Kebiasaan Baik Tidak Sama dengan Rumah yang Aman

Written by

in

Sekolah memang perlu membantu anak bangun pagi, belajar teratur, makan sehat, berolahraga, bermasyarakat, dan tidur cukup. Masalahnya muncul ketika semua itu diperlakukan seolah-olah sudah cukup untuk membentuk anak yang baik. Anak bukan mesin yang dapat menghasilkan karakter setelah menerima jadwal harian, poster motivasi, dan daftar centang.

Pada 1 Oktober 2026, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti kembali menekankan bahwa pendidikan Pancasila tidak berhenti pada pelajaran di kelas, tetapi harus hadir melalui budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, pembiasaan, dan pengalaman nyata peserta didik. Arah ini sejalan dengan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat. Pemerintah juga menempatkan kebiasaan tersebut dalam kerangka sekolah yang aman dan nyaman. (cerdasberkarakter.kemendikdasmen.go.id)

Gagasannya masuk akal. Anak membutuhkan ritme. Namun, kebiasaan baik baru bernilai pendidikan apabila tumbuh dari lingkungan yang membuat anak merasa aman untuk gagal, bertanya, mengaku takut, dan meminta pertolongan. Di sinilah kisah Ava dan Pepper dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’ memberi ujian yang lebih keras daripada slogan kampanye.

Kebiasaan tidak dapat menggantikan rasa aman

Ava adalah anak yang berusaha memahami dunia lewat kata-kata. Ia membuka kamus untuk mencari arti hukum, legal, cerai, kebenaran, dan hidup. Ia ingin membuat pengalaman yang membingungkan menjadi sesuatu yang dapat dipahami. Namun, pengetahuan itu tidak serta-merta menyelamatkannya dari pertengkaran orang dewasa, rumah yang tidak aman, atau rasa takut kehilangan orang yang ia sayangi.

Hubungan ini penting ketika negara mendorong pembiasaan sebagai jalan pembentukan karakter. Seorang anak dapat bangun pagi setiap hari, rajin membaca, dan makan sesuai jadwal, tetapi tetap hidup dalam kecemasan apabila rumahnya dipenuhi kekerasan, pengabaian, atau ketidakpastian. Rutinitas dapat memberi struktur, tetapi tidak bisa sendirian menjawab pertanyaan paling dasar: siapa yang akan datang ketika anak menangis, siapa yang mempercayai ceritanya, dan siapa yang memastikan orang dewasa tidak menyalahgunakan kuasa?

Karena itu, kampanye kebiasaan baik tidak boleh diukur hanya dari kepatuhan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah anak menjadi lebih mampu mengenali perasaannya, berkomunikasi, mencari pertolongan, dan memahami bahwa kesalahan tidak membuatnya kehilangan hak untuk disayangi. Pendidikan karakter yang mengabaikan pertanyaan itu mudah berubah menjadi disiplin moral: anak dinilai baik karena tertib, bukan karena lingkungan telah membantunya berkembang.

Sekolah aman bukan sekolah yang sekadar tertib

Pemerintah telah merumuskan budaya sekolah aman dan nyaman sebagai lingkungan yang menjamin keamanan fisik, psikologis, sosial, spiritual, dan digital warga sekolah. Pendekatan tersebut secara resmi diarahkan pada pencegahan, penanganan, kolaborasi, serta penghormatan terhadap hak anak. (cerdasberkarakter.kemendikdasmen.go.id)

Kerangka ini penting karena memperlihatkan perubahan konteks: pembiasaan tidak lagi semestinya dibaca sebagai daftar perilaku pribadi, melainkan sebagai bagian dari ekosistem. Anak tidak mungkin diajari bermasyarakat jika ia dipermalukan di depan kelas. Ia tidak dapat belajar menghormati orang lain jika guru menggunakan ancaman sebagai metode pengajaran. Ia tidak akan merasa aman hanya karena sekolah memiliki tata tertib, sementara laporan kekerasan berhenti di ruang kepala sekolah.

