Ketika Anak Makan, tetapi Tidak Tumbuh

Written by

in

Makan adalah kata kerja yang tampak sederhana. Anak lapar, lalu diberi makanan. Anak kenyang, lalu dianggap selesai. Namun, tubuh anak tidak hanya membutuhkan perut yang terisi. Ia membutuhkan zat gizi yang memungkinkan tulang tumbuh, darah bekerja, daya tahan tubuh terbentuk, dan pikiran belajar tanpa terus-menerus berkompromi dengan kekurangan.

Temuan SEAMEO Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO RECFON) pada 9 September 2026 memperlihatkan bahwa persoalan itu belum selesai. Dalam penelitian terhadap 4.219 murid berusia 7–18 tahun di 12 kabupaten/kota, kesenjangan asupan folat disebut mencapai 100 persen, kalsium 78 persen, dan vitamin A 25 persen. Kekurangan vitamin C dan zinc juga ditemukan. Temuan tersebut bukan diagnosis setiap anak, tetapi peringatan bahwa makan setiap hari belum tentu berarti tumbuh dengan baik. (paudpedia.kemendikdasmen.go.id)

Di titik inilah buku berjudul ‘Di Tanah Lada’ menjadi cermin yang tajam. Karya tersebut tidak membicarakan gizi melalui tabel kebutuhan harian, melainkan melalui pengalaman anak yang sangat konkret: siapa yang menyuapi, siapa yang membelikan makanan, siapa yang berbagi telur, siapa yang membiarkan anak tidur tanpa kasur, dan siapa yang masih mampu memperhatikan rasa takut di balik keluhan lapar.

Anak kenyang belum tentu sedang dirawat

Ava mengenali dunia dari hal-hal yang dekat dengan tubuhnya. Ia tahu kapan lapar, makanan apa yang ingin dimakan, siapa yang biasanya menyuapinya, dan bagaimana makanan dapat menjadi alasan untuk merasa aman. Pepper pun hadir melalui pengalaman serupa: sate, telur, ayam, lontong, dan makanan sederhana yang dibagi dalam perjalanan. Makanan di sini bukan dekorasi domestik. Ia menjadi bukti bahwa seseorang melihat anak sebagai manusia yang harus dipelihara.

Karena itu, kekurangan mikronutrisi tidak boleh dipersempit menjadi persoalan menu. Anak mungkin makan nasi dan lauk setiap hari, tetapi tetap kekurangan zat yang tidak terlihat oleh mata. Tidak ada warna khusus pada tubuh yang langsung memberi tahu bahwa folat, kalsium, vitamin A, vitamin C, atau zinc belum terpenuhi. Kekurangan itu bekerja secara perlahan, sementara anak tetap diminta bersekolah, berkonsentrasi, bermain, dan tumbuh seperti biasa.

Hubungannya dengan kisah Ava dan Pepper jelas: sebagaimana tempat tinggal yang disebut rumah belum tentu aman, makanan yang disebut makan belum tentu memenuhi kebutuhan anak. Dalam kedua kasus itu, ukuran keberhasilan tidak boleh berhenti pada ada atau tidaknya fasilitas. Pertanyaannya adalah apakah kebutuhan anak sungguh dipahami.

Pangan lokal bukan alasan untuk memberi seadanya

SEAMEO RECFON menekankan bahwa pemenuhan gizi perlu mempertimbangkan kebutuhan anak dan konteks pangan lokal. Riset tersebut menggunakan pendekatan WHO Optifood untuk melihat kombinasi pangan yang dapat membantu menutup kesenjangan zat gizi, bukan sekadar meniru menu dari wilayah atau negara lain. (detik.com)

Pendekatan itu penting karena pangan lokal bukan sinonim dari makanan murah yang diberikan tanpa perhitungan. Pangan lokal seharusnya berarti makanan yang tersedia, diterima, aman, terjangkau, dan mampu memenuhi kebutuhan tubuh anak. Ia memerlukan pengetahuan, pengolahan yang tepat, pengawasan, serta penyesuaian dengan usia dan kondisi kesehatan.

