Bagi anak, perpustakaan bukan sekadar ruangan berisi rak dan buku. Ia dapat menjadi tempat untuk berhenti ketika rumah terlalu bising, sekolah terasa jauh, atau hidup belum memiliki nama yang jelas. Di sana, anak tidak harus datang sebagai juara, pembaca tercepat, atau pencipta karya yang siap dipamerkan. Ia cukup datang sebagai seseorang yang ingin tahu, takut, bingung, atau membutuhkan tempat untuk bernapas.
Gagasan itu penting dibaca melalui buku berjudul ‘Di Tanah Lada’. Ava mengenal dunia dengan membuka kamus. Ia mencari arti hukum, legal, cerai, hangat, hidup, dan kebenaran, tetapi pengetahuan tentang kata-kata tidak serta-merta membuat pengalaman menjadi sederhana. Pepper menemukan daya tahan melalui cerita, musik, puisi, dan percakapan. Buku bagi mereka bukan hiasan pendidikan. Buku adalah alat untuk mengurai dunia yang terlalu rumit bagi usia mereka.
Karena itu, Festival Cahaya Inspirasi Anak 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta, pada 2–4 Oktober 2026 patut dibaca lebih jauh daripada sebagai perayaan literasi. Festival bertema “Sumatra: Dari Anak untuk Anak” mengaitkan budaya baca dengan kepedulian terhadap anak-anak di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Perpusnas menyebut kegiatan itu mendorong budaya baca, kreativitas, keberanian berekspresi, dan kepedulian terhadap teman sebaya. (perpusnas.go.id)
Pertanyaannya bukan apakah festival semacam itu baik. Tentu baik. Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah panggung dibongkar, apakah anak masih memiliki tempat untuk membaca, bertanya, dan memahami apa yang telah mereka lihat?
Dari festival menuju ruang yang tetap menyala
Hubungan pertama antara peristiwa tersebut dan kisah Ava adalah soal kesinambungan. Festival dapat membuka perhatian publik terhadap anak-anak yang terdampak bencana, tetapi perhatian tidak boleh berhenti pada penggalangan dana, pertunjukan, atau penyerahan bahan bacaan. Anak yang kehilangan rumah, sekolah, atau rutinitas membutuhkan ruang yang terus hadir setelah kamera pergi.
Dalam ‘Di Tanah Lada’, perjalanan Ava dan Pepper memperlihatkan betapa rapuhnya hidup anak ketika tempat tinggal tidak lagi menyediakan rasa aman. Mereka tidur di ruang yang tidak layak, berpindah dari satu orang dewasa ke orang dewasa lain, dan berusaha mencari jalan pulang dengan pengetahuan yang terbatas. Pada situasi seperti itu, buku bukan sekadar sarana belajar. Ia dapat menjadi benda yang menjaga kesinambungan diri: sesuatu yang tetap dapat dibawa ketika rumah, kamar, bahkan nama terasa tidak stabil.
Maka, akses bacaan bagi anak terdampak bencana harus dirancang sebagai layanan berkelanjutan. Buku perlu hadir di tempat pengungsian, sekolah sementara, pusat layanan sosial, perpustakaan keliling, dan ruang komunitas. Anak tidak boleh hanya diberi bahan bacaan ketika bencana sedang menjadi berita. Ia membutuhkan kesempatan membaca ketika orang dewasa mulai beralih kepada persoalan lain.
Perpustakaan harus menerima anak yang belum bisa bercerita
Perpusnas menyatakan bahwa Ruang Layanan Perpustakaan Anak menyediakan sekitar 42 ribu eksemplar koleksi, ruang belajar yang nyaman, bahan bacaan digital, cerita bergambar, komik, animasi, serta kegiatan literasi. Pada 2026, lembaga itu juga menekankan bahwa perpustakaan dapat menjadi pusat informasi, pembelajaran, kebudayaan, kreativitas, dan konsultasi bagi anak. (perpusnas.go.id)
Di sinilah hubungan kedua dengan buku menjadi penting. Ava tidak datang kepada dunia dengan bahasa yang sudah lengkap. Ia sering salah memahami kata, menghubungkan bunyi dengan pengalaman, dan menyusun kesimpulan dari informasi yang terpotong-potong. Namun, kesalahan itu bukan alasan untuk menyingkirkannya. Justru karena ia belum mampu menjelaskan hidup secara utuh, ia membutuhkan tempat yang membiarkannya bertanya tanpa ditertawakan.
