Sekolah Harus Mengejar Anak yang Hidupnya Terus Berpindah

Written by

in

Sekolah biasanya dibayangkan sebagai tempat yang menunggu: anak datang pada jam tertentu, duduk di ruang tertentu, mengikuti urutan kelas tertentu, lalu pulang ke rumah yang diasumsikan tetap ada. Gambaran itu bekerja bagi anak yang hidupnya relatif menetap. Namun, ia segera runtuh ketika anak berpindah karena kemiskinan, konflik keluarga, pekerjaan orang tua, tanggung jawab merawat orang lain, atau kebutuhan untuk menyelamatkan diri.

Di situlah rencana pengembangan Sekolah Menengah Pembelajaran Jarak Jauh menjadi penting. Pemerintah menyatakan bahwa fase pengembangan berikutnya akan memperluas sasaran kepada anak yang berisiko putus sekolah, anak dengan mobilitas tinggi, dan anak dengan tanggung jawab sosial. PJJ tidak hendak dipahami hanya sebagai pemindahan kelas ke layar, melainkan sebagai model yang menjangkau anak yang terhalang oleh ruang, waktu, dan kondisi sosial. (kemendikdasmen.go.id)

Gagasan itu sejalan dengan persoalan utama dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’: anak tidak pernah hidup di ruang kosong. Mereka tumbuh di tengah rumah yang berubah, uang yang tidak cukup, orang dewasa yang gagal menjalankan tanggung jawab, serta hubungan yang sewaktu-waktu dapat menjadi sumber perlindungan sekaligus ancaman. Karena itu, sekolah yang baik bukan sekolah yang menunggu semua masalah tersebut selesai. Sekolah yang baik justru harus mampu bergerak ketika kehidupan anak belum selesai.

Ava dan Pepper menunjukkan mengapa sekolah tidak boleh menunggu rumah menjadi stabil

Ava dan Pepper tidak bergerak karena mereka sedang mengejar petualangan. Mereka berpindah karena rumah, keluarga, dan perlindungan orang dewasa tidak bekerja sebagaimana mestinya. Mereka membayangkan perjalanan menuju rumah Nenek Isma sebagai jalan keluar dari Rusun Nero, dari Papa yang keras, dari ketidakpastian, dan dari kemungkinan berhadapan dengan polisi. Bahkan untuk membeli tiket, mencari tempat mandi, memahami alamat, atau mengetahui siapa yang dapat dipercaya, mereka harus menyusun dunia sedikit demi sedikit.

Dalam situasi seperti itu, sekolah konvensional mudah menganggap perpindahan sebagai masalah perilaku: anak tidak hadir, dokumen tidak lengkap, alamat berubah, wali tidak jelas, atau komunikasi terputus. Padahal, bagi anak seperti Ava dan Pepper, berpindah bukan penyebab tunggal hilangnya pendidikan. Perpindahan adalah gejala dari keadaan yang lebih besar. Jika sekolah hanya menunggu mereka kembali stabil, sekolah sebenarnya sedang menunggu terlalu lama.

Program PJJ jenjang menengah yang diperluas pada 2026 telah menyasar anak tidak sekolah usia 16–18 tahun melalui sekolah induk, sekolah mitra, dan pusat dukungan belajar lokal. Pemerintah menyebut lebih dari 700 anak tidak sekolah telah terverifikasi siap belajar hingga Juli 2026. (pkplk.kemendikdasmen.go.id) Angka itu menunjukkan adanya pintu baru, tetapi juga menyimpan pertanyaan: apakah pintu tersebut dapat mengikuti anak ketika ia kembali berpindah?

Anak dengan mobilitas tinggi membutuhkan sistem yang tidak menganggap alamat sebagai syarat utama keberadaan. Ia membutuhkan rekam belajar yang dapat berpindah, pendamping yang mengetahui riwayatnya, serta sekolah yang tidak memulai hubungan dari nol setiap kali anak muncul di tempat baru.

Tanggung jawab sosial tidak boleh menjadi alasan kedua untuk menghapus masa depan

Kisah Ava juga mengingatkan bahwa anak sering kali harus mengambil keputusan yang terlalu besar bagi usianya. Ia ikut memikirkan makanan, tempat tidur, keselamatan Pepper, hubungan dengan Mama, bahkan arti perceraian dan uang. Pepper sendiri berusaha menjadi pelindung, pengasuh, pengambil keputusan, dan sekaligus anak yang masih membutuhkan pertolongan.

Di sinilah istilah “tanggung jawab sosial” harus dibaca secara hati-hati. Anak yang merawat adik, membantu orang tua bekerja, berpindah mengikuti keluarga, atau tinggal jauh dari sekolah tidak boleh dipuji karena “kuat” lalu dibiarkan mengurus semuanya sendiri. Ketangguhan bukan pengganti hak. Anak tetap membutuhkan waktu belajar, pendampingan emosional, ruang bermain, dan orang dewasa yang mengambil alih beban ketika beban itu terlalu berat.