Di Tanah Lada membantu kita memahami mengapa konteks semacam itu penting. Ava dan Pepper tidak hidup di ruang abstrak. Mereka mengenal makanan melalui warung, gerobak, rumah tetangga, rusun, stasiun, dan perjalanan. Pilihan makanan mereka dibentuk oleh uang, waktu, jarak, kebiasaan, dan siapa orang dewasa yang sedang berada di dekat mereka. Maka, kebijakan yang hanya menyusun daftar menu dari pusat tanpa memahami rantai pangan di daerah dapat terlihat rapi di atas kertas, tetapi gagal menyentuh pengalaman anak.

Makanan sekolah harus membaca ketimpangan perawatan

Temuan tersebut hendak disampaikan kepada Badan Gizi Nasional dan diposisikan sebagai dasar penguatan kebijakan, termasuk Program Makanan Bergizi Gratis. Pemerintah juga menekankan hubungan antara gizi dan keberhasilan belajar. (detik.com) Namun, menjadikan makanan sebagai program nasional tidak otomatis menjadikannya kebijakan perawatan yang utuh.

Risikonya muncul ketika anak hanya diperlakukan sebagai penerima porsi. Negara menghitung jumlah paket, cakupan sekolah, biaya distribusi, dan kepatuhan penyedia. Semua itu perlu. Tetapi anak juga harus dilihat sebagai tubuh yang memiliki kebutuhan berbeda, keluarga yang memiliki keterbatasan berbeda, serta pengalaman hidup yang tidak seragam.

Ava dan Pepper menunjukkan bahwa persoalan makan selalu terhubung dengan persoalan lain: kemiskinan, kekerasan, perpindahan tempat tinggal, pendidikan yang terputus, dan ketergantungan pada orang dewasa. Anak yang menerima makanan di sekolah tetapi tetap hidup dalam rumah yang tidak aman belum sepenuhnya terlindungi. Anak yang mendapat menu bergizi tetapi tidak memiliki akses pemeriksaan kesehatan, air bersih, atau pendampingan juga belum menerima perawatan yang lengkap.

Dengan kata lain, program gizi sekolah tidak boleh menjadi cara negara memindahkan seluruh tanggung jawab perawatan ke sekolah. Guru dapat membantu mengenali perubahan kondisi anak, tetapi sekolah bukan pengganti keluarga, layanan kesehatan, atau perlindungan sosial. Temuan mikronutrisi justru menuntut kerja lintas sektor: pendidikan, kesehatan, pangan, perlindungan sosial, dan pemerintah daerah harus berbagi tanggung jawab.

Politik perawatan dimulai dari hal yang tidak terlihat

Kekurangan mikronutrisi sulit menjadi berita besar karena tidak selalu menghasilkan gambar dramatis. Anak tidak harus tampak sangat kurus untuk mengalami kekurangan. Ia mungkin masih datang ke kelas, masih tersenyum, masih mengerjakan tugas, bahkan masih menghabiskan makanan. Tetapi tubuhnya dapat tetap membayar harga dari ketimpangan yang berlangsung lama.

Di sinilah arti penting membaca makanan sebagai politik perawatan. Siapa yang memastikan anak mendapat makanan yang cukup? Siapa yang mengetahui bahwa kenyang belum tentu bergizi? Siapa yang memeriksa apakah menu benar-benar dimakan, bukan sekadar dibagikan? Siapa yang menindaklanjuti ketika anak memiliki kebutuhan khusus? Dan siapa yang bertanggung jawab jika program besar hanya menghasilkan rutinitas administratif?

Buku ini mengingatkan bahwa seorang anak sering bertahan bukan karena sistem bekerja sempurna, melainkan karena ada orang yang mau memperhatikan hal-hal kecil: membagi makanan, menggendong, menyediakan tempat tidur, mendengar ketakutan, atau memastikan perjalanan berlanjut. Negara tidak boleh menggantungkan keselamatan anak pada kebetulan hadirnya orang baik.

Makan memang bukan satu-satunya ukuran kesejahteraan. Tetapi cara sebuah masyarakat memastikan anak makan memperlihatkan bagaimana masyarakat itu memahami tanggung jawabnya. Anak tidak membutuhkan sekadar piring yang terisi. Mereka membutuhkan tubuh yang tumbuh, pikiran yang dapat belajar, dan kehidupan yang tidak memaksa mereka menanggung akibat dari kelalaian orang dewasa. Jika program gizi ingin benar-benar menjadi kebijakan publik, ia harus berangkat dari pertanyaan paling mendasar: bukan hanya apakah anak sudah makan, melainkan apakah setelah makan ia sungguh diberi kesempatan untuk tumbuh.

Sumber