Perpustakaan ramah anak seharusnya dibangun berdasarkan pemahaman tersebut. Petugas tidak cukup hanya mengarahkan anak ke rak yang sesuai usia. Mereka perlu mampu menemani anak yang membaca dengan cara tidak lazim, berpindah-pindah buku, diam terlalu lama, atau mengulang cerita yang sama. Anak yang memegang buku tetapi tidak segera berbicara bukan berarti gagal memanfaatkan perpustakaan. Mungkin ia sedang mencari kata pertama untuk pengalaman yang belum sanggup ia ceritakan.
Ruang semacam itu juga harus menerima anak yang hidupnya tidak menetap. Anak yang berpindah karena konflik keluarga, kemiskinan, pengungsian, atau persoalan pengasuhan tidak boleh diperlakukan sebagai pengunjung yang merepotkan karena tidak memiliki alamat tetap. Keanggotaan, akses digital, peminjaman, dan kegiatan harus cukup lentur untuk mengikuti kehidupan mereka.
Ukuran keberhasilan tidak boleh berhenti pada jumlah karya
Hubungan ketiga menyentuh cara negara mengukur keberhasilan. Festival, pameran, lomba, dan lokakarya mudah dinilai melalui jumlah peserta, buku yang dibagikan, karya yang dihasilkan, atau dana yang terkumpul. Semua ukuran itu berguna, tetapi tidak cukup. Perpustakaan akan kehilangan maknanya jika anak datang hanya untuk menghasilkan sesuatu yang dapat dipajang.
Ava dan Pepper memperlihatkan bahwa membaca tidak selalu menghasilkan prestasi yang dapat segera dilihat. Kadang-kadang, hasilnya hanya berupa keberanian untuk mengatakan tidak, kemampuan mengenali rasa takut, atau kesanggupan membayangkan bahwa hidup masih mungkin berlanjut. Ketika Pepper membaca puisi dan mendengarkan cerita, ia tidak sedang mengejar nilai. Ia sedang mencari cara untuk memahami luka, kasih sayang, dan kemungkinan menjadi orang dewasa yang berbeda dari orang-orang yang telah menyakitinya.
Karena itu, perpustakaan harus menyediakan ruang bagi kegiatan yang tidak produktif dalam pengertian sempit: membaca sendirian, menggambar tanpa dipamerkan, mendengarkan cerita, bermain, berbicara dengan petugas, atau sekadar duduk dalam suasana yang aman. Anak berhak memiliki pengalaman yang tidak langsung diubah menjadi konten, laporan, atau indikator program.
Rumah kedua, bukan rumah pengganti
Perpustakaan tentu tidak dapat menggantikan keluarga, sekolah, layanan kesehatan, atau sistem perlindungan anak. Namun, ia dapat menjadi ruang antara yang sangat penting ketika lembaga-lembaga tersebut gagal hadir secara utuh. Ia dapat menjadi tempat pertama bagi anak untuk menemukan orang dewasa yang tidak membentak, buku yang tidak menghakimi, dan cerita yang membuat pengalaman mereka terasa tidak sendirian.
Itulah sebabnya perpustakaan ramah anak tidak boleh berhenti pada dekorasi, karpet warna-warni, atau papan nama. Ia membutuhkan koleksi yang relevan, akses bagi anak disabilitas, jam layanan yang masuk akal, tenaga yang terlatih, mekanisme rujukan ketika anak berada dalam bahaya, serta kebijakan yang menjaga kerahasiaan dan martabat anak.
CIA Fest 2026 mengingatkan bahwa anak dapat diajak peduli kepada anak lain. ‘Di Tanah Lada’ mengingatkan bahwa kepedulian itu harus memiliki tempat untuk bertahan. Setelah festival usai, yang dibutuhkan bukan hanya lebih banyak anak yang tampil di panggung, melainkan lebih banyak ruang tempat anak dapat membaca tanpa dikejar prestasi, bertanya tanpa dipaksa segera mengerti, dan menemukan bahwa hidupnya layak ditafsirkan dengan sabar.
Perpustakaan yang demikian bukan panggung keberhasilan orang dewasa. Ia adalah rumah kedua yang tidak mengambil alih suara anak, tetapi memberinya waktu untuk menemukan suara itu sendiri.