Suara Anak Bukan Alat Kerusuhan

Written by

in

Anak sering dibicarakan sebagai masa depan, tetapi jarang diperlakukan sebagai subjek pada masa kini. Mereka diminta belajar, patuh, dan menunggu dewasa sebelum pendapatnya dianggap penting. Ironisnya, ketika orang dewasa membutuhkan jumlah massa, simbol kepolosan, atau tenaga tambahan di tengah konflik, anak justru dapat ditarik masuk ke ruang yang tidak mereka kuasai.

Persoalan itu tampak dalam peristiwa kericuhan setelah demonstrasi di sekitar Gedung DPR/MPR pada 27 Agustus 2026. Sebanyak 153 anak diamankan, sementara penyidik mendalami dugaan adanya pihak yang menggunakan atau mengeksploitasi anak untuk kegiatan melawan hukum. Pemerintah menyatakan bahwa anak berhak didengar, tetapi juga berhak dilindungi dari kerusuhan dan kekerasan. (news.detik.com)

Berita tersebut penting bukan karena anak-anak harus dijauhkan dari semua urusan publik. Justru sebaliknya: ia memaksa kita membedakan antara partisipasi yang bermakna dan pelibatan yang manipulatif. Di titik inilah buku berjudul ‘Di Tanah Lada’ menawarkan lensa yang tajam. Kisah Ava dan Pepper memperlihatkan bahwa suara anak bukan hiasan moral, bukan pula alat untuk menguatkan agenda orang dewasa. Suara itu adalah bentuk pengetahuan, perlawanan, dan usaha untuk menentukan hidup sendiri.

Menamai pengalaman adalah bentuk agensi

Ava memahami dunia melalui kata-kata. Ia membuka kamus untuk mencari arti “legal”, “hukum”, “tengik”, “kurator”, bahkan “pengamen”. Cara itu tampak lucu karena sering menghasilkan kesimpulan yang melenceng. Namun, di balik kelucuan tersebut terdapat kerja intelektual yang serius: Ava berusaha memberi nama pada pengalaman yang tidak mampu dijelaskan oleh orang dewasa di sekitarnya.

Ia tidak sepenuhnya mengerti mengapa Papa berjudi, mengapa keluarganya pindah, atau mengapa orang dewasa terus mengadakan “percakapan orang dewasa” tanpa melibatkannya. Akan tetapi, ketidaktahuan itu tidak membuatnya pasif. Ia bertanya, menghubungkan kata, menguji kesimpulan, lalu menyusun pemahamannya sendiri. Bahkan ketika pemahamannya belum lengkap, ia tetap memiliki hak untuk mencari arti dari apa yang terjadi pada hidupnya.

Di sinilah hubungan pertama dengan berita kericuhan itu terlihat. Anak yang hadir dalam ruang publik tidak boleh langsung dianggap sebagai massa tanpa pikiran, tetapi juga tidak boleh diperlakukan sebagai alat oleh orang dewasa. Hak untuk didengar berarti memberi kesempatan kepada anak menyampaikan alasan, ketakutan, dan pendapatnya dengan cara yang sesuai usia. Hak tersebut bukan izin untuk menempatkan anak di tengah situasi berbahaya.

Dari berkata “nggak” ke batas partisipasi yang aman

Dalam hubungan Ava dengan Pepper, belajar berkata “nggak” bukan sekadar perubahan gaya bahasa. Itu adalah latihan membangun batas. Ava selama ini terbiasa menuruti orang dewasa, bahkan ketika perintah tersebut membuatnya takut. Pepper membantunya memahami bahwa penolakan dapat menjadi cara mempertahankan diri.

Pelajaran itu kemudian berkembang menjadi keputusan. Ava tidak hanya ingin memahami apa yang terjadi; ia juga ingin memilih dengan siapa ia bermain, siapa yang ia lindungi, dan ke mana ia pergi. Ketika orang dewasa memutuskan bahwa Rusun Nero harus ditinggalkan, Ava tetap memikirkan Pepper. Ia merasa memiliki kepentingan sendiri yang tidak otomatis hilang hanya karena orang dewasa menganggap keputusan mereka paling benar.

Namun, buku ini tidak menyamakan semua pilihan anak dengan pilihan orang dewasa. Ava ingin kembali ke Rusun Nero bukan karena tempat itu aman, melainkan karena di sanalah ia menemukan Pepper. Keinginannya masuk akal secara emosional, tetapi tidak serta-merta aman secara situasional. Perbedaan inilah yang kerap hilang dalam perdebatan tentang partisipasi anak.

