Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, pertolongan pertama tidak datang dari kantor, formulir, atau lembaga yang sejak awal sudah mengetahui keadaan Ava dan Pepper. Ia datang dari tempat yang lebih sederhana: warung sate. Ketika dua anak itu berjalan malam-malam, membawa luka, lapar, dan rencana yang terlalu besar untuk ukuran mereka, Bu Tukang Sate tidak mengubah mereka menjadi urusan yang harus segera disingkirkan. Ia memberi makan, menanyakan keadaan, menyediakan tempat tidur, lalu mulai memikirkan keselamatan mereka.
Adegan itu penting bukan karena warung dapat menggantikan negara. Justru sebaliknya: warung memperlihatkan titik pertama ketika perlindungan sering kali dimulai, sebelum negara mengetahui apa yang terjadi. Di ruang publik informal seperti warung, kios, bengkel, rumah tetangga, atau tempat ibadah, anak dapat terlihat oleh orang dewasa yang tidak memiliki jabatan perlindungan anak, tetapi masih memiliki kesempatan untuk menghentikan bahaya agar tidak berlanjut.
Warung melihat anak lebih dahulu, tetapi negara harus mengambil alih tanggung jawab
Kabar dari Surabaya pada 29 September 2026 menunjukkan pola yang serupa. Laporan warga mengenai seorang anak yang diduga diajak ibunya mengamen hingga malam hari ditindaklanjuti pemerintah kota melalui penelusuran dan kunjungan ke rumah. Pemerintah tidak hanya menghentikan aktivitas anak di jalan, tetapi juga menilai kondisi keluarga dan menawarkan penguatan keterampilan kepada ibunya, termasuk pelatihan menjahit serta kemungkinan usaha makanan ringan. (surabaya.go.id)
Di sinilah perbedaan antara belas kasihan dan perlindungan menjadi jelas. Orang yang melihat anak mengamen mungkin dapat memberi uang, makanan, atau tempat duduk. Namun, pemberian itu belum menjawab mengapa anak berada di jalan, apakah ia aman ketika pulang, apakah ia bersekolah, dan siapa yang akan memastikan keadaan tidak berulang keesokan harinya.
Bu Tukang Sate melakukan sesuatu yang sangat manusiawi: ia tidak membiarkan Ava dan Pepper tidur di masjid tanpa kepastian. Tetapi kisah itu juga memperlihatkan keterbatasan pertolongan personal. Ia harus mengambil keputusan berdasarkan informasi yang sedikit, sementara dua anak tersebut tidak memiliki rencana yang aman, alamat yang jelas, atau orang dewasa yang dapat segera dimintai pertanggungjawaban. Ruang informal dapat menjadi pintu pertama, tetapi tidak boleh dipaksa menjadi kantor perlindungan anak.
Kebaikan spontan perlu diterjemahkan menjadi jalur rujukan
Ava mengenal dunia dengan mencari arti kata. Ia membuka kamus untuk memahami hukum, legal, cerai, hidup, dan kebenaran. Namun, mengetahui arti sebuah kata tidak otomatis membuat pengalaman menjadi dapat ditanggung. Anak dapat memahami bahwa sesuatu itu salah, tetapi belum tahu kepada siapa harus berbicara atau apa yang harus dilakukan setelah berbicara.
Hal yang sama berlaku bagi warga. Mereka mungkin tahu bahwa anak kecil tidak semestinya mengamen sampai malam. Mereka mungkin menyadari bahwa seorang anak tampak lelah, takut, terluka, atau tidak bersekolah. Akan tetapi, pengetahuan itu harus disambungkan dengan jalur tindakan yang mudah, aman, dan tidak menempatkan pelapor maupun anak dalam risiko.
Dalam kasus Surabaya, hotline warga menjadi pintu masuk. Setelah itu, tim perlindungan anak dan konselor melakukan kunjungan rumah, memeriksa keadaan anak, menilai pengasuhan, serta membicarakan sumber penghasilan keluarga. (surabaya.go.id) Model semacam ini perlu diperluas: pedagang kecil dan warga tidak cukup diberi pesan untuk “peduli”, tetapi juga perlu mengetahui kapan harus melapor, bagaimana menjaga kerahasiaan anak, apa yang tidak boleh dilakukan, serta ke mana kasus harus dirujuk.