Di Rusun Nero, tempat tinggal Ava dan Pepper, masalahnya bukan hanya bangunan yang kotor, gelap, atau penuh kecoa. Bahayanya terletak pada relasi yang membuat seorang anak tidak berdaya: orang dewasa menguasai uang, ruang, gerak, dan informasi. Sekolah pun dapat mengalami persoalan serupa dalam bentuk yang lebih rapi. Koridor bersih dan upacara tertib tidak menjamin keselamatan jika anak takut berbicara kepada guru atau jika “kedisiplinan” digunakan untuk menutup keluhan.

Maka, setiap kebiasaan harus diuji dengan pertanyaan sederhana: apakah ia memperluas rasa aman anak atau hanya memudahkan pengawasan orang dewasa? Bangun pagi dapat menjadi kebiasaan sehat, tetapi bukan alasan untuk mengabaikan anak yang tidur buruk karena mengalami kecemasan. Gemar belajar dapat menjadi kebajikan, tetapi bukan dalih untuk menutup mata terhadap anak yang tidak mampu berkonsentrasi karena kekerasan di rumah.

Anak boleh menjadi teladan, tetapi bukan penanggung jawab utama

Program Sahabat Sekolah Dasar menempatkan murid sebagai agen perubahan untuk menguatkan empati, toleransi, kerja sama, kepedulian, dan budaya sekolah yang aman serta nyaman. Arah ini menarik karena anak tidak hanya diposisikan sebagai penerima aturan, tetapi juga sebagai subjek yang dapat memengaruhi lingkungan sebayanya. (ditsd.kemendikdasmen.go.id)

Namun, pengalaman Ava dan Pepper mengingatkan adanya batas yang tidak boleh dilampaui. Ava menolong Pepper karena ia mendengar, melihat, dan peduli. Pepper pun mencari perlindungan melalui orang-orang yang dianggap dapat dipercaya. Anak-anak itu memiliki keberanian dan solidaritas, tetapi mereka tidak semestinya dipaksa menjadi petugas perlindungan bagi sesamanya.

Jika sekolah meminta murid menjadi teladan, pelopor, atau pelapor, tugas itu harus disertai pendampingan orang dewasa, mekanisme pengaduan yang aman, dan jaminan bahwa anak tidak akan menghadapi pembalasan. Anak boleh membantu temannya menemukan pintu pertolongan. Ia tidak boleh diminta menyelesaikan kekerasan, mengawasi perilaku teman, atau menanggung akibat dari kegagalan sekolah melindungi korban.

Di titik ini, pembiasaan karakter harus kembali pada makna pendidikan yang lebih luas. Karakter bukan sekadar kebiasaan yang diulang sampai otomatis. Ia juga kemampuan untuk meragukan ketidakadilan, mengakui rasa takut, menyayangi tanpa menguasai, dan memahami bahwa orang dewasa bertanggung jawab atas ruang yang mereka ciptakan.

Yang harus dibiasakan adalah kehadiran orang dewasa

Negara tidak perlu meninggalkan kampanye kebiasaan baik. Yang perlu ditinggalkan adalah anggapan bahwa kebiasaan dapat bekerja tanpa dukungan sosial. Bangun pagi membutuhkan rumah yang tidak penuh ketakutan. Makan sehat membutuhkan akses dan kemampuan ekonomi. Gemar belajar membutuhkan waktu, ruang, dan orang dewasa yang tidak meremehkan pertanyaan. Tidur cepat membutuhkan tubuh yang tidak terus-menerus berjaga.

Dengan demikian, pembiasaan harus berjalan bersama konseling yang mudah diakses, guru yang terlatih, perlindungan dari kekerasan, komunikasi dengan keluarga, serta ruang bagi anak untuk menyampaikan pengalaman tanpa segera dihakimi. Pemerintah sendiri menyebut penguatan budaya sekolah aman perlu didukung pendampingan bimbingan konseling, peningkatan kapasitas pendidik, dan perbaikan sarana pembelajaran. (paudpedia.kemendikdasmen.go.id)

Pelajaran terpenting dari Ava dan Pepper bukanlah bahwa anak harus lebih tertib. Pelajarannya adalah bahwa anak membutuhkan orang dewasa yang konsisten ketika dunia di sekelilingnya tidak masuk akal. Kebiasaan baik dapat membantu anak menata hari. Hanya relasi yang aman yang dapat membuatnya percaya bahwa hari esok layak dijalani.

Sumber