Ketika bahaya pindah dari warung kopi ke layar ponsel
Dalam *Di Tanah Lada*, judi mula-mula tampak sebagai kebiasaan orang dewasa: sesuatu yang dilakukan Papa, dibela dengan alasan mencari uang, lalu dibayar dengan pertengkaran, perpindahan rumah, dan hilangnya rasa aman anak. Namun, di balik perdebatan tentang uang, yang dipertaruhkan sebenarnya bukan hanya harta keluarga. Yang dipertaruhkan adalah masa kanak-kanak.
Persoalan itu memperoleh cermin kontemporer ketika pemerintah menyebut hampir 200 ribu anak di Indonesia telah terpapar judi online, termasuk sekitar 80 ribu anak berusia di bawah 10 tahun. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menilai paparan tersebut sebagai ancaman terhadap tumbuh kembang dan keselamatan anak, bukan semata-mata persoalan perilaku individual. (m.antaranews.com)
Angka itu mengubah cara kita membaca kisah Ava dan P. Bahaya yang dalam novel muncul melalui uang warisan, tempat judi, dan pertengkaran orang tua kini dapat datang melalui gim, iklan, tautan, promosi influencer, atau transaksi digital yang tidak dipahami anak. Medium berubah, tetapi logikanya tetap: orang dewasa menciptakan atau membiarkan sebuah sistem berisiko, lalu anak harus menanggung akibatnya.
Uang yang habis, rumah yang retak
Salah satu kekuatan novel ini terletak pada cara kerusakan ekonomi tidak pernah dipisahkan dari kerusakan emosional. Papa bukan sekadar orang yang berjudi. Ia adalah orang dewasa yang menjadikan uang sebagai pembenaran untuk memerintah, memaki, dan memindahkan keluarganya tanpa persetujuan. Ketika rumah dijual dan keluarga dipaksa tinggal di Rusun Nero, anak tidak memperoleh penjelasan yang utuh. Ia hanya menerima akibat dari keputusan yang dibuat orang lain.
Di situlah berita tentang judi online menemukan hubungan sebab-akibat yang jelas dengan uraian tersebut. Pemerintah menyebut judi online berpotensi merusak ekonomi keluarga dan memicu konflik rumah tangga. Dalam laporan lain, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga mengingatkan bahwa ketika orang tua terlibat judi online, anak dapat menjadi korban kekerasan, penelantaran, atau stigma. (jatim.antaranews.com)
Jadi, anak tidak harus memasang taruhan untuk menjadi korban judi. Cukup dengan hidup dalam keluarga yang uangnya terkuras, emosinya meledak-ledak, dan perhatiannya tersedot pada kekalahan atau utang, anak sudah berada di dalam radius kerusakan. Dalam konteks ini, menyebut judi sebagai pilihan pribadi orang dewasa adalah penyederhanaan yang berbahaya. Pilihan itu memiliki korban yang sering tidak ikut memilih.
Rusun Nero tidak lagi membutuhkan dinding kumuh
Rusun Nero dalam novel bukan hanya latar yang kotor, gelap, dan penuh kerusakan. Ia adalah bentuk fisik dari rumah yang gagal menjalankan tugas paling dasar: memberi perlindungan. Dindingnya tipis, ruangnya sempit, dan pertengkaran orang tua menembus kamar anak. Ava tidak memiliki jarak dari konflik. Bahkan ketika menutup pintu, suara kekerasan tetap mengikutinya.
