Forum Anak Bukan Polisi Kecil: Partisipasi Harus Menguatkan, Bukan Membebani

Written by

in

Anak boleh menjaga teman, tetapi bukan menggantikan negara

Di Rusun Nero, Ava tidak menolong Pepper karena memiliki jabatan, pelatihan resmi, atau mandat kelembagaan. Ia menolong karena mendengar suara minta tolong, melihat luka, dan memahami bahwa seseorang sedang berada dalam bahaya. Ketika tangan besar menyeret Pepper keluar dari kamar kardus, Ava tidak memiliki banyak pilihan selain berteriak, memukul dengan gitar, lalu mencari Kak Suri.

Adegan itu penting untuk membaca kabar dari Semarang pada 2 Oktober 2026. Dalam Konferensi Forum Anak Jawa Tengah, Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen meminta Forum Anak aktif menjadi pelopor sekaligus pelapor persoalan anak, termasuk putus sekolah, perkawinan usia anak, perundungan, dan kekerasan. Konferensi tersebut diikuti 100 anak dari tingkat provinsi serta kabupaten/kota dan menjadi bagian dari reorganisasi Forum Anak Jawa Tengah generasi ke-10. (bahterajateng.com)

Dorongan itu memiliki dasar yang kuat: anak sering menjadi orang pertama yang mengetahui bahwa temannya tidak aman. Mereka berada di kelas, lorong sekolah, grup percakapan, rumah ibadah, dan lingkungan tempat kekerasan mungkin disembunyikan dari orang dewasa. Namun, kemampuan melihat bahaya tidak sama dengan kewenangan untuk menanganinya. Forum Anak akan kehilangan makna jika “pelapor” diterjemahkan sebagai polisi kecil yang harus mengumpulkan bukti, menghadapi pelaku, menyimpan rahasia, dan memastikan temannya selamat tanpa perlindungan balik.

Dari Ava dan Pepper, terlihat batas solidaritas sebaya

Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, anak-anak tidak hadir sebagai tokoh yang sudah memiliki peta lengkap tentang dunia. Ava memahami kata-kata melalui kamus, tetapi arti “hukum”, “cerai”, “rumah”, atau “keluarga” tidak otomatis membuatnya mampu mengendalikan keadaan. Pepper bahkan kehilangan nama, kamar, perlindungan, dan tempat pulang. Mereka saling membantu, tetapi hubungan itu juga memperlihatkan betapa beratnya beban yang muncul ketika orang dewasa gagal hadir.

Ava memang berhasil menyelamatkan Pepper dari satu situasi berbahaya. Namun, setelah itu tetap dibutuhkan Kak Suri untuk membawa Pepper ke rumah sakit, satpam untuk menjaga mereka, tenaga kesehatan untuk menangani luka, serta polisi untuk menerima laporan. Rangkaian ini menunjukkan hubungan pertama dengan agenda Forum Anak: solidaritas sebaya dapat membuka pintu pertolongan, tetapi tidak boleh menjadi keseluruhan sistem pertolongan.

Karena itu, pesan “jadilah pelapor” harus selalu disertai jawaban atas pertanyaan yang lebih penting: melapor kepada siapa, melalui jalur apa, dalam waktu berapa lama, dan siapa yang menjamin keselamatan anak setelah laporan dibuat? Regulasi Jawa Tengah sendiri menjelaskan bahwa laporan seharusnya disampaikan kepada orang dewasa yang dipercaya dan dianggap mampu melindungi anak, atau kepada pendamping dengan dukungan fasilitator. (jdihn.go.id) Artinya, tugas anak bukan menyelesaikan perkara, melainkan menghubungkan pengalaman dengan sistem perlindungan yang benar-benar bekerja.