Yang perlu dihindari adalah menjadikan warga sebagai penyidik amatir. Anak tidak boleh dipotret untuk dibagikan, diwawancarai berulang-ulang, atau dipaksa menceritakan pengalaman kepada siapa saja yang merasa iba. Pertolongan yang salah dapat menambah rasa malu, memperbesar risiko pembalasan, dan mengubah penderitaan anak menjadi tontonan.
Menghentikan anak di jalan tidak cukup jika rumah tetap rapuh
Rusun Nero dalam cerita bukan hanya bangunan yang buruk. Ia adalah ruang tempat anak belajar bahwa rumah dapat berisi kekerasan, ketakutan, dan ketidakpastian. Pepper mengalami kekerasan di sana, tetapi masalahnya tidak selesai hanya karena ia berhasil keluar. Ia masih tidak memiliki tempat tinggal yang pasti, uang yang cukup, nama yang utuh, dan orang dewasa yang siap mengambil tanggung jawab.
Hubungan ini penting untuk membaca kebijakan terhadap anak yang mengamen. Pemkot Surabaya menyatakan bahwa penyelesaian tidak boleh berhenti pada menjauhkan anak dari jalan. Keluarga juga perlu memiliki alternatif penghasilan agar tekanan ekonomi tidak kembali mendorong anak untuk mencari uang. (surabaya.go.id) Ini merupakan langkah yang lebih masuk akal daripada penertiban semata, karena anak tidak mengamen dalam ruang hampa. Ada kebutuhan makan, biaya sekolah, utang, kehilangan pekerjaan, atau pengasuhan yang tidak berjalan.
Namun, alternatif ekonomi pun harus diawasi agar tidak berubah menjadi janji sesaat. Pelatihan harus diikuti alat kerja, pendampingan, akses pasar, dan pemeriksaan apakah pendapatan benar-benar membantu keluarga. Pada saat yang sama, anak perlu dikembalikan ke sekolah, diperiksa kondisi psikologisnya, dan ditempatkan dalam pengasuhan yang aman. Jika hanya orang tua yang diberi pelatihan sementara anak dilepas tanpa pendampingan, perlindungan itu masih timpang.
Ruang kecil dapat menjadi bagian dari sistem besar
Bu Tukang Sate tidak menyelesaikan seluruh hidup Ava dan Pepper. Ia hanya membuka satu pintu ketika pintu-pintu lain gagal. Justru karena itu, perannya penting. Perlindungan anak sering bermula dari tindakan kecil: menunda keberangkatan seorang anak, memberi makan tanpa mengeksploitasi rasa iba, menyimpan informasi dengan hati-hati, atau memanggil bantuan ketika situasi tampak berbahaya.
Tetapi kebaikan semacam itu harus disambut oleh sistem yang bekerja. Negara perlu membangun jaringan rujukan yang dapat dipahami warga, layanan yang cepat merespons, dan pendampingan yang tidak menghilang setelah berita mereda. Ukuran keberhasilan bukan berapa anak yang dipindahkan dari jalan, melainkan apakah mereka kembali belajar, tidak lagi dipaksa mencari nafkah, memperoleh pengasuhan yang aman, dan hidup dalam keluarga yang memiliki pilihan ekonomi.
Warung bukan kantor perlindungan anak. Namun, negara yang serius melindungi anak harus tahu bahwa warung, kios, dan rumah warga sering menjadi tempat pertama ketika bahaya terlihat. Tugas negara bukan mengambil alih kebaikan itu, melainkan mengubahnya menjadi jalan aman: dari mata yang melihat, ke laporan yang terlindungi, ke layanan yang hadir, hingga masa depan yang tidak lagi bergantung pada kebetulan.
Sumber
- surabaya.go.id: Pemkot Surabaya Lindungi Anak Diajak Ngamen Dan Berdayakan Ibunya
- surabaya.go.id: Wali Kota Eri Paparkan Skema Pembinaan Remaja Dan Peran Orang Tua Di Surabaya
- surabaya.go.id: Viral Di Medsos Soal Tuduhan Eksploitasi Pemkot Surabaya Pastikan Anak Bersekolah Dan Diasuh Baik Oleh Ayahnya
- surabaya.go.id: Selain Hunian Layak Eks Penghuni Kolong Tol 1001 Malam Mendapat Pekerjaan Dari Pemkot Surabaya
- Buku Di Tanah Lada — Gramedia