Pada masa kini, ruang tidak aman itu tidak harus berupa rusun kumuh. Sebuah rumah yang secara fisik layak dapat berubah menjadi ruang berbahaya ketika gawai menjadi jalur masuk perjudian, sementara orang tua tidak memahami pola paparan atau tidak memiliki daya untuk mengawasinya. Pemerintah menyebut anak dapat terseret dari permainan digital menuju situs judi melalui tautan dan iklan yang menyamar. Karena itu, sekolah, keluarga, masyarakat, dan media dipandang perlu bekerja sebagai satu ekosistem perlindungan. (jatim.antaranews.com)
Perubahan konteks ini penting. Dalam novel, anak menyaksikan orang dewasa berjudi di ruang yang relatif terbatas dan dapat dikenali: warung kopi, gang, atau tempat tertentu. Kini, perjudian dapat hadir sebagai bagian dari arus informasi sehari-hari. Ia tidak selalu tampil dengan papan nama “kasino”. Ia bisa menyusup melalui komentar, permainan, akun palsu, atau promosi yang dibuat tampak biasa. Komdigi pada Juli 2026 bahkan melaporkan bahwa penyebaran promosi judi online meluas lintas platform dan menyasar influencer serta kreator konten daerah. (portal.komdigi.go.id)
Dengan demikian, masalahnya bukan hanya apakah orang tua melarang anak berjudi. Masalahnya adalah apakah keluarga dan negara mampu mengenali bentuk-bentuk baru perjudian sebelum anak memahaminya sebagai hiburan.
Anak bukan angka tambahan dalam laporan penindakan
Ava memahami dunia melalui kamus. Ia mencari arti kata “judi”, “legal”, “hukum”, dan “taruhan” karena bahasa orang dewasa tidak pernah benar-benar menjelaskan apa yang sedang terjadi dalam hidupnya. Cara itu membuat keluguannya justru menjadi alat kritik. Ia tidak memiliki istilah rumit untuk menyebut kekerasan domestik atau eksploitasi ekonomi, tetapi ia tahu bahwa Papa menakutkan, Mama sedih, dan rumah mereka tidak aman.
Di sinilah suara anak menjadi ukuran penting. Hampir 200 ribu anak yang terpapar judi online tidak boleh dibaca hanya sebagai statistik keberhasilan atau kegagalan pemblokiran. Di balik angka itu terdapat anak-anak yang mungkin kehilangan uang sekolah, menghadapi pertengkaran keluarga, mengalami kecemasan, atau merasa bersalah karena tidak mampu menghentikan orang dewasa di sekitarnya.
Pemerintah memang telah mendorong literasi digital, pembatasan akses, edukasi di sekolah, dan kerja sama lintas lembaga. Namun, perlindungan anak tidak selesai dengan pemblokiran situs atau penyuluhan satu kali. Menteri PPPA menekankan perlunya pencegahan, pengawasan, edukasi, dan pendampingan berkelanjutan. (m.antaranews.com) Itu berarti anak harus diperlakukan sebagai subjek yang perlu didengar, bukan sekadar pengguna yang harus diawasi.
Dari “semoga bahagia” menuju tanggung jawab
Akhir *Di Tanah Lada* menyisakan harapan yang tidak sepenuhnya nyaman. Harapan itu bukan janji bahwa semua masalah akan selesai setelah anak meninggalkan rumah atau menemukan tempat baru. Justru sebaliknya, karya ini mengingatkan bahwa keselamatan anak tidak boleh bergantung pada kebetulan, keberanian, atau hadirnya satu orang dewasa yang baik.
Judi online mempertegas peringatan tersebut. Jika dulu bahaya tampak sebagai Papa yang menghabiskan uang dan mengubah rumah menjadi arena pertengkaran, kini bahaya dapat bekerja lebih senyap melalui layar yang berada di tangan anak. Karena itu, perlindungan tidak cukup dibebankan kepada keluarga. Platform digital, sekolah, pemerintah, dan masyarakat harus ikut bertanggung jawab.
Anak-anak tidak membutuhkan orang dewasa yang hanya mengatakan bahwa mereka harus berhati-hati. Mereka membutuhkan dunia yang memang dirancang agar tidak mengeksploitasi ketidaktahuan mereka. Di situlah harapan utama karya ini memperoleh makna paling keras: kebahagiaan anak bukan penutup cerita, melainkan kewajiban sosial yang harus dibuktikan setiap hari.
Sumber
- m.antaranews.com: Menteri Arifah Paparan Judi Online Ancaman Serius Tumbuh Kembang Anak
- jatim.antaranews.com: Mendikdasmen Perkuat Literasi Digital Untuk Cegah Judi Online Anak
- ANTARA News: Puncak Gunung Es Judi Online
- ANTARA News: Dinas Ppapp Dki Tangani Kasus Judi Online Yang Libatkan Anak
- Buku Di Tanah Lada — Gramedia