Ketika Hukuman Mengaku Mendidik, Anak Membayar Harga Disiplin Orang Dewasa

Written by

in

Pada Kamis, 24 September 2026, seorang siswi MTsN 5 Aceh Tengah berinisial AZ dilaporkan mengalami masalah kesehatan setelah menerima hukuman disiplin di sekolah. Ia sempat dibawa ke UKS, kemudian ke fasilitas kesehatan, sebelum meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUD Datu Beru. Bentuk hukuman dan hubungan sebab-akibat antara tindakan tersebut dengan kematian AZ masih harus dipastikan melalui pemeriksaan yang menyeluruh. Kementerian Agama Aceh sendiri menyatakan tidak ingin berspekulasi sebelum seluruh fakta dan hasil pemeriksaan diperoleh. (detik.com)

Kehati-hatian itu penting. Namun, kehati-hatian tidak boleh berubah menjadi alasan untuk menunda pertanyaan yang paling mendasar: sampai di mana orang dewasa boleh menggunakan tubuh anak atas nama disiplin?

Dari kata “hukum” ke tubuh anak yang harus patuh

Dalam buku berjudul ‘Di Tanah Lada’, Ava mempelajari dunia melalui kata-kata. Ia mencari arti “legal”, “hukum”, “kasino”, “cerai”, “hidup”, dan “hangat” karena bahasa orang dewasa tidak pernah sesederhana bunyinya. Kata-kata yang bagi orang dewasa tampak mapan justru menjadi mencurigakan ketika dilihat dari sudut pandang anak.

Di situlah kasus Aceh Tengah menemukan cerminnya. Hukuman di sekolah dapat disebut sebagai disiplin, pembinaan, atau cara mendidik. Tetapi sebuah istilah yang terdengar sah tidak dengan sendirinya membuat tindakan itu aman. “Disiplin” bukan kata ajaib yang menghapus kewajiban untuk memeriksa kondisi fisik peserta didik, menjelaskan alasan tindakan, menyediakan pilihan yang proporsional, dan menghentikannya ketika anak menunjukkan tanda bahaya.

Menurut laporan yang beredar, hukuman diberikan setelah pemeriksaan pekerjaan rumah. Sebagian siswa disebut belum menyelesaikan tugas, tetapi rincian bentuk hukuman masih berbeda dalam pemberitaan dan belum seluruhnya terverifikasi secara resmi. Karena itu, yang perlu didorong bukan penghakiman dini terhadap guru atau sekolah, melainkan pemeriksaan terbuka atas urutan peristiwa: apa instruksinya, siapa yang memutuskan, berapa lama berlangsung, apakah semua siswa diperlakukan sama, apakah ada pemeriksaan kondisi kesehatan, dan mengapa respons medis baru bergerak melalui beberapa tahap setelah AZ mengalami masalah. (detik.com)

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan upaya mengganggu pendidikan. Sebaliknya, itulah syarat agar pendidikan tidak kehilangan makna kemanusiaannya.

Ketika pembinaan memakai bahasa kepatuhan

Ava dan Pepper hidup di tengah orang dewasa yang kerap mengaku punya alasan. Papa berjudi karena ingin mendapatkan uang. Orang-orang memindahkan anak karena merasa sedang mengambil keputusan terbaik. Ada yang menyayangi, tetapi terlambat bertindak; ada yang mengaku melindungi, tetapi tetap membiarkan anak menanggung akibat.

Hubungan ini bukan berarti peristiwa dalam novel menjelaskan kasus AZ. Keduanya berbeda dan tidak boleh disamakan. Namun, keduanya memperlihatkan pola yang serupa: keputusan orang dewasa dapat tampil sebagai sesuatu yang masuk akal dari atas, sementara dari bawah ia terasa sebagai ketakutan, kebingungan, atau kehilangan kendali atas tubuh sendiri.

Dalam lingkungan sekolah, ketimpangan itu lebih kuat karena guru memegang otoritas, sementara anak berada dalam ruang yang mengharuskannya patuh. Anak mungkin tidak tahu apakah ia boleh berkata sakit, menolak gerakan tertentu, atau meminta hukuman dihentikan. Ia juga mungkin takut dianggap melawan, manja, atau mencari alasan. Karena itu, tanggung jawab tidak bisa dibebankan kepada anak untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Sistem sekolah harus menciptakan batas yang jelas sebelum hukuman diberikan, bukan setelah musibah terjadi.

