanya.
Di sinilah buku ini memperluas arti data tentang *fatherless*. Angka 25,8 persen penting untuk menunjukkan skala persoalan, tetapi tidak boleh membuat ketidakhadiran ayah dipahami hanya sebagai ayah yang bekerja jauh, meninggal, bercerai, atau tidak tinggal serumah. Pemerintah sendiri menyatakan bahwa *fatherless* mencakup ketidakhadiran secara fisik maupun emosional. (infopublik.id) Artinya, seorang anak bisa saja tinggal satu alamat dengan ayahnya, tetapi tetap tumbuh tanpa pendampingan, perhatian, atau perlindungan.
Bahkan, dalam situasi tertentu, masalahnya bukan ketiadaan ayah, melainkan kehadiran ayah yang merusak. Karena itu, kebijakan keluarga tidak cukup mengajak laki-laki pulang ke rumah. Negara harus memastikan bahwa rumah menjadi ruang yang tidak menormalisasi ancaman, hukuman fisik, dan ketakutan.
Ayah bukan sekadar pencari nafkah atau pemegang kuasa
Pertengkaran tentang uang dalam *Di Tanah Lada* memperlihatkan hubungan lain antara berita dan kisah Ava. Papa dipersoalkan karena menghabiskan uang, sementara keluarga bergantung pada keputusan finansial yang tidak dapat diprediksi. Uang di sana bukan sekadar alat transaksi. Ia menentukan makanan, tempat tinggal, hubungan antarorang dewasa, dan kemungkinan anak memiliki masa depan.
Karena itu, kehadiran ayah tidak boleh diukur hanya dari kemampuannya mencari nafkah. Jika penghasilan digunakan untuk mempertahankan kuasa, melampiaskan kemarahan, atau menghindari tanggung jawab, maka status pencari nafkah tidak cukup untuk disebut pengasuhan. Anak tidak hanya membutuhkan biaya hidup. Mereka membutuhkan orang dewasa yang dapat dipercaya ketika uang sedang sedikit, ketika konflik muncul, dan ketika keputusan keluarga harus dibuat.
Kampanye Gerakan Ayah Teladan Indonesia menyebut empat dimensi keterlibatan ayah: interaksi, aksesibilitas, tanggung jawab, dan keterlibatan domestik. (gati.kemendukbangga.go.id) Kerangka ini patut diapresiasi karena memperluas peran ayah melampaui ekonomi. Namun, ukurannya perlu dibuat lebih keras: apakah ayah mendengar ketika anak berkata takut? Apakah ia meminta maaf setelah melukai? Apakah ia bersedia menerima batasan? Apakah ia membiarkan ibu dan anak mengambil keputusan tanpa ancaman?
Tanpa pertanyaan itu, keterlibatan domestik dapat berubah menjadi daftar kegiatan yang mudah dipotret, sementara pola kekuasaan di rumah tetap sama.
Anak harus menjadi ukuran keberhasilan kampanye ayah
Kehadiran ayah kerap dipamerkan melalui momen yang mudah dikenali: mengantar anak ke sekolah, mengambil rapor, menemani kegiatan, atau tampil dalam acara keluarga. Semua itu dapat menjadi pintu masuk yang baik, tetapi belum membuktikan bahwa anak merasa aman. Anak mungkin bersedia berdiri di samping ayahnya di depan kamera, sambil tetap menyimpan ketakutan ketika pintu rumah ditutup.
Ava menunjukkan mengapa pengalaman anak harus menjadi ukuran utama. Ia belajar arti “hukum”, “cerai”, “legal”, dan “kebenaran” melalui kamus karena dunia orang dewasa terlalu sering menyimpan penjelasan. Pengetahuan itu tidak langsung menyelamatkannya. Ia tetap harus menafsirkan sendiri mengapa ayah marah, mengapa keluarga pecah, dan mengapa orang yang seharusnya melindungi dapat menjadi sumber ancaman.
Maka, kampanye publik tentang ayah perlu menyediakan ruang evaluasi yang tidak hanya bertanya apakah ayah hadir, tetapi apakah anak dapat berbicara tanpa takut dibalas, apakah ia punya tempat meminta pertolongan, dan apakah ada mekanisme ketika ayah melanggar. Perlindungan anak tidak boleh bergantung pada harapan bahwa setiap ayah akan berubah setelah mendengar slogan.
Mas Alri menunjukkan bahwa keayahan adalah tanggung jawab
Sosok Mas Alri memberi pembanding penting. Ia bukan ayah biologis Ava dan Pepper, tetapi ia hadir dengan cara yang lebih mendekati pengasuhan: mendengar, mengantar, merawat luka, membeli pakaian, memastikan mereka makan, dan menolak membiarkan mereka menempuh perjalanan berbahaya sendirian. Ia tidak selalu tahu jawaban. Ia juga mengaku takut kehilangan mereka. Justru karena itu, ia tidak menyamarkan kepedulian sebagai kuasa.
Ketika Pepper ingin melarikan diri, Mas Alri tidak sekadar memerintah. Ia menjelaskan risiko, mengakui keinginan Pepper untuk pergi, lalu menawarkan jalan yang lebih aman. Di sini, kehadiran tidak berarti mengambil alih suara anak. Kehadiran berarti menanggung beban keputusan tanpa merampas martabat anak.
Pesan itu seharusnya menjadi inti Gerakan Ayah Teladan. Ayah tidak cukup hadir sebagai figur yang terlihat. Ia harus hadir sebagai orang dewasa yang sanggup mengendalikan kekerasan, berbagi kerja perawatan, menerima kritik, dan memastikan anak memiliki jalan keluar ketika rumah tidak aman. Jika tidak, kampanye “Ayah Wajib Hadir” berisiko mengulang kesalahan lama: memusatkan perhatian pada ayah, sementara pengalaman anak kembali menjadi latar.
Keselamatan harus mendahului kebanggaan keluarga
Keluarga memang penting, tetapi keluarga tidak boleh diperlakukan sebagai benteng yang selalu benar. *Di Tanah Lada* menunjukkan bahwa seorang anak dapat mencintai ayahnya sekaligus takut kepadanya. Ia dapat berharap ayahnya berubah sambil tetap membutuhkan jarak. Dua hal itu tidak saling meniadakan.
Karena itu, ukuran keberhasilan kebijakan keayahan bukan banyaknya ayah yang hadir dalam acara, melainkan berkurangnya rasa takut anak di rumah. Negara perlu menghubungkan kampanye pengasuhan dengan pencegahan kekerasan, layanan konseling, mekanisme pelaporan, pendidikan bagi ayah, dan dukungan bagi ibu yang selama ini memikul beban perawatan sendirian.
Ayah memang wajib hadir. Namun, anak berhak menentukan apakah kehadiran itu terasa sebagai perlindungan atau ancaman. Tugas negara bukan hanya memanggil ayah pulang, melainkan memastikan bahwa ketika ia tiba, anak tidak perlu bersembunyi.
Sumber
- ANTARA News: Kemendukbangga Ayah Ideal Mampu Hadir Secara Fisik Dan Psikologis
- infopublik.id: 8 Persen Anak Indonesia Kehilangan Peran Ayah
- gati.kemendukbangga.go.id: 2Abd4F5F 76Ad 4Aff 8F84 5Df701521E09
- badiklat-jember.kemendukbangga.go.id: 355087F4 908B 453B B46C 6B8C4Fde4328 Webinar Harganas 2026 Kelas Gerakan Ayah Teladan
- Buku Di Tanah Lada — Gramedia