Anak Tidak Harus Menjadi Mudah Dipahami untuk Mendapat Layanan

Written by

in

Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, dunia anak tidak pernah tersusun rapi. Ava mengenal kenyataan melalui kamus, tetapi kata-kata yang ia temukan sering datang terlambat dibanding pengalaman yang harus ia tanggung. Ia bisa mengetahui arti “hukum”, “cerai”, “kebenaran”, atau “hangat”, tetapi pengetahuan itu tidak otomatis membuat hidupnya lebih mudah. Pepper pun menghadapi persoalan serupa: namanya, asal-usulnya, keluarganya, bahkan masa depannya lebih sering dibicarakan orang dewasa daripada ditanyakan kepadanya.

Di situlah kabar tentang kolaborasi regional untuk mengembangkan model Early Childhood Care, Nutrition and Education yang inklusif bagi anak dengan spektrum autisme menjadi penting. Pada 23 September 2026, SEAMEO RECFON memimpin pertemuan awal proyek yang melibatkan Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Kamboja, bersama lembaga akademik serta kementerian pendidikan dari negara-negara tersebut. Proyek itu hendak mengadaptasi modul pengasuhan, gizi, kesehatan, dan pendidikan agar dapat menjadi rujukan layanan inklusif bagi anak autistik di Asia Tenggara. (seameo-recfon.org)

Berita tersebut tidak sedang menceritakan Ava atau Pepper. Namun, kisah mereka memberi alat untuk menguji apakah gagasan inklusi itu sungguh akan mengubah layanan, atau hanya menambah satu kategori baru dalam dokumen kebijakan.

Dari anak yang harus menjelaskan diri ke lembaga yang mau belajar memahami

Ava hidup dalam situasi ketika orang dewasa kerap menganggap penjelasan sebagai sesuatu yang dapat ditunda. Ia bertanya, tetapi jawaban tidak selalu datang. Ia mencari kata yang tepat, tetapi kenyataan yang hendak dijelaskan sudah lebih dulu melukainya. Pengalaman itu menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa tidak boleh dijadikan syarat untuk memperoleh perlindungan. Anak yang tidak mampu menceritakan ketakutannya dengan cara yang mudah dipahami tetap harus mendapat pertolongan.

Hubungan ini relevan dengan model inklusif untuk anak autistik. Anak mungkin berkomunikasi dengan cara berbeda, membutuhkan waktu lebih panjang untuk merespons, menghindari kontak tertentu, sensitif terhadap suara atau cahaya, atau menunjukkan kebutuhan melalui perilaku yang tidak segera dimengerti orang dewasa. Jika layanan hanya menerima anak yang mampu duduk tenang, menjawab sesuai urutan, mengikuti instruksi lisan, atau menyesuaikan diri dengan ritme lembaga, maka kata “inklusi” hanya menjadi nama baru bagi penyaringan lama.

Karena itu, pusat layanan dan satuan pendidikan harus belajar membaca lebih dari ucapan. Mereka perlu menyediakan komunikasi alternatif, jadwal yang dapat diperkirakan, ruang sensorik yang aman, pendamping terlatih, serta mekanisme bagi orang tua untuk menyampaikan kebiasaan dan kebutuhan anak. Tugasnya bukan membuat anak tampak normal, melainkan memastikan anak dapat hadir, makan, bermain, belajar, dan beristirahat tanpa terus-menerus dihukum karena berbeda.

Gizi bukan sekadar porsi, pengasuhan bukan sekadar kepatuhan

Proyek regional itu membagi pekerjaan ke dalam pilar gizi dan kesehatan, pengasuhan dan pendidikan, serta kepemimpinan untuk memperkuat sistem di tingkat sekolah. Struktur tersebut penting karena masalah anak tidak pernah berdiri sendiri. Anak yang sulit makan mungkin bukan sekadar “pemilih makanan”. Ia bisa mengalami sensitivitas terhadap tekstur, aroma, warna, atau cara makanan disajikan. Anak yang tampak menolak kegiatan bisa jadi sedang kewalahan oleh suara, kerumunan, atau perubahan rutinitas. (seameo-recfon.org)

Di dalam cerita, makanan berkaitan dengan rasa aman. Ava mengingat sarapan, makanan ringan, nasi, ikan, dan lada bukan sebagai daftar nutrisi, melainkan sebagai bagian dari hubungan dengan orang yang merawatnya. Di sisi lain, pengalaman tidur di koper, berpindah-pindah, dan tidak memiliki ruang yang layak menunjukkan bahwa kebutuhan anak tidak selesai ketika makanan tersedia. Tubuh anak membutuhkan lingkungan yang dapat diprediksi dan orang dewasa yang memahami tanda-tanda takut, lapar, lelah, atau sedih.