Pelopor bukan pekerja sosial tanpa perlindungan

Jawa Tengah sebenarnya telah mengembangkan gagasan yang lebih sehat melalui konselor sebaya dan program edukasi anak. Pada Juli 2026, Nawal Arafah Yasin mendorong pelajar menjadi konselor sebaya agar tersedia ruang aman untuk bercerita dan berbagi pengalaman, terutama dalam menghadapi perundungan dan kekerasan siber. (jatengprov.go.id) Platform JogoKonco juga menempatkan Forum Anak sebagai pelopor dan pelapor, dengan penekanan pada pendidikan, kesehatan, perlindungan anak, dan sosial budaya. (dp3akb.jatengprov.go.id)

Namun, konselor sebaya tidak boleh dipahami sebagai terapis, penyidik, atau penanggung jawab akhir. Anak yang mendengar pengakuan tentang kekerasan bisa ikut takut, merasa bersalah, atau menjadi sasaran ancaman. Ia membutuhkan pelatihan mengenai batas kerahasiaan, cara merujuk, dan cara menjaga dirinya sendiri. Ia juga membutuhkan orang dewasa yang tidak menyalahkan, tidak membocorkan identitas, dan tidak memaksa berhadapan langsung dengan pelaku.

Di sinilah hubungan kedua dengan kisah Pepper menjadi jelas. Anak-anak dalam cerita itu saling menjadi tempat berlindung karena rumah mereka tidak aman. Tetapi menjadikan pengalaman semacam itu sebagai model kerja perlindungan akan berbahaya. Negara tidak boleh berkata: karena Ava berani, semua anak harus berani; karena Pepper punya teman, semua korban pasti memiliki penyelamat sebaya. Kebijakan yang baik justru memastikan tidak ada anak yang dipaksa menjadi Ava ketika ia sendiri sedang ketakutan.

Partisipasi harus mengubah keputusan, bukan sekadar menambah tugas

Ajakan kepada Forum Anak agar terlibat dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan juga patut dihargai. Pemerintah Jawa Tengah menyatakan anak dibutuhkan untuk menyampaikan masukan dalam forum pembangunan. (bahterajateng.com) Akan tetapi, partisipasi tidak boleh berhenti pada kehadiran anak di ruang rapat atau pada daftar usulan yang kemudian menghilang dalam dokumen.

Hubungan ketiga dengan buku ini terletak pada kenyataan bahwa penderitaan Ava dan Pepper tidak berdiri sendiri. Mereka terjebak dalam rumah yang gagal melindungi, kemiskinan, kekerasan domestik, keterbatasan ruang tinggal, dan ketidakpastian keluarga. Tidak ada satu kampanye sebaya yang dapat menggantikan rumah aman, sekolah yang responsif, layanan kesehatan, bantuan hukum, dan pekerja sosial yang tersedia.

Maka, suara Forum Anak harus dipakai untuk menagih perubahan yang dapat diukur: jalur pelaporan yang mudah dijangkau, petugas yang terlatih, layanan krisis yang tidak menyalahkan korban, perlindungan kerahasiaan, serta pendampingan setelah laporan diterima. Anak dapat menunjukkan masalah, memetakan kebutuhan, dan mengusulkan solusi. Orang dewasa tetap harus menyediakan anggaran, kewenangan, dan keberanian untuk menjalankannya.

Forum Anak harus menjadi ruang aman, bukan ruang pengawasan

Partisipasi anak memiliki nilai politik dan moral karena anak bukan sekadar penerima kebijakan. Mereka berhak menyampaikan pengalaman dan memengaruhi keputusan yang menentukan hidupnya. Tetapi hak berpartisipasi tidak boleh berubah menjadi kewajiban untuk selalu siap menolong orang lain.

Pelajaran paling tajam dari Ava dan Pepper bukan bahwa anak harus menjadi pahlawan. Pelajarannya adalah bahwa anak sering menolong karena orang dewasa terlambat hadir. Forum Anak seharusnya memastikan keterlambatan itu tidak terus berulang. Ia dapat menjadi ruang untuk saling menguatkan, menyampaikan pengalaman, dan membangun keberanian kolektif—bukan mekanisme untuk memindahkan pekerjaan perlindungan kepada mereka yang justru masih membutuhkan perlindungan.

Jika negara meminta anak menjadi pelopor dan pelapor, negara juga harus menjadi pendamping dan penanggung jawab. Tanpa itu, slogan partisipasi hanya akan membuat anak lebih dekat dengan bahaya, tetapi tetap jauh dari pertolongan.

Sumber