Pernyataan Kemenag Aceh bahwa pembinaan harus berada dalam koridor pendidikan, kemanusiaan, dan perlindungan anak menjadi penting justru karena ia mengakui adanya batas. Jika pemeriksaan menemukan prosedur yang tidak sesuai atau tindakan yang melampaui ketentuan, evaluasi tidak cukup berhenti pada permintaan maaf. Harus ada penjelasan tentang siapa yang berwenang memberi hukuman, standar apa yang dilanggar, bagaimana pertolongan diberikan, dan mengapa pengawasan gagal bekerja. (detik.com)

Sekolah bukan ruang bebas dari risiko

‘Di Tanah Lada’ tidak membagi dunia secara nyaman antara tempat aman dan tempat berbahaya. Rusun Nero adalah rumah, tetapi juga ruang kekerasan. Orang dewasa yang seharusnya menjadi pelindung justru dapat menjadi sumber ancaman. Keselamatan kemudian muncul melalui perhatian kecil: seseorang yang mendengar, mengantar, memberi makanan, mengajarkan gitar, atau membantu anak memahami perasaannya.

Sekolah semestinya menjadi kebalikan dari Rusun Nero, tetapi status institusional tidak otomatis membuatnya aman. Justru karena sekolah memiliki aturan, seragam, jadwal, dan hierarki, risiko dapat tersembunyi di balik prosedur yang dianggap normal. Hukuman bersama dapat dianggap biasa. Perintah fisik dapat disebut pembentukan karakter. Anak yang mengeluh dapat dicap tidak disiplin. Dalam situasi seperti itu, institusi bukan hanya dituntut memiliki tata tertib, melainkan juga mekanisme koreksi yang dapat menghentikan tindakan sebelum membahayakan.

Kasus AZ mengubah pertanyaan tentang disiplin menjadi pertanyaan tentang akuntabilitas. Apakah sekolah memiliki catatan hukuman? Apakah guru mengetahui kondisi medis siswa? Apakah UKS memiliki protokol untuk keadaan darurat? Apakah anak-anak lain dapat memberi keterangan tanpa tekanan? Apakah keluarga menerima kronologi yang utuh? Tanpa jawaban itu, istilah “pembinaan” mudah menjadi selimut bagi kelalaian.

Anak harus boleh mengatakan “tidak”

Salah satu pelajaran paling kuat dari Ava adalah bahwa anak tidak selalu memiliki bahasa yang cukup untuk melawan keputusan orang dewasa. Ia perlu bertanya dulu, mencari arti kata, dan menyusun keberanian sedikit demi sedikit. Pepper bahkan harus belajar mengatakan “tidak” sebelum mampu menegaskan batas dirinya.

Karena itu, sekolah yang bertanggung jawab tidak hanya mengajarkan kepatuhan. Ia juga mengajarkan kapan seorang anak boleh berkata “saya sakit”, “saya tidak sanggup”, “saya takut”, atau “tolong hentikan”. Kalimat-kalimat itu bukan ancaman terhadap wibawa guru. Itu adalah sistem peringatan dini.

Penyelidikan atas kematian AZ harus berjalan tanpa prasangka dan dengan penghormatan kepada keluarganya. Tetapi hasil akhirnya tidak boleh hanya menetapkan apakah ada pelanggaran atau tidak. Negara dan lembaga pendidikan harus menjawab persoalan yang lebih besar: bagaimana memastikan hukuman tidak mengambil alih tujuan pendidikan, bagaimana mencegah guru menggunakan kuasa tanpa pengawasan, dan bagaimana membuat suara anak terdengar sebelum tubuhnya menjadi bukti terakhir.

Disiplin yang baik membentuk kemampuan memahami konsekuensi. Disiplin yang buruk hanya memaksa tubuh patuh. Di antara keduanya terdapat batas yang harus dijaga dengan prosedur, pengetahuan medis, pendampingan, dan keberanian untuk mengatakan bahwa pendidikan tidak pernah membutuhkan kekerasan yang mengorbankan keselamatan anak.

Sumber