Pemerintah sendiri menempatkan keberhasilan PJJ bukan hanya pada kebijakan pusat atau satuan pendidikan. Dalam penguatan implementasi di daerah, Kemendikdasmen menekankan perlunya sinergi pemerintah daerah, sekolah, keluarga, dan masyarakat, termasuk pemetaan kebutuhan belajar setiap murid. (vokasi.kemendikdasmen.go.id) Prinsip ini tepat, tetapi harus diterjemahkan menjadi tanggung jawab yang jelas. Jangan sampai keluarga kembali diposisikan sebagai pihak yang harus menyediakan perangkat, jaringan, waktu, ruang belajar, dan motivasi, padahal justru kondisi keluarga itulah yang membuat anak tidak dapat menetap di sekolah biasa.

PJJ bukan solusi apabila hanya menawarkan modul kepada anak yang sedang lapar, takut, bekerja, menjaga adik, atau berpindah kota. Ia baru menjadi layanan publik apabila menyediakan pendamping yang dapat mengenali mengapa seorang anak tidak masuk, bukan sekadar mencatat bahwa ia absen.

Kamus Ava mengajarkan bahwa kesinambungan pendidikan bukan hanya soal internet

Ava memahami dunia melalui kata-kata. Ia mencari arti “legal”, “hukum”, “cerai”, “karcis”, “loket”, dan banyak istilah lain karena orang dewasa sering melemparkan keputusan besar tanpa memberi penjelasan yang dapat ia pahami. Kamus menjadi alat kecil untuk menyambungkan bahasa dengan kenyataan. Namun, kamus saja tidak cukup. Ava tetap membutuhkan orang yang mau menjawab, menenangkan, dan membantunya menarik kesimpulan tanpa mempermalukannya.

Pelajaran itu penting bagi desain sekolah jarak jauh. Pendidikan yang mengikuti anak tidak boleh direduksi menjadi pengiriman materi melalui gawai. Anak membutuhkan hubungan yang berkelanjutan dengan guru, tutor lokal, teman belajar, layanan konseling, dan orang dewasa yang dapat menjelaskan perubahan dalam hidupnya. Pengalaman PJJ bagi anak pekerja migran menunjukkan bahwa pembelajaran dapat berlangsung melalui pertemuan daring, modul mandiri, serta pusat belajar ketika jaringan di rumah tidak memadai. (pkplk.kemendikdasmen.go.id) Model semacam ini menjanjikan, tetapi harus dibangun dengan kesadaran bahwa koneksi digital tidak selalu hadir di tempat anak tinggal.

Masa pengenalan PJJ pada tahun ajaran 2026/2027 juga diarahkan untuk membangun kemandirian belajar sekaligus memetakan kebutuhan murid. (vokasi.kemendikdasmen.go.id) Pemetaan tersebut tidak boleh berhenti pada kemampuan akademik. Sekolah perlu mengetahui apakah anak berpindah-pindah, siapa pengasuhnya, apakah ia bekerja, apakah ia memiliki tempat aman untuk belajar, dan apakah ada risiko kekerasan yang membuatnya tidak dapat mengikuti pembelajaran secara teratur.

Negara harus mengejar anak, bukan menunggu anak menjadi murid ideal

Ava dan Pepper pada akhirnya diselamatkan bukan oleh satu lembaga sempurna, melainkan oleh rangkaian orang yang mau memperhatikan: orang yang memberi makanan, tempat tidur, pertolongan medis, kendaraan, dan keputusan untuk tidak membiarkan mereka berjalan sendirian. Namun, keselamatan yang bergantung pada kebetulan bertemu orang baik tidak boleh menjadi desain perlindungan negara.

Sekolah Menengah Pembelajaran Jarak Jauh berpeluang mengubah cara negara melihat anak. Anak tidak lagi diperlakukan sebagai murid yang gagal hadir, melainkan sebagai warga yang hak belajarnya harus dijaga meskipun hidupnya bergerak. Namun, peluang itu hanya akan berarti jika PJJ memiliki pendampingan nyata, dukungan luring, perlindungan data, kesinambungan administrasi, dan mekanisme untuk menjemput anak yang kembali menghilang.

Dalam ‘Di Tanah Lada’, masa depan anak tidak pernah datang sebagai hadiah dari keadaan yang sudah tertib. Ia harus dirawat di tengah kekacauan. Karena itu, sekolah tidak boleh menunggu anak memiliki rumah yang stabil, alamat yang tetap, keluarga yang utuh, atau hidup yang mudah dijadwalkan. Sekolah harus bergerak lebih dahulu—mengejar anak yang berpindah, membawa kembali namanya, menyambung pelajarannya, dan memastikan bahwa perubahan tempat tidak berubah menjadi kehilangan masa depan.

Sumber