Maka, layanan inklusif harus menggabungkan gizi dengan pengasuhan. Petugas tidak cukup memeriksa apakah anak menghabiskan makanan. Mereka perlu bertanya apakah menu dapat diterima anak, apakah waktu makan berlangsung tanpa tekanan, apakah keluarga mendapat dukungan, dan apakah masalah makan berkaitan dengan kesehatan atau pengalaman sensorik. Demikian pula, pendidikan usia dini tidak boleh hanya mengejar kesiapan akademik. Anak harus memperoleh kesempatan bermain dan berinteraksi dalam cara yang sesuai dengan kebutuhannya.

Adaptasi lokal bukan alasan untuk menunda hak anak

Kolaborasi regional itu menekankan perlunya menyesuaikan modul dengan konteks masing-masing negara. Ada pembagian peran antara pusat SEAMEO, mitra akademik, dan kementerian pendidikan, termasuk riset, evaluasi, penyelarasan kebijakan, serta perluasan program. Pendekatan tersebut masuk akal: layanan yang berhasil di satu tempat tidak dapat disalin begitu saja ke tempat lain. (seameo-recfon.org)

Namun, adaptasi lokal tidak boleh berubah menjadi alasan untuk mempertahankan layanan yang tidak ramah. Dalam ‘Di Tanah Lada’, Rusun Nero digambarkan sebagai lingkungan yang penuh kecoa, tikus, lumut, jamur, asap, dan ketidakpastian. Tempat tinggal bukan latar netral. Ia membentuk cara anak memandang tubuh, bahaya, kebersihan, hubungan, dan masa depan. Karena itu, model layanan yang dibangun untuk anak autistik harus memperhitungkan kenyataan keluarga: rumah sempit, transportasi panjang, pengasuh yang bekerja, biaya terapi, keterbatasan tenaga ahli, serta stigma di lingkungan sekitar.

Adaptasi yang benar berarti menerjemahkan prinsip inklusi ke dalam kehidupan sehari-hari. Di satu wilayah, dukungan mungkin membutuhkan kunjungan rumah. Di wilayah lain, yang paling mendesak adalah pelatihan guru PAUD, pemantauan tumbuh kembang, atau rujukan kesehatan yang tidak memaksa keluarga berpindah-pindah meja. Prinsipnya tetap sama: lembaga harus bergerak mendekati anak, bukan menunggu anak menjadi cukup mudah untuk dilayani.

Jangan mengganti satu label dengan label yang lain

Pengalaman Pepper memperlihatkan bahaya ketika identitas anak terus ditentukan dari luar. Ia diberi nama, dipanggil dengan nama lain, disembunyikan, dipindahkan, dan baru perlahan memperoleh kesempatan untuk memahami siapa dirinya. Kisah itu bukan gambaran langsung tentang autisme, dan tidak boleh dipakai untuk menyamakan pengalaman Pepper dengan pengalaman semua anak autistik. Namun, ada pertanyaan yang dapat dibawa dari sana: apakah layanan melihat anak sebagai manusia yang sedang membangun identitas, atau hanya sebagai diagnosis yang harus dikelola?

Pertanyaan itu penting karena inklusi mudah menyimpang menjadi administrasi label. Anak dicatat sebagai “autistik”, lalu seluruh keputusan dibuat berdasarkan label tersebut. Padahal, dua anak dengan diagnosis yang sama dapat memiliki cara berkomunikasi, kebutuhan sensorik, kemampuan makan, minat, dan dukungan keluarga yang sangat berbeda. Diagnosis dapat membuka akses, tetapi tidak boleh menutup percakapan.

Peta jalan bersama ASEAN-SEAMEO untuk pendidikan dan pengasuhan anak usia dini telah menekankan keterhubungan antara pendidikan, kesehatan, gizi, dan perlindungan anak. (web.seameo-ceccep.org) Tantangan berikutnya adalah memastikan keterhubungan itu terasa di hadapan anak: pada meja makan, ruang bermain, kelas, rumah, dan percakapan dengan orang tua.

Ukuran keberhasilan harus terlihat dari pengalaman anak

Model baru tidak boleh dinilai hanya dari jumlah modul yang selesai, pelatihan yang digelar, atau negara yang menandatangani kerja sama. Ukurannya harus lebih dekat dengan pengalaman anak: apakah ia dapat menyampaikan kebutuhan tanpa dipaksa berbicara dengan satu cara; apakah keluarga memperoleh bantuan sebelum kelelahan menjadi krisis; apakah guru mampu menyesuaikan pembelajaran; apakah makanan, ruang, dan rutinitas terasa aman; serta apakah anak dilibatkan dalam keputusan yang menyangkut dirinya.

Ava belajar bahwa kebenaran sulit ditemukan di dunia nyata. Pelajaran itu juga berlaku bagi kebijakan inklusi. Niat baik baru menjadi benar ketika menjelma layanan yang dapat dirasakan oleh anak yang selama ini dianggap terlalu sulit dipahami. Negara dan lembaga pendidikan tidak boleh menunggu anak menjadi lebih tenang, lebih patuh, atau lebih fasih untuk mengakui kebutuhannya. Anak tidak harus menjadi mudah dipahami lebih dulu agar berhak dirawat, diberi makan, dididik, dan disayangi.

Sumber