Pepper tidak pertama-tama tampil sebagai “anak jalanan”. Ia hadir sebagai anak yang ingin tahu, suka mencari arti kata, mampu membaca, bermain gitar, dan ingin menjadi pintar meskipun tidak bersekolah. Jalanan memang menjadi tempat ia mencari uang, tetapi bukan seluruh identitasnya. Di sanalah letak persoalan penting ketika negara menjaring sekitar 600 anak jalanan dan anak terlantar yang putus sekolah di Jabodetabek untuk diintegrasikan ke dalam program Sekolah Rakyat.
Langkah itu patut dibaca sebagai usaha mengembalikan hak pendidikan. Namun, istilah “menjaring” juga perlu diawasi. Anak-anak yang ditemukan di pasar dan perempatan bukan sekadar tubuh yang harus dipindahkan dari ruang publik. Mereka adalah subjek yang membawa pengalaman, kecemasan, kemampuan, hubungan keluarga, dan luka masing-masing. Jika sekolah hanya berfungsi mengosongkan jalan dari anak-anak miskin, kebijakan tersebut akan menyelesaikan gejala tanpa menyentuh sumber masalahnya. Pada 18 Mei 2026, Kementerian Sosial menyebut sekitar 600 anak di Jabodetabek telah ditemukan melalui penyisiran lapangan dan ditindaklanjuti dengan kunjungan ke rumah serta dialog dengan orang tua. (m.antaranews.com)
Pepper mengingatkan bahwa pendidikan dimulai dari pengakuan
Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, Pepper hidup dalam situasi yang membuatnya nyaris tidak terlihat. Ia tidur di dalam kardus, menyembunyikan diri dari ayah yang kasar, bekerja dengan gitar di pinggir jalan, dan tidak memiliki kepastian tentang nama maupun asal-usulnya. Namun, ia tidak kehilangan keinginan untuk belajar. Ia bertanya tentang bahasa Inggris, menyimpan satu-satunya buku pemberian ibunya, dan berusaha memahami kata-kata yang belum ia kenal.
Keinginan itu penting karena memperlihatkan pendidikan bukan hadiah yang diberikan kepada anak setelah ia dianggap “tertib”. Pendidikan adalah hak yang seharusnya hadir justru ketika kehidupan anak paling tidak tertib. Pepper tidak perlu menjadi anak baik lebih dahulu agar layak belajar. Ia tidak perlu meninggalkan gitar, jalan, atau seluruh kebiasaan hidupnya sebelum negara mengakuinya sebagai murid.
Di sinilah program Sekolah Rakyat diuji. Pemerintah menyatakan program tersebut ditujukan bagi anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, termasuk mereka yang terputus dari layanan pendidikan formal. Hingga April 2026, program itu dilaporkan telah menjangkau hampir 15.000 siswa di 166 lokasi. (kemendikdasmen.go.id) Angka tersebut menunjukkan skala intervensi yang besar, tetapi ukuran keberhasilan tidak boleh berhenti pada jumlah anak yang masuk asrama. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah mereka merasa akhirnya dilihat, didengar, dan diperlakukan sebagai anak yang punya masa depan?
Sekolah tidak boleh menjadi cara halus untuk menghapus kemiskinan dari pandangan
Pepper bekerja di jalan bukan karena ia memilih kemiskinan sebagai gaya hidup. Ia bekerja karena rumahnya tidak aman, ayahnya tidak bertanggung jawab, dan kebutuhan sehari-hari tidak bisa ditunda. Saat ia memainkan gitar, orang-orang memberi uang. Penghasilan kecil itu bahkan dipakai untuk membayar kebutuhan sendiri dan bertahan dari rumah yang mengancam.
Kisah tersebut membuat berita tentang penjaringan anak jalanan relevan secara sebab-akibat. Anak berada di jalan karena ada rangkaian kegagalan sebelumnya: keluarga yang tidak melindungi, sekolah yang tidak menjangkau, layanan sosial yang terlambat, dan kemiskinan yang memaksa anak ikut menopang hidup. Karena itu, membawa mereka ke sekolah adalah awal, bukan akhir. Jika keluarga tetap penuh kekerasan, jika dokumen kependudukan tidak tersedia, jika kesehatan mental diabaikan, atau jika kebutuhan ekonomi rumah tangga tidak ditangani, anak bisa kembali ke jalan setelah program selesai.