Anak berhak menyampaikan keinginan, tetapi orang dewasa tetap wajib menilai risiko dan menyediakan perlindungan. Dalam kasus 27 Agustus, prinsip itu berarti suara anak harus diperiksa dengan sungguh-sungguh: apakah mereka datang atas kehendak sendiri, mendapat informasi yang memadai, memahami risikonya, atau digerakkan oleh iming-iming uang dan tekanan kelompok? Kompolnas kemudian menyoroti dugaan bahwa sebagian anak mungkin diajak dengan imbalan tertentu. (news.detik.com)

Ketika anak berubah menjadi simbol orang dewasa

Kehidupan Ava dan Pepper dipenuhi orang dewasa yang memberi label. Papa menyebut, mengancam, dan mempermalukan. Orang dewasa lain menyembunyikan informasi dengan alasan anak belum mengerti. Bahkan identitas Pepper direduksi menjadi satu huruf, seolah ia tidak layak memiliki nama lengkap. Karena itu, proses Ava memanggilnya “Pepper” menjadi penting: penamaan tersebut memulihkan keberadaan seseorang yang sebelumnya dihapus dari pengakuan.

Dari sini tampak hubungan kedua dengan peristiwa kontemporer itu. Anak dapat kehilangan identitasnya bukan hanya ketika diperlakukan kasar di rumah, tetapi juga ketika tampil sebagai angka dalam laporan keamanan: 153 anak diamankan, sekian dipulangkan, sekian diperiksa. Angka memang dibutuhkan untuk memahami skala peristiwa, tetapi tidak boleh menghapus pertanyaan tentang siapa mereka, mengapa mereka berada di sana, siapa yang mengajak, dan apa yang mereka alami setelahnya.

Hubungan ketiga terletak pada kesinambungan pola. Dalam cerita, orang dewasa mengambil keputusan besar, sementara anak menanggung akibatnya: kehilangan kamar, berpindah tempat, menghadapi ketakutan, dan berusaha memahami pertengkaran yang bukan ia ciptakan. Dalam kericuhan publik, pola yang sama dapat muncul dalam bentuk berbeda. Anak ditempatkan di tengah konflik yang agenda dan risikonya ditentukan orang dewasa, lalu mereka menanggung kemungkinan luka, pemeriksaan hukum, stigma, atau trauma.

Karena itu, pernyataan bahwa anak harus menjadi bagian dari demokrasi perlu dibaca dengan hati-hati. Demokrasi bukan sekadar menghadirkan anak di jalan, di panggung, atau di tengah kerumunan. Demokrasi berarti memastikan pendapat mereka tidak dipalsukan, kehadiran mereka tidak dipaksa, dan keselamatan mereka tidak dikorbankan demi efek visual atau tekanan politik. KemenPPPA sendiri menegaskan bahwa ruang partisipasi harus aman, sesuai usia dan tingkat kematangan anak, serta disertai pendampingan yang tepat. (news.detik.com)

Mendengar anak berarti menolak memakainya

‘Di Tanah Lada’ tidak menawarkan anak yang selalu benar. Ava bisa keliru, keras kepala, dan mengambil keputusan tanpa memahami seluruh akibatnya. Justru karena itulah orang dewasa tidak boleh menggunakan ketidaksempurnaan anak sebagai alasan untuk membungkam mereka. Tugas orang dewasa bukan menggantikan suara anak, melainkan membantu suara itu tumbuh tanpa membiarkannya dimanfaatkan.

Peristiwa 27 Agustus memberi peringatan yang tegas: anak tidak boleh menjadi alat, sasaran, atau bagian dari konflik orang dewasa. Tetapi peringatan itu akan kehilangan makna jika berhenti pada larangan dan pengawasan orang tua. Negara, sekolah, penyelenggara kegiatan, aparat, komunitas, dan keluarga harus membangun ruang tempat anak dapat menyampaikan pendapat tanpa harus membuktikan keberaniannya melalui bahaya.

Suara anak bukan alat kerusuhan. Ia juga bukan dekorasi untuk pidato tentang masa depan. Ia adalah tanda bahwa anak sedang memahami dunia dan berusaha menentukan tempatnya di dalamnya. Tugas masyarakat bukan mematikan suara itu, melainkan memastikan bahwa ketika anak berkata “nggak”, ia tidak dipaksa kembali tunduk—dan ketika ia berkata “iya”, persetujuan itu benar-benar lahir dari pemahaman, bukan dari bujukan, ancaman, atau eksploitasi.

Sumber