Program Sekolah Rakyat memang dirancang sebagai pendidikan berasrama gratis bagi kelompok rentan. Pemerintah menyebut lebih dari 32 ribu siswa akan diterima pada 2026, seiring perluasan gedung permanen. (megapolitan.antaranews.com) Perluasan itu menjanjikan akses yang lebih besar, tetapi juga menuntut pengawasan yang lebih ketat: siapa yang menentukan seorang anak “layak” masuk, bagaimana proses persetujuannya, dan apakah anak boleh menyampaikan keberatan terhadap pemisahan dari keluarga atau lingkungan asalnya?
Dari P yang tidak bernama ke murid yang punya sejarah
Salah satu luka terdalam Pepper bukan hanya tidak bersekolah, melainkan tidak memiliki nama yang diakui. Ia dipanggil P, Pepper, atau dengan sebutan kasar. Bahkan, ia pernah menyimpulkan bahwa orang yang tidak punya nama bukan orang. Kalimat itu menunjukkan bagaimana identitas administratif dan identitas emosional saling berkaitan. Anak yang tidak dicatat dengan baik akan lebih mudah diabaikan, dipindahkan, atau diperlakukan sebagai masalah.
Karena itu, pendidikan untuk anak jalanan tidak boleh dimulai dan diakhiri dengan daftar hadir. Negara perlu memastikan dokumen kependudukan, riwayat kesehatan, kebutuhan belajar, relasi keluarga, dan pengalaman kekerasan ikut dibaca. Anak seperti Pepper mungkin tidak masuk kelas dengan kemampuan akademik yang sama dengan anak lain, tetapi itu tidak berarti ia tidak pintar. Ia mungkin membaca dengan cara yang berbeda, belajar dari percakapan, jalanan, musik, dan kamus yang dibawanya sendiri.
Kurikulum yang baik harus mampu menemukan kemampuan tersebut, bukan mempermalukannya. Sekolah harus menjadi tempat untuk mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, bukan tempat untuk menghapus masa lalu anak demi menyesuaikannya dengan standar seragam.
Sekolah yang aman harus disertai perlindungan yang lengkap
Di ‘Di Tanah Lada’, keselamatan Pepper tidak datang dari keluarga inti. Ia muncul melalui hubungan yang dibangun perlahan dengan orang-orang di sekitar Rusun Nero: teman, tetangga, penjaga, dan orang dewasa yang bersedia berhenti untuk menolong. Jaringan perlindungan semacam itu seharusnya tidak bergantung pada kebetulan naratif. Dalam kenyataan, ia harus dibangun melalui pekerja sosial, guru, tenaga kesehatan, konselor, serta mekanisme pengaduan yang benar-benar dapat dipercaya.
Sekolah berasrama bisa memberi makan, tempat tidur, dan jadwal belajar. Namun, ia tidak boleh menjadi institusi tertutup yang menganggap anak cukup diselamatkan setelah dipisahkan dari jalan. Anak tetap membutuhkan suara, pilihan, hubungan yang aman, dan kesempatan untuk memahami dirinya sendiri. Perlindungan yang memaksa tanpa mendengar dapat berubah menjadi bentuk lain dari pengendalian.
Maka, Sekolah Rakyat sebaiknya dinilai bukan dari seberapa cepat anak-anak jalanan menghilang dari perempatan, melainkan dari apakah mereka memperoleh nama, pengetahuan, rasa aman, dan ruang untuk membayangkan masa depan. Pepper mengajarkan bahwa seorang anak bisa tetap ingin belajar bahkan ketika dunia berkali-kali meyakinkannya bahwa ia tidak penting.
Negara tidak perlu menyelamatkan Pepper dari jalanan agar tampak berhasil. Negara perlu memastikan bahwa Pepper tidak pernah dipaksa kembali ke jalan karena sekolah gagal memahami hidupnya. Pendidikan yang sungguh-sungguh bukan sekadar jalan keluar dari jalanan. Ia adalah cara untuk mengembalikan seorang anak kepada dirinya sendiri.
Sumber
- kemendikdasmen.go.id: Sekolah Rakyat Negara Hadir Memutus Rantai Kemiskinan Melalui Pendidikan
- internal-portal.kemdikbud.go.id: Wamendikdasmen Fajar Sekolah Rakyat Sebagai Wujud Pelembagaan Pancasila Ke 5
- m.antaranews.com: Kemensos Jaring 600 Anak Jalanan Jabodetabek Masuk Sekolah Rakyat
- mediakeuangan.kemenkeu.go.id: Sekolah Rakyat Harapan Baru Pendidikan Berkualitas Untuk Anak Bangsa
- Buku Di Tanah Lada — Gramedia